Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Benang Pengkhianat di Ujung Jari
Wajah yang terpampang di layar tablet itu seolah menjadi konfirmasi atas kecurigaan yang selama ini terkubur di balik intuisi bisnisku. Aku menatap tajam sosok pria paruh baya yang selalu tampil dengan topeng kesantunan di setiap rapat pemegang saham itu. Dia adalah Hartono, Direktur Keuangan Widowati Group, yang baru saja tertangkap kamera sedang membukakan pintu mobil untuk Gunawan di tengah kepulan asap gedung yang masih kacau.
"Rian, matikan rekaman itu dan amankan salinannya ke server pribadi," perintahku dengan nada suara yang menekan.
"Kau yakin Hartono pelakunya, Yansya? Posisi keuangannya sangat stabil," Rian menyela dengan nada ragu melalui sambungan nirkabel.
Aku merapikan kerah jas hitamku yang sedikit berantakan akibat insiden tadi. Bagiku, tidak ada yang namanya kesetiaan mutlak dalam bisnis, yang ada hanyalah harga yang belum disepakati. Hartono bukan sekadar Direktur Keuangan, dia adalah anjing tua yang sedang mencari majikan baru setelah kekuasaan Gautama mulai runtuh berkeping-keping.
Di sampingku, Seeula berdiri dengan wajah yang pucat pasi, namun jemarinya masih mencengkeram lenganku dengan sangat erat. Aku bisa merasakan getaran kecemasan dari tubuhnya yang seolah takut jika aku menghilang sedikit saja dari pandangannya, duniaku akan kembali hancur.
"Yansya, Pak Hartono adalah orang kepercayaan mendiang ayahku sejak awal perusahaan ini berdiri. Rasanya sangat mustahil dia mengkhianati kami," Seeula berucap dengan suara yang bergetar menahan kesedihan.
"Logika bisnis tidak mengenal sejarah emosional, Seeula. Pengkhianatan sering kali datang dari orang yang paling tahu letak brankas hartamu," sahutku sambil mengusap jemarinya dengan lembut untuk memberikan sedikit kekuatan.
Aku segera memerintahkan tim keamanan internal untuk membekukan seluruh akses digital Hartono dalam waktu kurang dari lima menit. Jika dia berpikir bisa melarikan diri dengan membawa aset perusahaan melalui jalur logistik Gunawan, dia baru saja masuk ke dalam perangkap yang sudah aku siapkan sejak hari pertama akuisisi.
"Rian, kunci koordinat ponsel Hartono sekarang juga. Jangan biarkan dia keluar dari radius pusat kota," pintaku dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Sinyalnya baru saja muncul di kawasan hangar bandara swasta, Yansya. Mereka memiliki jadwal terbang dalam lima belas menit ke depan," lapor Rian dengan nada bicara yang semakin mendesak.
Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Aku menarik lembut tangan Seeula dan membawanya menuju mobil yang sudah bersiaga di depan pintu darurat. Pengejaran ini bukan hanya soal mengamankan aset, melainkan tentang menuntaskan setiap pengkhianat yang mencoba merusak masa depan Widowati Group yang sedang kubersihkan.
"Pastikan sabuk pengamanmu terpasang sempurna, Seeula. Kita harus melampaui kecepatan jet pribadi itu," pesanku sambil menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil.
Kendaraan mewah ini melesat kencang membelah kesunyian malam menuju pinggiran kota. Aku menyalip beberapa kendaraan dengan manuver yang sangat berisiko, membiarkan raungan mesin menjadi saksi bisu amarahku yang mulai memuncak. Aku tahu Hartono memiliki paspor diplomatik untuk mempermudah pelariannya, tapi dia lupa bahwa aku memiliki kuasa untuk mematikan seluruh izin terbang di bandara itu hanya dengan satu panggilan.
"Rian, sabotase sistem menara pengawas sekarang. Beri tahu mereka ada ancaman sabotase serius pada jet pribadi dengan nomor ekor PK-X7," perintahku melalui pengeras suara mobil.
"Tugas selesai, Bos. Izin terbang mereka baru saja aku cabut melalui celah protokol darurat di sistem pusat," Rian menjawab dengan nada penuh kemenangan.
