Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - I Can't Stop Me
Hari ini adalah hari yang tak pernah terbayangkan olehku—hari pertunangan kakakku dengan pria yang aku cintai.
Mama dan Papa tidak mengirimiku pesan apa pun untuk pulang. Seolah kehadiranku bukan sesuatu yang mereka harapkan. Tapi Ana, seperti waktu itu di rooftop rumah sakit, menyuruhku tetap datang. Katanya, agar sanak saudara tidak bertanya-tanya kenapa aku tidak ada di acara penting kakaknya sendiri.
Dengan perasaan terpaksa, aku mengiyakan. Aku akan pulang ke rumah setelah sarapan.
“Lili…” panggil Henry sambil menahan tanganku ketika kami masih duduk di ruang tengah, meja makan sudah bersih.
Aku menatapnya.
Henry mengarahkan tanganku ke dadanya.
“Meskipun hari ini aku akan bertunangan sama Ana,” ucapnya pelan, “di hati ini cuma ada nama kamu. Kamu nggak tergantikan, Lili.”
“Iya, Mas. Aku percaya itu.” jawabku.
“Andai yang bertunangan denganku hari ini itu kamu,” lanjutnya, “aku pasti senang banget.”
Aku menarik napas pelan. “Udah, Mas. Kita ikuti aja alur yang ada sekarang. Mungkin memang begini jalan yang Tuhan atur buat kita.”
Henry menatapku lama. “Meskipun sekarang kayak gini, semoga akhirnya aku tetap sama kamu. Kita bisa menikah.”
Aku mengangguk. “Amin.”
Henry tersenyum.
“Ya udah, aku cuci piring dulu,” kataku sambil bangkit. “Aku harus cepat pulang sebelum saudara-saudara datang.”
Aku baru saja menyalakan keran ketika sebuah tangan melingkar di pinggangku. Henry memelukku dari belakang.
“Mas…” aku sedikit terkejut.
“Biarin aku peluk kamu,” bisiknya. “Nanti di rumah kamu, kita nggak bisa ngapa-ngapain.”
Aku tersenyum kecil. “Baiklah. Peluklah aku sepuasmu.”
Aku mencuci piring dengan tubuhku masih berada dalam pelukannya. Hangat. Terlalu hangat untuk hari yang seharusnya dingin.
Selesai mencuci, aku melepaskan pelukannya, berbalik, lalu melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
“Di rumahku kita memang nggak bisa ngapa-ngapain,” ucapku pelan, “jadi… ngapa-ngapainnya habis dari rumahku aja. Kita lakuin di sini.”
“Lakuin apa?” tanya Henry sambil tersenyum—senyum pura-pura polos yang jelas-jelas bohong.
Tanganku bergerak turun, cukup untuk membuat tubuhnya bereaksi.
“Lili…” Henry cepat menepis tanganku. “Bahaya. Kalau ada yang bangun gimana?”
“Makanya jangan pura-pura nggak tahu,” balasku.
“Iya deh, iya…” Henry menghela napas, pasrah. “Lili, kenapa sih kamu bisa seberani ini? Jangan-jangan kebanyakan nonton drakor, ya?”
“Apaan sih? Nggak!” bantahku. “Drakor yang aku tonton adegannya implisit kok. Cuma kissing-nya aja yang lama.”
“Ah… atau jangan-jangan kamu diam-diam nonton film biru?” godanya.
“Nggak!” seruku cepat.
Henry tertawa. “Iya juga nggak apa-apa, kok. Kita juga udah praktik, dan kamu melakukannya dengan sangat baik.”
“Apa sih… udah ah. Aku mau pulang.” Aku mendorong tubuhnya ringan lalu berjalan ke kamar.
“Eh, kok gitu? Padahal aku suka, lho!” serunya.
Aku tidak menanggapi. Masuk ke kamar, mengambil tas dan ponsel.
Begitu aku berbalik, Henry sudah berdiri di ambang pintu. Aku berjalan melewatinya.
“Lili… apa nggak ada kiss bye?” tanyanya.
“Nggak!” jawabku sambil terus melangkah.
“Padahal hari ini aku mau tunangan sama kakak kamu, lho.”
Langkahku terhenti.
Aku diam sejenak, lalu berbalik, mendekat, dan mengecup bibirnya singkat.
“Udah ya…”
Aku hendak pergi, tapi Henry menarikku kembali dan menciumku. Cepat, tapi dalam. Dari ciumannya, aku merasakan cinta, rindu, dan keinginan untuk tetap bersama.
Tanpa berpikir panjang, aku membalasnya, mengikuti ritmenya—ritme yang selalu membuatku menginginkannya lagi.
Setelah cukup lama berciuman, aku keluar dari apartemen Henry dan pulang ke rumah menggunakan taksi online.
Begitu sampai, aku melihat orang lalu-lalang—catering dan dekorasi sudah mulai sibuk. Aku tidak memedulikan semua itu dan langsung masuk ke rumah.
Saat aku melangkah ke ruang keluarga, Papa terlihat sedang menuruni tangga.
