Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 LUKA LAMA YANG DATANG
Di dalam aula perjamuan yang megah itu, suasana tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih formal dan penuh hormat.
Sutradara Galang dan Produser Argo Surya yang tadi sedang asyik berbincang seketika berdiri serentak dari kursi mereka dengan gerakan sigap.
Wajah kedua petinggi produksi film itu langsung berubah. Ekspresi mereka kini dipenuhi rasa hormat yang mendalam, seolah sosok sangat berpengaruh baru saja melangkah masuk ke ruangan tersebut.
Tanpa membuang waktu, mereka segera berjalan cepat menuju pintu masuk aula.
Sponsor terbesar proyek film akhirnya tiba. Dialah pendana utama yang memegang kunci kelangsungan proyek bernilai fantastis itu.
Sosok tersebut adalah Hendrawan Yudhoyono.
Hendrawan bukan sekadar investor. Ia adalah Ketua Dewan Direksi Yudhoyono Group, konglomerasi besar yang disegani di seluruh negeri.
Kehadirannya di acara seperti ini adalah pernyataan kekuasaan yang mustahil diabaikan.
"Wah, saya benar-benar tidak menyangka Ketua Hendra bersedia meluangkan waktu dari jadwal sesibuk itu hanya untuk datang ke upacara pembukaan kami! Ini kehormatan besar bagi kami semua!" seru Sutradara Galang penuh semangat.
"Silakan kemari, Ketua Hendra. Mohon duduk di kursi ini!" Produser Argo segera menawarkan kursinya agar Hendrawan bisa duduk di posisi strategis, tepat di sebelah putrinya, Aruna Yudhoyono.
Ekspresi Hendrawan yang tadinya tegas seketika melembut saat menatap Aruna.
"Anda terlalu sopan, Sutradara Galang. Bagaimanapun, putri saya berada di bawah bimbingan Anda selama proses syuting."
Sutradara Galang tertawa kecil.
"Ketua Hendra, pepatah bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Putri Anda sudah tumbuh menjadi sosok luar biasa dan berbakat. Sejujurnya, dia sudah tak membutuhkan bimbingan khusus dari saya."
"Anak ini memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan aku sendiri jarang melihatnya di rumah. Kalau bukan karena kunjunganku hari ini, mungkin ayahnya ini tak akan punya kesempatan bertemu dengannya."
Nada Hendrawan terdengar seperti keluhan ringan, tetapi sorot matanya penuh kebanggaan.
"Hahaha, Aruna memang gadis rajin dan berdedikasi. Anda seharusnya bangga memiliki putri sepertinya. Tapi Aruna, kamu juga sedikit salah. Sesibuk apa pun jadwalmu, kamu tetap harus pulang menemui orang tua," goda Sutradara Galang.
Aruna segera memasang ekspresi menyesal yang tetap tampak manis.
"Ya, Sutradara, saya salah! Ayah, jangan marah ya. Aku janji besok malam pulang untuk makan malam bersama Ayah dan Ibu."
Ia memeluk lengan Hendrawan dengan manja seperti anak kecil.
Hendrawan terkekeh pelan.
"Lihat ini, Sutradara Galang. Bahkan aku seolah butuh bantuan sutradara ternama hanya untuk membuatnya meluangkan waktu pulang."
"Ayah, ayolah! Banyak orang melihat kita. Setidaknya jaga gengsiku," keluh Aruna sambil mengerucutkan bibir.
"Baik, baik. Kamu sekarang bintang besar yang dipuja orang. Ayah sudah tak bisa menceramahimu lagi."
Percakapan hangat itu terus mengalir di meja utama.
Kirana Yudhoyono, yang duduk tak jauh dari sana, awalnya merasa cukup kuat menghadapi situasi apa pun.
Namun saat melihat langsung sandiwara keluarga bahagia antara ayah yang dianggapnya baik hati dan anak perempuan yang tampak berbakti itu, dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Rasa sakit menghimpit hingga ia ingin segera melarikan diri dari tempat itu.
Meski emosinya bergejolak, Kirana masih mampu mempertahankan ekspresi tenang. Ia tetap terlihat santai berbincang ringan dengan Penulis Larasati di sebelahnya, seolah tak memedulikan keramaian di meja utama.
Ia mungkin bisa berpura-pura tak melihat mereka.
Namun tidak dengan Hendrawan.
