"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kesuksesan Pertama
Rabu pagi, Suyin bangun jam lima dengan perasaan campur aduk—excited tapi juga nervous. Hari ini adalah presentasi pertama produk mereka ke klien besar.
Dia sholat subuh dengan khusyuk, berdoa agar semuanya berjalan lancar. Lalu mandi dan bersiap dengan sangat hati-hati—memilih blazer cream dengan celana bahan hitam, makeup natural tapi profesional, rambut diikat rapi ke belakang.
Saat turun ke ruang makan, Xiao Zhen sudah siap dengan setelan formal biru navy—terlihat seperti CEO yang sebenarnya dia adalah.
"Pagi. Siap?" sapanya sambil menuangkan kopi untuk Suyin.
"Siap. Tapi juga nervous," akui Suyin sambil menerima cangkir kopi. "Bagaimana kalau mereka tidak suka produk kita?"
"Tidak mungkin." Xiao Zhen tersenyum yakin. "Aku sudah coba sendiri sayuranmu selama hampir sebulan. Kualitasnya luar biasa—jauh melampaui sayuran organik premium yang ada di pasaran. Percaya padaku—mereka akan suka."
"Oke. Aku percaya padamu." Suyin menarik napas panjang, menenangkan diri.
Setelah sarapan cepat, mereka berangkat dengan mobil Xiao Corporation yang resmi—mobil hitam mengkilat dengan logo perusahaan di pintu. Di bagasi, dua puluh box sayuran sudah tertata rapi dalam cooler box untuk menjaga kesegaran.
Perjalanan ke kantor Xiao Corporation di Sudirman memakan waktu empat puluh menit. Selama perjalanan, Xiao Zhen briefing Suyin tentang klien yang akan mereka temui.
"Namanya Ibu Kartika, CEO dari jaringan supermarket premium 'Fresh & Fine'. Mereka punya dua puluh cabang di Jakarta, Bandung, dan Surabaya—semua menargetkan customer kelas menengah atas yang peduli kesehatan dan kualitas."
"Wah, besar juga ya," komentar Suyin.
"Besar dan sangat selektif. Mereka hanya terima supplier yang benar-benar berkualitas tinggi. Tapi kalau kita bisa masuk ke jaringan mereka, itu akan jadi pintu gerbang untuk supplier lain." Xiao Zhen melirik Suyin. "Yang penting, kamu santai saja. Aku yang akan handle presentasi bisnis. Kamu cukup jelaskan tentang metode penanaman organik dan keunggulan produk dari sisi pertanian."
"Oke. Itu aku bisa." Suyin lebih tenang sekarang—berbicara tentang pertanian adalah comfort zone-nya.
Mereka sampai di lobby kantor Xiao Corporation jam delapan pagi. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Xiao Zhen langsung membungkuk hormat—tapi mata mereka jelas penasaran melihat wanita muda yang berjalan di samping bos mereka.
Asisten pribadi Xiao Zhen—seorang wanita paruh baya bernama Mbak Sari—sudah menunggu di depan lift.
"Selamat pagi, Tuan Xiao. Selamat pagi, Nona Lin," sapanya profesional. "Ibu Kartika sudah tiba dan menunggu di ruang meeting lantai 25."
"Bagus. Kami naik sekarang." Xiao Zhen menekan tombol lift. "Tolong minta staff untuk bawa sampel ke ruang meeting—handling dengan hati-hati."
"Sudah saya atur, Tuan."
Di dalam lift, Suyin merapikan blazer-nya yang sebenarnya sudah rapi—nervous habit.
Xiao Zhen menyentuh tangannya sebentar. "Kamu akan bagus. Percaya padaku."
Suyin mengangguk, menarik napas panjang.
Ruang meeting lantai 25 adalah ruangan besar dengan jendela kaca dari lantai ke langit-langit yang menghadap ke pemandangan Jakarta. Di tengah ada meja panjang dengan kursi-kursi empuk, layar presentasi besar di dinding, dan tata lampu yang modern.
