Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: EMPAT BATU BERBICARA
"Kunci." Sesosok melangkah ke tepi kolam. Sejajar dengan Chen Long. Namun tidak melihatnya. Melihat batu di tangan Chen Long. "Kau punya tiga. Namun kunci itu punya empat. Keempatnya... baru lengkap."
Chen Long menatapnya. Perempuan itu mengenakan jubah hijau tua. Wajahnya tidak bisa diingat. Mata, hidung, mulut semua ada, namun semua kabur. Seolah hutan itu tidak ingin ia dikenali.
"Keempat di mana?"
Perempuan itu tersenyum. Tidak menjawab langsung. "Kau lari dari sesuatu. Sesuatu di langit. Sesuatu yang lebih tua dari nama. Kau pikir di sini aman?"
"Tidak," kata Chen Long. Jujur. "Tapi di sini, aku bisa menyiapkan."
Perempuan itu mengangguk. Lambat. Seolah menilai. "Benar. Di sini, Qi liar. Qi tua. Qi yang tidak mengenal langit. Sesosok itu yang mengejar mu ia tidak bisa melihat ke sini. Tidak sepenuhnya. Namun..." ia berhenti.
Menatap Chen Long sungguh-sungguh. "Namun jika kau mengambil keempat batu. Jika kau membuka apa yang terkunci. Maka kau akan bersinar. Terlalu terang. Terlalu... terlihat. Bahkan di sini."
Chen Long menatap batu di tangannya. Batu keempat. Yang baru. Yang tua. Yang melengkapi.
"Kau punya pilihan," kata perempuan itu. "Tinggal di sini. Belajar. Tumbuh. Tanpa batu keempat. Aman. Namun lambat. Atau... ambil. Lengkapi. Dan bersiaplah untuk dilihat kembali."
Chen Long diam.
Di atas, di langit yang tidak terlihat dari sini tertutup kanopi hutan yang terlalu lebat bulan merah masih ada. Masih menunggu. Masih... lapar.
Namun di sini, di tepi kolam perak, Chen Long merasakan sesuatu yang langka.
Waktu.
Waktu untuk menyiapkan. Waktu untuk menjadi. Waktu untuk memilih kapan dilihat bukan dipaksa dilihat.
Ia mengepalkan batu keempat di tangan kirinya. Tangan kanannya tetap di saku, merasakan tiga batu lain. Empat sekarang. Hampir lengkap.
"Aku akan tinggal," katanya. "Sementara."
Perempuan itu tersenyum. Bukan gembira. Bukan sedih. Melainkan... pengakuan. "Baik. Maka selamat datang, anak Utara. Di tempat di mana langit buta. Namun tanah... melihat."
Ia berbalik. Menghilang ke hutan. Bukan berjalan. Melainkan... menyatu. Seolah ia adalah hutan. Seolah hutan adalah ia.
Chen Long berdiri sendiri di tepi kolam. Empat batu di tangannya. Empat getaran. Empat... kemungkinan.
Di kejauhan, di arah yang ia tahu adalah Kekaisaran Yin meski tidak bisa dilihat, meski terlalu jauh ia merasakan sesuatu. Getaran lemah dari giok putih di sakunya. Sunxin. Memegang pasangannya. Bertanya. Menunggu.
Chen Long meletakkan tangan di saku. Tidak menjawab. Tidak bisa. Namun cukup untuk tahu tali itu masih ada. Hubungan itu masih hidup.
Suatu hari, ketika empat batu ini berbicara dengan jelas. Ketika ia siap. Ketika sesosok di langit itu tidak lagi menjadi ancaman, melainkan... target.
Ia akan kembang.
Namun bukan sekarang.
Sekarang, ia berlutut di tepi kolam lagi. Meletakkan empat batu di tanah. Berbaris. Hitam. Putih. Abu. Abu tua.
Dan ia mulai berlatih.
Bukan berputar. Melainkan... mendengarkan. Mendengarkan apa yang mereka katakan. Apa yang mereka inginkan. Apa yang mereka takutkan.
Karena kunci yang lengkap kunci yang empat bisa membuka. Namun juga bisa... mengunci.
Chen Long tidak tidur di malam pertama.