Tatapan pria itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk harga dirinya. Bagi Hendrawan, penampilan Kirana di acara pembukaan hari ini—terutama dengan pakaian yang begitu menonjol—adalah sesuatu yang memalukan bagi nama keluarga.
Akhirnya, karena tak tahan dengan atmosfer menyesakkan itu, Kirana mencari alasan keluar ruangan dengan dalih ke kamar mandi.
Ia berjalan menyusuri lorong sepi menuju jendela terbuka di ujung koridor hanya untuk menghirup udara malam.
Tangannya gemetar saat merogoh tas. Ia mengambil beberapa batang rokok dan korek api, tetapi terdiam. Setelah berpikir sejenak, ia memasukkannya kembali dengan berat hati.
Ia sedang berusaha keras berhenti merokok.
Namun hari ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama keinginan itu kembali muncul dengan sangat kuat.
Kirana mulai mengenal rokok sejak ia dipaksa tinggal—atau lebih tepatnya dibuang—ke luar negeri oleh orang yang selama ini ia anggap orang tua kandungnya.
Hendrawan mengirimnya dengan alasan pendidikan. Kenyataannya jauh lebih pahit. Ia ditelantarkan tanpa dukungan finansial memadai dan harus bertahan hidup sendirian di negeri asing yang dingin.
Entah kenapa, saat pertama kali mencoba merokok di masa sulit itu, rasa stres dan kenangan pahit seolah ikut menghilang bersama asap yang dihembuskannya.
Sensasi tenang semu itu perlahan membuatnya menjadi perokok.
Awalnya hanya saat stres berat. Lama-kelamaan berubah menjadi kebiasaan.
Namun sejak kembali ke Indonesia, Kirana berusaha sungguh-sungguh berhenti. Sejauh ini ia cukup berhasil menahan diri, bahkan saat pikirannya dipenuhi beban.
Angin malam berembus lembut menerpa wajahnya di dekat jendela. Perlahan, perasaannya mulai membaik.
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki berat dari belakangnya.
Punggung Kirana seketika menegang. Namun saat ia berbalik melihat siapa yang datang, wajahnya sudah kembali datar tak tertembus—seperti topeng porselen dingin.
"Ketua Hendra sengaja datang ke sini hanya untuk mencariku?" tanyanya tenang.
Hendrawan menatapnya dengan ekspresi tegas penuh amarah. Tatapannya jelas menunjukkan ketidaksenangan pada pakaian Kirana hari ini yang dianggapnya terlalu berani.
Kirana menundukkan kepala sedikit sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Ah, Ketua Hendra. Tadi di ruang makan Anda terus menatap saya dengan tajam. Tidakkah Anda takut orang lain salah paham dengan makna di balik tatapan itu?"
Bagi orang luar yang tak tahu hubungan mereka, Hendrawan hanyalah sponsor besar, dan Kirana selebritas kecil berparas cantik.
Sangat mudah bagi siapa pun membayangkan hubungan terlarang jika mereka terus terlihat berinteraksi seperti itu.
"Dasar anak kurang ajar! Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?" bentak Hendrawan.
Kirana mengernyit tipis.
"Sejauh yang saya tahu, saya sedang berbicara dalam bahasa manusia. Apa Ketua Hendra sedang tidak memahaminya?"
"Kamu—!"
Hendrawan mengangkat tangan tinggi, bersiap menampar.
Namun sebelum telapak itu jatuh, tangan Kirana lebih dulu menangkap pergelangannya.
Tatapan Kirana tajam dan dingin. Ia tidak akan membiarkan pria itu memukulnya lagi.
Baginya, lelaki di hadapannya sudah tak memiliki hak apa pun atas tubuh maupun hidupnya.
Hendrawan nyaris gemetar menahan amarah. Ia akhirnya menarik tangannya dengan kasar.
"Sebaiknya kau mundur dari film ini sekarang juga. Kau hanya akan mempermalukan nama keluarga jika terus tampil di depan umum seperti ini!"
Ekspresi Kirana membeku.
"Aku mendapatkan peran Laura lewat audisi yang adil. Bagaimana mungkin Anda menyebutnya memalukan?"
"Kau selalu berusaha meniru apa pun yang Aruna lakukan! Lihat dirimu. Kau tak akan pernah bisa menyainginya. Terjun ke dunia hiburan begini… apa kau sebenarnya hanya menunggu seseorang mengungkit kejadian memalukan itu supaya seluruh keluarga Yudhoyono ikut tercoreng?"
