NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Kebangkitan Chika dan Marianne.

Keesokan harinya, langit di atas ibu kota Teatan kembali dipenuhi bayangan hitam.

Dari celah-celah awan, satu per satu invader bermunculan—serangga baja dengan sayap bergerigi dan tubuh berlapis pelat merah kehitaman. Suara mereka memekakkan telinga:

KRRRREEEEKK—KIIIEEEKK!!

Di jalanan, warga berlarian panik. Anak-anak digendong, pedagang meninggalkan gerobaknya, pintu-pintu rumah dibanting terburu-buru.

Di tengah kekacauan itu, cahaya biru muncul dari langit.

Pulau terbang Havenload melayang rendah, dan puluhan Robot MK turun seperti hujan logam putih-perak.

WHOOM—WHOOM—WHOOM!

Robot-robot itu mendarat di alun-alun dan atap bangunan, membuka sayap mekanis mereka.

Chika berdiri di depan barisan warga bersama Princes, Vivi, Selena, dan beberapa MK. Helmnya masih terpasang, pedang Lumina tergantung di punggungnya, tapi… wajahnya kosong. Tidak ada senyum bodohnya hari ini.

Selena, berjalan sambil menopang seorang nenek, payung merahnya miring menutupi wajah dari matahari. Di sela-sela langkahnya, ia menggigit tubuh serangga kecil yang merayap di tanah—

CRAK!

Darah hijau kehitaman ia telan, lalu ia menjilat bibirnya pelan.

“Vivi…” katanya lirih, suaranya rendah.

“Aku tidak melihat senyum si Chika.”

Vivi berjalan di sampingnya, keranjang jamur di punggungnya bergoyang. Senyumnya masih sama—lebar, menutupi mata—tapi nadanya kali ini lebih tenang.

“Ini mungkin kegagalan pertamanya,” ujar Vivi.

“Dulu… penciptaku, Kaden… juga sering gagal. Kota terbakar, teman-temannya mati… tapi dia selalu bangkit.”

Selena melirik ke depan.

Di sana, Chika dan Princes sedang membantu warga menaikkan barang ke punggung Robot MK.

“Pelan-pelan, Bu! Jangan jatuh!” kata Chika, mengangkat karung gandum ke bahu robot.

Robot MK mengangguk kaku.

“MUATAN DITERIMA. DESTINASI: HAVENLOAD.”

WHOOSH!

Robot itu terbang, membawa satu keluarga ke langit.

Princes menarik lengan Chika kecil-kecil.

“Chika… ayo senyum, hihi!!”

Chika terkejut. Ia menoleh, lalu tersenyum—senyum khasnya yang polos. Tapi matanya basah.

“Iya…” suaranya bergetar.

“Makasih ya, Princes…”

Ia mengusap helmnya sendiri, seolah menahan sesuatu di dalam dada.

Tiba-tiba—

BOOOOM!!

Satu invader jatuh di tengah jalan, menghancurkan kios buah.

“AAAAAAAA!!”

“INVADER!!”

Chika refleks maju selangkah… lalu berhenti.

Tangannya gemetar di gagang Lumina.

Selena menyadarinya.

Ia melompat ke depan Chika, tombak darah muncul dari lengannya.

“Chika, dengar aku,” katanya cepat.

“Kau tidak sendirian.”

Vivi melempar jamur ungu ke tanah.

PUFFSSSH!

Kabut ungu menyebar, membuat dua invader roboh sambil kejang.

“Bangkitlah,” kata Vivi lembut.

“Bukan sebagai pahlawan… tapi sebagai dirimu sendiri.”

Chika menelan ludah.

Ia melihat warga yang lari.

Ia melihat Princes yang menggenggam baju zirahnya.

Ia melihat darah hijau di tanah.

“Aku…”

“…aku masih takut…”

Pedang Lumina bergetar di punggungnya.

ZZZZZZZ…

Chika mencabutnya.

Petir biru mengalir di bilah baja besar itu.

“Tapi… aku tidak mau mereka mati lagi!”

Ia melompat ke depan.

“SELENA! VIVI! TUTUP JALUR EVAKUASI!!”

Selena tersenyum miring di balik payung.

“Hero pertama, siap bertugas.”

Vivi mengayun keranjang jamurnya.

“Penjaga lama Havenload… aktif.”

Invader menyerbu.

Chika berlari, langkahnya menghantam tanah.

“⚡ LUMINA SLASH!!”

Ia menebas satu invader dari bawah ke atas.

BZZZRRRAAASH!!

Tubuh serangga itu terbelah dua, jatuh sambil berasap.

Selena mengangkat tangannya.

