Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 15
Karin akhirnya tiba di hotel tempat ia menginap. Hotel itu berdiri megah di tengah kota, dengan pencahayaan hangat dan suasana yang tenang. Ia tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk penginapan ini. Semua telah ditanggung oleh CEO perusahaan perfilman yang akan memproduksi film dari novelnya. Karin datang ke Inggris sebagai tamu kehormatan—sebagai penulis naskah dari cerita yang akan dihidupkan di layar lebar.
Ia meletakkan kopernya di sudut kamar, lalu berdiri sejenak di dekat jendela. Dari lantai tinggi, Karin bisa melihat kota yang asing namun penuh kemungkinan. Ada perasaan takjub, bercampur haru.
Film yang akan diproduksi itu bercerita tentang kehidupan anak SMA—tentang masa remaja, cinta pertama, tawa yang polos, dan luka yang terasa begitu besar di usia muda. Namun tak banyak orang yang tahu, kisah itu bukan sekadar imajinasi.
Itu adalah kisah Karin dan Arka.
Sebuah cerita yang dulu ia tulis diam-diam, sambil memperhatikan Arka dari dekat. Tentang bagaimana ia mencintai Arka dengan cara yang sederhana, tulus, dan tanpa banyak syarat. Tentang hari-hari mereka di dalam kamar, tentang tawa kecil di sela menulis, tentang pertengkaran sepele yang berujung diam, juga tentang luka yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari.
Di dalam novel itu, Karin menuliskan semuanya—manis dan pahit, bahagia dan hancur. Setiap halaman adalah potongan hatinya sendiri. Dulu, ia sempat berpikir untuk menghapus cerita itu. Menguburnya bersama kenangan yang ingin ia lupakan.
Namun ia tidak melakukannya.
Alih-alih menghapus, Karin memilih melanjutkan. Ia menyelesaikan novel itu. Ia membiarkan ceritanya hidup. Dan anehnya, justru cerita itulah yang paling dicintai banyak orang. Yang membuat namanya dikenal. Yang kini akan diangkat menjadi sebuah film.
Karin tersenyum kecil, getir namun ikhlas.
Mungkin, pikirnya, tidak semua luka harus dilupakan. Beberapa luka memang ditakdirkan untuk diceritakan—agar orang lain merasa tidak sendirian.
Dan kini, kisah yang pernah ia hampir hapus itu, akan diputar di negeri orang. Sebuah kisah tentang cinta remaja yang pernah begitu nyata dalam hidupnya.
Pagi hari di Inggris datang dengan cara yang berbeda. Udara dingin menyapa lebih dulu, menusuk lembut kulit, namun terasa segar. Langit belum sepenuhnya biru—masih berwarna abu-abu pucat, seolah kota itu baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang.
Karin berdiri di balik jendela hotel, memandang kota yang perlahan hidup.
Jalanan mulai ramai. Bus merah dua tingkat melintas satu per satu, bergerak teratur seperti bagian dari mesin besar yang bekerja tanpa lelah. Lampu lalu lintas menyala bergantian, memantulkan cahaya pada aspal yang masih sedikit basah oleh embun pagi. Orang-orang berjalan cepat dengan mantel tebal, headphone terpasang di telinga, kopi panas di tangan—wajah mereka tenang, namun langkahnya penuh tujuan.
Bangunan-bangunan tinggi berdiri berdampingan dengan bangunan tua berarsitektur klasik. Di satu sisi, gedung kaca modern memantulkan cahaya pagi seperti layar raksasa—dingin, bersih, dan futuristik. Di sisi lain, bangunan bata merah dan jendela-jendela tua tetap berdiri kokoh, seolah menolak dilupakan oleh waktu. Inggris terasa seperti perpaduan masa lalu dan masa depan yang berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
Layar digital terpampang di beberapa sudut kota. Iklan bergerak cepat, warna-warnanya tajam dan modern. Orang-orang menatap ponsel mereka, jari-jari bergerak lincah di layar sentuh, seolah dunia nyata dan dunia digital telah menyatu tanpa batas. Inilah wajah kota modern—cyber, cepat, dan penuh koneksi.
Namun di balik semua itu, Karin merasakan sesuatu yang sunyi.
Bukan karena kota ini sepi, justru karena terlalu hidup.
Ia menarik napas pelan. Asap tipis keluar dari bibirnya. Inggris di pagi hari terasa asing, dingin, dan sibuk—berbeda jauh dengan Pulau Jeju yang tenang atau Indonesia yang hangat. Tapi justru di kota inilah Karin merasa kecil, seperti satu titik di antara jutaan cerita lain yang sedang berjalan.
Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa bebas.
Di kota ini, tak ada yang mengenalnya sebagai “Karin yang pernah patah hati”. Tak ada yang tahu tentang Arka. Tak ada yang tahu tentang James. Di sini, ia hanyalah seorang penulis yang membawa kisahnya sendiri—siap menuliskan bab baru.
