Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Runtuhnya Menara Gading
Angin kencang di ketinggian lantai lima apartemen Tebet menderu di telinga Gia, membawa aroma debu konstruksi dan uap bensin. Besi derek (crane) yang menghubungkan blok apartemen tua itu dengan kerangka gedung perkantoran di sebelahnya tampak seperti jembatan tipis di atas jurang kematian. Di bawah sana, Jakarta mulai merangkak macet, ribuan kendaraan tampak seperti semut-semut logam yang tidak sadar bahwa di atas kepala mereka, dua nyawa sedang bertaruh demi sebuah kebenaran.
"Jangan lihat ke bawah, Gia. Tatap punggungku saja," teriak Rian di sela deru angin.
Gia mencengkeram lengan jaket Rian hingga buku jarinya memutih. Keseimbangannya goyah saat derek itu bergetar pelan, namun genggaman tangan Rian di telapak tangannya terasa seperti jangkar yang tak tergoyahkan. Mereka melangkah setapak demi setapak di atas rel besi yang sempit. Begitu kaki mereka menyentuh beton kokoh lantai teratas gedung konstruksi sebelah, Gia jatuh berlutut, paru-parunya memburu oksigen dengan rakus.
"Kita... kita berhasil?" tanya Gia dengan suara parau.
Rian tidak menjawab. Ia segera menarik Gia bersembunyi di balik tumpukan batu bata. Dari tepian gedung, ia mengintip ke bawah, ke arah apartemen Danu yang baru saja mereka tinggalkan. Benar saja, tiga mobil SUV hitam milik tim keamanan Mahendra sudah mengepung pintu masuk. Para agen berpakaian rapi itu tampak frustrasi karena target mereka menghilang begitu saja di tengah kepulan asap mobil mereka yang terbakar akibat "karya seni" api Gia tadi.
"Untuk sementara, ya," sahut Rian sambil memeriksa jam tangannya. "Satu menit lagi, bom digital yang kita kirim akan meledak di server Mabes Polri dan semua meja redaksi TV nasional. Mahendra tidak akan punya waktu lagi untuk mengejar kita. Dia akan terlalu sibuk mencoba menyelamatkan lehernya sendiri."
Rian merogoh saku, mengeluarkan ponsel sekali pakai yang layarnya sudah retak. Ia mengetikkan sesuatu dengan cepat, mengirimkan sinyal terakhir kepada Pak Jaka dan Maya agar mereka segera bergerak mengamankan sisa-sisa aset di Sukamaju.
Tiba-tiba, dari arah layar ponsel itu, muncul notifikasi siaran langsung berita sela. Rian memperbesar volumenya.
"...Berita utama pagi ini, Mabes Polri baru saja merilis perintah penangkapan terhadap Tuan Mahendra Senior atas dugaan pencucian uang lintas negara dan sabotase proyek strategis nasional. Dokumen yang bocor ke publik pagi ini juga menyeret beberapa oknum pejabat daerah di Jawa Barat dan Sumatera Utara..."
Gia menatap layar kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Nama bapaknya, nama desanya, dan perjuangan mereka selama berbulan-bulan di bawah ancaman api dan peluru akhirnya mendapatkan panggung keadilan.
"Sudah selesai, Gia," bisik Rian, kali ini suaranya terdengar sangat lega, hampir rapuh. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton kasar, membiarkan tubuhnya yang lelah menyerah pada gravitasi. "Naga itu sudah kehilangan sayapnya."
Mereka menghabiskan sisa pagi itu dengan bersembunyi di dalam lift barang gedung konstruksi hingga suasana di sekitar apartemen benar-benar bersih dari orang-orang Mahendra. Dengan bantuan Maya yang mengirimkan mobil jemputan anonim, mereka akhirnya bisa keluar dari pusat kota menuju arah selatan.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalan tol, keheningan menyelimuti mereka berdua. Bukan keheningan yang tegang, melainkan keheningan yang penuh dengan refleksi. Gia menatap pemandangan Jakarta yang perlahan menjauh dari kaca jendela. Kota ini pernah memberikan segalanya padanya—karir, gengsi, dan cinta palsu—tapi kota ini juga yang hampir menghancurkan jiwanya.
"Rian," panggil Gia pelan.
"Hmm?" Rian yang sedang memejamkan mata sambil memegang bahunya yang diperban, menoleh.
"Kenapa kamu nggak mau ambil kembali posisimu di firma? Dengan bukti-bukti ini, kamu bisa menuntut balik dan jadi pemilik saham mayoritas. Kamu bisa jadi raja arsitek di Jakarta."