Tatapan Hendrawan dipenuhi jijik.
Sampai hari ini, masih ada orang-orang di lingkaran elite yang diam-diam menjadikan masa lalu Kirana bahan sindiran. Kesalahan lama itu pernah cukup untuk menjadi bisik-bisik tajam.
Jika semuanya terungkap lagi di industri ini, apakah Hendrawan masih punya harga diri?
Wajah Kirana memucat.
Kenangan malam kelam itu menyeruak—bayangan pria asing, rasa takut yang mencekik, dan seorang bayi malang yang bahkan belum sempat melihat dunia.
Itulah titik paling rapuh dalam hidupnya. Rahasia yang ia kubur jauh di dasar hati.
Pada tahun itu, keluarga Yudhoyono menutup rapat semuanya dari publik demi menjaga nama baik. Aruna pun memilih diam. Ia tahu, sekali rahasia itu terbuka, tak ada yang bisa menghentikannya.
Namun bagi Kirana, peristiwa itu tetap menjadi mimpi buruk yang tak pernah benar-benar pergi.
"Aku masih memberimu kehormatan dengan membiarkanmu mundur dengan syaratmu sendiri," ujar Hendrawan dingin.
"Tapi kalau kau tetap keras kepala, jangan salahkan aku jika nanti aku tak lagi mengakui hubungan ayah dan anak di antara kita!"
Kirana tersenyum pahit.
"Oh? Jadi sampai sekarang Anda merasa masih ada hubungan ayah dan anak di antara kita? Luar biasa…"
"Ayah? Kak Kirana? Apa yang terjadi di sini?"
Suara Aruna tiba-tiba terdengar dari belakang.
Melihat putrinya datang, ekspresi Hendrawan langsung berubah lembut.
"Tidak ada apa-apa. Nanti saat kau kembali ke kantor, tanyakan pada manajemenmu apakah mereka bisa mencari pemeran wanita kedua yang lebih baik."
Maknanya jelas—Kirana harus diganti.
Di dalam hati, Aruna merasa puas. Namun wajahnya tetap tampak cemas.
"Ayah, tapi kenapa? Bukankah peran Laura sudah resmi diberikan pada Kak Kirana?"
"Tidak masalah kalau dia hanya main peran kecil atau cameo. Tapi peran sepenting ini? Aku tidak menanamkan dana tiga puluh miliar ke proyek film ini hanya agar dia merusaknya!"
"Tapi Ayah, setahuku Kak Kirana sudah berusaha keras mendapatkannya lewat audisi…"
"Aruna, jangan membelanya lagi!" potong Hendrawan tajam. "Sudah kubilang jangan sekali pun kau membantu dia. Tapi kau malah memujinya di depan wartawan tadi. Kau pikir wanita seperti dia pantas mendapat pujian?"
"Tapi Ayah, bagaimanapun juga Kak Kirana tetaplah pu—"
"Cukup! Hal seperti itu tidak boleh dibicarakan di sini atau di mana pun. Kau satu-satunya putri yang aku akui!"
"Baiklah, Ayah. Jangan marah lagi, ya? Aku janji tidak akan mengatakannya lagi."
"Ayah masih punya urusan di kantor. Kalau kau sempat, coba bujuk dia supaya berhenti keras kepala."
Hendrawan melempar satu tatapan dingin terakhir pada Kirana, lalu berbalik pergi meninggalkan lorong.
Begitu sosoknya menghilang, ekspresi Aruna berubah sinis.
"Kirana, jangan bilang aku sengaja mempersulit hidupmu. Awalnya aku berniat memberimu kesempatan emas," ujarnya lembut.
"Tapi sayangnya… Ayah sendiri yang tidak mengizinkannya."
"Haha…"
Kirana tertawa pelan. Suaranya serak dan getir.
Siapa sangka, orang yang menghancurkan semua usahanya justru ayah kandungnya sendiri.
Ia sudah bekerja mati-matian selama berhari-hari demi peran Laura. Namun hanya dengan satu kalimat dari pria itu, semuanya seolah lenyap.
Saat acara pembukaan akhirnya selesai, waktu sudah lewat pukul sebelas malam.
Pepatah benar—orang lebih mudah mabuk saat hatinya kacau.
Kirana merasa tak minum banyak anggur tadi, tetapi saat berdiri, tubuhnya goyah dan kepalanya berdenyut.
