Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petir Disiang Bolong
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah tiga hari aku kembali berkutat dengan rutinitas pekerjaan.
Hari ini aku sedang bertugas di toko, sibuk merapikan barang-barang yang baru tiba. Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar nyaring. Aku sempat ragu untuk mengambilnya karena Bu Bos berada tepat di dekatku.
"Yani, itu ponselmu bunyi terus," tegur Bu Bos.
"Iya, Bu. Biarkan dulu saja, nanti saya angkat pas jam istirahat," sahutku sambil terus menggantungkan baju di gantungan besi. Toko baru saja buka, dan aku tidak ingin terlihat tidak profesional.
"Angkat dulu saja, siapa tahu ada hal penting," ujar beliau dengan nada pengertian. Aku mengangguk, lalu segera merogoh ponsel. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan masuk: Tiya, adikku.
Seketika perasaanku tidak enak. Jantungku berdegup kencang seolah memberi sinyal buruk.
Dengan tangan gemetar, aku menghubungi Tiya kembali. Begitu sambungan terangkat, kabar yang kudengar bagaikan petir di siang bolong.
"Bu, boleh saya izin pergi sekarang? Ibu saya mendadak dilarikan ke rumah sakit!" pintaku dengan suara serak menahan tangis. Beruntung, Bu Bos sangat baik dan langsung mengizinkanku pergi.
Aku segera berlari keluar toko. Kebetulan rumah sakitnya tidak terlalu jauh, jadi aku memutuskan untuk naik angkot agar lebih cepat. Pikiranku kalut, bahkan saat turun dari angkot, aku hampir saja tersungkur karena terburu-buru, membuat penumpang lain terkejut.
Namun, aku tidak peduli pada rasa sakit atau pandangan orang. Aku terus berlari masuk ke dalam rumah sakit, menyisiri koridor dan mencari ruangan tempat Mamak dirawat.
Begitu sampai di depan pintu ruangan, aku melihat keluarga besar sudah berkumpul. Ada adik, nenek, dan Budhe, kakak tertua Mamak. Melihat mereka, pertahananku runtuh.
Aku terduduk lemas di hadapan mereka, tangisanku pecah seketika, disusul isak tangis Nenek dan Budhe. Di dalam ruangan itu, Mamak tampak terbaring lemah dan belum sadarkan diri.
Toko baru kubuka jam 10 pagi tadi, dan sekarang, pukul 11:50, aku justru berdiri di sini dengan hati yang hancur.
"Sudah, tenanglah. Mamakmu tidak apa-apa, tadi sudah diperiksa dokter," sahut Budhe sambil mengelus bahu dan kepalaku, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Jadi, apa kata dokter, Budhe?" tanyaku sesenggukan.
"Mamakmu hanya darah tingginya naik drastis. Beliau butuh istirahat total dan tidak boleh banyak pikiran," jelas Budhe. Aku hanya bisa mengangguk pelan sembari menatap wajah pucat Mamak.
Aku merasa bersalah karena mungkin beban pikirannya selama ini, termasuk masalah rumah tanggaku telah membuatnya tumbang.
Waktu berjalan merambat hingga menjelang magrib. Akhirnya, Mamak mulai menggerakkan kelopak matanya.
Begitu beliau tersadar, aku langsung mendekat dengan rentetan pertanyaan yang keluar begitu saja karena rasa cemas yang memuncak.
"Mak, apa yang sakit? Apa yang dirasa sekarang? Bagaimana kondisinya, Mak? Perlu Yani panggilkan dokter?" tanyaku bertubi-tubi. Bukannya mengeluh, Mamak justru tersenyum tipis melihatku yang begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Sudah, Mamak tidak apa-apa. Jangan khawatir berlebihan begitu," jawabnya dengan suara yang masih serak dan lemah.
"Mamak ini bikin aku panik saja! Baru kutinggalkan kerja tiga hari, kondisinya sudah begini. Besok-besok aku tidak mau pamit lagi ah kalau mau pergi," gerutuku pelan, sebenarnya itu hanya caraku menutupi rasa bersalah yang teramat dalam.
"Ini bukan salahmu, Nak. Mamak memang sudah merasa badan kurang enak belakangan ini. Tiba-tiba saja kepala pusing, lalu semuanya gelap," jelas Mamak. Beliau tampak masih kesulitan meski hanya untuk sekadar mengubah posisi duduk; badannya terasa sangat berat.
