Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pelarian Tanpa Jejak
Entah sudah berapa lama aku terjebak di dalam taksi ini, membiarkan sang sopir membawaku memutar-mutar jalanan tanpa tujuan yang jelas. Kepalaku terasa kosong, melayang entah di mana, sementara dadaku justru terasa sangat penuh oleh sesak yang menghimpit. Bayangan di kafe tadi terus saja berulang, terputar otomatis seperti mimpi buruk yang enggan usai. Wajah Fikar, buku cek itu, dan perut Clara yang sudah mulai menyembul. Semuanya adalah kepingan teka-teki yang ketika kusatukan, hanya membentuk satu gambar tunggal: kehancuranku.
"Berhenti di depan stasiun saja, Pak," kataku dengan suara serak yang hampir habis.
Aku turun di Stasiun Gambir. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang tampak terburu-buru mengejar waktu, aku merasa seperti hantu yang tersesat. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa wanita dengan kacamata hitam dan koper kecil ini baru saja kehilangan seluruh dunianya. Aku melangkah menuju loket, membeli tiket kereta api menuju Yogyakarta. Kota tempat masa kecilku dulu, satu-satunya tempat di mana aku pernah merasa benar-benar aman sebelum utang-utang Ayah merenggut segalanya.
Sengaja ponsel itu tetap mati. Aku tahu Fikar pasti sedang gila mencariku, atau jangan-jangan dia justru merasa lega? Dengan kepergianku, dia bisa jauh lebih leluasa mengurus Clara dan kenang-kenangan mereka tanpa perlu merasa bersalah setiap kali menatap wajahku. Pikiran itu membuat hatiku semakin perih, rasanya seperti disayat sembilu berkarat yang meninggalkan luka basah.
Di dalam gerbong, aku memilih duduk di dekat jendela. Saat kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Jakarta yang penuh dengan kepalsuan, aku menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Air mata kembali mengalir pelan, tanpa suara, tanpa isak yang meledak. Hanya lelehan hangat yang membasahi pipi. Aku teringat bagaimana dua tahun lalu aku memasuki rumah Fikar dengan kepala tertunduk karena kontrak. Sekarang, aku pergi dengan kepala yang jauh lebih tunduk lagi karena luka yang menganga.
"Kenapa kamu setega itu, Mas?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar di antara deru mesin kereta.
Aku teringat malam-malam beberapa bulan terakhir saat dia mulai bersikap manis. Pelukannya yang terasa begitu hangat, bisikan-bisikan rendah yang menjanjikan bahwa aku adalah satu-satunya. Apakah semua itu hanya cara agar dia bisa tidur dengan tenang sambil menyembunyikan bangkai di dalam lemari bajunya sendiri? Aku merasa seperti badut yang menari di panggung sandiwaranya. Aku tertawa pendek dalam tangis, meratapi betapa bodohnya aku karena sempat percaya bahwa cinta bisa tumbuh subur di atas tanah yang sejak awal sudah beracun.
Sesampainya di Yogyakarta, aku tidak mencari rumah kerabat. Aku justru menyewa sebuah kamar kos kecil di daerah pinggiran yang jauh dari keramaian Malioboro. Kamarnya sangat bersahaja, hanya ada kasur tipis dan lemari kayu tua yang baunya apek. Namun, di sini aku tidak perlu bersusah payah berpura-pura menjadi istri yang sempurna. Di sini, aku tidak perlu terjaga menunggu kepulangan pria yang hatinya sudah terbagi.
Malam pertama di pelarian, tubuhku ambruk. Demam tinggi menyerang tanpa ampun. Dalam igauan yang kacau, lidahku masih saja mengkhianatiku dengan memanggil namanya. Aku membenci diriku sendiri karena hal itu. Bahkan setelah dia menginjak-injak harga diriku, jantungku tetap saja curang dengan merindukan aromanya.
Aku terbangun tengah malam dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat dingin. Tenggorokanku kering dan perih, aku sangat haus, tapi kakiku tidak punya tenaga sedikit pun untuk berdiri. Di dalam kegelapan kamar kos yang asing ini, aku menyadari satu kenyataan yang paling pahit: aku benar-benar sendirian. Ayah tidak boleh tahu, dan Fikar adalah orang terakhir di dunia ini yang ingin kutemui.
Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel. Ada keraguan sejenak sebelum aku akhirnya menekan tombol daya. Ratusan pesan masuk seketika memberondong. Panggilan tak terjawab dari Fikar mencapai angka yang tidak masuk akal. Tapi ada satu pesan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga. Bukan dari Fikar, melainkan dari nomor tidak dikenal. Sebuah foto.
Di layar ponsel, tampak foto Fikar yang sedang memeluk Clara dari belakang di sebuah teras rumah sakit. Di bawahnya tertulis kalimat yang menghujam telak: "Dia tidak akan pernah meninggalkan kami, Kiki. Berhenti berlari dan mulailah berkaca. Kamu Hanya masa lalu yang dibeli, aku adalah masa depan yang ia miliki."
Ponsel itu jatuh begitu saja dari tanganku. Aku merosot ke lantai, memeluk tubuhku yang menggigil hebat. Di kamar sempit ini, aku akhirnya meraung sejadi-jadinya. Suara tangisanku tertelan oleh bunyi hujan yang tiba-tiba turun membasahi bumi Yogyakarta. Aku merasa benar-benar mati. Tidak ada lagi Kiki yang kuat. Yang tersisa hanyalah seorang wanita hancur yang sedang melarikan diri dari kenyataan bahwa suaminya telah memilih hidup yang lain.
Aku memejamkan mata erat-erat, berharap saat terbangun nanti, semua ini hanyalah mimpi buruk yang bisa kulupakan. Namun, rasa perih di dadaku terlalu nyata untuk sekadar disebut mimpi. Ini adalah awal dari kematian jiwaku yang perlahan.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.