Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Sebagian warisan yang kamu punya, coba diinvestasikan deh. Siapa tahu dengan begitu kamu punya uang tambahan untuk keperluan kamu sendiri."
"Tante yakin kamu kewalahan untuk mengelola harta papah dan mama kamu. Kalau kamu kurang percaya pada kami, Kamu cari suami aja supaya ada yang mengelola hartamu. Syukur-syukur Kalau kamu udah suamimu bisa mengelola harta bersama-sama."
"Kami akan mungkin ninggalin kamu di rumah sebesar ini. Kami takut kamu kesepian dan membutuhkan kami."
"Kamu itu perempuan, Vania. Kalau bisa perempuan itu harus bangun pagi, belajar masak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Jangan mentang-mentang kamu pewaris tunggal, kamu nggak bisa apa-apa."
"Sarapan Tante sih kamu lebih baik mengundurkan diri dari manajemen influencer kamu itu deh. Kamu itu perempuan loh, nggak balik kalau keluyuran keluar terus, kalau sudah nikahkan ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga."
"Sebagai pewaris tunggal, masa kamu mau pelit sama keluarga besar yang lain? Bukannya om mau sok ngatur soal warisan, om cuma mau kamu jadi orang yang dermawan."
Begitulah beragam ucapan dari keluarga besar papahnya yang terngiang di benak Vania. Banumu, dari pihak keluarga mamah Vania mereka jarang membahas soal warisan, tapi justru lebih sering membahas soal Vania yang belum menikah dan hidup sendiri. Di rumah besar Vania sekarang, ada lima keluarga yang masih betak berada di sana dan sampai sekarang tak kunjung pulang ke rumah mereka masing-masing.
Sembari menunggu notaris papahnya di restoran, Vania membaca deretan pesan yang masuk ke ponsel Vania. Ia pernah mengirim pesan pada keluarga besarnya agar mereka pulang ke kediaman mereka masing-masing. Namun sayangnya, mereka pandai membuat dalih untuk menetap di rumah Vania. Ia jadi geram dan muak untuk tinggal di rumahnya sendiri.
"Selamat siang, mbak Vania." Sapa pria setengah baya yang rapih dengan pakaiannya, di adalah notaris mendiang papanya.
"Ada yang bisa saya bantu, mbak?"
"Bapak bisa baca pesan dari keluarga besar saya. Setelah kedua orang tua saya meninggal, mereka malah tinggal lama di rumah. Saya sudah tidak nyaman dengan beragam ocehan mereka. Setiap kali saya ke sana, saya merasa seperti menumpang di rumah saya sendiri," ujar Vania seraya menyerahkan ponselnya pada notaris papahnya.
"Mbak Vania butuh pengacara? Jika memang iya, saya bisa menghubungi pengacara papahnya mbak, ya untuk jaga-jaga aja."
"Saya tidak ingin berlarut-larut, Pak," ucapnya tegas, suara gemetar namun penuh keberanian. "Saya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Untuk properti seperti rumah, butik, dan toko besar yang merupakan warisan dari papa dan mama, biarlah menjadi milik mereka. Namun, saya akan mengambil kendali penuh atas aset likuid kami, seperti uang. Saya mampu mencari dan membeli rumah baru. Lebih lagi, tinggal di rumah yang luas tanpa kehadiran kedua orang tua saya hanya meninggalkan kesunyian yang mencekam. Mohon, Pak, untuk menuliskan keputusan saya ini dengan cermat."
Tetapi sang notaris masih terlihat bingung, "Mbak adalah pewaris tunggal dari kedua orang tua mbak."
Suaranya mulai pecah, "Pak, saya telah merenungkan ini keputusan ini. Bukan soal warisan atau uang, tapi tentang mencari ketenangan jiwa yang telah lama hilang dari rumah itu. Saya gak mau kami ribut hanya karena masalah yang sama. Anggap saja saya sedekah sama keluarga sendiri, sekarang bapak ikut saya ya untuk kerumah itu, terakhir kalinya."
"Baik mbak, semoga ini menjadi keputusan yang tepat buat mbak. Kalau begitu, saya hubungi pak Dani dulu. Saya punya cara, supaya kita bisa merundingkan semuanya bersama."
