NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:703
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin yang Tak Terusir

Sore itu, langit di atas gang sempit masih berwarna abu-abu, seolah-olah matahari pun enggan menampakkan diri di rumah yang telah kehilangan ruhnya. Andini melangkah gontai menyusuri jalanan setapak menuju rumah petaknya. Pakaian dasternya masih kotor terkena sisa tanah pemakaman, rambutnya berantakan, dan matanya bengkak hingga terasa perih setiap kali ia berkedip.

Ia berjalan sendirian. Syifa sudah dibawa pergi oleh istri Pak Gatot sejak dari pemakaman tadi. Putrinya itu menolak mentah-mentah saat Andini mencoba menggandeng tangannya. "Aku mau ikut Ibu Gatot. Di rumah Mama... nggak ada Ayah. Di rumah Mama... rasanya dingin," kata Syifa dengan suara datar yang jauh lebih menyakitkan daripada makian Reno.

Andini sampai di depan pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Biasanya, jika ia pulang sore hari setelah bepergian, pintu itu sudah terbuka sedikit. Hilman biasanya akan menyambutnya dengan senyum lelah, meski Andini hanya membalasnya dengan gerutuan tentang betapa pengapnya rumah mereka.

Andini mendorong pintu itu. Ceklek.

Sunyi.

Suasana di dalam rumah itu begitu tenang, namun ketenangan itu terasa seperti pisau yang menghujam dada. Aroma minyak kayu putih dan aroma samar keringat buruh yang biasanya memenuhi ruangan—yang dulu selalu ia hina sebagai bau kemiskinan—kini telah menguap, digantikan oleh aroma ruang kosong yang lembap dan dingin.

Cangkir yang Kosong

Andini berjalan menuju dapur. Kakinya terasa berat, seolah-olah lantai semen itu adalah lumpur hisap yang ingin menelannya. Ia terbiasa pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan langsung menuntut pelayanan.

"Mas, aku capek! Mana air minum?" teriaknya dalam lamunan.

Lalu ia tersadar. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara langkah kaki yang terseret-seret dari arah kamar mandi atau suara batuk pelan yang mencoba menyembunyikan rasa sakit.

Mata Andini tertuju pada meja makan kecil yang kakinya sudah mulai keropos. Di sana, di atas sebuah baki plastik yang warnanya sudah memudar, terdapat sebuah cangkir seng berisi kopi hitam yang sudah dingin dan mengeras di bagian pinggirnya. Di sampingnya, terdapat segelas air putih yang ditutup dengan tatakan kecil.

Itu adalah air yang disiapkan Hilman sebelum ia berangkat kerja terakhir kalinya. Hilman selalu melakukan itu. Meski ia dimaki, meski ia diusir, ia tidak pernah lupa menyiapkan air minum untuk istrinya di meja, berjaga-jaga jika Andini pulang dalam keadaan haus setelah bertemu Reno.

Andini meraih gelas itu. Tangannya gemetar hebat. Ia teringat betapa sering ia membanting gelas-gelas yang disiapkan Hilman hanya karena suhunya tidak sesuai keinginannya atau karena gelasnya kurang bersih. Sekarang, air yang tenang di dalam gelas itu tampak seperti cermin yang memantulkan segala kebusukan hatinya.

"Mas... airnya dingin," bisik Andini lirih. Air matanya jatuh, menetes masuk ke dalam gelas tersebut. "Aku mau air hangat, Mas... tolong buatkan..."

Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Hanya detak jam dinding tua yang menjawabnya. Andini kemudian jatuh terduduk di lantai dapur, tepat di tempat Hilman pingsan kemarin. Ia meraba lantai semen itu, mencoba mencari sisa kehangatan tubuh suaminya yang mungkin masih tertinggal di sana. Namun yang ia rasakan hanyalah dingin yang membeku.

Ritual yang Hilang

Andini merangkak menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan debu pemakaman. Ia terbiasa dengan ritual sore hari yang selalu disediakan Hilman: air hangat dalam ember plastik besar. Hilman tahu Andini benci mandi air dingin karena kulitnya sensitif. Maka, setiap sore, pria itu akan merebus air di atas kompor minyak yang berasap, memindahkan panci panas itu dengan tangan yang gemetar karena lemah, hanya agar istrinya bisa mandi dengan nyaman.

Andini membuka pintu kamar mandi yang reyot. Ia menatap ember plastik itu. Kosong. Kering.

Ia menyalakan keran. Air yang keluar terasa seperti es yang menyayat kulitnya. Ia mencoba mengambil gayung, namun tangannya lemas. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu, saat ia memaki Hilman karena air hangat yang disiapkannya kurang banyak.

