Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: BELANTARA BETON DAN LANGIT YANG SEMPIT
Tanjung Perak tidak menyambut Jonatan dengan pelukan. Tempat itu menyambutnya dengan teriakan klakson yang memekakkan telinga, bau amis air laut yang membusuk di selokan, dan gelombang manusia yang saling sikut seolah hari esok tidak akan pernah datang. Begitu Jonatan menginjakkan kaki di aspal dermaga yang panas, ia merasa dunia mendadak menjadi sangat bising dan terlalu cepat.
Selama belasan tahun hidup di Oetimu, suara terjauh yang pernah ia dengar adalah petir di musim hujan atau deru truk di jalan kabupaten. Namun di sini, ribuan suara beradu menjadi satu dengung raksasa yang membuat kepalanya berdenyut.
"Oetimu... kau jauh sekali sekarang," gumamnya, nyaris tidak mendengar suaranya sendiri.
Ia menggendong tas kainnya di depan dada, mendekapnya erat-erat seperti seorang ibu mendekap bayinya. Di tengah kerumunan itu, ia merasa seperti sebutir debu yang siap dihempas angin. Matanya sibuk mencari sosok Om Simon, namun lelaki berjari empat itu sudah hilang ditelan lautan manusia tak lama setelah mereka turun dari tangga kapal. Jonatan sendirian. Benar-benar sendirian.
Ia berjalan mengikuti arus orang, keluar dari area pelabuhan. Di tepi jalan raya, ia berhenti dan mendongak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jonatan melihat gedung yang begitu tinggi hingga ia harus menengadahkan kepala sampai lehernya sakit. Baginya, gedung-gedung itu bukan tanda kemajuan, melainkan raksasa beton yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dengan tatapan dingin.
"Mau ke mana, Dek? Taksi? Ojek?" seorang pria dengan wajah garang tiba-tiba mencegatnya.
Jonatan tersentak. "Saya... saya mau ke stasiun, Bapak."
"Oh, stasiun ya? Mari, ikut saya. Murah saja, lima puluh ribu sampai depan," ucap pria itu sambil mencoba menarik tas Jonatan.
Jonatan menarik tasnya kembali dengan cepat. Lima puluh ribu? Itu adalah biaya makan satu minggu bagi keluarganya di rumah. Ia ingat pesan ayahnya: Jangan mudah percaya pada mulut manis orang kota.
"Tidak, Bapak. Saya jalan saja," jawab Jonatan dengan logat Timor yang kental.
Pria itu langsung meludah ke aspal, wajahnya berubah masam. "Jalan kaki? Memangnya kau pikir ini kampungmu? Jalan sana sampai kakimu copot!" umpatnya sambil berlalu.
Jonatan menelan ludah yang terasa pahit. Hinaan pertama di tanah Jawa sudah ia terima, dan itu bahkan belum satu jam sejak ia turun dari kapal. Ia mulai berjalan menyusuri trotoar yang penuh dengan pedagang kaki lima. Perutnya kembali meronta. Aroma sate ayam yang dibakar di pinggir jalan menusuk hidungnya, membuatnya pusing karena lapar yang sudah menumpuk sejak di kapal.
Ia meraba saku celananya. Uang pemberian Pak Berto tersimpan di sana, dibungkus plastik agar tidak basah oleh keringat. Ia sangat ingin membeli sepiring nasi, namun ketakutan akan kehabisan uang jauh lebih besar daripada rasa laparnya. Ia mengeluarkan botol air mineralnya yang tinggal seperempat, meminumnya sedikit demi sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering oleh debu kota.
Matahari Surabaya tidak terasa membakar seperti matahari Oetimu, namun rasanya lebih pengap. Udara di sini terasa berat, penuh dengan asap hitam dari knalpot kendaraan yang membuat matanya perih. Jonatan terus berjalan, mengikuti papan petunjuk jalan yang kadang sulit ia mengerti.
Setelah berjalan hampir dua jam, ia menemukan sebuah taman kecil yang agak sepi. Ia duduk di salah satu bangku kayu yang catnya sudah mengelupas. Tubuhnya lemas. Ia menyandarkan kepalanya, menatap langit. Aneh, pikirnya. Di Oetimu, langit terasa begitu luas dan dekat. Di sini, langit seolah terjepit di antara pucuk-pucuk gedung, pucat dan tertutup kabut abu-abu.
Ia membuka tasnya, mengambil buku catatannya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mulai menulis.