Tak lama pramusaji datang menyuguhkan hidangan yang sebelumnya susah Vania pesan, ia mempersilahkan notaris papahnya itu untuk menyantap hidangan itu. Sebelum berunding soal warisan mereka sengaja mengisi perutnya terlebih dahulu, karena Vania tahu membahas soal warisan bersama keluarga besarnya akan sangat menguras energi.
Berseteru dengan keluarga besarnya sendiri membuat Vania melupakan Deo. Suasana suka atas kepergian kedua orangtuanya, membuat Vania tidak peduli dengan Deo dan Karina. Di tengah kegiatan makan, ponsel milik Vania berdering, ia melirik sekilas layar ponselnya ternyata panggilan dari kepolisian yang mengurus kasus kecelakaan orang tuanya. Dengan segera ia mengangkat panggilan telepon itu, jika menyangkut orang tuanya pasti Vania akan bergerak cepat.
"Selamat siang, mbak Vania," sapa pria yang merupakan polisi dari sebrang sana.
"Selamat siang juga, pak. Ada apa ya telepon saya?"
"Begini mbak, saya dan rekan lainnya sudah menyelidiki lebih lanjut mengenai kecelakaan yang menimpa orang tua mbak. Setelah di selidiki lebih dalam ternyata kecelakaan tersebut bukan murni kecelakaan. Ada yang janggal, karena supir yang menabrak mobil orang tua mbak juga tewas di tempat, setelah kami periksa kendaraannya ternyata bagian rem kendaraan itu seperti sengaja dibuat blong."
"Bukan murni kecelakaan?" Gimana Vania cukup tercengang dengan berita yang ia dapat, bahkan ia hampir tersedak setelah mendengar berita itu.
"Maaf mbak, saya mau tanya apakah bapak dan ibu mbak Vania memiliki musuh atau saingan bisnis? Dengan informasi itu kami bisa menduga pelaku dan motif di balik kecelakaan orang tua mbak. Kami tim penyidik akan berusaha memecahkan kasus ini, kalau bisa mbak datang ke kantor kami."
"Ah baik, pak. Kalau begitu saya akan ke sana, sekaligus saya akan ajak pengacara saya."
"Baik mbak, kami tunggu kedatangan mbak segera."
Percakapan antara Vania sana pihak kepolisian berakhir, ia kembali meletakkan ponselnya di meja. Selera makannya tiba-tiba hilang setelah mendengar informasi dari kepolisian. Vania terdiam, ia berpikir keras skan penyebab kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya. Tiba-tiba pikirannya teringat sesuatu. 'jangan-jangan.'
----
Di ruang keluarga yang luas, Vania duduk dengan anggun, dikelilingi oleh notaris, pengacara, dua asistennya, serta staff rumah tangga yang setia. Di sisi lain ruangan, terhampar wajah-wajah keluarganya; beberapa dengan tatapan sinis, sebagian lagi dengan raut wajah panik.
Suasana yang dulu hangat kini terasa sejuk dan asing, seperti halnya hubungan Vania dengan beberapa anggota keluarganya setelah kedua orang tuanya meninggal. Ruangan itu, yang dulunya penuh tawa dan canda, kini hanya dihiasi bisikan dan tatapan tajam.
Dengan suara yang tenang namun tegas, Vania mulai berbicara tentang pembagian harta warisan yang telah diamanatkan oleh orang tuanya. Setiap kata yang diucapkannya tampak dipertimbangkan dengan matang, mencerminkan kepemimpinan yang selama ini ia pegang.
"Silahkan pak," ujar Vania mempersilahkan pengacara papanya untuk menyampaikan perihal warisan kepada keluarga besarnya.
"Baik, saya Dani salahku pengacara Mbak Vania. Saya pengen menyampaikan kepada seluruh keluarga besar mendiang kedua orang tua mbak Vania, seperti yang tertera dalam wasiat," kata Vania, menatap satu per satu wajah keluarganya, "aset-aset yang orang tua Vania miliki seluruhnya jatuh kepada pewaris tunggal yaitu Mbak Vania dan hal ini tidak bisa diganggu gugat. Akan tetapi, Mbak Vania mau minta saya untuk menuliskan keputusannya."
"Ini maksudnya gimana?"salah satu paman Vania bertanya.
