apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
simulasi cerai
Nana terdiam sejenak, memandangi wajah cantik yang seolah menyimpan rahasia dari masa lalu itu. Dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan angin, ia berucap, "Tha... lima hari lagi, suamimu akan menceraikan mu."
Kabar itu meluncur seperti belati yang tumpul lambat namun menyakitkan. Hari Senin akan menjadi saksi bisu di mana takdir pernikahan mereka akan dipangkas oleh goresan pena di atas kertas putih.
Nino telah menunaikan tugasnya sebagai penyambung lidah sang tuan. Begitu mengetahui keberadaan Thalia, ia segera melaporkannya kepada Cavin.
Dan atas perintah dingin sang majikan, ia pun menyampaikan berita duka itu kepada Nana. Namun, tampaknya segala penjelasan panjang lebar yang Nana berikan belum benar-benar meresap ke dalam pikiran Thalia. Ia masih terjebak dalam dunianya sendiri.
"Tunggu di sini. Lanjutkan saja menontonnya, aku akan mengambil tasmu," ucap Nana sebelum beranjak dari empuknya sofa.
"Nana..." Thalia memanggil lirih, menghentikan langkah sahabatnya.
"Apa lagi?"
"Aku ingin buang air kecil..."
"Ya sudah, pergilah ke toilet di sana," tunjuk Nana ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
"Terima kasih," jawab Thalia sebelum melangkah dengan anggun menuju ruangan itu.
Nana terpaku di tempatnya berdiri. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba menyergap pikirannya. Sahabatnya ini bersikap seolah ia datang dari zaman kuno yang jauh.
Apakah di zamannya dulu ada toilet seperti ini? Apakah dia bisa menggunakannya?
"Tha!" Nana memanggil, namun terlambat. Pintu telah tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang kembali merayapi ruangan itu.
▪️▪️▪️▪️
Nana menjelma sebagai lentera bagi Thalia yang tengah tersesat dalam kabut amnesia.
Dengan kesabaran yang melampaui batas dirinya sendiri, Nana membimbing Thalia layaknya seorang guru yang menuntun jemari mungil muridnya di hari pertama sekolah.
Ia mengenalkan kembali dunia yang kini terasa asing bagi Thalia mengeja realitas setapak demi setapak, mengenalkan nama benda-benda logam yang bersinar hingga istilah-istilah modern yang terdengar janggal di telinga sahabatnya itu.
"Ternyata, ribuan jam yang ku habiskan menonton drama ada gunanya juga," bisik Nana dalam hati, terselip rasa bangga di sela-sela kelelahannya.
Lima hari telah berlalu sejak Thalia terbangun sebagai sosok yang berbeda. Selama itu pula, ia belajar cara bernapas di era yang serba cepat ini;
belajar cara menyapa, cara menolak dengan santun, hingga mengunakan ponsel pintar dan mesin-mesin elektronik yang semula ia anggap sebagai sihir
Namun, di sisi lain cakrawala, Yuan Ru atau yang lebih di kenal dengan nama Cavin vior karena panggilan kecil itu lebih di kenal
pria yang menyandang status sebagai suaminya seolah lenyap ditelan bumi. Tak ada datang menjenguk, bahkan sekadar suara di balik telepon untuk menanyakan apakah Thalia baik baik saja,
Nana pun telah mengurus cuti kuliah Thalia dari tempat KKN mereka, meski pengabdian itu baru seumur jagung.
"Tha, ingat besok Sidang pertamamu," ucap Nana, menatap Thalia dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran.
"Iya, aku ingat," jawab Thalia singkat.
Sejatinya, prosedur hukum tak pernah secepat kilat. Namun, karena Cavin Vior menggunakan kekuatan uang segalanya menjadi licin dan lebih cepat
"Kau ingat semua jawaban yang telah kita latih, bukan?" Nana memberikan ultimatum. Ia tak ingin ada kesalahan sekecil apa pun, sebab di matanya, Thalia saat ini tak ubahnya seorang anak kecil yang terjebak dalam tubuh wanita dewasa.
"Iya, ingat kok," sahut Thalia tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Jemarinya lincah menari di atas game yang sengaja Nana pasang agar sahabatnya itu tidak terus-menerus bertanya hal-hal aneh. Setiap malam, mereka melakukan simulasi sidang, dengan janji manis bahwa Nana akan mengunduh permainan baru jika Thalia berhasil menghafal dialognya.
"Tha!" teriak Nana gemas karena merasa diabaikan.
"Iya, Nana... Thalia ingat semuanya. Di belakang gedung, Mei-mei melihatnya"
"Tha!" tegur Nana keras.
"Eh, maaf... kelepasan," cengir Thalia, menampakkan deretan giginya sebelum kembali larut dalam dunia digital di genggamannya.
"Keceplosan, Tha! Bukan kelepasan. Kau pikir mulutmu itu apa? Aku takut jika kau terus begini, hakim akan menolak gugatan cerai kalian," keluh Nana cemas.
"Dan kau akan selamanya terperangkap dalam sangkar emas suamimu yang kejam itu."
Dalam lubuk hatinya, Nana adalah pendukung utama perpisahan ini. Bukan karena ia menginginkan suami sahabat nya, melainkan karena ia tak sanggup mendengar curhatan sahabat nya yang diperlakukan seperti debu.
Meski mertua Thalia sempat menunjukkan secuil simpati, bagi Nana itu tidak cukup untuk menebus luka sahabatnya yang selama ini berjuang sendirian demi sesuap nasi dan biaya pendidikan.
"Mengapa tidak mungkin? Kita bisa mencari bukti kejahatannya, lalu menunjukkannya pada Kaisar... eh, maksudku Hakim. Biar dia dihukum pancung agar tidak menyiksa orang lagi!" seru Thalia dengan semangat yang salah tempat.
"Tha, hentikan... kau pikir ini zaman dinasti apa sampai ada hukum pancung segala?" Nana mengusap wajahnya, merasa was was. Thalia memang hafal semua jawaban dari artikel yang ia baca, namun logikanya masih sering melompat ke masa yang jauh di belakang.
"Sudah malam, tidurlah. Jangan bermain terus, nanti matamu bisa buta," ancam Nana. Dan seperti bocah yang takut pada petir, Thalia segera mematikan ponselnya dan meringkuk di balik selimut.