NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 29

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Aura kira.

“Aku tahu,” jawabnya pelan.

Alden tersenyum kecil. “Aku nggak takut kamu dekat sama siapa pun. Tapi aku harap kamu jujur sama dirimu sendiri.”

Aura mengangguk. Lalu turun dari mobil dengan pikiran yang semakin berat.

Di sisi lain, Harry berdiri di balkon kosannya. Kali ini ia benar-benar tidak merokok. Bungkus rokoknya masih utuh di meja kecil samping pintu.

Ponselnya berbunyi.

Dari Aura.

*“Udah sampai.”*

Harry membalas singkat.

*“Oke.”*

Beberapa detik kemudian muncul lagi pesan.

*“Kamu masih di luar?”*

*“Nggak.”*

Hening beberapa menit.

Lalu satu pesan lagi.

*“Harry…”*

Ia menatap layar lebih lama sebelum membalas.

*“Ya?”*

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya tanda mengetik… lalu hilang.

Muncul lagi… hilang lagi.

Akhirnya pesan itu terkirim.

*“Aku takut nyakitin salah satu dari kalian.”*

Harry menarik napas panjang.

*“Kamu nggak bisa kontrol semua hal, Ra.”*

Balasan datang cepat.

*“Tapi aku yang bikin situasi ini.”*

Harry mengetik lama sebelum akhirnya mengirim satu kalimat yang bahkan membuat dadanya sendiri terasa sesak.

*“Kalau suatu hari kamu harus milih, jangan pilih karena kasihan.”*

Aura membaca pesan itu berkali-kali.

Di kamarnya yang gelap, ia duduk di lantai bersandar pada tempat tidur. Tangannya gemetar kecil, bukan karena takut tapi karena sadar ini bukan lagi sekadar nyaman atau terbiasa.

Ini sudah masuk ke wilayah yang lebih dalam.

---

Keesokan paginya di kampus, suasana terasa berbeda.

Aura datang lebih awal. Ia duduk sendiri di kelas, menatap meja kosong.

Harry masuk beberapa menit kemudian. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum bercanda seperti biasanya.

“Pagi,” ucap Harry.

“Pagi.”

Ia duduk di sebelah Aura seperti biasa. Tapi kali ini jaraknya sedikit lebih jauh dari biasanya.

Bukan karena canggung.

Tapi karena mereka sadar kalau terlalu dekat sekarang, semuanya bisa benar-benar berubah.

Dan mungkin… sudah mulai retak.

Retaknya pelan.

Hampir tak terlihat.

Tapi cukup untuk membuat hati yang terlibat mulai terasa perih.

Hari itu berjalan lambat. Materi dosen terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar masuk ke kepala Aura. Di sampingnya, Harry mencatat seperti biasa, fokus, tenang, seolah tidak ada apa-apa.

Padahal keduanya tahu ada sesuatu yang berubah.

Ketika kelas selesai, Aura tidak langsung berdiri. Ia masih menatap buku catatannya yang penuh tulisan tapi kosong makna.

“Kamu pulang?” tanya Harry pelan.

Aura menggeleng. “Ke taman sebentar.”

Harry tidak menjawab, hanya mengangguk lalu berjalan bersamanya.

Bangku yang sama. Pohon yang sama. Suasana siang yang sedikit lebih panas dari biasanya.

Aura duduk lebih dulu. Kali ini ia tidak langsung mengeluarkan rokok. Ia hanya menatap tanah beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku kepikiran terus soal chat kamu semalam.”

Harry bersandar, menatap lurus ke depan. “Yang mana?”

Jangan pilih karena kasihan.”

Hening.

“Aku serius waktu nulis itu,” kata Harry akhirnya.

“Aku tahu.”

Aura mengeluarkan rokok, menyalakannya dengan tangan sedikit gemetar. Harry memperhatikan tapi tidak ikut merokok kali ini.

“Aku nggak pernah kasihan sama kamu,” ucap Aura pelan.

Harry tersenyum kecil. “Syukurlah.”

“Aku juga nggak kasihan sama Alden.”

“Bagus.”

Aura mengembuskan asap panjang. “Tapi aku takut kalau akhirnya salah satu dari kalian ngerasa kalah.”

Harry menoleh padanya sekarang. “Cinta itu bukan kompetisi.”

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!