Seolah semesta sedang bercanda, tepat saat itulah ia melihat sosok yang paling tidak ingin ia temui.
Aditya Pratama.
Di sekitarnya, para pemain dan kru—terutama para wanita—langsung berbisik heboh saat pria itu berjalan mendekat.
"Ah! Lihat! Itu Tuan Muda Aditya Pratama, kan? Dia jauh lebih tampan kalau dilihat langsung!"
"Pasti dia datang selarut ini cuma untuk menjemput Aruna. Duh, iri banget…"
"Aruna punya karier hebat, keluarga kaya, dan pacar setampan itu. Hidupnya benar-benar sempurna."
"Orang seperti mereka memang sudah ditakdirkan menang sejak lahir. Kita orang biasa bahkan rasanya tak punya hak untuk iri."
…
Kirana terpaksa bersandar pada dinding lorong agar tubuhnya tidak roboh. Tatapannya terpaku pada pria yang kini berjalan mantap menuju Aruna.
Keluarga Pratama memang sedang berada di puncak kejayaan bisnis dalam beberapa tahun terakhir.
Status Aditya Pratama sekarang bagaikan kapal yang melaju di puncak gelombang pasang, sementara Kirana hanyalah bayangan samar dari masa lalu yang nyaris dilupakan.
Remaja laki-laki yang dulu setia menemaninya melewati hari-hari sulit di SMA—yang selalu menunggu di gerbang sekolah, membelikannya jajanan murah, dan mengantarnya pulang dengan Vespa saat senja—seolah sudah lenyap ditelan waktu.
"Bang Adit, kenapa Abang tiba-tiba datang? Bukankah tadi sudah kubilang tidak perlu repot menjemputku?" Aruna berlari kecil menghampirinya dengan riang.
"Abang khawatir. Di luar sedang hujan." Aditya melepas jaketnya lalu menyampirkannya ke bahu Aruna.
Tatapannya sedikit mengeras.
"Kenapa malam ini kau berpakaian seminim ini?"
Wajah Aruna langsung semanis madu.
"Ah, Bang! Aku ini sudah berapa tahun sih? Abang masih saja memperlakukanku seperti anak kecil."
Tubuh Kirana makin goyah di dinding yang terasa dingin. Hari ini benar-benar terasa seperti hari sial baginya.
Sepanjang malam ia dipaksa menyaksikan kasih sayang orang tua yang hanya tertuju pada Aruna. Kini ia harus menonton kisah cinta sempurna adiknya.
Seolah itu belum cukup, Aruna meraih lengan Aditya dan menariknya mendekat ke arah Kirana.
"Kak Kirana, sepertinya Kakak minum terlalu banyak malam ini. Bagaimana kalau kita pulang bersama saja? Pacarku pasti dengan senang hati mengantarmu."
Kata pacarku diucapkan dengan penekanan jelas.
Barulah Aditya menyadari keberadaan Kirana. Saat melihatnya, pupil matanya sedikit menyempit.
'Kirana… sudah lama sekali.'
Mereka memang tak pernah bertemu lagi sejak Kirana pergi ke luar negeri bertahun-tahun lalu. Bahkan setelah ia kembali ke Indonesia, Aditya hanya melihatnya dari kejauhan beberapa kali saat menjemput Aruna di kantor Starlight Entertainment.
Ia tidak siap melihat perubahan ini.
Gadis sederhana dengan kepang dua dan gaun bunga itu kini telah menjelma menjadi wanita anggun yang mampu menarik perhatian siapa pun.
Melihat tatapan Aditya yang terlalu lama tertuju pada Kirana, kilatan cemburu melintas di mata Aruna. Ia langsung menggenggam lengan Aditya lebih erat.
"Bang Aditya, bagaimana? Kita ajak Kak Kirana bareng, ya?"
Aditya tersadar dan mengangguk canggung.
"Ya… tentu. Ayo kita pergi bersama."
Namun Kirana sudah tak tahan.
Entah karena anggur yang diminumnya, atau karena pemandangan di depannya—adik kandungnya bermesraan dengan mantan kekasihnya—perutnya terasa mual.
Ia berjalan sempoyongan, dinding menjadi penopang saat ia menjauh.
"Kak Kirana… Kak Kirana? Kakak tidak apa-apa?" Aruna berpura-pura cemas.
