NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Malam di asrama putra kembali merayap tenang. Aydan baru saja menyelesaikan laporan praktikum material saat ponselnya bergetar di atas meja kayu yang penuh dengan tumpukan buku kalkulus. Nama Bunda muncul di layar, diiringi nada dering lembut yang selalu membuatnya teringat pada rumah.

Aydan menempelkan ponsel ke telinganya, menyandarkan punggungnya yang pegal ke kursi. "Assalamualaikum, Bunda," ucapnya, suaranya seketika berubah menjadi jauh lebih lembut, sisi yang hanya ia tunjukkan untuk orang-orang tercintanya.

"Wa'alaikumsalam, jagoan Bunda," suara Ameera terdengar hangat dari seberang sana. "Lagi apa, Sayang? Sudah makan? Bunda tadi masak rendang, rasanya ingin sekali kirim ke asrama kalau jaraknya tidak sejauh itu."

Aydan terkekeh pelan. "Baru selesai tugas, Bun. Sudah makan kok tadi di kantin asrama. Bunda dan Ayah sehat?"

"Alhamdulillah, kami sehat. Oh iya, Aydan..." Suara Ameera sedikit melambat, ada nada selidik yang khas seorang ibu. "Bagaimana kabar Dayana? Kemarin dia tidak ada menelepon Bunda. Biasanya dia suka tanya-tanya soal resep atau sekadar menyapa."

Aydan terdiam sejenak, memutar-mutar pena di tangannya. Bayangan Dayana di aula besar kemarin kembali melintas. "Kemarin dia sakit, Bund. Flu dan sedikit demam karena kehujanan setelah praktikum. Tapi sekarang alhamdulillah sepertinya sudah fit lagi. Dia sudah bisa ikut seminar besar di universitas kemarin."

"Sakit? Astagfirullah, kenapa tidak bilang ke Bunda?" Ameera terdengar khawatir. "Pantas saja suaranya tidak terdengar. Aydan, kamu sudah pastikan dia makan dengan benar kan? Kamu sudah kirimkan madu yang Bunda titip waktu itu?"

"Sudah, Bund. Aydan sudah kirimkan sup juga. Bunda tenang saja, Ayana... eh, Dayana sudah jauh lebih baik," Aydan hampir saja terpeleset menyebut panggilan kesayangannya.

Tiba-tiba, suara berat Liam terdengar menyela di latar belakang. Rupanya Liam sedang berada di samping Ameera. "Bunda, jangan ganggu Aydan terus dengan urusan asmara. Biarkan dia fokus dulu," suara Liam terdengar tegas namun ada nada bercanda di sana. "Aydan, bagaimana nilai semester pendek mu? Proyek mesin yang kamu ceritakan itu sudah sampai mana? Ingat, laki-laki itu harus punya dasar yang kuat sebelum berani meminang anak orang."

Aydan tersenyum tipis. "Alhamdulillah, Yah. Semuanya lancar. Proyeknya masuk tahap simulasi. Aydan ingat pesan Ayah, sekolah nomor satu, tanggung jawab nomor satu."

Percakapan itu berlanjut lama, penuh dengan nasihat Liam tentang integritas dan cerita Ameera tentang taman bunganya yang semakin subur. Aydan mendengarkan dengan takzim, merasa beruntung memiliki dua pilar yang selalu menjaganya dalam doa.

Di saat yang hampir bersamaan, beberapa kilometer dari tempat Aydan berada, Dayana sedang duduk di atas ranjangnya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu belajar yang temaram. Di tangannya, ia memegang ponsel, namun ia tidak sedang mengerjakan tugas.

Ia sedang membuka sebuah folder tersembunyi di galeri fotonya. Folder yang hanya berisi dua buah foto. Foto yang diambil satu bulan setelah ia mulai sering berkunjung ke rumah keluarga Al-Gazhi.

Dayana tersenyum getir mengenang momen itu. Saat itu, ia masih "si Dayana yang berani". Ia sedang menginap di paviliun tamu karena esoknya ada acara bersama Bunda Ameera. Pagi itu, ia melihat Aydan sedang membantu Bundanya membersihkan taman belakang.

Dalam foto pertama, Aydan tampak sedang memegang gunting rumput besar. Wajahnya berkeringat, kaos hitamnya sedikit kotor oleh tanah, namun ia terlihat sangat maskulin. Dayana saat itu tanpa malu-malu berdiri di sampingnya, mengenakan kaos santai, saat itu ia belum sepenuhnya tertutup.

Dayana bergelayut sedikit di lengan Aydan, menatap kamera dengan senyum lebar dan penuh percaya diri. Sementara Aydan? Aydan tampak sangat kaku. Ia tidak melihat ke kamera, melainkan membuang muka ke arah tanaman mawar, wajahnya merah padam menahan malu karena jarak mereka yang sangat dekat.

Foto kedua diambil beberapa detik setelahnya. Dayana berhasil memaksa Aydan untuk setidaknya melihat ke arah ponsel. Di foto itu, Aydan menoleh sedikit, namun matanya tetap tidak menatap lensa. Ia menatap ke bawah, dengan ekspresi dingin yang seolah-olah mengatakan "Cepatlah, ini tidak sopan". Dayana di sampingnya tertawa lepas, matanya menyipit bahagia karena berhasil menaklukkan sang singa dingin untuk sekali saja berfoto bersama.

"Dulu aku berani sekali ya, Ay," bisik Dayana pada layar ponselnya.

Ia mengusap gambar wajah Aydan yang masih muda di foto itu. Sejak ia memutuskan untuk berhijrah total dan memakai jilbab yang menutup dada, Dayana tidak pernah lagi berani mengajak Aydan berfoto. Ia paham sekarang kenapa Aydan dulu begitu menjaga jarak. Ia paham bahwa kedinginan Aydan adalah cara pria itu memuliakannya.

Dua foto itu adalah harta karun bagi Dayana. Di sana ada jejak masa lalunya yang masih mencari jati diri, dan jejak Aydan yang sudah memiliki prinsip yang teguh sejak awal. Foto itu menjadi saksi bahwa Aydan tidak pernah berubah, ia tetaplah pria yang sama yang akan menundukkan pandangan demi menjaga kesucian seorang wanita.

"Aku rindu momen di taman itu, Ay. Tapi aku lebih rindu saat kita bisa duduk bersama di bawah restu Bunda dan Ayah, tanpa ada lagi rasa malu karena jarak yang belum halal," gumam Dayana.

Ia mematikan ponselnya, memeluk bantalnya erat-erat.

Di kejauhan, ia seolah mendengar suara bariton Aydan yang menyuruhnya tidur. Dayana pun memejamkan mata, membiarkan kenangan di paviliun itu membawanya ke dalam mimpi, menanti hari di mana foto mereka tidak lagi hanya berjumlah dua, melainkan ribuan foto dalam album pernikahan yang sah.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!