"Mas! Kamu ini niat nggak sih jadi suami? Air cuma segini mana cukup buat aku keramas! Rebus lagi sana!" teriak Andini saat itu.

Hilman saat itu hanya mengangguk, terbatuk sambil memegang dadanya yang sesak, lalu kembali ke dapur untuk menyalakan kompor. Ia tidak membalas makian itu. Ia hanya memberikan baktinya dalam diam.

Sekarang, Andini harus menghadapi kenyataan bahwa tidak akan ada lagi pria yang mau merusak paru-parunya di depan kompor berasap demi sepanci air hangat untuknya. Tidak akan ada lagi pria yang rela tangannya melepuh karena mengangkat air panas demi kenyamanan kulitnya.

Andini duduk di bawah kucuran air keran yang dingin. Ia membiarkan air itu membasahi dasternya, membasahi wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air es itu. Dinginnya air keran itu tidak sebanding dengan dinginnya kenyataan bahwa ia telah menyia-nyiakan satu-satunya manusia yang mencintainya dengan cara yang paling suci.

"Maaf, Mas... maaf..." ratapnya di antara suara gemericik air. "Aku mau air hangatmu, Mas... aku kedinginan..."

Rahasia di Balik Lemari

Setelah mandi dalam kedinginan yang mencekam, Andini berjalan menuju kamar utama. Ia membuka lemari kayu tempat Hilman menyimpan baju-baju kerjanya yang hanya sedikit. Ia mencari handuk, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang terselip di bawah tumpukan sarung Hilman.

Itu adalah sebuah botol termos kecil yang sudah sangat tua. Di sampingnya ada secarik kertas kecil yang ditempel dengan selotip.

Andini mengambil kertas itu. Tulisannya sangat cakar ayam, seolah ditulis terburu-buru sebelum Hilman ambruk.

"Andini, Mas sudah rebuskan air sedikit dan kumasukkan ke termos ini. Kalau Mas telat pulang dari pabrik malam ini dan air di ember sudah dingin, pakai ini buat campuran ya, Dek. Maaf cuma bisa rebus sedikit, gasnya habis. Mas sayang kamu."

Andini memeluk termos tua itu. Ia merasakannya—masih ada sisa-sisa kehangatan di dalamnya. Ini adalah peninggalan terakhir Hilman. Bahkan di saat-saat terakhirnya, pria itu masih memikirkan kulit istrinya yang tidak boleh terkena air dingin.

Andini menangis meraung-raung di dalam kamar yang gelap. Ia baru menyadari bahwa kemewahan yang ia cari dari Reno hanyalah fatamorgana yang membakar, sementara perhatian-perhatian kecil dari Hilman adalah mata air yang sebenarnya ia butuhkan untuk hidup. Ia telah mematikan mata air itu demi mengejar api.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mencium bantal Hilman yang masih menyisakan aroma minyak kayu putih dan tembakau murah. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Andini merasa bantal itu adalah tempat paling nyaman di dunia.

Ketukan yang Mengejutkan

Di tengah isak tangisnya yang mulai mereda karena kelelahan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan.

Tok... tok... tok...

Andini tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Apakah itu Pak Gatot yang mengantarkan Syifa? Atau tetangga yang mau memberi makanan?

Ia mengusap air matanya dan berjalan menuju pintu. Ia membukanya perlahan.

Di depan pintu, berdiri seorang pria mengenakan setelan hitam yang rapi. Pria itu bukan tetangga, bukan Pak Gatot, dan jelas bukan Reno. Ia membawa sebuah koper hitam kecil dan sebuah amplop besar berlogo perusahaan asuransi internasional yang sangat terkenal.

"Selamat sore. Apakah benar ini dengan Ibu Andini, istri dari Almarhum Bapak Hilman?" tanya pria itu dengan nada formal namun sopan.

Andini mengangguk pelan. "Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"

Pria itu membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah berkas. "Saya dari pihak asuransi. Saya datang untuk memproses klaim asuransi jiwa suami Anda. Namun, ada sesuatu yang harus saya sampaikan secara pribadi terkait wasiat yang ditinggalkan Pak Hilman."

Pria itu menatap Andini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak Hilman memesan layanan kami sejak lama. Beliau meninggalkan sebuah pesan yang hanya boleh di buka oleh Ibu.

Wasiat apa yang dimaksud Hilman? Dan rahasia besar apa lagi yang disimpan pria "pecundang" itu di balik kemiskinan yang ia pertontonkan selama ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!