NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PERMAINAN KUCING DAN TIKUS

Malam itu tidak berakhir dengan tangisan. Elara tidak mengizinkan dirinya hancur. Begitu pintu kamarnya terkunci, ia langsung bergerak. Ia tidak punya banyak waktu sebelum Julian menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar "aset yang marah", melainkan ancaman yang siap meledak.

Elara membongkar laci riasnya, mengambil gunting kecil, dan dengan tangan gemetar namun pasti, ia memotong jubah sutranya hingga sebatas lutut agar tidak menghambat gerakannya. Ia mengganti alas kaki sutranya dengan sepatu boots kulit yang ia simpan di pojok lemari.

Bip.

Suara speaker di langit-langit kamar berbunyi. Suara Julian terdengar, sangat tenang, namun ada nada dingin yang tidak pernah Elara dengar sebelumnya.

"Elara, jangan lakukan sesuatu yang bodoh. Kembali ke tempat tidurmu."

Elara menatap kamera di sudut ruangan. Ia tidak bicara. Ia justru meraih botol parfum kaca berat dan melemparkannya tepat ke arah lensa kamera hingga pecah berkeping-keping.

"Aku bukan lagi penonton dalam hidupku sendiri, Julian," desis Elara pada kesunyian yang tersisa.

Di ruang kendali, Julian menatap layar monitor yang sekarang hanya menampilkan statis abu-abu. Rahangnya mengeras. Di sampingnya, Marcus berdiri dengan wajah kaku.

"Tuan, Nona Elara mencoba mengakses protokol darurat di sayap timur," lapor Marcus.

"Kunci semua akses keluar," perintah Julian tanpa ragu. "Aktifkan Lockdown Level 2. Jangan ada yang menyentuhnya kecuali aku. Jika Silas Vane mencoba mendekatinya, tembak di tempat."

"Baik, Tuan."

Julian bangkit dari kursinya. Ia tahu mansion ini luar dalam, namun ia juga tahu satu hal: Elara adalah seorang seniman. Dia melihat ruang bukan sebagai denah, melainkan sebagai komposisi. Dia akan menemukan celah yang tidak terpikirkan oleh logika militer.

Elara berlari menyusuri lorong pelayan yang sempit di balik dapur. Ia tahu gerbang utama mustahil ditembus, namun ia ingat sketsa denah mansion yang pernah ia lihat di meja Julian. Ada saluran udara tua yang terhubung dengan ruang laundry di rubanah.

Lampu-lampu lorong tiba-tiba berubah menjadi merah. Suara gerendel magnetik yang mengunci terdengar di mana-mana. Lockdown.

"Sial," umpat Elara.

Ia meraba cincin di jarinya. Jika cincin ini adalah kunci akses Julian, maka ia bisa menggunakannya untuk menipu sistem sensor. Elara menemukan panel kendali suhu di dinding. Ia menempelkan cincin itu, lalu menggunakan ujung gunting untuk menyatukan dua kabel tembaga di dalamnya, menciptakan short circuit yang disengaja.

Derrrrtt.

Pintu baja di depannya terbuka sedikit karena error sistem. Elara menyelinap masuk tepat sebelum pintu itu menutup kembali dengan hantaman keras.

Ia kini berada di ruang distribusi listrik. Gelap, hanya ada kilatan lampu indikator hijau dan merah. Elara bisa mendengar langkah kaki yang mantap di lantai atas. Julian. Pria itu sudah turun.

"Elara," suara Julian menggema di ruangan luas itu, terdengar dekat namun tak terlihat. "Kau tidak bisa kabur. Cincin itu memancarkan sinyal yang tidak bisa kau matikan tanpa kode daruratku."

Elara bersembunyi di balik trafo besar. Ia melepaskan cincin itu dari jarinya. Tangannya gemetar. Ini adalah satu-satunya pelindungnya, sekaligus rantai pengikatnya.

Ia melihat sebuah tikus kecil yang berlari di sudut ruangan. Sebuah ide gila muncul. Elara mengambil selotip kabel dari kotak perkakas di dekatnya, lalu dengan hati-hati ia menempelkan cincin itu ke punggung tikus tersebut dan melepaskannya ke arah berlawanan, menuju saluran pembuangan.

"Cari aku, Julian," bisik Elara.

Ia segera merangkak menuju saluran udara di langit-langit. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memanjat naik tepat saat pintu ruang listrik ditendang terbuka.

Julian masuk dengan senjata di tangan, matanya menyisir kegelapan. Ia melihat sinyal di tabletnya bergerak cepat menuju sayap barat.

"Dia di sayap barat! Kejar!" perintah Julian melalui earpiece-nya.

Namun, Julian berhenti sejenak. Ia mencium sesuatu di udara. Bau parfum yang pecah di kamar tadi. Baunya tertinggal di sini, tapi sinyalnya bergerak menjauh. Julian melihat ke arah langit-langit, ke arah jeruji saluran udara yang sedikit miring.

Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa bangga sekaligus kemarahan yang tertahan. "Pintar, Elara. Sangat pintar."

Julian tidak mengikuti sinyal di tabletnya. Ia justru berbalik menuju pintu keluar sayap timur—satu-satunya tempat yang menuju ke taman belakang melalui jalur udara.

Elara keluar dari saluran udara dengan napas tersengal. Ia berada di balkon kecil di atas dapur. Hanya butuh satu lompatan lagi ke atas pohon ek besar, dan ia akan mencapai pagar luar.

\*\*\*

Namun, saat ia mendarat di dahan pohon, sebuah laser merah mendarat tepat di dadanya.

"Permainan selesai, Tikus Kecil."

Bukan Julian. Itu Silas Vane. Pria itu berdiri di bawah pohon dengan senapan runduk, tersenyum lebar seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre.

"Julian mungkin ingin menjagamu tetap utuh," ucap Silas sambil melangkah maju. "Tapi Dewan memberiku izin untuk membawamu dalam keadaan sedikit... rusak. Selama kepalamu masih bisa mengirim data, sisanya tidak penting."

Silas menarik pelatuk pengaman. Elara mematung di atas dahan. Di saat yang sama, Julian muncul dari pintu balkon di belakang Silas, senjatanya terarah tepat ke tengkuk Silas.

"Turunkan senjatanya, Silas. Atau aku akan memastikan kau tidak pernah melihat matahari besok pagi," suara Julian terdengar sangat tenang, tapi itu adalah ketenangan sebelum badai yang menghancurkan.

Elara menatap kedua pria itu. Satu orang yang telah membohonginya selama sepuluh tahun, dan satu orang yang ingin membedahnya hidup-hidup.

Ia menyadari bahwa ia tidak punya teman di tempat ini. Ia harus membuat jalannya sendiri

Elara meraba saku jubahnya. Ia masih memegang gunting kecil tadi. Dan di dekat kakinya, ada kabel lampu taman yang melilit dahan pohon.

"Kalian berdua..." suara Elara terdengar serak namun kuat. "Jangan pernah meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh 'aset' yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan."

Elara menendang kabel lampu itu, menciptakan percikan api besar tepat di depan wajah Silas, dan di tengah kekacauan cahaya itu, ia melompat—bukan ke arah Julian, melainkan ke luar pagar, ke dalam kegelapan London yang dingin.

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!