Ibu Kartika sudah duduk di ujung meja—wanita paruh baya dengan blazer merah marun, rambut pendek rapi, dan aura profesional yang kuat. Di sampingnya ada dua orang lagi—seorang pria muda dengan tablet yang sepertinya asistennya, dan seorang wanita berkacamata yang membawa clipboard.
"Pak Xiao! Senang bertemu lagi," sapa Ibu Kartika sambil berdiri dan berjabat tangan.
"Senang bertemu juga, Bu Kartika." Xiao Zhen berjabat tangan dengan profesional. "Ini partner bisnis saya, Lin Suyin. Dia pemilik kebun organik yang akan supplai produk untuk kami."
"Senang berkenalan, Nona Lin." Ibu Kartika berjabat tangan dengan Suyin—genggamannya kuat dan tegas. "Saya dengar dari Pak Xiao bahwa produk Anda memiliki kualitas yang luar biasa. Saya penasaran."
"Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha membuktikannya," jawab Suyin dengan sopan tapi percaya diri.
Mereka semua duduk. Mbak Sari masuk dengan beberapa staff, membawa box-box sampel yang sudah ditata di atas troli—semua dikemas dengan sangat rapi dalam packaging yang Xiao Zhen siapkan: kotak kardus ramah lingkungan dengan logo "Lin's Organic Garden" dan tulisan "Premium Quality, Nature's Best" dalam desain minimalis elegan.
"Wah, packaging-nya menarik," komentar Ibu Kartika sambil mengambil salah satu box. "Eco-friendly. Bagus untuk branding."
"Kami sangat peduli dengan sustainability di setiap aspek," ucap Xiao Zhen sambil membuka laptop untuk presentasi. "Dari cara penanaman, packaging, sampai distribusi—semuanya dirancang untuk minimal impact pada lingkungan."
Presentasi dimulai dengan Xiao Zhen yang menjelaskan konsep bisnis—partnership antara Xiao Corporation dengan Lin's Organic Garden, target pasar, proyeksi supply, dan sistem kerjasama yang ditawarkan.
Ibu Kartika dan timnya mendengarkan dengan serius, sesekali bertanya detail yang dijawab Xiao Zhen dengan sangat profesional.
Lalu giliran Suyin.
"Nona Lin, bisa Anda jelaskan tentang metode penanaman Anda?" tanya Ibu Kartika. "Kami sangat selektif soal ini—kami hanya mau produk yang benar-benar organik, bukan sekadar label."
Suyin berdiri, menarik napas—lalu mulai bicara dengan passion yang genuine.
"Semua sayuran kami ditanam tanpa pestisida kimia sama sekali. Kami menggunakan kompos alami, sistem irigasi dengan air mata air murni, dan pengendalian hama dengan metode biologis—seperti ladybug untuk aphids, companion planting untuk mencegah pest secara natural."
Dia membuka salah satu box, mengeluarkan tomat cherry yang warnanya merah sempurna dan berkilau.
"Ini tomat cherry kami. Lihat—tidak ada blemish, tidak ada bekas gigitan hama, ukurannya konsisten. Ini bukan karena kami semprot dengan kimia, tapi karena tanah dan lingkungan tumbuhnya sangat terjaga."
Ibu Kartika mengambil satu tomat, memeriksanya dengan teliti. "Boleh saya coba?"
"Tentu saja."
Ibu Kartika mencuci tomat itu dengan air mineral yang ada di meja—lalu memakannya langsung.
Ekspresi wajahnya berubah.
"Ini..." Dia mengunyah perlahan, mata melebar. "Ini sangat manis. Dan teksturnya sempurna—tidak terlalu lembek tapi juga tidak keras. Ini kualitas restaurant-grade."
"Coba juga yang ini, Bu," Suyin mengeluarkan selada romaine, bayam, dan sawi hijau. "Semua bisa dimakan mentah karena kami jamin kebersihannya."
Tim Ibu Kartika juga mencoba—dan reaksi mereka sama. Impressed.
