Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Bab 33 Apakah Fiona Merindukanku?
Revan tercengang ketika mendengar apa yang dikatakan putranya. Dia bereaksi dan merasa sangat marah, bahkan menggebrak meja dan ikut berdiri.
"Dasar bajingan! Lupakan saja gosip tentangnya sebelum menikah dengan Fiona, sekarang setelah menikah, dia malah berani bermain dengan perempuan lain!"
Saat berbicara, Revan menoleh ke arah Reza seraya menggertakkan giginya dan berkata dengan suara berat, "Aku akan pergi bersamamu. Kali ini, aku akan membawa Fiona pulang meski harus mengikatnya sekalipun!"
"Baik!"
Sepasang ayah dan anak itu segera berangkat setelah mengatakannya.
Namun, begitu keduanya beranjak, suara marah dan tidak berdaya Merry terdengar dari samping.
"Apa gunanya kalian pergi sekarang? Perut Fiona sekarang sudah membesar dan kalian malah akan memberitahunya tentang masalah Denzel berselingkuh setelah menikah dengannya. Apa kalian ingin membuatnya merasa tertekan?"
Sepasang ayah dan anak itu seketika terdiam dan tidak bergerak saat mendengar perkataan Merry.
Reza menoleh ke arah Merry, alisnya sedikit berkerut dan bertanya, "Memberitahunya tentang masalah Denzel bisa membuatnya tertekan?"
Reza memang seorang pria dewasa, tapi dia tidak begitu mengerti tentang hal ini Ketika dia mendengar kondisi
Adik perempuannya tadi, dia merasa emosi dan ingin segera menjemput Fiona pulang.
Dia tidak menyangka kalau berita Denzel berselingkuh dapat membuat Fiona merasa tertekan.
"Kenapa tidak? Adikmu sangat menyukai si berengsek Denzel itu."
Revan mengernyit. Dia hanya bisa marah tanpa bisa berkata apa pun.
Dia juga ayah dari dua orang anak dan termasuk berpengalaman.
Mendengar Merry berkata seperti itu, dia pun bereaksi.
Memang benar jika Fiona sangat tergila-gila dengan Denzel. Kalau memberitahunya masalah ini, mungkin dia pasti akan sakit hati. Namun, Fiona sekarang sedang hamil, suasana hati seorang wanita yang sedang hamil sangat
Berkaitan erat dengan kesehatan bayi yang ada di dalam perut.
Walaupun Denzel berengsek, tetap saja bayi yang ada di dalam perut Fiona juga cucu dari Keluarga Glory. Jadi, mereka harus lebih mempertimbangkan tubuh Fiona. Terlebih lagi, dia yang merupakan seorang ayah dan seorang kakek, tidak boleh bertindak gegabah.
Revan menggosok alisnya dan kembali duduk di sofa, kemudian menghela napas dan berkata, "Sudahlah, kita tunggu dan liat saja. Jika Denzel masih saja bertindak bodoh, kita akan menjemput Fiona pulang. Apabila setelah melahirkan dan Fiona juga masih mempunyai perasaan pada Denzel, kita baru akan memberitahunya masalah ini."
Reza memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya, dia merasa sedikit tidak rela. "Sudahlah, bajingan itu bahkan sudah memutuskan hubungan
Mungkin dia bisa berubah!"
Merry menghapus air matanya.
"Lalu, apa kita punya pilihan lain? Adikmu begitu memercayainya! Namun, tidak apa-apa. Kita lihat saja sebulan ini, kalau Denzel masih belum berubah, kita akan langsung menjemput Fiona pulang!"
"Baiklah, pada saat itu, aku pasti akan mewakili Fiona untuk memberinya pelajaran!"
Hatsyi!
Di Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Denzel baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit, tapi dia sudah bersin dua kali karena hidungnya terasa gatal.
"Apakah Fiona merindukanku?"
