NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Keadaan di dalam rumah peninggalan Hero benar-benar kacau. Atmosfernya begitu berat hingga rasanya sulit untuk sekadar bernapas. Awan menuntun—atau lebih tepatnya menyeret lembut—Jasmine yang masih terisak menuju kamarnya di lantai atas.

"Masuk ke kamar, kunci pintu! Nanti gue anterin makanan buat lo!" perintah Awan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

Jasmine hanya bisa mengangguk lemah. Ia masuk ke dalam kamar, menutup pintu, dan terdengar bunyi kunci yang diputar dari dalam. Awan menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang memburu karena amarah. Ia berbalik, menuruni anak tangga dengan langkah lebar dan tatapan yang siap membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.

Di ruang tamu, Celine masih berdiri dengan angkuh, menyilangkan tangan di dada seolah ia adalah ratu di rumah itu.

"Akhirnya kamu turun juga, Sayang. Kamu liat kan betapa dramatisnya perempuan itu? Baru juga ditinggal mati suaminya udah pinter akting—"

Awan tidak membalas dengan kata-kata manis. Ia mencengkeram lengan Celine dengan kuat dan menyeretnya keluar menuju teras.

"Awan! Sakit! Lepasin nggak!" Celine merengek, mencoba melepaskan diri, namun tenaga Awan jauh lebih kuat.

Begitu sampai di halaman depan, Awan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia berdiri menjulang di depan Celine, bayangannya menutupi tubuh perempuan itu.

"Jangan pernah ngomong yang aneh-aneh ke Jasmine! Kalo sampe gue denger itu dari mulut lo! Gue yang bakal bikin lo nggak bisa ngomong lagi! Ngerti?" desis Awan. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman nyata.

Celine terbelalak. Selama mereka pacaran, Awan memang dingin, tapi tidak pernah terlihat semurka ini hanya demi perempuan lain. "Awan, kok kamu berubah sih? Kamu jadi belain dia? Kamu sadar nggak dia itu cuma parasit? Dia udah ngasih apa ke kamu sampe kamu seberani ini sama aku? Dia udah ngasih tubuh—"

PLAK!

Suara tamparan itu memecah keheningan pagi di komplek perumahan elit tersebut. Awan menampar bibir Celine—bukan dengan tenaga penuh, namun cukup untuk menghentikan kalimat kotor yang keluar dari mulut perempuan itu.

Celine mematung. Ia memegang bibirnya yang mulai terasa kebas dan panas. Matanya berkaca-kaca karena terkejut dan terhina. "Awan... kamu... kamu nampar aku?"

"Pergi!" ucap Awan, satu kata yang keluar seperti vonis mati.

"Awan, kamu—"

"Gue bilang pergi!" bentak Awan hingga urat lehernya menonjol.

Celine yang ketakutan melihat kilat kemarahan di mata Awan akhirnya mundur. Dengan terburu-buru dan penuh rasa malu, ia masuk ke dalam mobil merahnya, menginjak gas dalam-dalam, dan menghilang dari pandangan.

Setelah mobil Celine menjauh, Awan menyandarkan punggungnya pada pintu pagar yang tertutup. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa emosi negatif yang meluap. Kepalanya pening. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sekompleks ini.

Dulu, ia hanya perlu fokus pada saham, rapat direksi, dan memastikan Celine mendapatkan tas barunya agar tidak berisik. Sekarang? Ia harus menjaga perempuan hamil yang hancur hatinya dan mengurusi kembaran yang baru saja ia makamkan.

Awan masuk kembali ke dalam rumah. Keadaan sangat sunyi. Ia melangkah menuju dapur. Seumur hidupnya, Awan jarang sekali menyentuh peralatan masak. Biasanya ada asisten rumah tangga atau ia cukup memesan di restoran berbintang. Namun, melihat kondisi Jasmine yang pucat dan gemetar tadi, ia tahu perempuan itu butuh asupan yang nyata.

