NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: MENYUSUP KE SARANG SERIGALA

BAB 12: MENYUSUP KE SARANG SERIGALA

Hujan badai mengguyur Jakarta seolah-olah langit sedang ikut mengamuk. Alana berdiri di dalam mobil Porsche-nya yang terparkir seratus meter dari rumah lama Keluarga Ardiansyah. Rumah itu, yang dulu ia sebut sebagai penjara selama tiga tahun, kini tampak suram dan tak terawat sejak aset-aset Raka mulai dibekukan. Pagar besinya sedikit berkarat, dan lampu taman yang redup menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan.

Alana menatap pantulan dirinya di spion tengah. Matanya masih sembap, sisa dari tangisan di lobi apartemen Kenzo tadi. Namun, ada kilatan amarah yang lebih terang daripada rasa sedihnya.

"Kau pikir kau bisa mengusirku, Kenzo?" bisiknya pada keheningan di dalam mobil. "Jika kau tidak bisa mempercayaiku, setidaknya aku akan membersihkan nama ayahku sebelum aku benar-benar pergi darimu."

Alana tahu bahwa Ibu Mira dan Siska mungkin sedang merayakan kemenangan mereka di tempat lain, atau mungkin sedang bersembunyi di dalam sana. Berdasarkan informasi dari mata-mata Kak Satya, Raka menyimpan semua dokumen pentingnya di sebuah brankas tersembunyi di dalam perpustakaan pribadi di rumah itu.

Dengan mengenakan hoodie hitam dan celana cargo yang memudahkannya bergerak, Alana keluar dari mobil. Ia menyelinap melewati pagar samping yang ia tahu kuncinya selalu rusak—sebuah detail kecil yang ia ingat karena dulu ia sering harus keluar malam-malam hanya untuk membelikan Raka rokok.

Suasana di dalam rumah itu sangat sunyi. Bau apek karena lembap mulai tercium. Alana melangkah dengan hati-hati menuju ruang perpustakaan di lantai dua. Setiap derit lantai kayu di bawah kakinya terdengar seperti suara ledakan di telinganya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada hantu, tapi takut gagal membuktikan kebenaran.

Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka.

Alana membeku di balik pilar besar. Ia mendengar suara langkah kaki hak tinggi yang familiar dan suara tawa yang melengking.

"Sudah kubilang, Mas Raka akan segera bebas jika dokumen ini kita serahkan pada Tuan Dirgantara senior," suara Siska terdengar sombong.

"Tapi apa kau yakin Kenzo tidak akan tahu?" Itu adalah suara Ibu Mira. "Kenzo itu sangat cerdik. Jika dia tahu dokumen ini sebenarnya menunjukkan pengkhianatan mendiang suamiku, kita semua akan mati."

Alana menahan napas. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding. Jadi benar, dokumen yang dipegang Kenzo saat ini adalah dokumen palsu atau manipulasi, sedangkan dokumen aslinya masih ada di rumah ini.

"Kenzo sedang hancur, Bu," Siska mencemooh. "Tadi aku melihatnya sendiri. Dia mengusir Alana di depanku. Pria kalau sudah dibutakan oleh dendam masa lalu tidak akan sempat berpikir jernih. Besok, aku akan kembali ke rumahnya dan memastikan dia menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan baru yang kita dirikan menggunakan sisa uang simpanan Raka."

Langkah kaki mereka terdengar menuju ruang tamu. Alana menggunakan kesempatan itu untuk segera menyelinap masuk ke ruang perpustakaan. Ia langsung menuju rak buku ketiga di pojok ruangan. Ia meraba bagian belakang rak, mencari tuas kecil yang pernah ia lihat secara tidak sengaja saat ia membersihkan debu di ruangan itu dulu.

Klik.

Rak buku itu bergeser sedikit, menyingkap sebuah brankas baja kecil yang tertanam di dinding. Alana berkeringat dingin. Ia mencoba mengingat tanggal lahir Raka, tanggal pernikahan mereka, hingga nomor plat mobil pertama Raka. Semuanya salah.