Bukan karena tidak lelah. Melainkan karena empat batu di depannya tidak diam. Mereka berdenyut. Masing-masing dengan irama berbeda. Seolah empat jantung dengan empat keinginan.
Giok hitam — dingin, lambat, menarik.
Giok putih — tenang, stabil, menahan.
Batu abu — cepat, gelisah, mencari.
Batu abu tua — sangat lambat, sangat tua, sangat... menunggu.
Chen Long duduk bersila di tepi kolam. Mata terbuka. Tidak melihat batu. Melainkan merasakan. Setiap denyut. Setiap tarikan. Setiap... kata yang tidak terucap.
Hutan di sekelilingnya hidup pada malam hari. Suara yang bukan suara. Gerakan yang bukan angin. Namun Chen Long tidak takut. Tempat ini meski asing, meski penuh dengan sesuatu yang tidak ia mengerti merasa... aman. Bukan karena ramah. Melainkan karena netral. Seolah hutan ini tidak memihak siapa pun. Tidak mengenal langit. Tidak mengenal surga. Hanya mengenal... keseimbangan.
Dan Chen Long, dengan empat batunya, sedang belajar menjadi keseimbangan.
Pagi kedua, perempuan berjubab hijau kembali.
Chen Long tidak mendengarnya datang. Hanya merasakan getaran di udara berubah. Seolah hutan itu menahan napas.
"Kau belum tidur," kata perempuan itu. Bukan pertanyaan.
Chen Long mengangguk. "Mereka berbicara."
"Siapa?"
"Batu." Chen Long menatap empat batu di depannya. "Mereka tidak setuju. Hitam ingin turun. Putih ingin diam. Abu ingin cepat. Abu tua..." ia berhenti. Mencari kata. "Abu tua ingin mengingat."
Perempuan itu berlutut di sampingnya. Jaraknya dekat. Terlalu dekat untuk orang asing. Namun getarannya tidak mengancam. Hanya... ingin tahu. "Mengingat apa?"
"Apa yang terjadi sebelumnya." Chen Long menatap batu abu tua. Yang paling tua. Yang paling padat. "Dia bukan batu. Dulu. Dia adalah... sesuatu yang lain. Sesuatu yang memilih menjadi batu. Untuk menunggu."
Perempuan itu diam. Lama. Seolah kata-kata Chen Long mengenai sesuatu yang tidak terduga. "Kau bisa merasakan itu?"
"Bukan merasakan." Chen Long menggeleng. "Bukan melihat. Bukan mendengar." Ia berhenti. Mencari cara menjelaskan. "Seolah... aku adalah mereka. Dan mereka adalah aku. Namun tidak. Kami berbeda. Hanya... bergetar di frekuensi yang sama. Sejenak."
Perempuan itu tersenyum. Kali ini, ada sesuatu di matanya. Bukan penilaian. Melainkan... pengakuan. "Kau belajar cepat. Terlalu cepat. Itu berbahaya."
"Kenapa?"
"Karena belajar cepat berarti lupa lambat. Dan ada hal yang seharusnya dilupakan." Perempuan itu berdiri. "Ikut aku."
Mereka berjalan ke dalam hutan. Tidak jauh. Namun cukup untuk kolam perak tidak lagi terlihat. Cukup untuk Chen Long tidak lagi tahu arah kembali.
Di depan mereka, sebuah pohon. Bukan pohon besar. Bukan pohon tua. Melainkan pohon yang salah. Batangnya berputar. Daunnya tumbuh ke bawah, bukan ke atas. Akarnya menjulang ke udara, seolah mencari sesuatu yang tidak ada di tanah.
"Pohon Yin-Yang," kata perempuan itu. "Yang terakhir di Wilayah Barat. Yang lainnya... hilang. Ditebang. Dibakar. Atau menjadi batu."
Chen Long menatap pohon itu. Dan merasakan. Dua arus. Bukan di tubuhnya. Melainkan di pohon. Yin yang turun. Yang yang naik. Bertemu di tengah. Di batang yang berputar. Di tempat di mana keduanya... tidak bertarung. Tidak menyatu. Hanya... berdampingan.
"Bagaimana?" tanya Chen Long.
"Kau ingin tahu cara pohon ini hidup?"
"Tidak." Chen Long menggeleng. "Aku ingin tahu cara aku bisa hidup seperti ini. Tidak bertarung. Tidak menyatu. Hanya... berdampingan."
Perempuan itu menatapnya. Lama. Sangat lama. Seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat sebelumnya. "Kau bukan yang pertama yang bertanya begitu."
"Siapa yang pertama?"
"Petapa. Yang dulu. Yang membuat jaringan di bawah istana. Yang menjadi batu." Perempuan itu menunjuk ke pohon. "Dia datang ke sini. Sebelum menjadi batu. Dia bertanya hal yang sama. Dan pohon ini menjawab."
"Apa jawabannya?"
Perempuan itu tersenyum. Pahit. "Tidak ada jawaban. Hanya... waktu. Waktu untuk tidak memilih. Waktu untuk menjadi dua. Waktu untuk... menahan."
Chen Long diam. Menatap pohon. Dua arus di tubuhnya Yin yang dingin, Yang yang hangat berputar. Tidak seperti pohon. Mereka masih bertarung. Masih mencari. Masih... ingin menyatu atau memisah.
Namun di sini, di depan pohon yang salah, Chen Long merasakan sesuatu. Sebuah kemungkinan. Bahwa bertahan di tengah. Bahwa tidak memilih. Bahwa menjadi... tidak utuh, namun utuh dengan cara yang berbeda.
Mungkin itulah yang dicari Petapa. Mungkin itulah yang membuatnya menjadi batu. Bukan karena kalah. Melainkan karena... menemukan.
Mereka kembali ke kolam saat matahari terbenam.
Empat batu masih di tempat Chen Long tinggalkan. Masih berdenyut. Namun kini, setelah melihat pohon Yin-Yang, Chen Long mendengar mereka berbeda.
Bukan empat suara yang bertentangan.
Melainkan empat suara yang... mencari harmoni.
Giok hitam masih ingin turun. Namun kini, turunnya tidak terburu-buru. Melainkan... mengalir.
Giok putih masih ingin diam. Namun kini, diamnya tidak menolak. Melainkan... menahan.
Batu abu masih ingin cepat. Namun kini, cepatnya tidak gelisah. Melainkan... mencari.
Batu abu tua masih ingin mengingat. Namun kini, ingatannya tidak menunggu. Melainkan... berbagi.
Chen Long duduk bersila lagi. Di depan empat batu. Di tepi kolam perak. Di tempat di mana langit buta dan tanah melihat.
Ia meletakkan tangan kirinya di giok hitam. Tangan kanannya di giok putih. Kaki kirinya di batu abu. Kaki kanannya di batu abu tua.
Bukan untuk mengendalikan.
Melainkan untuk... didengar.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kekaisaran Yin, sejak meninggalkan Sunxin, sejak meninggalkan Xiao Feng dan dunia yang ia kenal Chen Long tersenyum.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena... menemukan.
Di tempat ini, dengan empat batu ini, di tepi kolam yang tidak mencerminkan langit ia bisa menjadi dua. Tanpa harus memilih satu. Tanpa harus menyatukan. Tanpa harus... menjadi batu.
Hanya menjadi... dirinya.
Yang bergetar. Yang berdenyut. Yang berdialog.
Di tempat kedua, di kekosongan yang masih ada di sudut kesadarannya, sesosok itu masih menunggu. Masih melihat. Masih... lapar.
Namun di sini, di Wilayah Barat, di bawah kanopi hutan yang terlalu lebat Chen Long aman. Sementara. Cukup untuk menyiapkan. Cukup untuk menjadi.
Cukup untuk membuat sesosok itu, suatu hari nanti, menyesal telah membiarkannya pergi.
Di kejauhan, di arah Kekaisaran Yin, giok putih di saku Sunxin berdenyut sekali.
Lembut. Tenang. Seolah berkata: "Aku masih di sini. Menunggu. Menyiapkan."
Sunxin meletakkan tangan di saku. Menatap bulan merah di langit istana. Yang masih ada. Yang masih... mengintai.
"Aku juga," bisiknya. Bukan kepada bulan. Bukan kepada langit. Melainkan kepada seseorang yang terlalu jauh untuk didengar, namun dekat untuk dirasakan. "Aku juga menyiapkan."
...BERSAMBUNG ...
...****************...