“Lia?” Papa tampak kaget. “Kamu pulang?”
“Kenapa?” balasku ketus. “Papa berharap aku nggak pulang?”
“Bukan gitu,” katanya cepat. “Soalnya waktu itu kamu bilang nggak akan tinggal di sini lagi.”
“Iya, benar.” Aku menatap lurus ke depannya. “Aku ke sini karena permintaan Kak Ana. Katanya takut saudara-saudara nanya kenapa aku nggak ada di hari penting dia.”
Papa terdiam.
Tiba-tiba Mama muncul dari arah taman belakang.
“Lia?” Mama ikut terkejut. “Ngapain kamu ke sini?”
Aku menghela napas. Rasanya malas menjelaskan ulang—dan lebih malas lagi berbicara dengan Mama.
“Biar Mama nggak malu.” ucapku dingin.
Mama tertegun.
“Biar nggak ada yang tanya kenapa aku nggak ada di hari penting Kak Ana.” lanjutku.
Mama diam, lalu menatapku sekilas.
“Tenang,” kataku. “Aku di sini cuma sampai acaranya selesai. Sampai saudara-saudara pulang.”
“Terserah.” jawab Mama datar, lalu melangkah pergi ke luar.
“Kak Ana di mana, Pa?” tanyaku.
“Di kamar.” jawab Papa.
Aku mengangguk, lalu naik ke lantai dua menuju kamar Ana.
Aku mengetuk pintu dan masuk. Ana terlihat berbaring di tempat tidur, wajahnya menghadap langit-langit.
“Kak.” panggilku pelan.
Ana menoleh lalu duduk, mengusap wajahnya.
“Lia?”
“Kakak habis nangis?” tanyaku.
Ana diam.
“Ada apa, Kak?” Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Aku nggak mau tunangan sama Henry.” ucapnya tiba-tiba.
Aku terdiam. Perasaan itu… aku juga merasakannya.
“Lia, kamu aja yang tunangan sama Henry.” lanjut Ana.
Hah?
“Mama-Papa kan maunya Kakak yang tunangan sama Kak Henry.” kataku pelan.
“Tapi aku nggak mau!” suara Ana meninggi. “Aku nggak mau tunangan, apalagi nikah, sama cowok yang nggak aku suka.”
“Terkadang,” ucapku lirih, “apa yang kita inginkan memang nggak selalu bisa terwujud.”
“Tapi ini pemaksaan, Lia.”
“Menurut Mama-Papa,” kataku hati-hati, “Kak Henry itu pria yang cocok jadi pendamping Kakak.”
“Nggak,” Ana menggeleng. “Henry bukan cowok yang cocok buat aku. Dia emang ganteng dan pintar, tapi ada hal-hal yang bikin kami nggak nyambung—dan itu bikin aku nggak nyaman. Untuk jadi teman, dia asyik. Tapi untuk pasangan hidup… nggak.”
Aku paham.
Ana yang kaku dan ambisius, bertemu Henry yang sama-sama anak pertama, sama-sama dituntut sempurna. Henry dingin, bicara seperlunya, terbiasa mengontrol karena posisinya sebagai atasan. Untuk orang seperti Ana, itu bukan ketenangan—itu tekanan.
Mungkin karena itu Ana justru merasa nyaman dengan sosok seperti Julian. Datang dari keluarga sederhana, murah senyum, tidak mengatur, tidak menuntut. Hadir tanpa membuat orang merasa sedang diuji.
“Tapi begitulah yang sudah diatur orang tua kita, Kak,” ucapku akhirnya. “Dan hari ini hari yang mereka tunggu-tunggu.”
“Aku pengin pergi dari rumah ini kayak kamu,” kata Ana lirih. “Tapi aku nggak bisa.”
“Untuk hari ini jalani aja,” kataku. “Ini juga baru tunangan, belum nikah. Siapa tahu… nanti Kak Henry tahu caranya biar kalian nggak sampai menikah.”
Ana menatapku tajam. “Lia… gimana kamu tahu itu?”
“Tahu apa?” tanyaku, berusaha tenang.
“Kalau Henry bakal cari cara supaya kami nggak nikah.”
Dadaku berdegup keras.
Gawat.
Aku baru saja mengucapkan sesuatu yang seharusnya hanya diketahui Ana dan Henry.
“Kak Henry ngomong gitu?” kataku cepat. “Wah… kebetulan yang nggak terduga ya.”
Ana masih tampak bingung.
“Ya udah, Kak,” kataku sambil berdiri. “Aku ke kamar dulu.”
Aku keluar sebelum Ana sempat bertanya lebih jauh.
Aku tidak boleh memberi celah—sedikit saja, hubunganku dengan Henry bisa terbongkar.
Setelah keluar dari kamar Ana, aku sempat menuju kamarku hanya untuk meletakkan tas. Setelah itu aku turun ke taman belakang, membantu Mama, Papa, dan Mbak Ningsih menyiapkan acara hari ini.
Pertunangan Ana dan Henry akan dilaksanakan pukul dua siang.