"Ayo, pikir, Alana... apa yang paling dicintai Raka melebihi dirinya sendiri?" gumam Alana.

Ia mencoba angka: 03-03-03. Itu adalah tanggal kematian ayah Raka.

Pip, pip, pip... Cklek!

Pintu brankas terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah map merah tua. Alana membukanya dengan tangan bergetar. Matanya membelalak melihat isinya. Bukan hanya bukti manipulasi rem mobil keluarga Dirgantara, tapi juga sebuah surat perjanjian kerja sama rahasia antara Ayah Raka dengan seseorang dari Keluarga Adiwangsa.

Alana menutup mulutnya dengan tangan. "Tidak mungkin... pengkhianatnya ada di dalam rumahku sendiri?"

Di saat yang sama, di apartemen Kenzo, suasana jauh dari kata damai. Setelah lift tertutup dan membawa Siska turun tadi, Kenzo sebenarnya tidak langsung tidur. Ia berdiri di tengah ruang tengahnya, menatap gelas wiski yang pecah di lantai.

Asisten pribadinya, Rio, masuk dengan wajah cemas. "Tuan, Anda benar-benar membiarkan Nona Alana pergi dalam keadaan seperti itu? Anda tahu kan Siska itu ular?"

Kenzo tidak menoleh. Matanya tertuju pada kamera tersembunyi yang ia pasang di lobi tadi—yang kini sedang ia putar ulang di tabletnya. Ia melihat Alana menampar Siska dua kali. Sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.

"Dia bukan lagi Alana yang lemah, Rio," ucap Kenzo dengan suara serak. "Aku harus membuatnya terlihat jauh dariku agar Siska dan ibunya merasa aman dan mengeluarkan kartu as mereka. Jika aku terus melindunginya secara terang-terangan, mereka akan tetap menyembunyikan dokumen asli itu."

"Tapi Tuan, Nona Alana sangat terluka. Dia pikir Anda benar-benar membuangnya," Rio mengingatkan.

Kenzo mengepalkan tangannya. "Aku akan menebusnya nanti. Seribu kali lipat jika perlu. Tapi untuk saat ini, aku harus memastikan Ayahku tidak melakukan tindakan gila pada keluarga Adiwangsa. Aku harus menunjukkan pada Ayah bahwa akulah yang memegang kendali, bukan dendamnya."

Tiba-tiba, ponsel Kenzo bergetar. Sebuah notifikasi pelacak GPS menyala merah di layarnya.

"Dia di rumah Raka?" Kenzo berdiri seketika, raut wajahnya berubah menjadi panik. "Wanita bodoh! Dia pikir dia bisa menghadapi mereka sendirian?!"

Kembali ke rumah Raka, Alana baru saja hendak memasukkan map merah itu ke dalam tasnya ketika lampu perpustakaan mendadak menyala terang benderang.

"Mencari sesuatu, Alana?"

Alana berbalik dan mendapati Siska berdiri di ambang pintu dengan sebuah pistol kecil di tangannya. Di belakangnya, Ibu Mira menatap Alana dengan penuh kebencian.

"Kau pikir kau sangat pintar, hah?" Siska melangkah maju, moncong pistolnya mengarah tepat ke dada Alana. "Kembalikan map itu! Dokumen itu adalah tiket kebebasan Raka dan kekayaanku!"

Alana mencoba tetap tenang meskipun jantungnya terasa ingin melompat keluar. "Kau membunuh orang tua kami, Siska. Keluarga Raka menghancurkan masa kecilku dan Kenzo. Kau pikir kau bisa hidup tenang setelah semua ini?"

"Siapa yang peduli dengan masa lalu?!" teriak Siska histeris. "Dunia ini hanya soal siapa yang punya uang dan kekuasaan! Berikan map itu sekarang, atau aku akan memastikan mayatmu tidak akan pernah ditemukan di bawah pondasi rumah ini!"

"Berikan padanya, Alana!" Ibu Mira berteriak. "Kau sudah menghancurkan anakku, jangan sampai kau kehilangan nyawamu juga!"

Alana mundur selangkah, tangannya menggenggam map itu dengan erat. "Tidak akan. Kebenaran ini harus sampai ke tangan Kenzo."

