Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-hal Yang Tak pernah Diceritakan
Malam datang dengan sunyi yang berbeda. Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, hanya langit gelap yang terasa terlalu luas. Senja berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Pikirannya masih tertinggal di taman sore tadi.
Kata-kata Kay terus berputar di kepalanya.
“Aku takut kehilangan kamu tanpa tahu alasannya.”
Kalimat itu seharusnya membuatnya tersentuh. Dan memang iya. Tapi bersamaan dengan itu, muncul perasaan lain yang lebih rumit: rasa bersalah. Karena bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang ia alami.
Ia meraih ponsel, membuka chat Kay. Kursor berkedip di kolom pesan, menunggu sesuatu yang tidak kunjung ia ketik.
Akhirnya, ia menulis:
“Kay, kamu pernah nggak ngerasa capek sama dirimu sendiri?”
Pesan itu terkirim. Senja langsung merasa aneh, seperti baru saja membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
“Sering.”
Hanya satu kata.
Tapi cukup untuk membuat Senja duduk tegak.
“Kenapa?” tanya Senja.
Ada jeda yang lebih lama kali ini. Senja hampir berpikir Kay tidak akan membalas. Sampai akhirnya muncul tiga titik di layar, lalu hilang, muncul lagi, hilang lagi.
Seperti Kay sedang ragu antara ingin jujur atau tetap diam.
“Karena ada hal-hal tentang hidupku yang nggak pernah aku ceritain ke siapa pun.”
Dada Senja terasa sedikit menghangat.
“Termasuk ke aku?”
Balasan itu datang lebih lama dari sebelumnya.
“Terutama ke kamu.”
Mereka bertemu keesokan harinya di sebuah kafe kecil dekat kampus. Tempatnya tidak ramai, hanya ada beberapa meja, lampu kuning redup, dan musik pelan yang hampir tidak terdengar.
Kay duduk di seberang Senja, tangannya menggenggam gelas kopi yang bahkan belum ia minum.
“Kamu yakin mau denger?” tanya Kay.
Senja mengangguk. “Kalau kamu nggak yakin mau cerita, kita bisa diam aja. Tapi aku mau ada di sini.”
Kay tersenyum tipis. “Itu yang bikin aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut kalau setelah kamu tahu, kamu melihat aku beda.”
Senja menatapnya lama. “Kay… aku sekarang bahkan nggak yakin aku masih bisa melihat siapa pun dengan cara yang sama seperti dulu.”
Kalimat itu membuat Kay tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar.
“Aku dulu nggak selalu kayak gini,” katanya pelan. “Dulu aku gampang marah. Gampang tersinggung. Aku selalu ngerasa dunia nggak adil sama aku.”
Senja mendengarkan tanpa menyela.
“Ayahku pergi waktu aku SMA,” lanjut Kay. “Bukan meninggal. Pergi. Pindah kota sama orang lain. Dan dari semua orang di rumah, aku yang paling sering disalahin.”
Senja terdiam. Ia tidak pernah tahu soal itu.
“Ibuku jadi berubah. Capek. Marah terus. Dan entah kenapa, aku jadi tempat dia melampiaskan semuanya.”
Kay menatap meja, bukan Senja.
“Aku jadi belajar satu hal: kalau aku terlalu banyak bicara, orang-orang pergi. Kalau aku terlalu jujur, orang-orang capek sama aku.”
Senja merasa dadanya mengencang.
“Jadi kamu memilih diam?” tanya Senja pelan.
Kay mengangguk. “Aku belajar jadi versi diriku yang paling gampang diterima. Yang nggak ribet. Yang kelihatan kuat.”
Ia tersenyum kecil. “Kay yang kamu kenal sekarang itu… versi yang sudah disaring.”
Senja menelan ludah. “Terus yang asli?”
Kay terdiam lama. Lalu berkata, “Yang asli gampang lelah. Gampang merasa nggak cukup. Dan selalu takut ditinggalkan.”
Kalimat itu membuat Senja tidak bisa langsung menjawab. Ia merasa seperti sedang mendengar versi dirinya sendiri dalam suara orang lain.
“Kamu tau anehnya apa?” lanjut Kay. “Aku ngerasa kamu mirip aku sekarang. Bukan karena ceritanya sama, tapi karena… kamu juga mulai menarik diri.”
Senja menunduk.
“Bedanya,” kata Kay, “kamu menarik diri karena kamu kehilangan rasa. Aku menarik diri karena takut kehilangan orang.”
Mereka sama-sama diam.
Untuk pertama kalinya, Senja menyadari: selama ini ia sibuk memikirkan kehampaannya sendiri, sampai lupa bahwa Kay juga membawa kehampaan versinya.
“Kay,” kata Senja akhirnya, “kamu nggak harus jadi versi yang gampang diterima terus.”
Kay mengangkat kepala. “Terus kalau aku jadi versi yang capek?”
“Ya nggak apa-apa,” jawab Senja. “Aku juga lagi jadi versi yang aneh. Dan aku tetap di sini.”
Kay tertawa kecil, kali ini lebih jujur.
“Aneh ya,” katanya. “Kita ketemu di fase yang sama-sama nggak utuh.”
Senja tersenyum tipis. “Mungkin itu sebabnya kita saling ngerti, walaupun sama-sama bingung.”
Malam semakin larut. Kafe mulai sepi. Lampu jalan di luar menyala satu per satu.
Kay menatap Senja, lebih lama dari biasanya.
“Terima kasih sudah mau denger,” katanya.
Senja mengangguk. “Terima kasih sudah mau cerita.”
Di antara mereka, tidak ada solusi. Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi ada satu hal baru yang lahir malam itu:
kejujuran yang tidak sempurna.
Dan untuk dua orang yang sama-sama merasa kosong, itu terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.