Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"Mas... sakit," rintih Venya.
Wanita itu merasakan perih di bagian punggungnya karena ulah Zidan yang sengaja mendorongnya hingga terbentur sudut meja.
"Maaf, Sayang. Mas gak sengaja," sesal Zidan. Pria itu membantu Venya untuk bangun, lalu mendudukkan wanita itu di sofa.
Gak sengaja apanya, jelas-jelas kamu dorong aku, gerutu Venya dalam hati. Wanita itu berusaha tidak menunjukkan kekesalannya di depan Azelva. Dia tidak ingin istri Zidan itu semakin mengejeknya.
Tatapan Zidan kini beralih pada Azelva yang menatapnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada lagi binar cinta di sorot mata istrinya itu, dan entah mengapa Zidan tidak menyukai tatapan Azelva itu.
"Akhirnya Kamu pulang juga, pasti Kamu gak tahan kan jadi gelandangan?" Ucap Zidan sambil tersenyum mengejek Azelva.
Pria itu mendudukkan tubuhnya di sofa, lalu dengan santainya meminta Venya duduk di pangkuannya. Zidan menatap Azelva dengan seringai di wajahnya. Aku ingin lihat sampai di mana dia pura-pura kuat seperti itu, gumam Zidan dalam hati.
Venya cukup terkejut dengan ulah Zidan, namun wanita itu tetap mengikuti permainan kekasihnya. Walaupun dia tahu Zidan melakukannya hanya untuk membuat Azelva cemburu. Baguslah, dengan begini Azel akan semakin cepat menceraikan Mas Zidan, ucap wanita itu dalam hati.
"Aku ke sini bukan untuk pulang, aku cuma mau Kamu tandatangani ini." Azelva menyerahkan sebuah berkas pada Zidan, berharap pria itu segera menandatanganinya.
Dengan menyerahkan berkas itu artinya, Azelva menyerahkan semua harta peninggalan orang tuanya pada Zidan. Sesuai dengan apa yang waktu itu Azelva terpaksa sepakati.
Azelva tidak ingin berlama-lama di sana, apalagi menanggapi sindiran Zidan, buang-buang waktu saja. Yang Azelva inginkan saat ini hanyalah Zidan menandatangani berkas itu, lalu pergi dari hidup Zidan untuk selamanya.
Tidak ada lagi rasa cemburu apalagi cinta untuk suaminya itu, yang ada hanya penyesalan karena ternyata, orang yang selama ini Azelva anggap tulus, nyatanya tak lebih dari seorang pecundang.
Azelva benar-benar muak.
Zidan mengeraskan rahangnya, tangannya terkepal saat membaca surat perceraian yang Azelva serahkan padanya.
Zidan membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dalam surat itu. Pria itu mengernyitkan keningnya, dalam gugatannya, Azelva sama sekali tidak menggugat rumah ataupun perusahaannya. Azelva benar-benar menyetujui surat kesepakatan yang sudah ia tandatangani waktu itu.
Wanita cantik itu hanya menginginkan kebebasan dari statusnya sebagai istri Zidan Sadana.
Namun, hal itu justru membuat Zidan tidak senang. Entahlah, Zidan sendiri bingung ada apa dengan perasaannya. Bukankah harusnya dia senang, dengan begitu tujuannya selama ini akhirnya tercapai. Harta milik Azelva sepenuhnya akan menjadi miliknya, tanpa harus susah-susah berdebat di pengadilan.
Sementara itu, Venya bersorak senang dalam hatinya. Wanita itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Keinginan yang selama ini dia tunggu-tunggu akhirnya terjadi juga. Sebentar lagi Zidan dan Azelva akan bercerai.
Srekkk srekkk
Tiba-tiba saja Zidan merobek berkas itu menjadi puing-puing. Dan ulah Zidan itu berhasil membuat senyum di wajah Venya perlahan memudar. Begitu juga Azelva, wanita cantik itu tidak bisa menyembunyikan rasa geramnya.
"Kenapa Kamu merobeknya?" Kesal Azelva. Wanita cantik itu menatap geram pada Zidan.
"Iya Mas, kenapa Kamu robek?" Venya pun ikut protes. Bisa dibayangkan betapa kesalnya Venya, di saat rencananya nyaris berhasil, Zidan malah menghancurkan semuanya.
Zidan menyingkirkan Venya dari pangkuannya. Pria itu lalu berdiri di hadapan Azelva.
"Aku berubah pikiran," ucap Zidan dengan seringai di wajahnya.
Satu kalimat yang berhasil membuat Azelva geram sampai ke ubun-ubun.
"Maksud Kamu apa? Bukankah sejak awal Kamu ingin menceraikanku, supaya bisa menikahi wanita itu?" Tunjuknya pada Venya. Azelva bahkan sudah enggan menyebut nama wanita itu. Apalagi menganggap Venya sebagai sahabatnya.