Pria muda dengan tablet itu bahkan berkomentar, "Ini jauh lebih enak dari supplier organik yang sekarang kami pakai."
Ibu Kartika mengambil beberapa samples lagi—wortel, timun jepang, paprika—dan mencoba semuanya. Setiap kali, ekspresinya makin impressed.
"Nona Lin," ucap Ibu Kartika akhirnya. "Bagaimana Anda bisa dapat kualitas sekonsisten ini? Biasanya sayuran organik punya masalah dengan consistency—kadang bagus, kadang biasa saja karena sangat dependent pada cuaca dan kondisi tanah."
Ini pertanyaan yang tricky. Suyin tidak bisa bilang "karena saya punya ruang dimensi ajaib dengan tanah berkualitas supernatural dan air mata air yang bisa mempercepat pertumbuhan".
Jadi dia jawab dengan versi yang lebih... realistis.
"Kami menggunakan greenhouse dengan kontrol iklim yang sangat ketat, Bu. Jadi tidak tergantung pada cuaca luar. Tanah kami juga diperkaya dengan mineral alami yang sangat baik—dari hasil research bertahun-tahun untuk komposisi optimal. Dan kami sangat selective dalam pemilihan benih—hanya yang terbaik yang kami tanam."
Tidak sepenuhnya bohong—Rumah Kaca Budidaya memang ada, dan semua yang dia bilang tentang tanah dan air memang benar, walau sumbernya... unik.
Ibu Kartika mengangguk puas. "Impressive. Sangat impressive."
Dia berdiskusi dengan dua staffnya dalam suara rendah selama beberapa menit—Suyin dan Xiao Zhen menunggu dengan nervous.
Akhirnya Ibu Kartika berbalik ke mereka.
"Baiklah. Saya tertarik untuk trial period—satu bulan pertama. Kami akan order dua ratus kilogram berbagai jenis sayuran per minggu untuk distribusi ke lima cabang Jakarta kami. Kalau responnya bagus dari customer, kami expand ke semua cabang dan increase volume."
Jantung Suyin melompat. Dua ratus kilogram per minggu!
Xiao Zhen tetap tenang dan profesional. "Itu bisa kami arrange. Berapa range harga yang Ibu bisa terima?"
Mereka masuk ke negosiasi harga—angka-angka yang membuat kepala Suyin pusing tapi Xiao Zhen handle dengan sangat smooth. Akhirnya mereka sepakat pada harga yang fair—lebih tinggi dari sayuran organik biasa karena kualitas premium, tapi masih masuk range yang Ibu Kartika bisa jual dengan margin bagus.
"Deal." Ibu Kartika mengulurkan tangan. "Kami akan kirim kontrak formal minggu ini. Delivery pertama bisa mulai minggu depan?"
"Bisa, Bu. Kami akan pastikan semuanya on time dan dalam kondisi sempurna," jamin Xiao Zhen sambil berjabat tangan.
Setelah Ibu Kartika dan timnya pergi, Suyin dan Xiao Zhen masih berdiri di ruang meeting—belum fully process apa yang baru terjadi.
Lalu Suyin menjerit pelan dan melompat memeluk Xiao Zhen.
"KITA BERHASIL! KLIEN PERTAMA! DUA RATUS KILOGRAM PER MINGGU!"
Xiao Zhen tertawa—tawa yang sangat lepas—dan memutar Suyin satu putaran sebelum menurunkannya.
"Kamu luar biasa tadi! Cara kamu jelaskan tentang metode penanaman sangat meyakinkan dan passionate. Itu yang membuat Ibu Kartika impressed."
"Tapi kamu yang negotiate harga dengan sangat profesional! Aku bahkan tidak mengerti separuh dari terms yang kalian bicarakan!" Suyin tertawa.
"Makanya kita tim." Xiao Zhen menyentuh pipi Suyin dengan lembut. "Kamu handle produk dan kualitas. Aku handle bisnis dan negosiasi. Perfect combination."
"Perfect combination," ulang Suyin sambil tersenyum lebar.