Pak Dani selaku pengacara melanjutkan isi amanah dari Vania. "Di sini tertulis Mbak Vania menyerahkan rumah ini untuk pak Suryo selaku adik dari ayahnya Mbak Vania. Lalu untuk pengelolaan butik disarankan kepada pak Andi selaku adik dari ayahnya Mbak Vania. Dan untuk pengelolaan toko Mbak Vania sarapan kepada bapak Agus selaku kakak dari ibu mbak Vania. Namun, untuk aset dan uang sepenuhnya berada di tangan bapaknya. Sekian dari saya sebagai pengacara, bersama pak Rusdi sebagai notaris dan juga saksi di sini. Tidak boleh ada yang merasa keberatan karena sudah ditandatangani resmi oleh pewaris tunggal. Yogyakarta, pada tanggal yang tertulis."
Seorang paman yang duduk di barisan depan, mengernyitkan dahi, jelas tidak puas. "Ini tidak adil, Vania! Kamu tahu aku lebih dekat dengan ayahmu daripada siapa pun di sini!" serunya dengan nada meninggi.
Vania menatap paman itu dengan tatapan yang tidak tergoyahkan. "Ini sudah bulat keputusan aku om."
Ketegangan meningkat, beberapa sepupu Vania mulai berbisik satu sama lain, sementara notaris mencatat segala sesuatu dengan teliti. Vania, meskipun dikelilingi oleh keraguan dan kekecewaan, tetap tenang; dia tahu bahwa ia harus kuat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjaga kehormatan dan keinginan terakhir orang tuanya.
" Aku datang ke sini bukan untuk pulang. Aku akan keluar dari rumah ini. Rumah ini bukan lagi tempat aku untuk pulang, aku gak mau kita ribut hanya karena rumah ini." Ujar Vania dengan lantang.
"Eum, gimana kalau sebagian dari kami pulang ke rumah masing-masing dan sebagian lagi ada yang nemenin kamu di sini. Kami mengambil keputusan ini untuk kebaikan kamu juga. Kalau gak ada kamu, kamu mau sama siapa?"
"Keputusan aku sudah bulat untuk keluar dari rumah ini."
"Jangan mentang-mentang kamu pewaris tunggal bisa seenaknya ss,s kami! Emangnya kamu pikir kami di sini gila warisan? Kami juga mau bantu kamu, Vania." Ujar salah satu sepupunya.
"Emang keliatannya gitu kan, mas?" Vania menatap tajam sepupunya itu. "Terus maunya kalian gimana? Kalau nanti aku usir kalian yang ada akan menambah masalah, jadi lebih baik aku aja yang pergi dari rumah ini kan? Ah atau jangan-jangan karena sebagian aset papah dan mamah ada di tangan aku makanya kalian gak rela kalau aku pergi dari rumah ini?"
"Oke kamu akan pergi dari rumah ini supaya kamu bisa tenang, tapi tante harap kamu jangan keluar dari rumah ini."
" Maaf Tante keputusan Vania sudah bulat. Urusan kita sudah selesai, aku dan beserta yang bekerja di sini akan pergi."
Vania beranjak kemudian melangkah keluar rumah. " Mbok maaf ya, gara-gara Vania mbok jadi ketinggalan travel. Sekarang Vania antar mbok ke travel ya."
"Iya non gak apa-apa. Terimakasih non Vania, semoga non selalu dalam lindungan Gusti Allah dan diberikan rezekinya juga kebahagiaan. Yang kuat dan tegar ya non, mbok yakin non bisa melewati semua ini," tutur mbok.
"Iya mbok, sebisa mungkin Vania akan jadi kuat dan tegar." Vania tersenyum sibuk kemudian menuntun mbok dalam mobil.
Vania mengalih ke belakang melihat rumahnya sendiri untuk yang terakhir kalinya. Vania harus yakin pada dirinya sendiri untuk membuka lembaran baru di tempat yang baru. Tetapannya kemudian tertuju pada orang-orang yang berada di teras rumahnya, mereka menatap kepergian Vania dengan tatapan sinis. Meski begitu hanya tidak terlalu menggubris mereka, bukan bermaksud untuk memutuskan silaturahmi keluarga, tapi ini demi keberlangsungan hidup Vania sendiri.
Matahari mulai terbenam menjadi saksi kali terakhir Vania mengerjakan rumah yang selama ini menjadi tempat ternyaman nya untuk pulang.