NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02 - Sebelum Segalanya Menjadi Jauh

...“Perhatian kecil yang tulus, bisa mengubah hari-hari biasa menjadi sesuatu yang berarti.”...

Happy Reading!

...----------------...

(Flashback - Kelas 1 SMA)

Semuanya bermula jauh sebelum parkiran sekolah itu terasa asing.

Sebelum jarak menjadi kebiasaan.

Sebelum diam berubah menjadi kehilangan.

Saat itu, kami masih kelas satu SMA. Hari-hari masih riuh, bangku-bangku kelas belum diberi jarak, dan tawa terdengar tanpa takut. Raven belum menjadi seseorang yang pergi, dan aku belum tahu rasanya ditinggalkan tanpa penjelasan.

Awalnya, Raven bukan siapa-siapa bagiku. Ia hanya satu dari sekian banyak nama di daftar absensi. Tidak mencolok. Tidak ribut. Selalu duduk dengan posisi yang sama, berbicara seperlunya, lalu menghilang di antara keramaian.

Tapi kalau diperhatikan lebih lama, Raven Adhikara Pratama punya cara sendiri untuk menarik perhatian—bukan karena ia berusaha terlihat, melainkan karena ia tampak terlalu tenang di tengah riuhnya kelas.

Tubuhnya tinggi dengan postur yang selalu tegap tanpa terlihat kaku. Rambut hitamnya jatuh rapi, sedikit menutupi dahinya, seolah ia jarang repot menatanya tapi tetap terlihat terurus. Tatapannya tenang, cenderung datar, namun menyimpan kesan dalam—seperti seseorang yang lebih banyak memperhatikan daripada berbicara.

Seragam sekolahnya hampir selalu terlihat rapi, lengan kemeja sesekali dilipat sampai siku. Tangannya sering memegang pulpen, menulis dengan tulisan yang bersih dan teratur, mencerminkan caranya menjalani banyak hal—tidak tergesa, tidak berisik, tapi konsisten.

Ia bukan tipe siswa yang dikerubungi banyak orang. Namun entah kenapa, kehadirannya selalu terasa. Seperti bayangan yang tidak menuntut dilihat, tapi tetap sulit diabaikan.

Sampai suatu hari, namanya mulai sering disebut.

"Lo tau nggak," kata salah satu teman sekelasku, seorang perempuan, saat jam istirahat. "Gue sempat naksir Raven."

Aku hanya mengangguk, menunggu kelanjutan ceritanya.

"Tapi nggak jadi, cuek banget orangnya," lanjutnya, wajahnya sedikit kesal. "Chat nggak pernah dibales. Kalaupun dibales, singkat doang. Kayaknya emang nggak peduli sama cewek."

Kalimat itu bukan pertama kalinya kudengar. Tapi entah kenapa, hari itu terasa berbeda. Bukan karena kisah cintanya, melainkan karena satu kata yang diulang-ulang: cuek.

Aku memperhatikan Raven dari kejauhan. Caranya berjalan, duduk, berbicara. Tidak dingin. Tidak juga ramah. Netral. Terlalu netral untuk diberi label sekeras itu. Dan mungkin, saat itulah rasa penasaran mulai bekerja.

Aku sering bertanya-tanya, apakah orang yang terlihat setenang itu benar-benar tidak peduli, atau hanya tidak terbiasa menunjukkannya.

Saat itu, aku tidak pernah berpikir bahwa seseorang seperti Raven mungkin juga memperhatikan sekelilingnya—termasuk orang-orang yang sama biasa denganku.

Aku bukan tipe yang mudah menonjol. Rambut panjangku lebih sering kubiarkan jatuh tanpa banyak ditata. Seragamku selalu rapi, tapi tidak pernah terasa istimewa. Aku lebih sering menunduk menatap buku atau ponsel, berbicara seperlunya, dan tertawa hanya dengan orang-orang yang benar-benar membuatku nyaman.

Teman-teman sering bilang ekspresiku mudah terbaca—mataku terlalu jujur untuk menyembunyikan perasaan. Aku sendiri tidak pernah tahu apakah itu kelebihan atau kelemahan.

Mungkin karena itu, aku merasa aman memperhatikan Raven dari jauh. Tanpa ekspektasi. Tanpa berpikir akan ada sesuatu yang berubah.

Aku tidak berniat merebut.

Tidak juga berniat jatuh cinta.

Aku hanya ingin membuktikan satu hal—bahwa Raven tidak secuek yang mereka bilang.

Kesempatan itu datang lewat hal paling sepele: tugas kelompok.

Nama Raven tercantum sebagai salah satu anggota. Tidak ada alasan untuk tidak menghubunginya. Dan dengan pembenaran sederhana itu, aku menyimpan nomornya.

Pesan pertamaku pendek. Aman. Formal.