Denzel menggosok hidungnya sambil bergumam. Dengan menenteng sekantong stroberi di tangannya, dia berjalan ke kantor Dokter Laurance yang terletak di lantai dua.
Sesampainya di depan ruang konsultasi Edis, Denzel mengintip melalui jendela kecil yang ada di pintu untuk melihat situasi di dalam.
Saat ini, Edis tampak sedang sibuk. Jadi, dia menunggu di luar pintu selama beberapa menit. Setelah seorang wanita hamil keluar dari ruangan, Denzel baru mengetuk pintu ruangan yang terbuka setengah itu.
Edis sedang sibuk mengetik dan memasukkan data. Saat mendengar suara ketukan pintu, dia menengadahkan kepalanya dan melihat Denzel sedang berdiri di luar. Edis tertegun sebentar dan merespons dengan senyuman yang tidak terduga, lalu
Kemari?"
Denzel mengangkat kantong yang ada di tangannya, lalu berjalan masuk ke dalam dan berkata, "Hari ini aku menutup kios lebih awal. Jadi, aku sekalian mengantarkan stroberimu, Dokter Laurence."
Setelah mendengar perkataan Denzel, Edis seketika langsung berdiri. "Aduh, maaf sudah merepotkanmu mengantarnya kemari, berapa harganya?"
Awalnya, Denzel berpikir untuk tidak menerima uangnya. Namun, dia teringat tentang "larangan tenaga medis untuk menerima hadiah dan amplop" yang ditempel di sekitar rumah sakit. Denzel juga tahu tidak pantas rasanya kalau tidak menerima uangnya. Jadi, setelah meletakkan stroberinya di atas meja, dia dengan asal menyebutkan harga, "Dua ratus ribu rupiah."
"Baik, tunggu sebentar." Selesai berbicara, Edis membalikkan badannya dan membuka dua kancing jas putihnya, kemudian mengambil dua lembar uang seratus ribu rupiah dari pakaian yang ada di balik jas. Edis berbalik lagi dan menyerahkannya pada Denzel. "Terima kasih! Untung saja kamu mengantarnya kemari, kalau tidak, menantu perempuanku tidak dapat makan stroberi!"
Denzel mengulurkan tangannya dan menerima uang itu dengan tersenyum.
"Sama-sama, kalau begitu, aku tidak akan menganggumu bekerja lagi."
Setelah mengatakan ini, Denzel pun pamit dan bersiap untuk pergi.
Sebenarnya, Edis masih ingin sedikit berbincang dengan Denzel, hanya saja dia masih harus bekerja. Edis pun menganggukkan kepalanya. "Baik, ingat awasi istrimu untuk makan daging."
"Baik!"
Setelah mengantarkan buah stroberi dan pamit pada Edis, Denzel melangkah pergi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Ketika sampai di tempat parkir, Denzel langsung masuk ke dalam truk dan berniat pergi ke Jalan Juanda untuk mengembalikan truk.
Namun, tidak jauh dari Rumah Sakit Ibu dan Anak, pandangan matanya melihat ke arah toko pakaian ibu dan anak yang cukup besar di seberangnya.
Melihat toko pakaian itu, Denzel teringat saat dia membawa Fiona untuk kontrol kehamilan di rumah sakit, pakaian yang dipakai oleh Fiona paling lusuh di antara ibu-ibu hamil yang ada di sana waktu itu. Mantel luaran yang dipakainya juga merupakan seragam pabrik dari pabrik kertas.
Denzel kembali mengingatnva
Dengan cermat. Fiona sepertinya hanya memiliki beberapa pakaian, bahkan pakaian dalam miliknya sudah berubah warna menjadi putih karena sering dicuci.
Apalagi sekarang suhu udara semakin dingin. Kebetulan hari ini Denzel juga menghasilkan banyak uang. Jadi, dia berencana pergi membeli beberapa set pakaian untuk Fiona.