“🩸 BLOOD LANCE!”

Tombak darah melesat, menusuk kepala invader lain dari balik payung merah.

Vivi melempar jamur lagi.

“Jamur Halusinasi Ungu.”

Kabut menyelimuti invader, membuat mereka saling menyerang sendiri sambil menjerit logam.

Di tengah itu semua, Princes berlari kecil ke arah gang sempit.

“Jhonny… Jhonny… kamu di mana…”

Ia menengok ke setiap sudut, memanggil dengan suara kecil.

Sementara itu, Chika berdiri di depan jalan utama, menahan gelombang invader sendirian.

Petir mengalir di perisainya.

Napasnya berat.

Tangannya gemetar.

Tapi kali ini… ia tidak mundur.

“Aku…” katanya pelan, lalu mengangkat pedang tinggi-tinggi.

“…aku tidak akan kalah lagi.”

Di belakangnya, robot MK terus mengangkat warga ke langit.

Dan di tengah kota yang terbakar, di bawah pulau yang melayang…

Chika kembali berdiri sebagai knight—

bukan karena takdir,

tapi karena ia memilih untuk melindungi.

...----------------...

Di gang sempit antara dua bangunan runtuh, Princes menggenggam tongkat baseball kayu—entah sejak kapan ia membawanya—dan mengintip dari balik tembok yang retak.

“Jhonny… Jhoooonny… kamu di mana…” gumamnya sambil menahan napas.

Di kejauhan terdengar suara invader:

KRRSSSH—KIIIEEKK!

Logam bergesekan dengan batu. Bau asap dan cairan hijau menusuk hidung.

Princes menarik napas dalam-dalam, lalu…

“BAIKLAH! MODE SILUMAN!”

Ia berjongkok rendah, berjalan jinjit dengan gaya berlebihan—bahunya naik turun seperti kucing kartun.

Satu invader melintas di ujung gang.

Princes langsung menempel ke tembok.

“Jangan lihat aku… aku cuma… tembok… tembok kecil…”

Invader itu lewat tanpa sadar.

Princes berlari kecil menyusuri gang, melompati puing kayu, lalu membelok tajam ke lorong belakang.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Jhonny duduk di dekat tembok roboh, memeluk pedang ayahnya erat-erat. Bajunya kotor, lututnya berdarah, matanya kosong menatap tanah.

Princes berhenti mendadak.

“J… Jhonny…”

Anak itu menoleh perlahan.

“…Princes?”

Suaranya serak.

“Kamu… kenapa masih di sini… ini berbahaya…”

Princes berlari ke arahnya dan jongkok.

“Kamu juga kenapa di sini sendirian?!”

Ia menatap pedang di tangan Jhonny.

“Itu… pedang ayahmu ya…”

Jhonny menggenggamnya lebih kuat.

“Ayah… mati karena aku… Kalau aku tidak keluar… dia tidak akan—”

“BUKAN!” potong Princes keras—lalu ia menutup mulut sendiri.

“E-eh… maksudku… bukan salah kamu…”

Jhonny menggeleng.

“Kalau aku tidak lambat… kalau aku lebih kuat…”

Princes berdiri, mengangkat tongkat baseballnya ke udara.

“Kalau begitu… jadi kuat sekarang!”

Jhonny terkejut.

“…Hah?”

Princes menancapkan tongkatnya ke tanah seperti pahlawan murahan.

“Aku dulu juga takut… waktu dikejar goblin… waktu hampir dimakan… waktu Chika jatuh…”

Ia menunjuk dadanya sendiri.

“Tapi Chika bilang… kalau jatuh, kita berdiri lagi.”

Jhonny menunduk.

“Aku… tidak bisa berdiri…”

Princes mendekat, lalu… plak!

Ia menepuk pipi Jhonny pelan.

“Hei. Lihat aku.”

Ia tersenyum lebar.

“Aku juga kecil. Aku juga lemah. Tapi aku masih lari.”

Ia mengulurkan tangan.

“Kalau kamu tidak bisa berdiri sendiri… aku lari bareng kamu.”

Jhonny menatap tangan itu lama. Tangannya gemetar.

Di kejauhan terdengar:

KRRRREEEKK!!

Invader mendekat.

Jhonny menggertakkan gigi, lalu menggenggam tangan Princes.

“…Baik.”

Princes tersenyum lebar.

“OKE! MODE EVAKUASI!”

Mereka berdua mulai berlari keluar gang.

Namun—

BOOOOM!!

Satu invader mendarat di depan mereka, menghalangi jalan. Sayapnya terbentang, cairan hijau menetes dari rahangnya.

Jhonny berhenti.

“…Terlambat…”

Princes mengangkat tongkat baseballnya.

“Jangan sentuh dia!”

Invader meraung dan melompat.

Tiba-tiba—

“PERINGATAN. TARGET MENGANCAM OBJEK: PRINCES.”

Suara mekanis menggema dari udara.

WHOOM!

MK.99 mendarat di antara mereka dan invader, debu beterbangan.

Robot itu menguap.

“Status: baru bangun tidur… suasana buruk…”

Di udara terdengar suara Vivi dari komunikasi:

“MK.99… kalau kau tidak melindungi mereka… aku cabut bateraimu.”

Mata MK.99 menyala biru terang.

“MODE TEMPUR: AKTIF.”

Dari punggungnya, dua laras misil terbuka.

Dari lengannya, muncul pedang futuristik biru yang berdengung:

VZZZZNNNN!!

Invader menyerang.

MK.99 melompat ke depan, menebas satu kaki serangga itu.

SHHHRRAAAK!!

Lalu ia berputar dan menembakkan misil ke belakangnya.

WHOOM—BOOOM!!

Dua invader yang mengejar dari belakang meledak jadi potongan logam.

Princes melongo.

“…Wah.”

MK.99 menoleh.

“SUBJEK PRINCES. JANGAN TERPESONA. LARI.”

Jhonny menarik lengan Princes.

“Ayo!”

Mereka berlari menyusuri jalur darurat—jalan sempit dengan tanda panah biru di tanah.

Di belakang mereka, MK.99 berjalan mundur sambil menebas dan menembak.

“TARGET DI NETRALISASI.”

“TARGET DI NETRALISASI.”

“TARGET… wah, ini banyak sekali.”

Satu invader melompat tinggi.

MK.99 menatapnya.

“SOLUSI: BESAR.”

Ia menembakkan seluruh misil sekaligus.

BOOOOOOMMMMM!!!

Asap dan api memenuhi jalan.

Princes batuk.

“MK.99… kamu keren banget!”

MK.99 mengangkat pedangnya sedikit.

“…PUJIAN DITERIMA. AKAN DI SIMPAN SEBAGAI DATA.”

Mereka akhirnya sampai di titik evakuasi—Robot MK lain sudah menunggu.

Jhonny berhenti, terengah-engah, lalu menatap Princes.

“…Terima kasih.”

Princes tersenyum lebar.

“Kita kan tim.”

Jhonny menggenggam pedang ayahnya, kali ini tidak gemetar lagi.

“…Aku mau hidup. Biar… aku bisa jadi kuat juga.”

Princes mengangguk keras.

“Bagus! Kalau sudah kuat… kita main baseball lagi!”

Jhonny terkejut.

“…Di kota yang hancur?”

Princes berpikir.

“…Iya juga. Kita bangun lapangan dulu.”

MK.99 memandang mereka.

“KESIMPULAN: MANUSIA ANEH. NAMUN… MENYENANGKAN.”

Di langit, Havenload bersinar biru.

Di bawahnya, di kota yang hampir runtuh…

dua anak kecil berlari menuju keselamatan,

dengan harapan kecil yang baru saja lahir.

...----------------...

Di jantung ibu kota Teatan yang kini berubah seperti medan perang—bangunan roboh, jalan retak, dan langit dipenuhi asap hijau—Chika, Selena, Vivi, dan MK.99 melangkah semakin ke dalam wilayah yang dipenuhi invader.

Angin membawa bau logam terbakar dan lendir asing.

Chika mengencangkan genggaman pada Pedang Lumina. Bilahnya berdengung, listrik biru muda menjalar seperti urat nadi yang hidup.

“Semakin ke tengah… semakin banyak,” gumamnya dengan senyum bodoh khasnya, meski lututnya masih gemetar.

Selena membuka payung merahnya sedikit, menahan sinar matahari yang menerobos asap. Mata merahnya menyipit.

“Aura mereka makin kotor… seperti tumpukan bangkai yang berjalan.”

Vivi berjalan santai di belakang, keranjang jamur ungunya bergoyang. Senyumnya tetap menutupi mata.

“Hoho… biasanya jamurku dipakai untuk sup. Hari ini… untuk membasmi serangga.”

MK.99 melayang rendah di udara.

“DETEKSI: 387 TARGET DI DEPAN. SARAN: PUTAR BALIK.”

Ia berhenti sejenak.

“PERINTAH DARI VIVI: DILARANG PUTAR BALIK.”

Selena meliriknya.

“Kau takut?”

MK.99 berpikir satu detik.

“…YA.”

Vivi tertawa kecil.

“Bagus. Takut artinya kau masih hidup.”

Tiba-tiba—

KRRRRRSHHH!!