Jawa tidak ramah, Bapak. Orang-orang di sini bicara cepat sekali, seperti sedang marah. Gedung-gedungnya tinggi, tapi hatinya sepertinya sempit. Aku lapar, tapi aku tidak berani membeli makan. Takut uang ini habis sebelum aku sampai di kampus nanti.
Tiba-tiba, seorang anak kecil pengamen mendekatinya. Anak itu tampak dekil, wajahnya penuh coretan arang, dan bajunya jauh lebih buruk dari baju Jonatan. Anak itu memetik gitar kecil yang senarnya hanya tiga, menyanyikan lagu tentang ibu dengan suara yang serak.
Jonatan menatap anak itu. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ia melihat dirinya sendiri pada anak itu—sesama orang yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Saat anak itu selesai bernyanyi dan menyodorkan kaleng bekas, Jonatan terdiam. Ia punya uang, tapi uang itu adalah "darah" ayahnya. Namun, melihat mata anak itu yang sayu, Jonatan tidak tega.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang koin seribu rupiah hasil kembalian di pelabuhan tadi, dan memasukkannya ke kaleng.
"Terima kasih, Kak," ucap anak itu dengan senyum tulus yang memperlihatkan giginya yang kotor. "Kakak dari jauh ya? Tasnya besar sekali."
Jonatan mengangguk. "Iya, dari Timor."
"Wah, jauh ya? Semangat ya, Kak. Jawa itu keras, tapi kalau Kakak sabar, pasti bisa makan," ucap anak itu sebelum lari mengejar bus yang lewat.
Kata-kata anak kecil itu entah mengapa menjadi penawar bagi rasa haus Jonatan. Ia menarik napas panjang, bangkit dari bangku, dan kembali menggendong tasnya. Jika seorang anak kecil saja bisa tersenyum di tengah kerasnya kota ini, kenapa ia yang sudah dewasa harus mengeluh?
Ia melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Di sepanjang jalan, ia mulai memperhatikan orang-orang. Ada yang memakai jas rapi dengan tas jinjing mahal, ada yang sibuk bicara di telepon genggam sambil berjalan cepat. Mereka semua tampak memiliki tujuan, tampak tahu apa yang mereka lakukan. Sementara ia, Jonatan, merasa seperti alien yang baru turun dari planet lain.
Setiap kali ia melewati toko dengan dinding kaca, ia melihat bayangan dirinya sendiri. Pemuda berkulit legam, rambut ikal yang berantakan karena angin laut, kaos pudar, dan tas kain lusuh. Ia tampak sangat mencolok di tengah keramaian kota. Ia menyadari sepenuhnya bahwa "sebelah mata" yang dibicarakan ayahnya kini sedang bekerja. Orang-orang menghindarinya saat berjalan, para penjaga toko menatapnya dengan curiga seolah ia akan mencuri sesuatu.
Rasa minder itu mulai merayap naik, mencoba melumpuhkan kakinya. Namun, Jonatan meraba kalung tenun di lehernya. Ia teringat bau tangan ibunya saat terakhir kali mereka berpelukan. Ia teringat suara cangkul ayahnya yang menghantam tanah kering.
"Aku bukan pencuri. Aku bukan sampah," bisiknya pada bayangannya di kaca toko. "Aku Jonatan dari Oetimu. Dan aku ke sini untuk menaklukkan kalian semua."
Ia terus melangkah hingga akhirnya gedung Stasiun Surabaya Gubeng terlihat di depan mata. Riuh stasiun itu menyambutnya, lebih besar dari pelabuhan, lebih membingungkan dari apa pun yang pernah ia lihat. Tapi kali ini, Jonatan tidak lagi menunduk. Ia menegakkan bahunya, meskipun perutnya perih dan kakinya lecet.
Di tanah Jawa yang asing ini, di antara belantara beton yang dingin, Jonatan baru saja memenangkan satu pertempuran kecil: ia tidak membiarkan rasa takut memulangkannya ke kapal feri tadi. Ia melangkah masuk ke dalam stasiun, siap untuk perjalanan selanjutnya menuju kota di mana universitas impiannya berada.
Jawa mungkin tidak menyambutnya dengan ramah, tapi Jonatan tidak butuh keramahan. Ia hanya butuh kesempatan. Dan ia akan mengambilnya, meskipun dunia hanya memberinya sebelah mata untuk melihat.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian