NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 : Di Ambang Gelap dan Cahaya.

Perjalanan pulang tidak pernah benar-benar bergerak ke depan.

Kakiku melangkah, punggungku menghadap tujuan, tetapi pikiranku tertinggal di tempat-tempat yang tak sempat kuucapkan. Setiap batu yang kulewati menimbulkan gema pertanyaan baru, bergulung di dada, tak satu pun menemukan tepi.

Saat mulut gua akhirnya muncul di antara lipatan batu, dadaku mengencang. Napasku terhenti setengah jalan, seolah udara di sana menuntut harga sebelum mengizinkanku masuk.

Abu masih di sana.

Ia berdiri di ambang gelap, tubuhnya merendah seperti busur yang ditarik terlalu lama. Bulu di sepanjang punggungnya berdiri, bukan karena angin. Rahangnya mengeras, menahan nyeri dan naluri dalam satu tarikan napas yang kasar. Ia tidak maju, tetapi setiap inci tubuhnya berbicara tentang kemungkinan darah.

Langkah di belakangku terhenti.

“Serigala?”

Desis itu singkat, nyaris tercekat. Tanganku melihat, bukan mataku, bagaimana jari lelaki muda itu menemukan gagang pedangnya, seolah besi lebih bisa dipercaya daripada jarak.

“Tenang,” suara Xiao Lu jatuh di antara kami, datar, menahan gelombang.

Ia melangkah ke depan.

Tatapannya tidak berkilat oleh keberanian, juga tidak dirundung rasa takut. Ia memandang Abu seperti seseorang yang menimbang denyut nadi, belum sampai pada belas kasihan, belum pula pada penghakiman. Sebuah perhatian dingin, terlatih, yang tidak tergesa mencintai atau memusuhi.

“Lukanya dalam,” katanya pelan.

Aku melihat jari-jarinya berhenti di udara, seakan luka itu bisa terasa tanpa disentuh.

“Masih ada sisa napas Xue Gou yang menempel.”

“Grrrr.”

Abu menggeram. Suaranya rendah, bergetar, seperti batu yang digeser dari dalam tanah. Kakinya tidak bergeser satu langkah pun. Ia memilih bertahan, bukan menyerang. Pilihan itu terasa berat, seperti beban yang dipikul oleh tulang yang sudah retak.

Aku tidak sadar kapan kakiku bergerak.

Tahu-tahu aku berdiri di antara mereka.

Bukan sebagai perisai.

Bukan pula sebagai penyerah diri.

Tubuhku memilih jarak itu sendiri, seolah lebih paham daripada pikiranku. Jantungku berdetak terlalu cepat, lalu terlalu lambat, lalu kembali kacau, seperti ragu pada iramanya sendiri.

“Hati-hati,” suara lelaki tua itu datang dari belakang, penuh usia dan perhitungan.

Xiao Lu tidak menoleh. Ia menurunkan tubuhnya, berlutut hingga sejajar dengan mata Abu. Batu dingin menyentuh lututnya, tetapi ia tidak bereaksi.

“Dia tidak akan menyerang,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. “Matanya belum memutuskan itu.”

Aku mengikuti arah pandangnya.

Sorot Abu masih keras, tetapi ada retakan di sana. Di balik nyeri dan naluri, ada sesuatu yang tertahan, sesuatu yang menunggu untuk diakui. Geramannya mereda, berganti napas berat yang patah-patah, seperti upaya menjaga hidup tetap di tempatnya.

Xiao Lu mengangguk kecil. Gerakan yang hampir tak ada, tetapi sarat, seperti seseorang yang baru saja menyusun potongan terakhir dari teka-teki lama.

“Kau menjaganya,” katanya pada Abu. “Dan dia, dengan caranya yang kikuk, menahanmu tetap hidup.”

Keheningan turun.

Bukan keheningan kosong, melainkan yang penuh oleh sesuatu yang belum berani diberi nama.

Abu menurunkan kepalanya perlahan.

Gerakan itu begitu tipis, begitu halus, sampai aku ragu apakah itu benar-benar terjadi. Namun dadaku terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menggenggamnya dari dalam.

Xiao Lu menarik napas pendek, tajam.

“Dia mendengarkanmu.”

Kata-kata itu membuat tenggorokanku panas.

“Kami …”

Suaraku keluar lebih dulu daripada niat.

“Kami saling mengerti.”

Aku tidak tahu sejak kapan itu benar. Mungkin sejak darah kami jatuh di tanah yang sama. Mungkin sejak rasa takut kami menemukan bentuk yang serupa. Kata-kata berikutnya terasa seperti gema dari sesuatu yang telah lama terjadi.

“Setelah apa yang kami lewati.”

Xiao Lu berdiri.

Saat matanya kembali padaku, ada perubahan kecil, nyaris tak kasatmata. Tatapan itu tidak lagi mengukur jarak atau risiko. Ia berhenti di sana, mengakui keberadaan yang tidak bisa diringkas dalam laporan.

“Kalian bertahan dari Xue Gou bersama,” katanya. “Itu bukan kebetulan.”

Ia berbalik pada dua orang di belakangnya. Suaranya kembali tenang, tetapi kini mengandung keputusan.

“Bawa mereka ke perkemahan. Tenda terpisah, dekat area penyembuhan.”

Ia melangkah pergi, lalu berhenti setengah langkah.

“Sampaikan pada Shifu,” tambahnya tanpa menoleh. “Aku akan datang bersama mereka.”

Di ambang gua, gelap dan cahaya kembali berbagi batas.

Dan di antara keduanya, aku berdiri, masih goyah, masih belum tahu ke mana seharusnya keyakinan diletakkan, namun untuk pertama kalinya, goyah itu tidak sepenuhnya terasa sendirian.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!