Ratusan invader keluar dari gang-gang sempit, dari balik reruntuhan, dari atap rumah yang hancur. Mata mereka menyala hijau, kaki mereka menggores batu.

Chika refleks mengangkat perisai.

“Banyak banget… kayak semut habis nemu gula!”

“MAJU!” teriak Selena.

Ia menghantam tanah dengan ujung tombak darahnya.

“—Blood Art: Crimson Line!”

Garis merah menyala membelah jalan. Invader yang melintas di atasnya langsung terpotong dua, cairan hijau muncrat seperti hujan asam.

Vivi melempar tiga jamur ungu ke udara.

“Jamur… mekar.”

POOF! POOF! POOF!

Kabut ungu menyebar. Invader yang menghirupnya langsung kejang-kejang, jatuh sambil mengeluarkan suara krrk…krrk… seperti radio rusak.

MK.99 meluncur maju.

“MODE PEDANG: AKTIF.”

Pedang birunya berputar seperti baling-baling.

ZRRRRING!!

Dua invader terbelah sebelum sempat melompat.

Chika maju paling depan.

“Lumina—Step!”

Ia meluncur cepat, melompat, menebas dengan gerakan besar.

“Lightning Split!”

BAAAAM!!

Satu garis petir menyambar, menguapkan tiga invader sekaligus.

Namun… jumlah mereka tidak berkurang.

Dari balik asap, terdengar langkah berat.

DUM… DUM… DUM…

Tanah bergetar.

Semua berhenti.

Dari tengah jalan utama, muncul sosok raksasa.

Komandan Crops invader.

Tubuhnya seperti menara daging dan baja.

Pedangnya: besar, merah kehitaman, berdenyut seperti jantung.

Tamengnya: terbuat dari gigi dan tulang, masih meneteskan darah.

Matanya menatap Chika.

“TARGET: PEMEGANG PEDANG BIRU.”

Chika menelan ludah.

“…Dia gede banget.”

Selena berbisik,

“Itu bukan sampah. Itu… komandan.”

Ratusan invader berdiri di depan komandan, membentuk dinding hidup.

Vivi menghela napas.

“Ah… biasanya bos selalu muncul terakhir. Sungguh tidak sopan.”

MK.99 mengangkat senjata.

“PROBABILITAS MENANG: 12%.”

Chika tersenyum kaku.

“Eh… itu tinggi kan?”

Sebelum mereka maju—

BRUUUMMM!!!

Sebuah bayangan raksasa jatuh dari langit.

DUMMMMM!!!

Debu beterbangan, invader terpental ke segala arah.

Dari balik debu, berdiri…

ROBOT RAKSASA TEATAN.

Kayu dan baja menyatu. Bahunya dipenuhi laras meriam. Dadanya menyala dengan inti biru.

Suara perempuan menggema dari dalamnya:

“MENJAUH DARI MEREKA.”

Marianne.

Robot itu melangkah maju dan meninju tanah.

DOOOOM!!

Gelombang kejut meratakan puluhan invader.

Selena terkejut.

“…Dia kembali.”

Vivi tersenyum lebih lebar dari biasanya.

“Hoho… bangkit dari duka… indah sekali.”

MK.99 menatap robot itu.

“UKURAN: BESAR. STATUS: MENGINTIMIDASI.”

Marianne menggerakkan robotnya seperti menari. Meriam di bahu terbuka.

“Chika!”

Chika menoleh.

“Eh? Ya?!”

“Yang kecil-kecil ini biar kami habisi,” suara Marianne terdengar bergetar, bukan karena takut… tapi marah.

“Yang besar… itu milikmu.”

Komandan Crops mengangkat pedangnya dan meraung.

“PERANG.”

Robot Marianne menghantam barisan invader, Vivi melempar jamur dari atas bahu robot, Selena melompat di antara kaki mesin sambil membantai dengan tombak darah, MK.99 terbang di sisi lain seperti burung besi.

Chika berdiri sendiri di depan komandan.

Debu perlahan turun.

Ia mengangkat Pedang Lumina.

“Baiklah…”

Ia menarik napas panjang.

“Kalau semua orang lagi berjuang…”

Ia tersenyum, polos dan bodoh seperti biasa.

“…masa aku malah kabur.”

Komandan mengangkat pedangnya.

Chika mengangkat perisainya.

Dua sosok berdiri saling berhadapan—

seorang knight kikuk…

dan monster perang dari dunia lain.

Pertarungan besar…

akan dimulai.

...----------------...