Siska menarik pelatuknya—suara klik yang mengerikan terdengar. Namun, sebelum ia sempat menembak, sebuah suara ledakan terdengar dari arah jendela.

PRANKKK!

Kaca jendela perpustakaan pecah berkeping-keping. Sosok pria berbaju hitam melompat masuk dengan gerakan yang sangat cepat. Sebelum Siska bisa bereaksi, pria itu sudah menendang tangan Siska hingga pistolnya terpental ke sudut ruangan.

Itu adalah Kenzo.

Kenzo berdiri di depan Alana, menatap Siska dan Ibu Mira dengan tatapan seekor predator yang baru saja menemukan mangsanya.

"Menyentuhnya," desis Kenzo dengan suara yang sanggup membuat darah siapapun membeku. "Adalah kesalahan terakhir yang akan kalian lakukan di dunia ini."

Siska gemetar hebat, ia mencoba mundur namun ia menabrak meja kayu. "Kenzo... ini tidak seperti yang kau lihat! Alana mencoba mencuri harta kami!"

"Harta?" Kenzo tertawa dingin. Ia mengambil map merah yang dijatuhkan Alana. Ia membacanya sekilas, lalu matanya menatap Alana dengan penuh penyesalan dan cinta yang mendalam.

"Alana... maafkan aku," bisik Kenzo.

Alana menepis tangan Kenzo saat pria itu mencoba menyentuhnya. Air mata Alana mengalir deras. "Kau mengusirku, Kenzo. Kau membiarkanku dihina oleh wanita ini di depan matamu sendiri. Jangan harap permintaan maaf bisa menyembuhkan luka itu secepat ini."

Alana merebut map itu dari tangan Kenzo. "Kebenaran sudah ada di tanganku. Sekarang, biarkan aku pergi."

"Alana, tunggu!" Kenzo mencoba mengejar, namun langkah Alana sangat cepat.

Di luar rumah, polisi yang dipanggil Kenzo sudah mengepung tempat itu. Ibu Mira dan Siska akhirnya diseret keluar dengan tangan terborgol. Siska terus berteriak histeris, menyalahkan Alana atas segala kegagalannya.

Alana berdiri di bawah hujan, menatap dua wanita itu dibawa pergi. Ia merasa hampa. Menang, tapi rasanya sangat perih.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Pintu terbuka, dan Kak Elvan keluar dengan wajah yang sangat marah sekaligus cemas.

"Alana! Apa yang kau pikirkan?! Masuk ke mobil sekarang!" perintah Elvan.

Alana menatap kakaknya, lalu ia teringat dokumen kerja sama rahasia di dalam map itu. Ia menatap Elvan dengan pandangan curiga. "Siapa pengkhianat di keluarga kita, Kak? Siapa yang bekerja sama dengan ayah Raka sepuluh tahun lalu?"

Elvan tertegun. Wajahnya memucat di bawah guyuran hujan. "Alana... apa yang kau bicarakan?"

"Jangan bohong padaku lagi!" teriak Alana. "Dokumen ini menunjukkan ada tanda tangan salah satu dari kalian di sini! Katakan padaku, siapa?!"

Di tengah ketegangan itu, Kenzo muncul di belakang Alana. Ia melihat dokumen yang dipegang Alana.

"Alana, ikut aku. Jangan bicara di sini," ajak Kenzo lembut.

"Tidak!" Alana mundur. Ia merasa tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Tidak kakaknya, tidak juga Kenzo. "Kalian semua pembohong! Kalian semua hanya menjadikanku bidak dalam permainan dendam kalian!"

Alana masuk ke dalam mobilnya sendiri dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Kenzo dan Elvan yang hanya bisa berdiri mematung di tengah hujan.

Malam itu, Alana menyadari satu hal: ia tidak bisa kembali ke rumah Adiwangsa, dan ia tidak bisa kembali ke pelukan Kenzo. Ia harus menghilang sekali lagi, tapi kali ini, ia akan menghilang untuk mengatur strategi kemenangannya sendiri.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!