Kirana hanya melambaikan tangan lemah.
Alkohol mulai menguasai kesadarannya. Detak jantungnya semakin cepat, darahnya terasa berdesir panas.
Seolah ada binatang buas mengamuk di dalam tubuhnya, ingin keluar dan mencabik dua wajah munafik di hadapannya.
"Tidak perlu…" gumamnya.
Ia terhuyung menuju kamar mandi sebelum benar-benar kehilangan kendali.
Aruna menyeringai tipis melihat punggung Kirana menjauh. Namun saat ia menoleh kembali ke Aditya, ekspresinya langsung berubah rapuh.
"Bang Aditya… sepertinya Kak Kirana masih belum mau memaafkanku atas kejadian dulu. Padahal aku sudah berusaha keras menebus kesalahanku."
"Di kantor pun aku selalu berusaha menjaganya, tapi dia tetap menatapku penuh kebencian."
"Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana supaya dia mau memaafkanku…" suaranya bergetar, seolah hampir menangis.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Aditya lembut sambil mengusap bahunya. "Kirana memang dari dulu keras kepala. Beri dia waktu, nanti juga dia akan luluh."
Sementara itu, di luar hotel, beberapa kru wanita berkumpul mengelilingi sebuah mobil mewah yang terparkir.
"Aku barusan cek di internet. Maserati ini harganya bisa sampai sepuluh miliar!"
"Ya ampun… mahal banget. Kira-kira butuh berapa tahun ya supaya aku bisa dapat pacar sekaya itu?"
"Dan dia juga tampan! Banyak selebriti menikah dengan orang kaya, tapi suaminya malah om-om gendut. Lihat itu saja sudah bikin mual…"
…
Di saat semua orang masih asyik bergosip, mereka melihat Aditya dan Aruna akhirnya meninggalkan area hotel bersama.
Pasangan berparas serasi itu benar-benar mencuri perhatian. Saat berdiri berdampingan, keduanya tampak seperti potongan adegan film romantis mahal yang terlalu sempurna untuk dunia nyata.
Tatapan iri mengiringi langkah Aruna, yang masih mengenakan jaket milik Aditya, ketika ia masuk ke mobil mewah tersebut.
Baru setelah Maserati itu lenyap dari pandangan, orang-orang di sana menghela napas panjang—seolah baru saja melepas mimpi indah tentang kehidupan glamor yang tak mereka miliki.
Namun tak lama kemudian, suara deru mesin melengking memecah suasana. Sebuah siluet mobil berwarna perak-putih melesat mendekat dengan kecepatan tinggi sebelum berhenti presisi tepat di depan pintu utama hotel.
Yang lebih mencolok dari segalanya adalah—
Mobil itu tampak terlalu mewah untuk terasa nyata.
Bodi besarnya menjulang anggun dengan garis desain tegas namun elegan. Grille kromnya memantulkan cahaya lampu malam, sementara pintu belakang model coach khas Rolls-Royce terbuka perlahan dengan wibawa seorang bangsawan. Mobil itu bukan sekadar kendaraan—melainkan simbol status yang bergerak.
Dan yang paling mencengangkan adalah harganya.
"Astaga! Lihat itu! Bukankah itu Cullinan keluaran terbaru dari Rolls-Royce? Itu SUV supermewah langka! Harganya bisa tembus lebih dari tiga puluh miliar… astaga… orang kaya level apa yang duduk di dalamnya itu…"
Di dalam kabin kedap suara itu, Kael Santoso menatap layar ponselnya dengan wajah tegang dan khawatir.
Bryan Santoso melepas sabuk pengaman dengan tenang.
"Papa akan masuk sebentar untuk melihat kondisinya. Kamu tunggu di sini, ya."
Kael kecil langsung menarik ujung lengan baju ayahnya, memberi isyarat bahwa ia ingin ikut.
Bryan melirik putranya.
"Kalau ternyata Tante Kirana sedang mabuk berat, menurutmu Papa harus menggendongmu atau menggendong dia nanti?"
Kael langsung menggembungkan pipinya, jelas tidak setuju. Ia merasa dirinya sudah besar dan tidak perlu digendong siapa pun.
Ekspresi Bryan berubah sedikit muram.
"Sayang sekali, Kael. Setelah kejadian terakhir itu, tingkat kepercayaanku padamu turun ke titik terendah," ujarnya.