Debu masih menggantung di udara ketika Chika berdiri menghadap Komandan Crops Invader. Angin panas berembus membawa bau darah dan besi hangus. Di belakangnya, suara ledakan dari Vivi, Selena, MK.99, dan robot Marianne terus bergema seperti genderang perang.

Komandan itu mengangkat pedang raksasanya.

KRRRRAAAANG— bilah merah kehitaman itu menyeret aspal, memercikkan api.

Chika menghela napas panjang… lalu tiba-tiba—

Ia menyarungkan Pedang Lumina.

Ia menurunkan Perisai Lumina.

Selena yang melihat dari jauh berseru,

“Chika?! Kenapa malah—?!”

Chika membuka tangannya.

Dari udara di sampingnya, muncul sebuah pedang lain.

Hero Sword.

Pedang energi biru muda yang bersinar lembut, dengan gagang bermata belah ketupat dan kristal kecil berbentuk sama di tengahnya. Cahaya di dalam kristal itu berdenyut… seperti jantung.

Robot Marianne berhenti bergerak.

Dadanya terbuka perlahan.

Dari dalam inti mesinnya, seberkas cahaya biru keluar—

meluncur seperti komet…

dan masuk ke Hero Sword.

FWWWOOOMMMM—

Pedang itu menyala lebih terang.

Suara Marianne menggema, berat tapi penuh emosi:

“Hero kedua…

MAR I A N N E.”

Energi menyelimuti tubuh Chika.

BAAAAMMM!!

Zirah kerajaan Gurial Tempest muncul menyelimuti tubuhnya—logam perak-biru dengan ukiran angin dan petir. Kain scarf merah berkibar di lehernya. Helm knight muncul di kepalanya, dihiasi bulu merah yang melambai tertiup angin panas.

Chika membuka visor helm.

Matanya bersinar.

“Hehehe…”

Ia mengangkat Hero Sword ke bahu.

“Baiklah… sekarang aku serius.”

Komandan Crops meraung.

“TARGET: HERO.”

Ia menghentakkan kakinya.

DOOOOM!!

Aspal retak seperti kaca.

Komandan menerjang.

Pedangnya diangkat tinggi lalu diayunkan horizontal.

“—DEATH CLEAVER!”

WHOOOOOSH!!

Gelombang angin berdarah menyapu ke arah Chika.

Chika melompat.

“Sky Step!”

Ia menginjak udara, tubuhnya berputar. Tebasan itu lewat tepat di bawah kakinya, menghancurkan gedung di belakang.

KRASHHH!!

Chika mendarat di tiang lampu bengkok.

Ia mencondongkan tubuh ke depan.

“Giliranku!”

“—Hero Art: Flash Break!”

Ia melesat seperti kilat.

ZZZRAAANG!!

Hero Sword menghantam tameng gigi komandan.

Dentuman keras menggema.

Komandan terdorong setengah langkah.

“…?”

Ia terkejut.

“DAMAGE: TERDETEKSI.”

Chika terengah-engah, namun tersenyum.

“Lihat tuh… bisa luka, kan?”

Komandan menggeram.

Ia mengangkat tameng dan menghantam tanah.

“—WAR DRUM!”

DOOOOM!!

Gelombang kejut melontarkan Chika ke udara.

Chika berputar di udara, hampir kehilangan pedang.

“Whoa—!”

Ia mendarat terguling, zirahnya menggores aspal.

Komandan melompat.

Tubuh raksasanya jatuh seperti meteor.

“—CRUSH FALL!”

Bayangan besar menutup Chika.

Chika membuka matanya lebar.

“…Gawat.”

Ia menancapkan pedang ke tanah.

“—Hero Art: Wind Guard!”

Lingkaran angin muncul.

BOOOOM!!

Tubuh komandan menghantam perisai angin, menciptakan kawah besar.

Debu menutupi semuanya.

Chika terbatuk.

“…ckh… berat banget…”

Dari dalam debu, mata hijau komandan menyala.

Ia mengayun pedangnya ke bawah.

Chika refleks mengangkat Hero Sword dua tangan.

KRRRRAAANG!!

Tanah di bawah Chika amblas setengah meter.

Kakinya gemetar.

Komandan menekan pedangnya.

“MENYERAH.”

Chika meringis.

“Heh… belum.”

Ia memutar pedang ke samping, menangkis, lalu meloncat mundur.

Napasnya terengah.

Keringat menetes dari dagunya.

Namun senyumnya… semakin lebar.

“Entah kenapa…”

“…aku malah jadi semangat.”

Ia berlari memutar.

Komandan mengayun.

Chika melompat ke puing-puing, memantul ke dinding, lalu melompat lagi.

Gerakannya seperti akrobat di tengah hujan api.

“—Hero Art: Spiral Rush!”

