Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMPLOP MISTERIUS
3 hari kemudian, Maya sudah kembali ke Jakarta bersama Hania.
Lingga sudah mengurus semua administrasi adiknya itu meskipun tidak bisa menemani Maya selama 3 hari karena ia harus menggantikan sang istri yang berada di Singapura untuk menjaga anak dirumag dan mengurus pekerjaan sebagai CEO.
Leksono membawa Juan dan Laras pulang sehari sebelum Maya kembali.
Laras langsung kembali ke Swiss karena liburannya seminggu telah usai.
"Bang, aku hanya berpesan sama kamu. Sudahi keegoisanmu ini dan jadilah pria lebih baik. Kak Maya sudah mengorbankan banyak hal untuk mempertahankan pernikahan kalian, meskipun dia bersalah tapi abang juga sangat salah" ucap Laras sebelum pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
Juan hanya diam dan melihat Laras menaiki mobil menuju bandara bersama Leksono.
Kini ia tinggal dirumah orang tuanya. Sedangkan Maya dibawa pulang kerumah kakaknya, Lingga dan Hania.
"TANTE MAYAA!!" seru seorang bocil perempuan dengan rambut diikat lucu.
"Hai sayang ku, Isabel. Maaf ya tante kemarin pinjam mami kamu 3 hari" sahut Maya sambil memeluk keponakannya yang berumur 4 tahun.
"Gapapa tante, papi nemenin aku sama abang kok. Kata papi tante sakit ya? Udah sembuh?" tanya Isabel.
Maya mengangguk.
"Tapi wajah tante masih pucat ya" celetuk anak cewek yang sudah pandai diajak mengobrol.
"Hehe, tante cuma butuh istirahat lagi. Besok kita bisa main yaaa" sahut Maya.
Tiba tiba dari belakang Maya terdengar suara anak laki laki.
"Hai, Tante Maya" sapa anak itu dengan suara lembut.
Maya dan Isabel menoleh kearah pintu.
"Halooo, Baim" sahut Maya sambil membuka kedua tangannya untuk mendapatkan pelukan ponakan pertamanya yang sudah berumur 7 tahun.
Baik menurut, ia berjalan cepat menuju pelukan adik dari papinya itu.
"Aku tidak suka ketika papi bilang kalau tante sakit di Singapura" lirih Baim.
"Kenapa tidak suka? Ini tante udah sembuh dan bisa pulang" sahut Maya lalu anak laki laki itu melepaskan pelukan.
Ia mengamati wajah Maya yang masih ada memar sedikit. Baim menghela nafas berat.
"Baim gak suka sama Om Juan. Dia jahat" ujar anak laki laki itu frontal.
Maya speechlees.
Lalu Lingga dan Hania tiba tiba masuk kedalam rumah bersama. Tadi Hania dan Maya dijemput oleh supir pribadi Hania sedangkan Lingga baru datang setelah menjemput Baim les.
"Baim, gak boleh ngomong gitu" tegur Hania yang sempat mendengarkan apa yang anak pertamanya bilang soal Juan.
"Kenyataan, emang om Juan jahat. Aku gak suka tante Maya sama dia" ujar Baim lagi. Entah kenapa anak usia 7 tahun bisa menilai orang lain begitu apalagi masih suami dari tantenya?
"Baim, papi gak suka kamu ngomong gitu. Minta maaf sama tante, om juan masih suami tante Maya" tegur Lingga.
"Baim gak perlu minta maaf karena apa yang dia katakan benar, Kak" ujar Maya sambil tersenyum dan mengelus kepala anak laki laki itu.
Hania dan Lingga hanya bisa menghela nafas panjang. Putranya ini memang bisa menilai orang diawal pertemuan mereka.
Apalagi Baim sendiri pernah melihat Juan memarahi Maya dengan lantang di hadapannya hanya karena Maya memasak keasinan saat Baim dititipkan Hania kepada Maya waktu itu.
Selain itu, diam diam Baim selalu mengamati gelagat Juan yang cukup bisa ditebak saat pertemuan keluarga. Juan pendiam dan wajahnya tidak pernah menyenangkan.
Anak kecil adalah makhluk paling tulus dan lebih berkata jujur.