Setelah berpikir demikian, Denzel melajukan truknya dan berbelok di tikungan lampu lalu lintas yang ada di depan. Kemudian, dia masuk ke gerbang toko pakaian yang ada di seberangnya. Dia memarkirkan truknya, lalu mencari beberapa puluh lembar uang berwarna merah dan memasukkannya ke dalam saku, kemudian turun dari truknya.
Saat ini, sekujur tubuh Denzel terlihat kotor karena noda tanah, ditambah dengan kesibukannya seharian
Memalukan.
Namun, sebagai seorang pria dewasa, tentu saja dia tidak memperhatikan hal-hal seperti ini.
Begitu tiba di pintu toko, dia pun berjalan masuk ke dalam.
Baru saja Denzel masuk ke dalam toko, seorang pegawai wanita yang melihat adanya pelanggan, segera datang menyambutnya.
Namun, saat melihat penampilan Denzel, wajah pegawai wanita itu tampak terkejut.
Hanya saja, kualitas seorang pegawai dari toko ini masih sangat bagus. Dengan cepat, pegawai itu menyesuaikan dengan keadaan. Pegawai itu berjalan menghampiri Denzel dan menyapanya dengan tersenyum, "Halo, selamat datang di toko kami. Apakah Anda ke sini untuk membeli pakaian bayi atau
pakaian ibu hamil
Saat mendengar sapaan dari pegawai wanita tersebut, Denzel tersenyum tenang dan menjawab, "Aku mau membeli baju untuk istriku. Apakah ada pakaian yang cocok untuk ibu hamil dengan usia kehamilan tiga bulan lebih?"
Pegawai wanita itu merasa kesulitan ketika mendengar jawaban Denzel.
"Kalau begitu, apakah Anda tahu ukuran bajunya?"
Denzel mengangkat sedikit alisnya dan bertanya, "Apakah maksudmu ukuran baju sebelum hamil?"
Pegawai wanita itu mengangguk.
"Iya, perutnya belum terlalu besar karena masih tiga bulan. Pakaian ibu hamil biasanya akan lebih longgar. Jadi, akan lebih baik jika mengetahui ukuran pakaian yang dipakai biasanya."
Denzel berpikir sejenak dan berkata, "Aku tidak tahu ukuran bajunya, tapi aku tahu ukuran lingkar tubuhnya
Sebelum dia menikah dengan Fiona, Denzel memang suka bersenang-senang. Seiring waktu, dia bisa mengetahui lingkar tubuh seorang wanita hanya dengan melihatnya sekilas.
Meskipun Denzel suka bersikap liar, dia bisa mengingat dengan jelas ukuran lingkar tubuh Fiona yang sempurna ini.
Pegawai wanita itu tercengang. "Hah? Kalau begitu beritahu aku. Jadi, aku bisa merekomendasikannya pada Anda."
Denzel mengangguk. "Baik, untuk lingkar payudaranya..."
Pegawai wanita itu tertegun sejenak dan merasa iri saat mendengar ukuran lingkar tubuh dan tinggi badan yang disebutkan Denzel!
Pantas saja pelanggan ini mengingat
Dengan jelas lingkar tubuh istrinya, ternyata tubuh istrinya terlalu sempurna!
"Tuan, istri Anda memiliki tubuh yang sangat bagus, akan sangat mudah untuk memilih pakaiannya. Mari ikut denganku."
Pegawai wanita itu memberitahunya dan membawa Denzel ke sebelah sisi kanan toko.
Sesampainya di bagian toko yang terpajang berbagai jenis pakaian ibu hamil, pegawai itu tersenyum padanya dan berkata, "Semua model baju yang ada di sini memiliki ukuran tubuh istri Anda. Ayo kita lihat model baju seperti apa yang cocok untuknya."
Denzel mengangguk sambil memikirkan penampilan Fiona dalam pikirannya, kemudian dia memilihnya dengan serius.
Dia bisa saja datang ke toko ini dengan Fiona, tapi Fiona terlalu sibuk dan Denzel juga khawatir dengan kehamilan Fiona yang mengandung kembar tiga. Jadi, mungkin mereka tidak akan bisa datang ke sini.