Azelva mendengar sendiri dari mulut Zidan, tujuan pria itu menerima perjodohannya kala itu, hanya untuk balas budi sekaligus ingin merebut semua harta milik Azelva. Setelah Zidan mendapatkan semuanya, dia akan menceraikan Azelva dan menikahi Venya.
"Setelah aku pikir-pikir, itu terlalu mudah untukmu. Kamu sudah membuat Venya keguguran, dan juga gara-gara Kamu, Venya tidak bisa hamil lagi."
Zidan belum sepenuhnya menerima kenyataan itu. Apalagi setelah tahu Papanya Azelva adalah orang yang sudah menghilangkan calon anaknya di masa lalu.
"Jadi, anak haram kalian sudah mati?" Azelva menutup mulutnya pura-pura terkejut. "Syukurlah," ucapnya lagi sambil tersenyum penuh ejekan.
Azelva tidak bermaksud untuk menyumpahi apalagi menari di atas penderitaan orang lain, ia juga paham rasanya kehilangan anak. Azelva pun pernah berada di posisi itu.
Namun rasa sakit yang Azelva rasakan menutupi rasa empatinya pada mereka. Apalagi kedua pengkhianat itu pun mengucapkan kalimat yang sama saat Azelva kehilangan bayinya. Azelva hanya mengembalikan kalimat itu kepada pemiliknya.
"Kamu tega banget ngomong gitu sama aku, Zel." Venya menatap Azelva dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sengaja membuat aku keguguran, tapi Kamu tidak merasa bersalah sedikitpun?"
Air mata Venya mengalir begitu saja. Dia berusaha sekuat tenaga menyalahkan Azelva, padahal tanpa mereka tahu, wanita itu sebenarnya kecewa pada dirinya sendiri.
Azelva memutar bola matanya malas, ia benar-benar muak melihat drama wanita pengkhianat ini. Bertingkah bak wanita yang paling tersakiti. Padahal nyatanya dialah antagonis yang sebenarnya.
"Kamu dan Papamu sama saja, sama-sama tidak punya hati." Venya sengaja memancing emosi Azelva, dengan begini kemungkinan Azelva menerima Zidan kembali tidak akan pernah terjadi.
Venya tahu Zidan hanya beralasan, sebenarnya pria itu tidak ingin bercerai dengan Azelva.
"Dulu Papamu yang sudah membunuh bayiku, sekarang---"
Plak
Belum sempat Venya menyelesaikan ucapannya, Azelva sudah lebih dulu melayangkan tangannya tepat di pipi kanan wanita itu. Saking kerasnya, Venya bahkan sampai terhuyung.
"AZELVA!" Bentak Zidan.
Pria itu membangunkan Venya lalu membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Zidan menatap tajam Azelva yang sudah berani menyakiti Venya.
Namun Azelva tidak gentar sedikitpun. Sudah cukup selama ini Azelva diam saat mereka berulang kali menghinanya. Tapi, Azelva tidak terima saat mereka memfitnah papanya.
"Aku sudah berbaik hati pada kalian, bahkan aku mengikhlaskan semua hartaku untuk Kamu, Mas." Azelva menunjuk Zidan tepat di dada pria itu. "Aku melakukan semua ini untuk membalas kebaikan mu, karena sudah menjaga nama baik keluargaku."
Azelva menjeda sejenak ucapannya. Napasnya kian menderu menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya.
"Tapi kalian semakin keterlaluan. Kalian tidak tahu diri, tidak tahu malu." Azelva tidak bisa menahannya lagi, ia mengeluarkan semua amarah yang dipendamnya. "Sekarang jangan salahkan aku, karena aku tidak akan menyerahkan sepeserpun hartaku pada kalian."
Azelva keluar dari rumah itu tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya. Azelva berjanji akan mengambil kembali semuanya dari tangan Zidan.
...----------------...
"Semuanya berjalan sesuai keinginan mu, Bos. Nona Azel tetap ingin bercerai dengan suaminya."
Kellano bernapas lega saat mendapatkan laporan dari anak buahnya yang ia tugaskan mengawasi Azelva. Tanpa Azelva tahu, Kellano sengaja menyuruh orang untuk mengikuti wanita cantik itu.
Kellano khawatir Zidan akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan pada Azelva. Namun yang lebih Kellano takutkan adalah, Azel akan terpengaruh oleh ucapan suaminya, dan mengurungkan niatnya untuk bercerai.
"Aku akan membuat proses perceraian kalian semakin cepat," ucap Kellano dengan seringai di wajahnya.
To be continued
bagus pak arjuna gercepdibandingin anaknya
ayo segera kita sambut si regina 👏
ayo Zola cepet cerita jgn byk mikir 🤣