NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Misterius

Seminggu setelah tiga hari yang mengerikan itu, hidup kembali ke rutinitas. Damian menjadi sangat perhatian. Terlalu perhatian. Seperti mencoba menebus kesalahannya dengan hadiah dan kelembutan.

Tapi aku tahu sekarang. Di balik kelembutan itu ada monster yang siap keluar kapan saja.

Dan aku belajar berjalan di atas kulit telur. Tidak bicara dengan pria lain lebih dari yang diperlukan. Tidak tersenyum. Bahkan tidak menatap terlalu lama.

Menjadi boneka yang sempurna.

Pagi ini aku sedang duduk di taman, membaca laporan bisnis, ketika pelayan tua yang biasa merawatku mendekat.

"Nyonya," panggilnya pelan. "Ada sesuatu untuk Nyonya."

Dia menyodorkan amplop putih. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada stempel pos. Hanya tulisan tangan yang rapi: Untuk Alexa.

"Dari siapa?" tanyaku sambil mengambil amplop itu.

Pelayan itu menggeleng. "Tidak tahu, Nyonya. Saya menemukan ini di depan pintu kamar Nyonya pagi tadi."

Dia pergi sebelum aku bisa bertanya lebih banyak.

Aku menatap amplop itu. Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Siapa yang berani mengirim surat langsung ke kamarku? Siapa yang bisa masuk mansion ini tanpa ketahuan?

Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu.

Selembar kertas putih. Tulisan tangan yang sama.

"Ayahmu masih hidup."

Dunia berhenti berputar. Aku membaca ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Ayahmu masih hidup. Tidak mungkin. Aku melihat Damian menembak kepalanya. Melihat darah. Melihat tubuh jatuh. Ini pasti bohong. Pasti jebakan.

Tapi bagaimana kalau ini benar?

Tanganku meremas kertas itu. Pikiran berputar kacau. Kalau ayah masih hidup, berarti semua yang Damian katakan bohong. Berarti eksekusi di altar itu palsu. Berarti...

Tidak. Tidak mungkin. Ini pasti jebakan Damian untuk menguji loyalitasku lagi.

Aku harus buang surat ini. Harus berpura-pura tidak pernah menerimanya. Tapi tanganku tidak bergerak untuk membuangnya. Malah melipat kertas itu dan menyimpannya di saku gaunku.

***

Sore itu aku tidak bisa fokus pada apapun. Pikiranku terus kembali ke surat itu.

Ayahmu masih hidup, tiga kata yang mengacaukan segalanya. Damian pulang lebih awal. Menciumku di puncak kepala seperti biasa.

"Bagaimana harimu?" tanyanya sambil melepas jasnya.

"Baik," jawabku. Berusaha terdengar normal. "Membaca laporan. Tidak ada yang istimewa."

Dia menatapku sebentar. Seperti mencari sesuatu.

"Kau terlihat gelisah," katanya. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Jantungku hampir berhenti. Apa dia sudah tahu tentang surat itu?

"Tidak," jawabku cepat. "Hanya saja aku merasa capek. Itu saja."

Damian mengangguk. Tapi matanya masih menatapku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman.

"Kalau ada yang ingin kau bicarakan," katanya pelan, "apapun, kau tahu kau bisa bilang padaku, kan?"

"Tentu," jawabku sambil tersenyum. Senyum yang terasa seperti topeng.

***

Malam itu setelah Damian tertidur, aku mengeluarkan surat itu lagi. Membacanya di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela.

Ayahmu masih hidup.

Kalau ini benar, dimana ayah sekarang? Kenapa dia tidak menghubungiku? Kenapa dia membiarkanku pikir dia mati?

Atau mungkin dia tidak bisa menghubungiku. Mungkin dia bersembunyi. Mungkin dia...

Terlalu banyak pertanyaan. Tidak ada jawaban. Aku harus mencari tahu kebenarannya. Tapi bagaimana?

Lalu aku ingat. Brankas di ruang kerja Damian. Brankas yang penuh dengan foto-fotoku. Mungkin ada dokumen lain di sana. Bukti. Sesuatu.

Tapi untuk membuka brankas, aku butuh kode. Dan satu-satunya kode yang kutahu adalah tanggal lahirku. Besok. Aku akan coba besok ketika Damian pergi.

***

Pagi berikutnya, Damian pergi untuk rapat. Akan pulang sore, katanya.

Ini kesempatanku.

Aku menunggu sampai mobilnya benar-benar pergi. Lalu aku berjalan ke ruang kerjanya dengan jantung berdebar kencang. Marco berdiri di koridor. Menatapku dengan tatapan bertanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanyanya.

"Tidak," jawabku sambil tersenyum. "Aku hanya mau mengambil dokumen yang Damian minta kubaca."

Kebohongan yang lancar. Aku sudah pandai berbohong sekarang. Marco mengangguk dan membiarkanku lewat. Di ruang kerja, aku langsung pergi ke brankas di balik lukisan. Memasukkan kode. 0809.

Klik.

Terbuka.

Aku mengabaikan foto-foto. Mencari dokumen. File. Apapun yang berhubungan dengan ayah.

Dan aku menemukannya, file tebal dengan label 'Rafael Vasquez'.

Tanganku gemetar ketika membukanya. Foto-foto. Tapi bukan foto lama. Foto baru. Foto yang diambil bulan lalu?

Ayah. Berjalan di jalanan kota yang tidak kukenal. Dengan janggut lebat. Pakaian sederhana. Terlihat lebih tua. Lebih kurus.