Setelah memastikan semua persiapan selesai, sekitar satu jam sebelum acara dimulai, aku kembali ke kamar. Aku mengganti baju dan memilih gaun berwarna abu-abu. Setelah itu, aku merias wajahku.
Usai merias diri, aku menatap cermin. Bukan untuk memastikan riasanku sudah cukup rapi, melainkan karena pikiranku melayang—membayangkan seandainya hari ini adalah hari pertunanganku dengan Henry.
Namun khayalan itu segera kutepis.
Hari ini aku harus terlihat bahagia—sebagai adik yang menyaksikan kakaknya bertunangan.
Aku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Baru saja kakiku menginjak anak tangga paling bawah, Mbak Ningsih datang menghampiriku bersama seorang pria yang tadi malam aku minta datang ke rumah.
Julian.
“Mbak, ada Mas Julian.” ucap Mbak Ningsih.
“Hai, Kak.” sapaku sambil tersenyum.
“Hai.” balas Julian.
Mbak Ningsih lalu kembali ke belakang.
“Lia,” ujar Julian pelan, “katanya tadi malam kamu bilang hari ini acara syukuran. Kok Mbak Ningsih bilang ini pertunangan Ana?”
Aku melangkah mendekatinya.
“Syukuran yang aku maksud ya pertunangannya Kak Ana.”
“Apa?!” Julian tampak terkejut.
Ekspresi itu bukan ekspresi teman yang sekadar tak diberi tahu. Wajahnya sama seperti wajahku dulu—saat Mama mengatakan Ana akan dijodohkan dengan Henry.
Apakah Julian menyukai Ana?
Tapi bukankah Ana bilang Julian hanya menganggapnya teman?
Pertanyaanku belum sempat terjawab ketika seseorang memanggil namaku.
“Lia…”
Aku menoleh. Agnes—kakak sepupuku—datang bersama suaminya dan anak mereka.
“Oh? Kak Agnes?” kataku sedikit terkejut. Kami jarang bertemu kecuali di acara keluarga seperti ini.
“Hai, Kak Agnes. Kak Kenzo.” sapaku.
“Hai.” balas mereka hampir bersamaan.
“Eh, ada Marsha…” Aku berjongkok di depannya. “Hai, Marsha.”
“Hai, tante.” ucap Marsha polos.
“Aduh, jangan panggil tante,” protesku. “Panggil kakak. Umur kita kan nggak beda jauh.”
“Ya ampun, Lia,” tawa Agnes pecah. “Itu terus omongan kamu ke Marsha. Inget umur. Kamu udah pantes jadi ibu seumuran dia.”
“Belum,” candaku. “Aku kan masih di bawah umur.”
Kenzo tertawa kecil.
“Mana ada anak di bawah umur segede kamu.” sahut Agnes.
Aku hanya tersenyum.
“Tante, om ini siapa?” tanya Marsha tiba-tiba sambil menunjuk Julian.
“Iya ya,” sambung Agnes. “Kayaknya aku pernah lihat, tapi di mana?”
Aku berdiri.
“Oh, ini Kak Julian. Dokter di Aruna Medika. Temannya Kak Ana.”
“Oh iya… tiap ke Aruna Medika aku pasti lihat dia,” kata Agnes. “Eh, tapi kenapa dia ada di sini? Bukannya acara hari ini cuma keluarga?”
“Oh, itu…” aku tersenyum tipis. “Aku sengaja ngundang dia. Dia kan temennya Kak Ana. Masa nggak diundang?”
“Kamu ngundang dia karena Ana,” goda Agnes, “atau karena kamu?”
“Maksudnya?” tanyaku pura-pura bingung.
“Apa dia pacar kamu, Li?” tanya Agnes ringan—terlalu ringan untuk dampaknya.
Aku dan Julian sama-sama terkejut. Pandangan kami bertemu sesaat.
Dan di saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku.
Ide yang terlalu rapi untuk dilewatkan.
“Oh… aku bu—” Julian hendak bicara.
“Iya,” potongku cepat. “Kak Julian pacarku.”
Julian terpaku.
“Wah, Lia…” Agnes tampak terkejut sekaligus kagum. “Nggak nyangka kamu punya pacar. Ana aja nggak punya sampai dijodohin segala.”
“Ya soalnya Kak Ana kaku,” jawabku ringan. “Sukanya belajar.”
Tiba-tiba suara Papa terdengar.
“Julian?”
Aku menoleh. Papa dan Mama datang dari arah taman belakang.
“Pa, kenapa Julian ada di sini?” tanya Mama tajam. “Papa yang ngundang?”
“Nggak,” jawab Papa. “Papa nurut sama permintaan Ana. Katanya acara ini cuma untuk keluarga.”
“Terus kenapa dia ada di sini?” Mama menatap Julian.
“Aku yang ngundang Kak Julian.” kataku tenang.
“Kamu?” Mama mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena Kak Julian pacar aku.”
“Apa?!” Mama dan Papa berseru bersamaan.
Dan dari arah tangga…
terdengar satu suara napas yang tertahan.