Oleh sebab itu, hari ini dia melakukannya sendiri. Denzel memilih beberapa set pakaian dengan cermat agar Fiona tidak mengembalikan pakaian ini kalau tidak cocok dengannya.
Tak lama kemudian, Denzel sudah memilih lima sampai enam set pakaian.
Dia juga meminta kepada si pegawai wanita untuk mengambil tiga set pakaian dalam sesuai dengan ukuran lingkar tubuh Fiona.
Setelah memilih beberapa saat, Denzel berkata kepada si pegawai wanita yang berada di sampingnya, "Baiklah, aku akan membeli semua pakaian yang sudah kupilih, dan juga beberapa
Mendengar apa yang dikatakan Denzel, pegawai wanita itu sedikit tertegun dan bertanya, "Semua ini ...
Tuan ingin membelinya?"
Pegawai wanita itu awalnya berpikir kalau Denzel masih akan memilihnya lagi, tapi tidak disangka kalau Denzel akan membeli semuanya?
Toko ini termasuk toko kelas menengah di Negara Regaland.
Meskipun perawakan pria ini tinggi dan tampan, dia tetap tidak kelihatan seperti seseorang yang berasal dari keluarga kaya jika dilihat dari cara berpakaiannya.
Apakah dia tidak tahu kalau beberapa pakaian ini sedikit lebih mahal?
Memikirkan hal ini, pegawai wanita itu mengingatkan Denzel dengan ramah.
"Tuan, pakaian yang begitu banyak ini, harganya bisa lebih mahal, kira-kira
berapa juta rupiah
Mendengar si pegawai yang mengingatkannya, Denzel hanya mengangkat sedikit alisnya, lalu mengangguk dan berkata, "Memang cukup mahal, tapi aku tetap akan membelinya."
Tidak masalah baginya untuk berpakaian lebih sederhana, asalkan istrinya diperlakukan dengan baik.
Saat mendengar perkataan Denzel, si pegawai tertegun dan bereaksi dengan tatapan bahagia. "Apa Tuan yakin?"
Denzel menolak untuk berkomentar.
"Iya, cepat bantu aku untuk
membungkusnya, aku sedang terburu-buru."
"Baik, baik, Tuan. Aku, aku akan segera membungkusnya!"
Selesai berbicara, pegawai itu segera berlari ke belakang meja kasir sambil membawa pakaiannya "Shalina hantu
Aku membungkus pakaian yang dibeli oleh Tuan ini."
Tak lama kemudian, pegawai itu meletakkan sekitar tujuh delapan tas besar dan kecil berkulit sapi di meja kasir yang berada di depan Denzel. "Totalnya enam juta tiga ratus ribu rupiah."
"Baik, tunggu sebentar." Denzel mengeluarkan setumpuk uang berwarna merah dari sakunya, lalu menghitung dan menyerahkan enam puluh tiga lembar uang tersebut pada kasir.
Setelah kasir menyerahkan tanda terima pembayaran padanya, Denzel pun pamit sambil menenteng tas berkulit sapi itu dan berbalik pergi.
Kedua pegawai itu mengantar Denzel dengan antusias. Melihat sosoknya yang berjalan pergi, mereka merasa Denzel sangat tampan dan tinggi
Mereka kelihatan iri.
"Bisa dilihat kalau pria ini sangat menyayangi istrinya, sungguh membuatku iri!"
"Dia juga terlihat tampan, bahkan sangat baik terhadap istrinya. Pria baik selalu sudah menjadi milik orang lain!"
Denzel tidak tahu apa-apa tentang pendapat kedua pegawai tadi terhadapnya. Dia memasukkan semua barang dan sisa uangnya ke dalam, lalu mengemudikan truknya meninggalkan tempat itu.
Setelah mengembalikan truk di tempat penyewaan mobil, Denzel pulang ke rumah dengan naik bus.