Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secangkir kopi
Suasana tenang bang Dean pergi entah kemana, terakhir ia membawa kunci mobil mungkin pulang atau pergi sebentar.
Ia datang dengan dua gelas minuman hangat di tangannya, senyum ku menghibur ia. "Senyum kau," katanya menghilangkan panggilan adek terhadap ku, ia mulai menganggap ku seumuran dengan dia.
"Ini bagian mu" Secangkir lemon tea hangat, dan curang nya dia malah dapat segelas kopi moccha hangat kesukaan ku. "Aku suka tau" Bang Dean menyerahkan bekas bibir nya untuk ku cicipi. Sialan, bisa juga cara merayu nya.Ku kira bapak-bapak dihadapan ku ini benar-benar cuek orang nya, ternyata bukan begitu adanya.
Bang Dean sibuk sendiri beberapa saat sampai suster datang mengejutkan kami, ternyata infus ku akan dilepas 2 jam menjelang pulang, ku berikan kartu asuransi dan jaminan kesehatan untuk bang Dean bawa sebagai biaya administrasi. Bang Dean yang repot kesana kemari mengurusi segala hal tentang administrasi ku.
"Lumayan juga, diluar tanggungan aja Rp 500.000 ." Bang Dean membawa obat ku, mengangkat ku ke kursi roda yang ia ia bawa. Ia telaten merawat ku, mobil sudah dekat jadi buka pintu aja sudah langsung masuk kedalam mobil. Cuman satu hari satu malam habis pencaharian dua hari, aduhhh memang kesehatan itu amat mahal.
Bang Dean datang lagi ke gerai dimana ia membeli kopi tadi, katanya dia suka dengan rasa kopi itu. Andai dekat rumah ada yang jual pasti di jadi langganan.
Wajar enggak sih mata panda bang Dean ada, lihat lah cara dia konsumsi kopi enggak cukup satu cangkir . Gimana enggak begadang kalau begitu, dia memandangi ku balik, aduh malunya. "Jatuh cinta kau?" idih pede banget ni orang, bisa-bisanya begitu.
Aku berbisik kecil, 'najis' bang Dean tertawa kecil usai menggoda ku.
"Haa... Enggak tadi habis dari rumah sakit, enggak... Hahaha biasa antar orang rumah." Mungkin temannya bang Dean menelpon, ia tertawa saling tukar canda sampai akhirnya pada tujuan obrolan itu. "Bisa, nanti saya usahakan ya." Aku pura-pura fokus pada jalan padahal juga menyimak percakapan mereka.
"Besok aku mau ke Surabaya."
Sekedar informasi aja, enggak lengkap banget. rumah semakin dekat, bang Dean sibuk membersihkan rumah. Menyapu bahkan memasak apa yang dia bisa masak. saat itu aku mulai nyaman dia ada dirumah ini, bahkan ikhlas meninggalkan dia bekerja sementara aku tidur.
"Eh aku pulang dulu, kunci rumah nya. Kalau ada apa-apa hubungi ya," ia membangunkan ku dengan cara menyentuh pipiku. "Makan lah," katanya memakai jaket dan bersiap pergi.
Mobil serta dia pergi meninggalkan ku, rumah kembali sepi tiada cerita. Langkah lemas ku mendekati dapur, dia sudah sediakan makanan, dia sudah masak air hangat tinggal aku minum. Benar nasehat yang ku dengar jika bertemu dengan laki-laki di atas 25 Tahun maka tujuan nya hanya satu menikah, dan sejauh ini langkah menuju kesana sudah ada.
Aku berterimakasih kepada Tuhan sudah mengatur pertemuan ini dalam hidupku, kiranya bang Dean adalah jodoh terakhir ku dan kami mampu menghadapi sikap sifat satu sama lainnya. Dan ya aku suka cara dia memperlakukan sama seperti seorang putri dalam hubungan ini, memanjakan seperti ini belum pernah ku dapat dimana pun.
"Hemm," rasanya nikmat sekali sampai sampai ku tambah porsi makan ada 2 kali mungkin, aku semakin gemuk pastinya.
Salah satu teman komunitas membuat story disana ada bang Dean sedang minum-minum bersama mereka di sebuah cafe bertema Lapo gitu. Mungkin dia gak tau kalau sekarang bang Dean sudah dekat dengan ku, syukurlah aku melihat sisi lain bang Dean. Dia sedang mabuk terlihat dari wajahnya memerah akibat minuman itu.
