Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 Rahasia dibalik buku catatan
Langkah kaki Bara terasa berat saat menyusuri parkiran yang mulai sepi. Pikirannya kalut. Bayangan air mata Aluna di kantin tadi terus menghantuinya, mencabik sisa-sisa egonya hingga tak bersisa. Ia sadar, sandiwaranya hari ini sudah keterlaluan. Ia tidak sanggup jika harus membiarkan hari ini berakhir dengan kebencian di mata Aluna.
Begitu melihat sosok Aluna di dekat gerbang, Bara mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, antara takut ditolak dan keinginan besar untuk menjelaskan semuanya.
"Aluna, tunggu!" seru Bara.
Aluna berhenti, bahunya tampak kaku. Ia menoleh perlahan dan menatap Bara dengan tatapan yang begitu dingin, tatapan yang membuat keberanian Bara menciut seketika. "Ada apa Bara? Kamu belum cukup buat aku sedih? Apa lagi yang kamu mau?" ujarnya dengan nada datar namun penuh luka.
Bara menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat. "Lun, aku... aku benar-benar minta maaf karena sudah buat kamu sedih. Aku gak bermaksud untuk menyakiti kamu," ucapnya lirih. Kalimat itu tulus, keluar dari sudut hatinya yang paling dalam.
"Oh," jawab Aluna singkat sambil membuang muka, tak ingin menatap mata Bara lebih lama lagi.
Bara melangkah maju sedikit, mencoba mencari celah di hati Aluna yang kini tampak tertutup rapat. "Aluna, kamu marah ya?" tanyanya, dan tanpa bisa ditahan, mata Bara mulai berkaca-kaca. Ia tidak pernah sanggup melihat jarak yang begitu lebar antara dirinya dan Aluna.
"Untuk apa aku marah, Bara? Lagian apa yang kamu ucapkan kan emang benar, kalau aku ini cengeng," sahut Aluna lagi. Kalimat itu seperti tamparan yang lebih keras dari yang Bara terima di kantin tadi.
Bara terdiam, ia tertunduk lesu. Kepalanya menunduk menatap aspal, merasa sangat kerdil di hadapan gadis yang ia cintai.
Lidahnya kelu untuk membela diri. Saat Bara baru saja ingin membuka mulut untuk mengajak Aluna pulang bareng sebagai bentuk penebusan salahnya, sebuah deru
motor memecah kesunyian di antara mereka.
"Luna! Ayo cepat naik, kita pulang bareng lagi ya!" panggil Brian yang tiba-tiba muncul dengan senyum manisnya.
"Oke, Brian," jawab Aluna tanpa ragu.
Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata pamit, Aluna langsung naik ke atas motor Brian. Ia membiarkan Brian memacu motornya meninggalkan area sekolah, meninggalkan Bara yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Bara menatap punggung mereka yang kian menjauh hingga menghilang . Dadanya terasa kosong, sesak yang teramat sangat menghimpit paru-parunya. Ia tersadar, celah yang ia ciptakan sendiri kini telah diisi sepenuhnya oleh orang lain.
Malam itu, dinginnya udara tidak menyurutkan niat Bara. Di genggamannya, ada sebuah cokelat batang kesukaan Aluna. Ia hanya ingin memperbaiki sedikit saja luka yang ia goreskan tadi siang. Dengan napas yang sedikit tidak teratur, ia mengetuk pintu rumah Aluna.
"Assalamualaikum, Aluna. Ini aku, Bara."
Pintu terbuka. Aluna berdiri di sana, namun tidak ada lagi binar ramah di matanya. Hanya ada tatapan dingin yang membeku. "Ngapain kamu ke sini?" ucapnya ketus.
"Em... aku ke sini mau kasih kamu cokelat kesukaan kamu, Aluna." Bara menyodorkan cokelat itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Aluna melirik cokelat itu sekilas, lalu tertawa getir. "Cokelat? Oh, ternyata kamu masih ingat aku suka cokelat? Aku kira kamu sudah lupa," ujarnya dingin, menembus tepat ke ulu hati Bara.
"Aku gak mungkin lupa, Luna. Karena aku..."
"Apa?" potong Aluna cepat. "Udah ya, kamu ke sini kan cuma mau kasih cokelat. Ya sudah, sekarang kamu pulang. Aku gak mau ketemu kamu!"
Bara tersentak. "Kamu usir aku?"