"Rav, buat tugas kelompok yang kemarin, bagian lo udah atau belum?"

Aku menaruh ponsel di meja, lalu berpura-pura sibuk dengan hal lain. Tidak berharap apa-apa. Tidak menunggu terlalu lama.

Getaran kecil itu datang.

"Udah. Nanti gue kirim."

Singkat.

Tapi dibalas.

Aku tersenyum tipis.

Ternyata tidak sesulit itu.

Obrolan seharusnya selesai di sana. Namun entah kenapa, Raven mengirim pesan lagi-tentang tugas lain, tentang guru, tentang jadwal pelajaran. Topik berpindah pelan, tanpa terasa dipaksakan.

Aku membalas seperlunya. Raven membalas lagi.

Hari berikutnya, hal yang sama terulang. Chat tidak panjang, tapi konsisten. Tidak manis, tapi ada. Raven tidak pernah memulai percakapan, tapi selalu menyambungnya.

Dan tanpa kusadari, keinginanku untuk membuktikan berubah menjadi kebiasaan.

Aku mulai mengenali caranya membalas pesan. Singkat, rapi, tanpa basa-basi. Tapi ia mengingat hal-hal kecil. Ia tahu aku tidak suka pelajaran tertentu. Ia ingat jadwal ulangan. Bahkan suatu hari, ia menyebut tanggal lahirku-sesuatu yang tidak pernah kuceritakan langsung.

"Dari mana lo tau?" tanyaku.

"Nara cerita."

Jawaban itu membuatku terdiam lebih lama dari seharusnya. Ternyata ia memperhatikan, meski tak pernah mengekspresikan terlalu banyak.

...----------------...

Hari-hari berjalan ringan. Kami tidak pernah duduk berdekatan. Tidak pernah terlihat terlalu akrab. Di mata orang lain, kami hanya teman sekelas biasa.

Tapi di layar ponselku, namanya mulai punya tempat sendiri.

Aku tidak menamai perasaan itu.

Aku hanya membiarkannya ada.

Karena saat itu, aku belum tahu bahwa kedekatan yang tumbuh tanpa rencana sering kali berakhir tanpa pamit.

Dan Raven-yang awalnya hanya ingin kubuktikan tidak secuek itu-perlahan menjadi seseorang yang terlalu nyata untuk sekadar dibuktikan.

Perubahannya kecil, nyaris tak terasa.

Tapi justru hal-hal kecil itulah yang perlahan menggeser batas.

Setiap hari di kelas, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Raven. Cara ia menumpuk buku di meja, bagaimana ia menulis rapi di buku catatannya, atau ketika ia diam sejenak memperhatikan guru sebelum mencatat. Kadang ia duduk di dekat jendela, cahaya sore jatuh di rambutnya, dan aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum sendiri.

Teman-teman sekelasku mulai menyadari sesuatu juga. “Eh, kalian berdua kayak… sering barengan ya,” bisik mereka ketika kami sama-sama keluar kelas. Aku hanya tersenyum, menunduk, karena memang benar—kami berjalan berbarengan tanpa sengaja, duduk berdekatan saat guru tidak memperhatikan, atau sekadar saling lempar catatan kecil. Semua hal itu tampak biasa, tapi di mataku, itu bukan biasa sama sekali.

Suatu hari, tanpa banyak kata, ia meletakkan sekotak susu di mejaku.

"Ini," katanya singkat.

Aku menatap kotak kecil itu, Ultra Milk rasa stroberi-pilihanku sejak lama.

"Kok tau gue suka ini?"

Raven mengangkat bahu. "Keliatan."

Tidak ada senyum. Tidak ada penjelasan. Seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibahas. Padahal, aku cukup tersentuh. Ternyata ia memperhatikan hal-hal sekecil apapun tentangku, termasuk favoritku. Hal itu membuatku… merasa dihargai, tanpa perlu kata-kata manis atau perhatian berlebihan.

Sejak hari itu, kebiasaan kecil itu terulang. Tidak setiap hari. Tidak selalu sama. Tapi cukup sering untuk membuatku menunggu tanpa sadar.

Kami mulai pulang berbarengan. Kadang berjalan berdua tanpa banyak bicara. Kadang hanya saling menemani sampai gerbang sekolah. Tak ada genggaman tangan. Tak ada janji. Hanya kehadiran yang terasa aman.

Aku menyadari satu hal:

Raven tidak pernah berusaha mendekat secara berisik.

Ia tidak menggoda. Tidak mengumbar perhatian. Tidak menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi.

Namun entah bagaimana, ia selalu tahu kapan harus ada.

Aku sempat merasa bersalah.

Bukan pada siapa pun-hanya pada diriku sendiri. Karena semua ini bermula dari iseng. Dari keinginan sederhana untuk membuktikan sesuatu.