Sesampainya di hangar, aku melihat sebuah jet pribadi yang mesinnya sudah menderu keras. Sebuah mobil sedan hitam terparkir tepat di samping tangga pesawat. Aku melakukan pengereman ekstrem yang membuat ban mobilku mengeluarkan kepulan asap pekat, tepat di depan kendaraan mereka agar tidak bisa bergerak lagi.
Aku keluar dari mobil dengan langkah yang tenang, membiarkan pintu terbuka sebagai pernyataan dominasi. Di ambang pintu pesawat, Hartono berdiri dengan wajah yang mendadak sepucat kertas saat melihat kehadiranku yang jauh lebih cepat dari perkiraan logikanya.
"Liburan yang sangat mendadak, Pak Hartono. Apakah Anda lupa jika pengunduran diri seorang direktur harus melalui persetujuan saya?" tanyaku dengan nada bicara yang sarat akan cemoohan.
Hartono mencoba mempertahankan wibawanya, namun jemarinya yang mendekap tas kerja perak itu terlihat gemetar sangat hebat. Dia melirik ke arah pengawal pribadinya, seolah memberi kode untuk melakukan tindakan kekerasan, namun tim keamananku sudah lebih dulu mengepung mereka dengan senjata yang siap menyalak.
"Yansya, kau masih sangat hijau untuk mencampuri urusan orang tua seperti kami! Aku punya saham di sini!" Hartono memekik parau dengan sisa keberaniannya.
"Anda memiliki saham yang didapat dari mencuri dana operasional panti asuhan tempat ibuku dulu berlindung, Hartono. Dan malam ini, Anda akan membayar seluruh bunga dari pencurian itu di hadapan hukum," sergahku sambil melangkah maju dengan tatapan yang menghujam jantungnya.
Seeula turun dari mobil dengan langkah yang perlahan, menatap Hartono dengan sorot mata yang dipenuhi kekecewaan mendalam. Dia tidak perlu mengeluarkan kata-kata makian, karena kehadiran kami berdua di sini sudah cukup untuk meruntuhkan seluruh mental pria pengkhianat itu.
"Bawa dia ke markas rahasia kita, Rian. Pastikan setiap lembar dokumen di dalam tas perak itu tidak ada yang tercecer sedikit pun," perintahku kepada pengawal sambil membimbing Seeula kembali ke dalam mobil.
"Bagaimana dengan Gunawan? Dia pasti bersembunyi di dalam pesawat itu, Yansya!" Seeula berseru sambil menunjuk ke arah jet pribadi yang mesinnya mulai mati perlahan.
Aku menatap kabin pesawat dengan senyuman yang sangat dingin. "Gunawan hanyalah umpan kecil agar Hartono keluar dari persembunyiannya, Seeula. Sekarang, ikan besarnya sudah masuk jaring, dan air di perusahaan kita sudah benar-benar jernih."
Aku menyandarkan punggung di jok kulit yang empuk, merasakan sensasi kemenangan mutlak yang merayap di seluruh aliran darahku. Namun, saat aku baru saja akan menghidupkan mesin untuk pulang, ponselku bergetar hebat menampilkan sebuah panggilan dari nomor yang terenkripsi.
"Kau memang hebat karena berhasil menangkap anjing tua itu, Yansya. Tapi kau baru saja membuka gerbang neraka yang jauh lebih besar untuk Seeula," suara Darwin terdengar dari seberang telepon dengan nada yang sangat mengancam.
Rahangku mengeras seketika mendengarnya. Ternyata benang pengkhianat ini memiliki simpul yang jauh lebih gelap dari yang aku petakan selama ini. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, menyadari bahwa kemenangan malam ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.
"Berhenti berbelit-belit, Darwin. Katakan apa maumu," tuntutku dengan suara yang tajam.
"Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin kau bertanya pada catatan lama ibumu—tentang siapa sebenarnya ayah kandung Seeula yang kau puja itu," Darwin berucap dengan tawa sinis sebelum memutus sambungan secara sepihak.
Aku terdiam seribu bahasa, menatap Seeula yang sedang menatapku dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya besar. Rahasia masa lalu yang sempat muncul di foto lama ibuku seolah mulai menampakkan taringnya, menyerang titik paling rapuh dalam hidupku yang baru saja kubangun kembali.