Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kebohongan yang Manis
Bau cairan pembersih lantai rumah sakit yang tajam biasanya menjadi aroma favorit Devan—aroma yang melambangkan sterilitas dan logika. Namun, bagi Ara, bau itu kini terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-parunya saat ia berdiri di ambang pintu kamar perawatan suaminya.
Dokter Aris, yang baru saja keluar dari kamar, menarik Ara ke sudut lorong. Wajahnya serius, lebih menyerupai seorang hakim daripada seorang dokter bedah.
"Dengar, Ara. Secara fisiologis, Devan stabil. Tapi secara neurologis, dia sedang berada di dalam benteng perlindungan yang dibangun otaknya sendiri," Dokter Aris memulai, suaranya rendah agar tidak terdengar oleh perawat yang lewat. "Dia mengalami retrograde amnesia yang sangat spesifik. Dia menghapus tiga bulan terakhir karena itu adalah periode paling gelap dalam hidupnya. Bagi dia, hari ini adalah kelanjutan dari pagi yang biasa di bulan Februari."
"Tapi Dokter, semua yang terjadi setelah Februari itu nyata!" Ara menekan suaranya agar tidak berteriak. "Kematian orang tuaku, pengkhianatan kakeknya, video Liliana, dan... surat cerai itu. Bagaimana bisa dia menganggap semua itu tidak pernah ada?"
"Otaknya melakukan reboot ke titik di mana dia merasa paling 'aman'. Dan ironisnya, titik aman itu adalah pernikahannya denganmu sebelum semuanya hancur," Dokter Aris menghela napas. "Jika kau memaksanya mengingat, atau jika kau menunjukkan surat cerai itu sekarang, dia bisa mengalami guncangan psikotis. Saraf otaknya yang baru saja pulih dari paparan kimia bisa mengalami pendarahan ulang. Kau bisa membunuhnya, Ara."
Ara bersandar pada dinding yang dingin, lututnya terasa lemas. "Jadi aku harus berpura-pura? Aku harus berakting seolah-olah aku masih mencintainya? Seolah-olah dia tidak pernah menyakitiku?"
Di Dalam Kamar Perawatan
Ara menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa air mata di sudut matanya, lalu mendorong pintu.
Devan sedang mencoba duduk tegak. Bahu kirinya terbebat perban tebal, namun saat melihat istrinya masuk, rahangnya yang biasanya kaku mendadak melunak. Sebuah senyuman—senyuman tipis yang sangat asing bagi Ara—muncul di wajah sang dokter forensik.
"Ara... kenapa lama sekali? Aku mulai berpikir Dokter Aris menyandera istriku untuk berkonsultasi soal kasus hukum," goda Devan. Suaranya serak namun hangat.
Ara duduk di kursi di samping ranjang, tangannya gemetar saat ia meletakkannya di atas seprai. "Maaf, Mas. Tadi ada beberapa urusan administrasi."
Devan meraih tangan Ara, menggenggamnya erat. Jemarinya yang panjang mengusap punggung tangan Ara dengan lembut. "Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat ketakutan saat aku pingsan kemarin. Maafkan aku, ya? Seharusnya aku langsung pulang dari kantor polisi daripada terlibat kecelakaan konyol ini."
Kecelakaan konyol, batin Ara pahit. Devan menganggap luka tembak dan ledakan kimia di rumah kakeknya adalah kecelakaan lalu lintas biasa.
"Mas... apa yang kau ingat terakhir kali?" tanya Ara hati-hati.
"Aku?" Devan mengernyit sejenak, menatap langit-langit. "Aku ingat aku sedang merencanakan sesuatu untuk ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Aku ingin memesan meja di restoran yang kau sukai—yang ada pemandangan sungainya itu. Aku merasa selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi aku ingin menebusnya."
Ara menelan ludah. Itu adalah memori dari bulan Januari atau awal Februari. Sebelum malam ulang tahun pernikahan yang hancur karena Devan tidak datang.