Tapi perasaan tidak pernah peduli pada alasan.

Aku mulai menunggunya membalas pesan.

Mulai memperhatikan jam istirahat.

Mulai mengenali langkahnya dari kejauhan.

Dan tanpa kusadari, aku berhenti memikirkan alasan kenapa kami dekat.

Aku hanya tahu satu hal: Bersama Raven, aku tidak perlu berusaha menjadi siapa pun. Belum kuberi nama perasaan itu. Belum berani mengaku apa pun.

Tapi di suatu sore yang biasa, saat kami berjalan berdampingan dan ia tiba-tiba berkata,

"Hati-hati di jalan, kabarin ya."

Aku tahu, sesuatu telah berubah.

Dan aku tidak sedang membuktikan apa-apa lagi.

Dan dari situ, aku mulai memahami satu hal: kehadiran seseorang, meski diam dan sederhana, bisa mengubah hari-hari tanpa pernah diminta.

Setiap pagi, saat ia duduk di kelas, aku merasa ada bagian dari hari itu yang menenangkan.

Saat teman-teman baru mulai sadar bahwa kami pelan-pelan dekat, aku hanya tersenyum sendiri, karena aku tahu… semua ini bermula dari hal kecil yang tak terlihat.

 ---

Ajakan itu datang sederhana, seperti kebiasaan Raven yang tak pernah bertele-tele.

“Besok pulang sekolah, ikut gue.”

Aku sempat membaca pesannya lama.

“Ikut ke mana?” tanyaku.

“Nonton.”

Hanya satu kata.

Tidak ada penjelasan lain.

Aku hampir bertanya lagi, tapi akhirnya hanya membalas, “Oke.”

Hari itu, Raven sudah menunggu di depan sekolah dengan motornya. Tidak banyak bicara, hanya menyerahkan helm padaku seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Langsung?” tanyaku sambil mengenakan helm.

“Iya,” jawabnya singkat.

Sepanjang perjalanan ke bioskop, aku duduk di belakangnya, memegang ujung jaketnya pelan. Jalanan sore cukup ramai, tapi entah kenapa rasanya tenang. Tidak ada obrolan penting—hanya suara mesin motor dan pikiranku yang terlalu ribut sendiri.

Di depan bioskop, Raven berjalan lebih dulu ke loket tiket. Aku baru menyadari saat ia sudah menyerahkan uang ke kasir.

“Eh—” aku refleks menghentikannya. “Bagi dong.”

Raven menoleh sebentar. “Nggak usah.”

“Nggak enak.”

Ia hanya mengangkat bahu. “Udah.”

Tidak ada ruang untuk debat.

Ia juga yang membeli popcorn dan minuman. Menyodorkannya padaku tanpa banyak kata, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.

Di dalam studio, kami duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku sadar akan keberadaannya. Tangannya sesekali masuk ke bucket popcorn yang sama denganku. Jari kami hampir bersentuhan beberapa kali—dan setiap kali itu terjadi, jantungku selalu berdetak sedikit lebih cepat.

Aku menonton film, tapi pikiranku lebih sibuk memperhatikan hal-hal kecil: caranya bersandar, caranya tertawa pelan, caranya diam tapi tetap terasa hadir.

Di tengah film, ia berbisik,

“Bosan?”

Aku menggeleng. “Enggak.”

Padahal sebenarnya, aku hanya lelah berpura-pura bahwa ini semua biasa saja.

Film selesai. Lampu menyala. Kami berdiri bersamaan dan berjalan keluar tanpa saling bicara, tapi langkah kami seirama.

Di luar gedung bioskop, langit mulai gelap. Aku menoleh ke arahnya.

“Pulang bareng juga?”

Raven mengangguk, seolah itu sudah jelas sejak awal. “Iya.”

Kami kembali ke motor yang sama. Helm yang sama. Jalan pulang yang terasa lebih singkat dari biasanya. Aku duduk di belakangnya, kali ini tanpa ragu memegang jaketnya sedikit lebih erat.

Saat sampai di depan rumahku, Raven menghentikan motor. Aku turun, menyerahkan helm, lalu menatapnya sebentar.

“Makasih ya… buat hari ini,” kataku pelan.

Raven mengangguk. “Sama-sama.”

Ia terdiam sejenak, lalu berkata,

“Nanti gue kabarin.”

Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.

Motor itu menjauh, dan aku berdiri di depan rumah dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan bahagia yang meledak-ledak. Lebih seperti sesuatu yang tenang, tapi menetap.

Hari itu, aku sadar—

aku tidak sedang jatuh dengan keras.

Aku hanya… pelan-pelan terbiasa bersamanya.

...----------------...

...Shaira — Dia hadir tanpa kata, tapi tindakan....

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!