"Papa sudah tidak yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri di tempat umum. Kalau hal buruk itu terulang lagi, Papa tidak yakin bisa menanggung akibatnya. Kau mengerti?"
Kael menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tampak sangat sedih dan menyesal.
Menyadari ucapannya mungkin terlalu keras, Bryan mengulurkan tangan dan mengacak rambut putranya dengan lembut.
"Papa janji akan kembali secepatnya."
"Pak Arman, bawa mobil ini ke parkiran bawah tanah," perintahnya pada sopir.
"Baik, Tuan Bryan."
Di bawah tatapan penuh selidik kerumunan di depan pintu masuk hotel, salah satu pintu mobil mewah itu terbuka dan seorang pria melangkah keluar.
Ia mengenakan setelan jas abu-abu baja yang elegan. Tubuh atletisnya tegap seperti patung giok terpahat sempurna, dan kehadirannya memancarkan aura dominasi yang menekan suasana.
"Ah—tunggu! Bukankah itu Tuan Bryan Santoso?! Tadi kita semua bertanya-tanya siapa tokoh besar yang akan datang, ternyata benar dia! Selain orang sekelas beliau, siapa lagi yang mampu mengendarai mobil semahal itu? Dibandingkan beliau, keluarga Pratama itu bukan apa-apa!"
"Ya Tuhan! Peluk aku! Aku kaget sampai rasanya mau pingsan…"
"Aku cuma pernah lihat fotonya sekali di majalah bisnis. Siapa sangka bisa melihat orangnya langsung!"
"Aku mau tanda tangannya! Bahkan kalau harus tanda tangan di celana dalamku pun aku rela!"
"Aktor tampan mana pun pasti cuma bisa berlutut di depan Tuan Bryan."
"Kalau beliau masuk dunia hiburan, siapa lagi yang bakal peduli sama aktor lain!"
"Ah, mimpi! Bisa lihat dia dari jauh saja sudah keberuntungan seumur hidup. Kau malah berharap dia jadi artis?"
…
Bahkan setelah Bryan masuk ke dalam hotel, kerumunan di luar masih belum bubar dan tetap sibuk bergosip.
"Bos besar SantoPrime biasanya tidak pernah datang tanpa pemberitahuan resmi."
'Aku heran kenapa beliau tiba-tiba muncul sendirian di hotel ini selarut ini. Sebenarnya ada urusan apa?'
"Siapa tahu? Masa pria sekelas beliau datang hanya untuk mencari wanita?"
"Sayang sekali. Dia sempurna, tapi katanya tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Kira-kira kenapa?"
"Mungkin dia sebenarnya suka laki-laki!"
"Omong kosong! Kalau begitu, dari mana anaknya?"
"Kurasa beliau pria sentimental. Hatinya masih terikat pada ibu anaknya."
"Dia pasti sangat mencintai wanita itu sampai memilih tetap melajang selama bertahun-tahun."
…
Saat Bryan tiba di lantai atas tempat acara berlangsung, ia menyadari sebagian besar pemain dan kru film sudah pergi. Kerumunan di luar tadi pasti rombongan terakhir.
Namun ia masih belum melihat Kirana di mana pun.
Bryan menyusuri lorong panjang hotel sambil sesekali menelepon nomor Kirana lagi.
Tetap tidak diangkat.
Ketika melewati area toilet, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari dalam, samar-samar terdengar nada dering ponselnya sendiri.
Bryan mematung, mendengarkan dengan saksama. Ia menyadari suara itu berasal dari toilet wanita.
Ia segera menutup panggilan. Seketika, suara dering di dalam ikut berhenti.
Setelah memastikan orang yang ia cari ada di sana, Bryan menghela napas lega—lalu mengerutkan alis.
Ia tidak punya pilihan lain selain masuk untuk mencarinya.
Ponsel Kirana tadi berdering keras di tempat sepi itu, tetapi tidak ada reaksi apa pun. Kemungkinan besar wanita itu benar-benar mabuk berat.
"Kirana?"
Bryan memanggil lembut sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.
Ia berdiri di antara batas toilet pria dan wanita, mencubit pangkal alis dengan ragu.
Ekspresinya serius, persis seperti saat menegosiasikan kesepakatan bisnis bernilai dua puluh empat triliun rupiah.
Beberapa detik kemudian, Bryan mengambil keputusan.
Kakinya melangkah mantap menuju toilet wanita.
Bersambung…