Rian terkekeh pelan, ia menatap telapak tangannya yang penuh lecet dan bekas semen. "Gia, aku sudah pernah jadi 'raja' di sini, dan rasanya nggak seenak kopi jahe buatanmu di desa. Di sini, setiap garis yang aku gambar di atas kertas selalu dihitung dengan berapa banyak uang suap yang harus keluar. Di desa... satu garis yang aku buat buat Balai Kreatif itu artinya masa depan buat Jon, buat anak-anak Sukamaju. Itu kemewahan yang nggak bisa dibeli pakai saham mayoritas mana pun."
Rian menggenggam tangan Gia, kali ini lebih lembut. "Lagian, aku punya utang yang lebih penting daripada urusan firma."
Gia tersenyum, ia sudah tahu arah pembicaraan ini. "Utang kopi lagi?"
"Bukan. Utang buat nemenin kamu nanem bibit kopi di lereng barat. Aku denger tanah di sana paling bagus kalau ditanam sambil dengerin orang ngomel, dan aku rasa kamu ahlinya," goda Rian.
"Rian! Bisa-bisanya kamu bercanda di saat kayak gini!" Gia mencubit lengan Rian, membuat pria itu mengaduh namun tetap tertawa lebar.
Sore hari, saat matahari mulai tergelincir di balik perbukitan, mobil mereka akhirnya memasuki gerbang Desa Sukamaju. Suasananya sangat berbeda dengan saat mereka pergi secara sembunyi-sembunyi dua malam lalu.
Begitu mobil berhenti di depan Kedai Harapan, warga desa sudah berjejer di sepanjang jalan. Mereka memegang koran sore dan beberapa orang membawa radio yang masih menyiarkan berita tentang jatuhnya Mahendra. Pak Jaya berdiri di paling depan, air matanya jatuh tanpa suara saat melihat putri tunggalnya turun dari mobil dengan selamat.
"Gia... Rian..." Pak Jaya memeluk mereka berdua sekaligus. "Bapak sudah dengar beritanya. Polisi kabupaten yang menjebak Bapak tadi sore sudah dicopot jabatannya. Tanah vila itu... semuanya sekarang di bawah pengawasan negara dan akan dikembalikan ke desa."
Sorak-sorai warga pecah. Jon dan para pemuda desa mengangkat Rian ke bahu mereka, mengaraknya mengelilingi halaman kedai yang kini sudah bersih dari garis polisi. Gia berdiri di samping ayahnya, menatap pemandangan itu dengan rasa syukur yang tak terhingga. Kedai Harapan benar-benar telah menjadi harapan bagi semua orang.
Malam harinya, Sukamaju menggelar pesta rakyat yang paling meriah dalam sejarah desa itu. Obor-obor dinyalakan di sepanjang pipa air yang mereka perjuangkan. Rian duduk di kursi bar favoritnya, namun kali ini ia tidak memegang sketsa bangunan. Ia hanya memegang sebuah kotak kecil berwarna biru beludru yang ia simpan rapat-rapat sejak dari Jakarta.
"Neng," panggil Rian saat Gia sedang sibuk menyeduh kopi terakhir untuk penutupan acara.
Gia menoleh, wajahnya merona karena hangatnya uap kopi dan kebahagiaan. "Iya, Tukang Utang?"
Rian meletakkan kotak itu di atas meja kayu bar yang penuh dengan bekas goresan sejarah mereka. "Catatan utangku sudah terlalu tebal. Aku rasa, cara satu-satunya buat lunasin semuanya bukan pakai uang atau pakai kopi."
Ia membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin perak sederhana dengan hiasan kecil berbentuk biji kopi di tengahnya. Tidak ada permata mewah, tapi desainnya sangat detail dan artistik—khas seorang Rian Ardiansyah.
"Aku mau bangun rumah yang pondasinya bukan dari semen atau kapur, tapi dari janji aku ke kamu. Kamu mau jadi 'arsitek' hidupku buat selamanya, Gia?"
Suasana kedai mendadak sunyi. Warga yang masih ada di sana menahan napas. Pak Jaya tersenyum di pojokan sambil mengusap air matanya.
Gia menatap cincin itu, lalu menatap wajah Rian yang penuh luka namun memancarkan cinta yang paling jujur yang pernah ia temui. Ia tidak butuh waktu untuk berpikir.
"Asalkan kopinya nggak pernah habis, dan kamu nggak pernah telat bayar utang janji itu... aku mau," jawab Gia dengan suara mantap.
Sorak-sorak kembali membahana, lebih keras dari sebelumnya. Rian memasangkan cincin itu di jari Gia, lalu mengecup keningnya lama. Di luar, suara air yang mengalir dari Mata Air Buta terdengar seperti restu alam bagi mereka.
Menara gading di kota mungkin sudah runtuh, tapi di desa kecil ini, sebuah pondasi baru yang lebih kuat dari beton mana pun baru saja diletakkan. Sebuah pondasi bernama cinta yang tumbuh dari pahitnya kopi dan kerasnya perjuangan.