Mbak Sari mengetuk pintu. "Maaf mengganggu, Tuan. Ada telepon dari Pak Bambang—owner restoran 'Rempah Nusantara'. Dia minta appointment untuk sampling produk juga."
Xiao Zhen melirik Suyin dengan senyum. "Sepertinya kabar tentang produk kita sudah mulai spread. Kamu siap untuk presentasi lagi?"
"Kalau hasil seperti tadi? Aku siap kapan saja!"
Sore itu, setelah seharian meeting dengan tiga klien potensial lainnya—semuanya tertarik, dua committed untuk trial period—Suyin dan Xiao Zhen akhirnya bisa pulang ke villa.
Di mobil, Suyin menatap kontrak-kontrak sementara yang sudah ditandatangani hari ini dengan perasaan tidak percaya.
Total pesanan per minggu dari semua klien yang commit hari ini: empat ratus lima puluh kilogram sayuran berbagai jenis.
"Ini... ini angka yang besar," bisik Suyin. "Aku harus pastikan produksi bisa keep up."
"Kamu bisa. Kamu punya Rumah Kaca Budidaya sekarang—produksi akan jauh lebih efisien." Xiao Zhen meliriknya. "Tapi kalau terasa terlalu overwhelming, kita bisa tolak beberapa klien atau minta mereka reduce volume."
"Tidak, tidak!" Suyin cepat-cepat menggeleng. "Aku bisa handle ini. Aku hanya perlu... adjust jadwal dan sistem produksi. Tapi aku pasti bisa."
"Oke. Tapi ingat—jangan sampai kamu overwork. Health comes first."
"Aku janji." Suyin tersenyum. "Lagipula sekarang aku punya ramuan Penguatan Qi dari Zhao Mei. Kalau lelah tinggal minum."
"Itu bukan excuse untuk overwork," tegur Xiao Zhen dengan nada yang half serius half geli.
Sampai di villa, Nyonya Qin sudah menyiapkan makan malam yang luar biasa enak—seperti dia tahu mereka punya hari yang besar dan perlu celebrasi.
"Nyonya Qin, bagaimana kamu tahu kita perlu feast hari ini?" tanya Suyin sambil menatap meja yang penuh dengan hidangan lezat.
"Wajah kalian berdua bersinar seperti habis menang lotere," jawab Nyonya Qin dengan senyum lebar. "Jadi pasti ada kabar baik. Betul kan?"
"Betul!" Suyin cerita tentang meeting hari ini, tentang klien-klien yang commit, tentang angka pesanan yang masuk.
Nyonya Qin mendengarkan dengan bangga—seperti nenek yang mendengar cucunya sukses.
"Aku tahu dari awal kamu anak yang istimewa," ucapnya sambil menepuk bahu Suyin. "Dan Tuan Muda..." Dia melirik Xiao Zhen. "...ini pertama kalinya dalam delapan tahun aku lihat Tuan Muda tersenyum sebanyak ini. Terima kasih ya, Nona Suyin."
Suyin merasa pipinya panas. "Aku yang seharusnya berterima kasih pada Tuan Xiao..."
"Kalian berdua saling berterima kasih terus. Sudah, makan dulu sebelum dingin!" Nyonya Qin mendorong mereka ke meja dengan affectionate.
Makan malam berlangsung dengan penuh tawa dan cerita. Suyin merasa sangat grateful—tiga minggu lalu hidupnya suram dan tidak jelas arahnya. Sekarang, dia punya bisnis yang mulai tumbuh, kemampuan kultivasi yang berkembang, dan seseorang yang sangat peduli padanya.
Setelah makan malam, mereka duduk di teras belakang—tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu bersama.
"Xiao Zhen."
"Hm?"
"Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk percaya pada produkku, untuk membantu bisnis ini jadi nyata, untuk..."
"Untuk?" Xiao Zhen menatap Suyin dengan lembut.
"Untuk membuat hidup ini terasa lebih hidup," selesaikan Suyin dengan suara pelan.
Xiao Zhen meraih tangan Suyin, menggenggamnya dengan hangat. "Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu yang membuat hidup yang tadinya hanya rutinitas jadi bermakna lagi."