Karin tersenyum tipis.
Inggris di pagi hari tidak ramah, tapi jujur.
Dingin, tapi penuh kemungkinan.
Besok akan menjadi hari yang sangat sibuk bagi Karin.
Ia akan menghabiskan waktu menjelaskan naskah, membahas detail cerita, menunda tanda tangan kontrak, dan berdiskusi panjang dengan CEO, produser, serta sutradara. Ia juga harus menjelaskan isi cerita itu kepada para aktor—tentang emosi, luka, dan cinta yang selama ini hanya hidup di dalam tulisannya.
Karena itu, pagi ini Karin memutuskan untuk keluar sejenak.
Meski baru tiba di Inggris, ia tidak ingin membuang waktu hanya berdiam di dalam kamar hotel. Waktu terasa terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, apalagi ini adalah kesempatan langka—datang ke Inggris bukan sebagai turis, melainkan sebagai penulis.
Karin mengenakan mantel tipis, menyampirkan tas kecil, lalu melangkah keluar dari hotel.
Pagi di kota Inggris terasa sejuk dan bersih. Udara dingin menyentuh kulitnya, membuatnya otomatis menarik napas lebih dalam. Langit berwarna abu-abu pucat, khas pagi Inggris, dengan cahaya matahari yang malu-malu menembus sela-sela awan.
Trotoar masih lengang. Beberapa orang berjalan cepat dengan kopi di tangan, sebagian lainnya menunggu bus sambil menunduk menatap ponsel. Bangunan-bangunan tua berdiri kokoh, batu bata dan dindingnya menyimpan usia dan cerita panjang.
Karin berjalan perlahan di sekitar hotel, menikmati suasana yang asing tapi menenangkan.
Ia mendengar suara burung camar dari kejauhan, deru kendaraan yang belum terlalu ramai, dan langkah kakinya sendiri yang beradu dengan trotoar. Angin pagi menggerakkan ujung rambutnya, membuatnya tersenyum kecil tanpa alasan.
Untuk sesaat, ia merasa ringan.
Tidak ada tuntutan, tidak ada naskah, tidak ada kontrak. Hanya dirinya, pagi hari, dan kota Inggris yang perlahan terbangun.
Karin berhenti sejenak, menatap jalan di depannya.
Hari ini mungkin akan melelahkan. Tapi pagi ini—pagi ini ia miliki sepenuhnya.
Karin pun melanjutkan langkahnya dengan berjalan kaki.
Udara pagi di Inggris terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Beberapa kali ia mengepalkan tangannya, menggosok kedua telapak tangan, lalu menghembuskan napas ke sela-selanya, berusaha mengusir dingin yang perlahan merayap ke kulitnya.
Ia berjalan cukup lama—lebih dari satu jam—tanpa tujuan pasti. Hanya mengikuti ke mana kakinya ingin melangkah. Sesekali ia tersenyum kecil, menikmati udara segar yang memenuhi paru-parunya. Kota ini terasa asing, tapi tidak menakutkan.
Karin berhenti beberapa kali untuk mengambil ponselnya, memotret apa pun yang menarik perhatiannya: bangunan-bangunan tua dengan dinding batu, jalanan yang rapi, jendela-jendela kafe kecil, hingga langit Inggris yang pucat dan tenang. Ia memotret semuanya, seolah ingin menyimpan kota ini dalam ingatannya.
Sampai akhirnya—
Sebuah suara menghentikannya.
Suara itu membuat jarinya berhenti tepat di atas layar ponsel.
“I’ll come to the company tomorrow.”
Karin membeku.
Nada suara itu… terlalu familiar.
Ia menurunkan ponselnya perlahan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menoleh, mencoba mencari sosok pemilik suara tersebut. Di sekelilingnya, orang-orang berlalu-lalang. Ada yang berjalan cepat, ada yang berbicara di telepon, ada pula yang hanya menunduk menatap jalan.
Namun tidak ada siapa pun yang ia kenal.
Karin memutar tubuhnya, matanya menyapu kerumunan sekali lagi. Tetap tidak ada.
Ia menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip usaha menenangkan diri sendiri.
“Mungkin aku cuma berhalusinasi,” gumamnya lirih.
Namun di dalam hatinya, Karin tahu.
Ia tidak salah dengar.
Itu suara James.
Mungkin karena James pernah berkata ia akan kembali ke Inggris. Mungkin karena sebagian hatinya masih menyimpan namanya. Atau mungkin karena ia diam-diam berharap—meski tak pernah ia akui—bahwa di kota besar ini, ada kemungkinan kecil mereka akan bertemu lagi.
Karin menggenggam ponselnya lebih erat.
Ia kembali melangkah, meninggalkan tempat itu, membawa satu perasaan yang kembali muncul tanpa ia undang: harapan kecil yang rapuh, tapi nyata.