"Oke, kalau Baim gak mau minta maaf, tante Maya gak akan tinggal disini beberapa hari dan akan pulang kerumahnya untuk bertemu Om Juan" ancam Lingga.
"NO PAPI!! JANGAN!!!" seru Baim sambil memeluk Maya. Adiknya pun ikut memeluk kaki tantenya.
"Oke oke..aku minta maaf" lanjut anak laki laki itu, ia melepas pelukannya dan berdiri menghadap Maya.
"Tante, Baim minta maaf ya udah menyebut Om Juan jahat meskipun kenyataan" ucap Baim.
Maya malah tertawa kecil, berbeda dengan Hania dan Lingga yang hanya bisa geleng geleng kepala dengan kepolosan serta kejujuran anak pertamanya itu.
"Udah udah, Kakak jangan marahin Baim atau ngancem ngancem" minta Maya.
Semerbak aroma dapur membuat semuanya gagal fokus.
"HOREEE!! AYAM GORENG ISABEL UDAH MATENG!!" seru bocah perempuan itu semangat dan berlari ke dapur.
"Sepertinya makan malam sudah siap, kita makan dulu aja ya sebelum kamu istirahat, May" ucap Hania dan Maya mengangguk.
Akhirnya keluarga Lingga dan Hania beserta 2 anak mereka makan malam bersama Maya.
Erlan dan Ayu yang sedang bermesraan di taman belakang tiba tiba mendapatkan sebuah amplop coklat yang dibawa oleh penjaga rumah mereka.
"Mohon maaf Nyonya dan Tuan besar, tadi ada kurir yang menyampaikan paket ini untuk anda" ujar penjaga rumah alias security.
Erlan dan Ayu saling tatap heran.
"Paket apa ini sayang? Apa kamu kerja diam diam dibelakangku?" tuduh Ayu.
"Hahahaha ngapain juga harus kerja diam diam di belakangmu sayang, kalau aku mau kerja ya aku bakal pamit sama kamu lah. Tapi sekarang udah bener bener pensiun menikmati masa tua bareng kamu" sahut Erlan romantis.
Pria berumur 65 tahun ini sudah menyerahkan seluruh wewenang dan tanggung jawab kepada putranya, Lingga, meskipun ia juga masih memiliki adil di direksi pemegang saham perusahaan Yudhistira.
"Lah terus ini amplop apa? Coba buka, jadi penasaran siapa yang berani mengirim paket ini malam malam kesini" ucap Ayu.
Erlan pun membukanya.
Deg!
Wajah pria itu langsung membeku dengan mata yang melotot tajam.
Ayu jadi penasaran.
"Apa isinya sayang, kenapa kamu langsung membeku begin?" tanyanya, ia ambilah beberapa lembar foto ditangan sang suami.
Tak lama kemudian, ekspresi yang sama Ayu tunjukkan seperti sang suami.
"Ma..ya.." lirih Ayu.
Bruk!
Erlan langsung terjatuh sambil memegang dadanya.
"MAS ERLAAN!!" teriak Ayu panik dan langsung saja security yang berjaga di pintu taman belakang menoleh lalu berlari kearah majikannya.
Beberapa ART puj juga keluar dari wilayah kerjanya masing masing.
"PANGGIL AMBULANCE CEPAT!" teriak Ayu lagi sambil memangku kepala Erlan di pahanya.
Salah satu ART langsung cepat menekan nomor diponsel dan menginformasikan keadaan majikannya.
"MBAK JULI, TOLONG AMBILKAN OBAT BAPAK DI MEJA KAMAR!" serunya lagi kepada ART yang masih terbilang muda dari yang lain dan Ayu anggap bisa berlari.
"SIAP NYONYA!" sahut Juli.
"Sadar, Mas. Maya tidak apa apa, kamu bertahanlah" ucap Ayu.
Tak lama kemudian, Juli datang sambil membawa segelas air putih serta obat yang diminta Ayu.
Glek.
Ayu langsung memasukkan 1 pil ke mulut suaminya dan ia beri air putih untuk ditelan Erlan.
Beberapa menit kemudian, keadaan pria yang terkena serangan jantung itu mulai tenang alias pingsan sebelum ambulance datang.
Ayu langsung membawa Erlan kerumah sakit.