NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. The Queen of Deception

Malam di rumah keluarga Vane yang harusnya tenang, berubah menjadi medan perang digital. Julian masih berdiri di balkon, membelakangi kehangatan lampu ruang tengah. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan tajam saat melihat notifikasi terbaru.

​Ellena Breeze baru saja mengunggah sebuah foto di Instagram. Foto itu memperlihatkan tangan Ellena yang tampak pucat dengan selang infus yang menempel, latar belakangnya adalah bantal rumah sakit yang putih bersih.

@EllenaBreeze: "Aku tidak pernah menyangka bahwa kesetiaan bisa dibalas dengan keheningan yang begitu dingin. Saat tubuhku mulai menyerah, hatiku justru lebih dulu hancur. Aku melepaskanmu jika itu yang kau inginkan, meski caramu pergi sangat melukaiku. Semoga kau menemukan apa yang kau cari di tempat lain... yang mungkin sudah lama kau dambakan."

​Caption itu adalah bom atom. Ellena tidak menyebut nama, tapi dia "membenarkan" semua asumsi liar tentang Julian dan Alice tanpa harus mengatakannya secara langsung.

​"Sialan kau, Ellena!" umpat Julian. Ia segera menekan nomor Ellena.

​Panggilan itu diangkat pada nada ketiga. Suara Ellena terdengar sangat lemah di seberang sana, seolah-olah dia benar-benar sedang berada di ambang kematian. "Halo... Julian?"

​"Hentikan sandiwara ini, Ellena! Aku tahu kau tidak sakit!" bentak Julian, suaranya parau karena emosi. "Apa maksudmu dengan postingan itu? Kau sengaja membuat Alice terlihat seperti orang ketiga!"

​Ellena tertawa kecil, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Kau yang memulainya, Sayang. Kau yang menculiknya dari resort itu, kau yang masuk ke rumahnya di depan kamera. Aku hanya... memberi tahu penggemarku kenapa mataku sembap selama seminggu ini. Kenapa suamiku—calon suamiku—tiba-tiba menjadi sangat asing dan dingin."

​"Kita bahkan tidak pernah berencana menikah, Ellena! Itu hanya kontrak!"

​"Dunia tidak tahu itu, Julian," bisik Ellena dengan nada mengancam. "Sekarang, berkat postinganku, seluruh dunia tahu kalau aku adalah pejuang yang dikhianati saat sedang sakit. Jika kau membantahnya, kau hanya akan terlihat seperti monster yang tidak punya hati. Dan gadis kecilmu itu? Dia akan dicap sebagai wanita yang membangun kebahagiaan di atas ranjang rumah sakitku."

​Klik. Sambungan diputus sepihak.

​Di dalam kamar, Alice duduk meringkuk di sudut tempat tidur. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya biru dari ponselnya menerangi wajahnya yang sembap. Kolom komentarnya telah menjadi neraka.

​"Wanita jahat! Ellena sedang berjuang melawan autoimun, dan kau malah menggoda Julian!"

"Cantik-cantik pelakor. Aku harap karier modeling-mu hancur!"

"Julian pasti sudah mencicipimu ya sampai dia tega meninggalkan Ellena yang sekarat?"

​Alice melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, mencoba meredam suara-suara imajiner yang menghujatnya.

​Pintu kamar terbuka pelan. Sean Miller masuk dengan raut wajah yang sangat hancur melihat kondisi Alice. Ia segera duduk di tepi ranjang dan menarik Alice ke dalam pelukannya.

​"Jangan dibaca, Al. Kumohon, jangan didengarkan," bisik Sean, mendekap kepala Alice erat-erat.

​"Mereka semua membenciku, Sean..." isak Alice, tubuhnya bergetar hebat. "Aku tidak pernah berniat menghancurkan siapa pun. Aku hanya ingin pulang... kenapa Julian membawaku ke sini? Kenapa dia tidak membiarkanku bersamamu saja di pantai?"

​Sean menghela napas panjang, matanya berkilat marah saat teringat Julian yang masih ada di rumah ini. "Julian terlalu egois. Dia mencintaimu dengan cara yang merusak. Dia ingin memilikimu tapi dia tidak bisa melepaskan rantai yang mengikatnya dengan Ellena. Akhirnya? Kau yang menjadi korbannya."

​Alice mendongak, menatap Sean dengan mata yang basah. "Sean, kau percaya padaku, kan? Aku tidak menggoda Julian. Dia yang—"

​"Aku tahu, Al. Aku tahu semuanya," potong Sean lembut. Ia mengusap air mata di pipi Alice. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Biarkan seluruh dunia membencimu, aku akan tetap berdiri di depanmu. Aku lebih mencintaimu daripada karier atau reputasiku sendiri. Tidak seperti Julian yang pengecut itu."

​Kata-kata Sean terasa seperti pelindung yang Alice butuhkan saat ini. Di tengah badai yang diciptakan Julian, Sean terasa seperti pelabuhan yang stabil. Alice menyandarkan kepalanya di bahu Sean, merasa sangat lelah secara mental.

​Sementara itu, di ruang tamu, Julian masuk dengan langkah gontai. Ia melihat Ayah Alice sedang menatap TV yang menyiarkan berita darurat tentang kondisi Ellena.

​"Julian," sapa Ayah Alice dengan nada yang tidak lagi sehangat tadi. "Kurasa kau harus pergi sekarang. Keberadaanmu di sini hanya akan membuat Alice semakin tersudut. Media sudah mulai mengepung lingkungan ini."

​Julian menatap pintu kamar Alice yang tertutup rapat. Ia tahu di dalam sana, Sean sedang memeluk wanitanya. Ia tahu Sean sedang menjadi pahlawan di saat dirinya menjadi penyebab kehancuran.

​"Aku akan menyelesaikannya, Om," ujar Julian dengan suara yang terdengar sangat dingin dan mati. "Aku akan memastikan nama Alice bersih, meskipun aku harus membakar duniaku sendiri."

​Julian berjalan keluar rumah, menembus kilatan lampu blitz dari paparazzi yang sudah mulai berdatangan di gerbang depan. Ia masuk ke mobilnya, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

​"Kau ingin bermain sebagai korban, Ellena?" desis Julian, matanya menatap tajam ke jalanan. "Mari kita lihat, seberapa kuat kau bisa bertahan saat topengmu kubuka paksa."

​Julian tidak menuju ke agensinya. Ia menuju ke rumah sakit, bukan untuk menjenguk kekasih yang sakit, tapi untuk menghadapi iblis yang sedang bersembunyi di balik selimut putih.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!