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, menikmati angin malam dan suara jangkrik.
"Minggu depan akan sibuk," ucap Suyin akhirnya. "Aku harus produksi empat ratus lima puluh kilogram per minggu—itu belum termasuk pesanan dari Bu Lina dan Mas Arief yang sudah ada sebelumnya."
"Itu total sekitar lima ratus kilogram per minggu. Dalam ruang dimensi dengan waktu lima belas kali lipat..." Xiao Zhen menghitung di kepala. "...kamu punya kira-kira seratus lima jam per minggu waktu dimensi untuk produksi. Itu cukup kalau kamu manage dengan baik."
"Iya, aku sudah hitung juga." Suyin mengangguk. "Aku akan fokus on Rumah Kaca Budidaya untuk sayuran cepat panen—sawi, kangkung, selada. Untuk yang slow-growing seperti tomat dan paprika, aku tanam di area outdoor biasa. Rotasi yang sistematis."
"Kamu sudah berpikir seperti entrepreneur profesional." Xiao Zhen tersenyum bangga.
"Aku belajar dari yang terbaik." Suyin tersenyum balik.
Malam itu, sebelum tidur, Suyin masuk ke ruang dimensi untuk prepare area tanam untuk minggu depan.
WUSH!
Di dalam, Pohon Kehidupan menyambutnya dengan cahaya lembut.
"Selamat untuk kesuksesan hari ini, Pemilik Ruang."
"Terima kasih! Aku masih tidak percaya semuanya berjalan selancar itu." Suyin duduk di bawah pohon, bersandar pada batangnya yang hangat. "Tapi sekarang tantangannya adalah produksi. Lima ratus kilogram per minggu itu tidak main-main."
"Kamu bisa. Ruang dimensi ini dirancang untuk support growth—baik growth tanaman maupun growth-mu sebagai petani dan businesswoman. Gunakan Rumah Kaca Budidaya seoptimal mungkin."
"Aku akan." Suyin bangkit, menatap area luas di depannya. "Dari besok, aku akan buat sistem yang lebih terstruktur. Jadwal tanam per hari, jadwal panen, inventory management—semuanya harus dicatat dengan rapi."
"Bagus. Dan jangan lupa—kamu tidak sendirian. Kamu punya Xiao Zhen yang support. Kamu punya tim Klan Xiao kalau butuh bantuan. Dan kamu punya aku."
Suyin tersenyum hangat. "Iya. Aku punya kalian semua. Aku sangat beruntung."
Dia menghabiskan beberapa jam—waktu dimensi—untuk prepare bedengan baru, menyemai benih dalam jumlah besar di Rumah Kaca Budidaya, dan mengecek inventory yang sudah ada.
Saat keluar dari ruang dimensi, dia lelah tapi puas. Semua sudah dipersiapkan untuk minggu yang sibuk.
Di tempat tidur, sebelum tertidur, Suyin menatap gelang giok yang bersinar lembut di pergelangan tangannya.
"Nenek, aku harap kamu melihat ini semua dari surga. Bisnis yang nenek mulai dengan warisan ini sekarang berkembang jadi sesuatu yang besar. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan nenek."
Gelang berkilau sebentar—dan Suyin yakin dia merasakan kehangatan yang seperti pelukan nenek.
Dia tertidur dengan senyum di wajah dan hati yang penuh dengan harapan untuk masa depan.
Petualangannya baru saja dimulai—dan dia tahu yang terbaik masih akan datang.
[Akhir Bab 29]
Catatan: Lin Suyin sekarang telah resmi memulai bisnis sayuran organik dengan 4 klien besar, target produksi 500kg/minggu, fasilitas Rumah Kaca Budidaya Level 2, dan partnership bisnis + romantis dengan Xiao Zhen. Organisasi Bayangan masih ada tapi sementara tidak mengancam. Cerita akan berlanjut dengan perkembangan bisnis, kultivasi, dan hubungan Suyin-Xiao Zhen.