Ia membuka kulkas. Di sana ada sayuran segar yang mungkin dibeli Hero sebelum masuk rumah sakit terakhir kali. Dengan gerakan kaku, Awan mulai mencuci bayam. Ia menyalakan kompor, tangannya sesekali meringis karena terpercik air panas saat sedang merebus telur dan menyiapkan bubur ayam sederhana.

"Lo harus makan, Jas. Kalau lo sakit, Hero bakal hantuin gue seumur hidup," gumam Awan pelan pada dirinya sendiri.

Dapur yang biasanya rapi kini sedikit berantakan karena ulah Awan. Ia memotong buah-buahan—jeruk dan apel—dengan potongan yang tidak beraturan, namun ia memastikan semuanya bersih. Ia juga menyiapkan segelas susu khusus ibu hamil yang ia temukan di lemari atas.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Awan berdiri di depan pintu kamar Jasmine dengan nampan di tangannya. Ia mengetuk pintu itu pelan, jauh lebih lembut daripada gedoran Celine tadi pagi.

"Jas? Buka pintunya. Gue bawa makanan," panggil Awan.

Tidak ada jawaban. Keheningan itu membuat Awan panik sesaat. "Jasmine! Jangan macem-macem ya! Buka atau gue dobrak!"

Pintu perlahan terbuka. Jasmine muncul dengan mata yang bengkak dan hidung kemerahan. Ia masih mengenakan daster yang sama, tampak begitu rapuh seolah angin sedikit saja bisa membuatnya hancur.

Awan masuk tanpa permisi, meletakkan nampan itu di atas nakas samping tempat tidur. Ia melihat foto pernikahan Hero dan Jasmine yang terpajang di sana. Hatinya sedikit berdenyut.

"Duduk," perintah Awan.

Jasmine menurut, duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk. "Maaf, Kak... aku sudah bikin repot. Mbak Celine pasti marah banget."

"Gue nggak peduli sama dia," balas Awan pendek. Ia mengambil mangkuk bubur dan menyodorkannya pada Jasmine. "Makan. Semuanya. Jangan disisain. Di situ ada vitamin juga, minum setelah makan."

Jasmine menerima mangkuk itu. "Kak Awan... yang masak ini?"

Awan membuang muka, telinganya sedikit memerah karena canggung. "Nggak usah banyak tanya. Cepet makan."

Jasmine mulai menyuap bubur itu pelan. Rasanya sederhana, bahkan sedikit kurang garam, tapi entah kenapa terasa sangat hangat di perutnya yang mual sejak pagi. Di depannya, Awan duduk di kursi rias, memperhatikannya dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

"Kenapa Kakak baik sama aku?" tanya Jasmine lirih. "Kakak kan selalu cuek sama aku dulu."

Awan terdiam sejenak. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang mulai cerah. "Gue nggak baik, Jas. Gue cuma orang yang pegang janji. Hero itu bagian dari hidup gue. Kalau dia minta gue jaga lo, artinya gue bakal jaga lo dengan cara gue sendiri. Walaupun cara gue mungkin nggak lembut kayak dia."

Jasmine berhenti mengunyah. Ia menatap punggung Awan. Pria ini memang kaku, kata-katanya seringkali pedas, tapi di balik itu semua, ada rasa tanggung jawab yang luar biasa besar.

"Makasih, Kak..."

"Habisin buburnya, jangan cuma makasih," ketus Awan lagi, meski sebenarnya ia merasa lega melihat Jasmine sudah mau menyentuh makanannya. "Setelah ini lo istirahat. Gue ada urusan kantor sebentar, tapi gue bakal balik sebelum makan malam. Jangan keluar rumah, jangan buka pintu buat siapa pun, terutama Celine. Ngerti?"

Jasmine mengangguk patuh. Untuk pertama kalinya sejak Hero meninggal, ia tidak merasa benar-benar sendirian. Ada sosok "bayangan" Hero yang kini berdiri tegak menjaganya, meskipun bayangan itu jauh lebih dingin dan penuh duri.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!