Ia berputar seperti bor cahaya.

ZZZZZZZRRRRRAAAAM!!

Pedangnya menghantam bahu komandan.

Daging hitam terbelah.

Cairan hijau menyembur.

Komandan meraung.

Ia mengangkat tameng dan menghantam Chika.

BAAAM!!

Chika terpental, menghantam mobil terbalik.

Kaca pecah.

Helmnya retak sedikit.

Ia bangkit tertatih.

“…aduh… keras juga.”

Ia berdiri tegak lagi.

Scarf merahnya berkibar.

“Hey monster…”

“Kalau mau lewat…”

Ia mengangkat pedang lurus ke depan.

“…lewati aku dulu.”

Komandan mengangkat pedang tinggi-tinggi.

Langit seperti menggelap.

“—EXECUTION MODE.”

Energi merah mengalir di bilahnya.

Chika mengatur napas.

Ia menutup mata sejenak.

Dalam pikirannya, terbayang warga, Princes, Jhonny, Selena, Vivi, Marianne.

Ia membuka mata.

“—Hero Art…”

Cahaya biru menyelimuti pedangnya.

“…STORM HEART.”

Ia melesat.

Komandan mengayun.

Dua cahaya—merah dan biru—bertemu.

DOOOOOOOOOOMMMM!!!!

Ledakan besar mengguncang seluruh jalan.

Angin menerbangkan debu, bangkai invader, dan puing bangunan.

Ketika asap menipis…

Komandan berdiri…

retak dari dada sampai bahu.

Pedangnya patah.

Chika berdiri di depannya, terengah-engah, lutut gemetar, Hero Sword menancap di tanah.

Komandan jatuh berlutut.

“DATA… ERROR…”

Tubuhnya roboh ke samping.

BOOOOM…

Chika jatuh duduk.

Helmnya terbuka.

Rambutnya basah oleh keringat.

Ia tertawa kecil.

“…hehe… aku menang…”

Di kejauhan, suara Selena:

“Dia berhasil…”

Vivi tersenyum bangga.

MK.99:

“STATUS: HERO… SANGAT KEREN.”

Robot Marianne berdiri diam… lalu suaranya terdengar lembut:

“Terima kasih… Hero kedua.”

Chika berdiri perlahan.

Mengangkat pedangnya ke langit.

Langit yang masih dipenuhi asap…

…kini diterangi cahaya biru kecil dari Hero Sword.

Pertempuran belum selesai.

Tapi harapan… baru saja lahir.

...----------------...

Asap perang masih menggantung rendah ketika Chika, Selena, Vivi, MK.99, dan Marianne turun dari robot raksasa Teatan.

KRAAASSHH—

Kaki robot menjejak tanah, membuat puing-puing bergetar seperti gempa kecil.

Chika melompat turun lebih dulu. Lututnya sedikit goyah, tapi ia tetap berdiri tegak. Helmnya sudah terbuka, rambutnya basah oleh keringat, napasnya masih berat.

Selena turun dengan anggun… masih memegang payung merahnya.

Ia melirik langit.

“…matahari belum terlalu tinggi.”

Lalu memiringkan payung sedikit.

“Baik. Aku masih hidup.”

Vivi melompat turun sambil membawa keranjang jamur ungunya.

MK.99 turun terakhir dengan gaya berlebihan—

THUD!

dan langsung berpose seperti pahlawan iklan.

“STATUS: PENYELAMAT DUNIA.

TINGKAT KEKERENAN: 97%.”

Vivi menepuk kepalanya.

“Turunin dikit egomu, kaleng biru.”

Sementara itu—

Princes sudah berlari.

Langkah kecilnya cepat dan tidak seimbang, sepatunya masih beda warna kanan-kiri.

“CHIKAAAAA!!”

Ia menabrak perut Chika.

DUFF!

Chika terkejut.

“Wah—!”

Princes memeluk erat pinggangnya.

“Kamu hidup!! Kamu menang!! Kamu keren banget!!”

Chika tertawa kecil, tangannya gemetar saat mengusap kepala Princes.

“Hehe… iya… maaf bikin kamu takut.”

Selena berdiri di samping sambil melihat adegan itu.

“…anak kecil memang senjata paling mematikan.”

Vivi mengangguk.

“Critical hit ke hati.”

Tak jauh dari mereka, Marianne turun lebih lambat.

Robotnya berlutut, membuka dadanya, dan ia keluar dengan langkah berat. Matanya langsung mencari satu sosok.

Jhonny.

Jhonny berdiri di dekat gerobak kayu, memegang pedang ayahnya dengan kedua tangan. Matanya kosong, wajahnya kotor oleh debu dan air mata kering.