"Iya! Lagian siapa suruh kemarin kamu bilang gak butuh aku lagi, bahkan bilangin aku cengeng lagi di depan Brian!" suara Aluna meninggi, menumpahkan segala sesak yang ia simpan sejak di sekolah.
"Aku minta maaf..." rintih Bara.
"Udah aku maafin. Sana pulang!"
BRAK!
Pintu ditutup dengan keras dan langsung dikunci dari dalam. Di balik pintu itu, tubuh Aluna merosot ke lantai. Ia membekap mulutnya sendiri, tangisnya pecah seketika.
"Maafin aku, Bara. Aku cuma gak mau kamu terus-terusan menyakiti aku. Aku sayang sama kamu, tapi sekarang kamu sudah berubah. Maafin aku..." isaknya dalam kesunyian rumah.
Di luar, Bara hanya diam mematung menatap pintu kayu yang kini menjadi penghalang antara dirinya dan Aluna. Tak lama, langit seolah ikut menangis. Hujan turun dengan sangat deras. Bara mengabaikan air yang membasahi tubuhnya, ia menyalakan motor dan melaju kencang menerobos badai. Malam itu, bukan hanya hatinya yang hancur, tapi fisiknya pun menyerah. Bara tumbang dengan demam tinggi yang membakar tubuhnya.
Keesokan harinya di sekolah, kegelisahan mulai menggerogoti Aluna. Kursi di sampingnya kosong. Hingga bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai, sosok yang biasanya datang dengan langkah angkuh itu tak kunjung terlihat.
"Bara ke mana ya? Kok sudah jam delapan belum datang juga?" gumam Aluna khawatir. Rasa bersalah karena telah mengusirnya semalam mulai menghantui.
Secara tidak sadar, Aluna berpindah duduk di kursi Bara. Saat ia merogoh laci meja untuk mencari sesuatu, jemarinya menyentuh sebuah buku catatan harian. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di salah satu halamannya, sebuah puisi tertulis dengan tinta hitam yang tegas namun terasa rapuh.
Untukmu, Aluna
yang namanya tak pernah berani kusebut
dengan suara yang cukup keras.
Aku menuliskan mu di sini,
di sela-sela kertas bergaris biru
yang tak akan pernah menghakimiku.
Hari ini kau tersenyum lagi. Bersama Brian.
Dan aku belajar satu hal
ternyata patah hati bisa terjadi tanpa seorang pun tahu.
Aluna, andai saja keberanian bisa kubeli,
mungkin aku sudah berdiri di hadapanmu
mengatakan bahwa setiap tawamu adalah rumah yang diam-diam ingin ku tinggali.
Tapi aku bukan Brian. Aku hanya sahabatnya.
Yang memilih menepuk pundaknya ketika ia bercerita tentangmu seolah tak ada badai di dalam dadaku.
Di buku ini aku jujur. Aku mencintaimu.
Sejak pertama kau memanggil namaku
dengan nada yang sederhana
namun cukup untuk membuatku tak ingin mencari suara lain.
Namun jika mencintaimu berarti harus kehilangan sahabatku, maka biarlah rasa ini hidup hanya di antara halaman-halaman sunyi ini.
Suatu hari, mungkin kau tak pernah tahu
bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan cara paling diam.
Dan jika buku ini menua bersama waktu,
biarlah tinta ini menjadi saksi, bahwa aku pernah mencintaimu, tanpa pernah berani memilikimu.
— Bara
Tangis Aluna pecah di atas meja kayu itu. Ia memeluk buku catatan milik Bara seolah-olah sedang memeluk pemiliknya. Kata-kata dalam puisi itu terus berputar di kepalanya, menghantam kesadarannya bahwa setiap bentakan dan sikap dingin Bara adalah cara Bara, untuk membunuh perasaannya sendiri.
"Bara... kenapa kamu gak jujur sama aku?" bisik Aluna dengan suara yang serak karena tangis.
"Kenapa kamu harus berbohong, Bar? Kenapa kamu jadi pengecut seperti ini?!" rintihnya lagi.
Aluna memukul dadanya yang terasa sangat nyeri. Ia marah. Marah pada Bara yang memilih menjadi pahlawan untuk Brian, tapi menjadi penjahat bagi dirinya sendiri. Ia juga marah pada dirinya sendiri yang semalam telah mengusir Bara dan membiarkan nya, pulang menembus derasnya hujan.
Bersambung......
Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih 🙏 semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 ♥️ 🥰