"Lalu," Devan melanjutkan, matanya kini menatap Ara dengan intensitas yang dalam, "aku bermimpi buruk saat pingsan tadi. Aku bermimpi kau meninggalkanku, Ara. Kau menaruh secarik kertas di meja makan dan pergi tanpa menoleh. Mimpi itu terasa begitu nyata sampai aku merasa sesak napas. Syukurlah, saat aku bangun, kau masih di sini."
"Mas..." Ara tidak sanggup berkata-kata. Pria di depannya ini seolah-olah adalah Devan dari dimensi lain. Devan yang penuh perasaan, Devan yang peduli.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan kasar. Alaska Jasper masuk dengan wajah memerah, langkahnya tidak stabil karena luka di perutnya sendiri.
"Hentikan sandiwara ini!" Alaska berteriak, mengabaikan peringatan perawat di belakangnya. "Devan, kau tidak bisa bersembunyi di balik penyakitmu! Ara, ayo pergi!"
Devan mengernyit, tangannya semakin erat menggenggam tangan Ara. "Alaska? Kenapa kau berteriak di kamar pasien? Dan apa maksudmu dengan sandiwara?"
"Kau!" Alaska menunjuk Devan dengan jarinya yang gemetar. "Kau sudah membuat hidupnya seperti neraka selama lima tahun, dan sekarang kau ingin dia tinggal hanya karena kau lupa ingatan? Kau tahu tidak kalau dia sudah membawa surat cer—"
"Alaska, diam!" Ara berdiri, menghalangi pandangan Alaska ke arah Devan. "Cukup! Jangan sekarang!"
"Kenapa, Ra? Kau mau kasihan padanya?" Alaska menatap Ara dengan rasa tidak percaya. "Dia menghancurkanmu! Dia mengabaikan kematian orang tuamu!"
Devan melepaskan tangan Ara, wajahnya mulai berubah tegang. "Kematian orang tua? Ara, apa yang dia bicarakan? Ayah dan Ibu baik-baik saja, kan? Kita baru saja menelepon mereka minggu lalu untuk rencana makan malam."
Suasana kamar menjadi sunyi senyap. Hanya suara monitor jantung Devan yang mulai berdetak lebih cepat. Pip... pip... pip...
"Al, keluar," ucap Ara dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Keluar sekarang atau aku tidak akan pernah bicara padamu lagi."
Alaska tertegun. Ia melihat binar ketakutan di mata Ara—ketakutan akan kesehatan Devan yang rapuh. Dengan geraman rendah, Alaska berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu hingga kaca jendela bergetar.
Devan menatap Ara, matanya penuh dengan kebingungan yang menyakitkan. "Ara... jelaskan padaku. Kenapa dia bicara seolah orang tuamu sudah tiada? Kenapa dia bicara soal cerai?"
Ara kembali duduk, ia mengambil kedua tangan Devan dan menempelkannya ke pipinya yang basah. Ia harus memilih: kebenaran yang mematikan, atau kebohongan yang menyiksa.
"Alaska hanya sedang stres, Mas," bohong Ara, suaranya pecah. "Dia sedang menangani kasus besar dan dia... dia hanya emosional. Orang tuaku baik-baik saja. Kita akan mengunjungi mereka setelah kau keluar dari sini."
Devano menatap mata Ara lama sekali, mencari jejak kebohongan di sana. Namun, karena ia sangat ingin mempercayai dunianya yang sempurna, ia menghela napas lega. Ia menarik Ara ke dalam pelukannya, meski bahunya sakit.
"Jangan dengarkan dia lagi, Ara. Aku berjanji, mulai hari ini, aku akan menjadi suami yang lebih baik. Aku akan memberikanmu semua waktu yang selama ini aku curi."
Di pelukan Devan, Ara menangis tersedu-sedu. Devan mengira itu adalah tangis haru, padahal itu adalah tangis duka atas dirinya sendiri yang kini terperangkap dalam penjara kasih sayang pria yang telah menghancurkannya.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/