Marianne melangkah mendekat.

Langkahnya ragu.

Bahu tegap… tapi tangannya gemetar.

“Jhonny…”

Anak itu menoleh sebentar.

Tatapannya tajam.

Dingin.

Tidak ada lagi anak kecil yang memeluknya kemarin.

Marianne membuka mulut.

“Aku… aku hanya ingin—”

Jhonny memotong.

“Tidak perlu.”

Suaranya datar.

Ia memalingkan wajah.

“Kau sudah memilih jalanmu.

Aku juga.”

Ia berjalan pergi, melewati Marianne tanpa menyentuhnya.

Debu berderak di bawah sepatunya.

Marianne berdiri kaku.

Tangannya terangkat… lalu jatuh lagi.

“…Jhonny…”

Tak ada jawaban.

Hanya suara angin.

Chika melihat itu dari jauh.

Ia tidak berkata apa-apa.

Hanya mengencangkan genggaman pedangnya.

Keesokan harinya.

Langit cerah.

Aneh rasanya… setelah kemarin penuh darah dan api.

Pulau Havenload di atas langit menurunkan jembatan-jembatan logam. Robot MK mengantar warga kembali ke Teatan.

KLANG… KLANG…

Kota itu rusak, tapi hidup.

Ada warga yang menyapu jalan pakai… sendok besar.

Ada yang memperbaiki rumah dengan papan bertuliskan:

“INI SEMENTARA, JANGAN KOMPLAIN.”

Seorang kakek membawa ayam ke tengah kota dan berteriak:

“AYAM INI SELAMAT, BERARTI KOTA INI JUGA SELAMAT!”

Ayam:

“BUKAAAK!!”

Vivi menatap itu sambil mengunyah jamur.

“…simbolisme yang sangat dalam.”

Selena berdiri di bawah payung.

“Kenapa ayam selalu jadi penanda peradaban?”

MK.99 mengeluarkan hologram.

“DATA: AYAM \= 63% MORALE BOOST.”

Princes berlari-lari sambil membawa helm Chika.

“Chika! Helm kamu aku cuci pakai air hujan!!”

Chika langsung panik.

“ITU HELM BESI!! BUKAN TOPI KUCING!!”

Marianne muncul dari antara warga.

Ia berjalan mendekat ke Chika dan party-nya.

Wajahnya lebih tenang… tapi matanya masih menyimpan luka.

“Chika…”

Chika menoleh.

Marianne menunduk sedikit.

“Aku… tidak punya rumah lagi di sini.”

“Dan aku tidak punya alasan untuk tinggal.”

Ia mengangkat wajahnya.

“Tapi aku punya satu alasan untuk pergi.”

Ia menatap Hero Sword di tangan Chika.

“…14 Hero lain masih tersebar di dunia.”

“Aku ingin ikut mencarimu.”

Vivi tersenyum.

“Wah, tim kita makin rame.”

Selena mengangguk.

“Dan makin merepotkan.”

MK.99:

“FORMASI PARTY UPDATE:

ANGGOTA BARU TERDETEKSI.”

Princes langsung angkat tangan.

“Berarti kita tim petualang beneran sekarang?!”

Chika menatap Marianne lama.

Lalu tersenyum.

“Kalau kamu siap…

aku mau kamu ikut.”

Marianne mengangguk pelan.

“…Terima kasih.”

Tak lama kemudian, robot raksasa Teatan kembali berdiri.

Tangga besar diturunkan.

KRAAAANG—

Chika naik lebih dulu.

Princes duduk di bahunya.

Selena naik sambil membuka payung di dalam robot.

“…kebiasaan.”

Vivi naik sambil membawa jamur.

MK.99 berjalan dengan gaya dramatis.

Marianne naik terakhir.

Robot mulai bergerak.

DUUUUM… DUUUM…

Menuju Havenload.

Menuju langit.

Dari atas, Teatan terlihat kecil…

tapi tidak lagi putus asa.

Chika berdiri di tepi platform robot.

Angin mengibarkan scarf merahnya.

“Baik…”

“14 Hero lagi…”

Princes mengangkat tongkat baseball ke langit.

“PETUALANGAN DIMULAI!!”

MK.99:

“CATATAN:

PETUALANGAN \= 87% BERBAHAYA.

100% SERU.”

Selena tersenyum kecil di balik payungnya.

Vivi mengunyah jamur lagi.

Dan Marianne…

menatap ke depan.

Bukan ke masa lalu.

Tapi ke dunia luas…

yang masih menunggu para Hero.

...----------------...

Langit di atas dunia…

tidak biru.

Tidak hitam.