Lebih parahnya lagi dia melempar kan uang dan ditangkap beberapa wanita, pantesan dia pamit pulang ternyata sudah ada jadwal tertunda selama aku dirumah sakit, i see...
Tunggu ku bahas ini ke kamu, aku enggak suka dia seperti itu minum-minum enggak jelas, hamburin uang entah untuk apa gunanya. Pantesan dia sampai usia ini tidak menikah sibuk foya-foya ternyata.
Bukan video lama, bang Dean tidak angkat telepon berarti kejadiannya berlangsung sekarang. Apa ku chat aja ya, tapi terlalu overprotektif enggak sih ngelarang-larang begini. Haduhh penasaran aku apa aja tingkah mereka, semoga cowok ini update terus tentang kegiatan mereka.
Aku sampai enggak bisa tidur jadinya, membayangkan apa yang terjadi tadi.
Aku suka minum tapi entah kenapa aku
enggak suka lihat bang Dean mabuk seperti
itu tadi.
Menjelang pagi ku ucapkan terimakasih kepada Tuhan, sudah pelihara ku sejauh ini.
sudah berikan aku nafas kehidupan sejauh selama satu Minggu lamanya, aku senang dia ada di setiap langkah ku. Kala aku sedang bermake-up bang Dean terus menghubungi ku, aku tidak angkat apalagi gubris chat dari dia. Malas aku melihat tingkah dia begitu.
Bang Dean: [ kamu kenapa? Ada masalah?] katanya. Coba aku tanya ke jujuran bang Dean tentang semalam.
"Kamu enggak ibadah?" kali ini kamu, aku adalah bahasa cinta kami. "Enggak,masih ngantuk." Katanya mulai cuek lagi.
"Habis darimana kemarin?" Catokan ini amat panas, apa suhu badanku yang semakin panas. Enggak taulah "Biasa ngumpul sama teman-teman."
"Di?" Wajah bang Dean mulai berubah seperti tidak suka ku ganggu privasi nya. "Banyak kali pertanyaan, kenapa emangnya. Langsung ke inti aja," sebenarnya dia menjelaskan tapi entah kenapa nadanya seperti membentak ku. "Diam " katanya Heran, aku jadi malas membahas nya.
"Sudah lah aku mau ibadah." ku akhiri panggilan telepon, membiarkan ia sadar dengan ucapan nya tadi. Aku tau dia sudah terbiasa tidak ada yang mencampuri kehidupan pribadinya cuman aku malu aja dia begitu bareng teman-teman nya.
Saat itu entah kenapa aku ingin mengirim kan screenshot video itu ke bang Dean, ternyata sudah dihapus mungkin permintaan bang Dean kali, kan benar. Chat dari bang Dean langsung menyusul.
bang Dean:[ Itu cara aku menikmati hidup, tolong jangan rubah bagian itu. Toh aku bawa teman-teman ku bukan perempuan lain selain dirimu.] Kau kira aku apaan, terserah mau gimana nya dirimu. Batinku ku dalam amarah.
Disela-sela aku marah ke bang Dean pasti Josua selalu menjadi air yang menyejukkan dan disela-sela aku bertengkar dengan Josua ada bang Dean yang menjadi penyelamat, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua ini.
Josua:[ Lagi dibekasi nih, ada proyek] katanya menunjukkan pembangunan memakan banyak sekali escavator. Dia bekerja disana enggak tau bagian apa, entah kenapa dia memberi kabar lagi.
Tenang kan hatiku Tuhan, aku yakin ini hanya godaan untuk ku. Dan untuk Josua maaf aku tidak berminat menjadi penggoda apalagi terkesan sebagai pilihan kedua.
Kembali menyanyikan lagu kidung jemaat, mendengarkan khotbah membawa hati yang damai di dalam rumah untuk rutinitas tiap Minggu. Lelah ku tidak langsung tidur, melainkan menyusun rumah dengan bunga-bunga yang baru ku beli barusan. Membuat laman kosong penuh dengan bunga.
Sepertinya semakin ku dekat dengan Tuhan semakin banyak masalah yang datang, hanya bedanya kini aku bisa melewati nya tanpa kata nyerah, lemah boleh namun menyerah bukan lah hal yang benar. Ku serahkan semuanya kepada Tuhan, enggak mungkin Tuhan tulis takdir buruk untuk ku.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