Tapi itu dia. Itu ayah, dia masih hidup. Aku menutupi mulut dengan tangan. Menekan teriakan yang hampir keluar.

Damian bohong, dia berbohong tentang kematian ayah. Kenapa dia berbohong? Aku terus membaca file itu. Ada laporan. Laporan dari orang yang mengawasi ayah.

"Subjek terlihat di Bangkok. Tinggal di apartemen murah. Bekerja sebagai pekerja harian. Tidak ada kontak dengan keluarga. Terlihat ketakutan dan selalu waspada."

Ayah di Bangkok, dan Damian tahu. Damian tahu sejak awal. Lalu kenapa dia berbohong? Kenapa dia pura-pura menembak ayah di altar?

Aku terus mencari jawaban di file itu. Dan aku menemukannya. Sebuah memo. Ditulis tangan Damian.

"Biarkan Rafael hidup. Lebih menyiksa membiarkan dia hidup, dengan rasa bersalah daripada membunuhnya. Plus, dia masih bisa berguna sebagai umpan kalau Alexa mulai memberontak."

Ayah dijadikan umpan, dan pembunuhan palsu di altar itu semua sandiwara. Untuk menghancurkanku. Untuk membuatku benci ayah. Untuk membuatku sepenuhnya bergantung pada Damian.

Semuanya manipulasi, aku merasakan mual naik ke tenggorokan. Berlari ke tempat sampah. Muntah.

Bagaimana aku bisa begitu bodoh? Bagaimana aku bisa percaya semua yang dia katakan?

Tapi bagian yang paling menyakitkan bukan kebohongannya. Bagian paling menyakitkan adalah, bahkan setelah tahu ini, aku masih mencintainya. Aku masih merasakan sesuatu untuk pria yang sudah memanipulasiku sejak awal.

Apa yang salah denganku?

Aku menyeka mulut dengan punggung tangan. Menutup file itu. Memasukkannya kembali ke brankas. Menutup brankas. Memastikan semuanya terlihat tidak tersentuh.

Lalu aku keluar dari ruang kerja dengan wajah setenang mungkin. Tapi di dalam, aku hancur.

***

Yang tidak kutahu adalah, di sudut langit-langit ruang kerja, kamera kecil merekam semuanya.

Dan di ruangan lain, di lantai bawah tanah, Damian duduk di depan monitor. Menonton rekaman itu dengan senyum dingin. Dia menonton aku membuka brankas, membaca file, muntah, bahkan menangis.

Semuanya.

"Tuan tahu ini akan terjadi?" tanya Marco yang berdiri di belakangnya.

"Tentu saja," jawab Damian tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku yang mengirim surat itu."

Marco terdiam. "Kenapa, Tuan? Kenapa Tuan ingin Nyonya tahu kebenaran?"

Damian tersenyum lebih lebar. Senyum yang menakutkan.

"Karena aku ingin melihat pilihannya," jawabnya. "Setelah tahu aku berbohong, setelah tahu ayahnya masih hidup, apakah dia akan mencoba kabur? Mencoba mencari ayahnya?"

Dia bersandar di kursi.

"Atau apakah dia akan tetap di sini. Bersamaku. Walau tahu semua kebohonganku."

"Dan kalau dia memilih kabur?" tanya Marco.

Damian menatap layar. Di sana aku terlihat berjalan keluar dari ruang kerja dengan wajah pucat.

"Maka aku akan tahu dia belum sepenuhnya milikku," katanya pelan. "Dan aku harus mengambil tindakan lebih drastis."

Dia berdiri. Berjalan ke arah pintu.

"Tapi aku rasa dia tidak akan kabur," lanjutnya. "Karena dia sudah terlalu dalam. Sudah terlalu bergantung. Sudah terlalu rusak."

Senyumnya berubah jadi sesuatu yang lebih lembut. Tapi tetap menakutkan.

"Dia akan tetap di sini," bisiknya. "Karena sekarang dia mencintaiku. Walau membenci diriku sendiri karenanya."

***

Malam itu ketika Damian pulang, aku menyambutnya seperti biasa. Tersenyum, menciumnya, seolah tidak terjadi apapun. Dan aku berpura-pura tidak tahu, bahwa aku sudah menemukan kebenarannya.

Kami makan malam bersama. Bicara tentang hal-hal ringan. Seperti pasangan normal. Tapi kami berdua tahu, bahwa ini semua hanya sandiwara.

Pertanyaannya adalah, siapa yang akan mengakui lebih dulu?

Dan ketika aku berbaring di sampingnya malam itu, dengan surat itu masih tersembunyi di laci nakasnya, aku bertanya pada diriku sendiri.

Apakah aku akan mencoba mencari ayah? Mencoba kabur?

Atau apakah aku sudah terlalu rusak untuk peduli bahwa ayah masih hidup?

Apakah aku sudah sepenuhnya milik Damian sampai tidak ada yang lain yang penting?

Jawaban yang membuatku paling takut adalah, aku tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu yang paling menakutkan dari semuanya.

Apakah aku akan mencoba menghubungi ayah? Atau apakah aku akan tinggal di sini, dalam kebohongan dan darah, karena aku sudah terlalu rusak untuk hidup di dunia normal?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah Damian sudah tahu, bawa aku telah mengetahui semuanya? Apakah ini semua bagian dari rencananya lagi? Dan kalau ya... apa yang akan dia lakukan selanjutnya?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!