Melainkan retak seperti kaca, memantulkan cahaya merah dari sesuatu yang berdiri di atas awan kelam.

Makhluk itu bertubuh ramping, tinggi, dengan dua tanduk melengkung ke belakang. Kulitnya merah seperti bara yang belum padam. Jubahnya bergerak tanpa angin, seolah dunia sendiri bernapas mengikuti kehendaknya.

Ia berdiri di atas lingkaran cahaya yang berputar pelan.

Di bawahnya, bayangan peta dunia berdenyut—

titik-titik cahaya menandai medan perang.

Salah satunya: Teatan.

Makhluk itu tersenyum tipis.

“Menarik…”

Suaranya tidak menggema.

Ia langsung muncul di dalam kepala siapa pun yang mendengarnya.

“Dua anomali Dewi Fil…”

“…mulai bergerak.”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya merah membentuk dua simbol:

Chika.

Princes.

“Seorang Knight yang dipilih Pedang Takdir…”

“Dan seorang anak kecil… yang seharusnya tidak ada di alur ini.”

Matanya menyipit.

“Dua variabel…”

“…yang bisa menghancurkan rencanaku.”

Ia melangkah maju, dan dunia di bawahnya seperti menjauh.

“Hero Sword aktif kembali.”

“Hero kedua telah bangkit.”

“Dan Crops… gagal mengeksekusi target.”

Nada suaranya tetap tenang.

Tapi udara di sekitarnya bergetar, seolah menahan amarah.

“Tidak masalah.”

“Invader hanyalah alat.”

“Komandan Crops hanyalah pion.”

Ia mengangkat satu jari.

“Gurial Tempest runtuh karena kehendakku.”

“Dan dunia ini…”

“akan menyusul.”

Suara lain tiba-tiba muncul.

Lebih lembut.

Lebih dingin.

Seperti air yang menetes di ruang kosong.

“Apakah kau yakin…”

“…bahwa kehancuran adalah satu-satunya jalan, Savior?”

Cahaya putih kebiruan turun dari celah langit.

Seorang perempuan melayang turun.

Rambutnya panjang seperti kabut cahaya.

Matanya bersinar seperti bintang mati.

Punggungnya dihiasi lingkaran simbol kuno.

Dewi Fil.

Savior menoleh perlahan.

“…Kau terlambat, Dewi.”

Fil tersenyum tipis.

“Atau mungkin…”

“aku datang tepat waktu.”

Ia memandang peta dunia yang melayang di antara mereka.

“Chika dan Princes bukan kesalahan.”

“Mereka adalah kemungkinan.”

Savior tertawa pelan.

“Kemungkinan untuk menggagalkan takdir?”

“Atau kemungkinan untuk mempercepat kehancuran?”

Fil menatapnya tanpa berkedip.

“Takdir bukan milikmu saja.”

Angin kosmik bertiup di antara mereka.

Savior melangkah mendekat.

“Kau menciptakan sistem ini, Fil.”

“Hero.”

“Pedang.”

“Anomali.”

“Dan sekarang kau ragu pada ciptaanmu sendiri?”

Fil tidak menjawab langsung.

Sebaliknya, ia berkata pelan:

“Jika dunia ini harus diselamatkan oleh seorang Knight bodoh…”

“…dan seorang anak kecil yang hanya ingin semua orang tersenyum…”

“maka mungkin…”

Ia menatap Savior lurus-lurus.

“…dunia ini tidak butuh dewa yang sempurna.”

Senyum Savior menghilang.

“Berarti kau memilih mereka.”

Fil menunduk sedikit.

“Aku memilih…”

“kemungkinan.”

Savior berbalik, jubahnya berkibar seperti api.

“Kalau begitu…”

“biarkan permainan dimulai.”

Ia mengangkat tangannya.

Bayangan Crops, Invader, dan simbol-simbol kehancuran muncul di belakangnya.

“Empat belas Hero tersisa.”

“Satu Knight.”

“Satu anak kecil.”

“Dan satu dunia…”

Ia berhenti sejenak.

“…yang akan diuji apakah layak diselamatkan.”

Cahaya merah dan cahaya biru saling bertabrakan.

Langit retak lebih lebar.

Dan jauh di bawah—

tanpa menyadarinya—

Chika melangkah ke petualangan berikutnya.

Princes tertawa di bahunya.

Hero kedua telah bangkit.

Sementara di atas segalanya…

Dewa dan penghancur dunia…

sedang bertaruh pada nasib manusia.

Chapter 2: Kerajaan Teatan

^^^END^^^

“Ketika Hero bangkit, Dewa mengawasi… dan Kehancuran mulai bergerak.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!