"Ya sudah, pokoknya besok-besok Mamak harus banyak istirahat, ya," ucapku tegas. Mamak hanya mengangguk pelan, meskipun aku tahu wataknya; beliau biasanya hanya menurut sebentar, lalu nanti akan kembali memaksakan diri bekerja jika sudah merasa agak mendingan.
Sore itu, aku pamit sebentar untuk ke kamar mandi. Di area luar, aku melihat Bapak sedang duduk bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka tampak sedang berbincang sembari menikmati rokok bersama.
"Bapak?" sapaku membuat Bapak menoleh ke arahku.
"Ada apa, Yani?" tanyanya.
"Mamak sudah tidur, Pak. Yani mau keluar sebentar cari makan dulu," pamitku yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Bapak.
Aku kembali ke dalam ruangan sejenak untuk mengambil tas, lalu melangkah keluar meninggalkan area rumah sakit. Di tengah udara sore yang mulai mendingin, aku berjalan mencari warung terdekat untuk membeli beberapa nasi bungkus bagi keluarga yang menjaga di sini.
***********
Waktu bergulir cepat. Tak terasa sudah hari kedua Mamak dirawat di rumah sakit. Karena sering keluar masuk ruangan untuk mencari udara segar, aku mulai akrab dengan keluarga pasien di sebelah ruangan Mamak. Ada, Johan, Puji, dan Adrian.
Saat itu, mereka sedang asyik mengobrol tentang rencana masa depan. Begitu mendengar kata "merantau", telingaku langsung tegak. Semangatku mendadak tersulut.
"Mbak, katanya nanti mau merantau? Memangnya mau ke mana?" tanya adrian kepada Puji.
Aku pun ikut menimpung, "Iya Mbak, ke mana rencananya?"
"Paling ke Pekanbaru. Kenapa? Kamu mau ikut?" tanya Puji sembari melirikku dengan ramah.
"Aku mau, Mbak! Kapan rencananya berangkat?" tanyaku tanpa ragu. Pikiran untuk mencari modal demi mengambil kembali Melsha langsung melintas di kepalaku.
"Mungkin setelah Johan keluar dari rumah sakit ini," jawab Puji.
"Boleh kita tukaran nomor ponsel? Nanti kita bicarakan lagi lewat pesan," ucapku sembari menyodorkan ponsel jadulku. Aku sangat bersemangat. "Nanti aku kabari lagi kalau Mamak sudah pulang dari sini."
Setelah saling menyimpan kontak, aku kembali masuk ke ruangan Mamak. Pikiranku berkelana jauh. Beberapa bulan lalu aku sempat berhenti kerja, tapi setidaknya aku sudah punya pengalaman.
Gaji terakhir kemarin juga masih ada, lumayan untuk modal ongkos jika benar-benar jadi merantau, pikirku.
Ya Allah, jika merantau adalah jalan-Mu agar aku bisa mandiri dan menjemput anakku, aku ikhlas meninggalkan keluarga sementara waktu, batinku lagi.
Lamunanku pecah saat Mamak menggoyangkan pelan tubuhku. "Nak? Kamu kenapa melamun begitu?"
"Eh, iya, Mak. Aku tidak apa-apa kok," jawabku gugup.
Mamak menatapku dengan tatapan sayu yang penuh rasa bersalah. "Mamak merepotkan kamu ya, Yani?"
Aku segera menggenggam jemari pucatnya dan tersenyum tulus. "Mamak tidak pernah merepotkan aku. Dulu Mamak yang menjaga Yani waktu kecil tanpa pernah mengeluh, sekarang waktunya Yani yang menjaga Mamak. Yani senang bisa ada di sini."
Aku melanjutkan sembari mengelus tangannya, "Mamak jangan bilang begitu ya. Buatku, mengurus Mamak itu adalah berkah. Aku justru senang kalau Mamak mau meminta tolong apa saja kepadaku."
"Kamu tidak berangkat kerja?" tanya Mamak lagi, masih merasa tidak enak hati.
"Tidak, Mak. Pekerjaan bisa diurus nanti, menemani Mamak jauh lebih penting sekarang. Aku jauh lebih tenang kalau ada di dekat Mamak. Aku sudah izin, jadi Mamak tidak usah kepikiran soal itu lagi," jelasku menenangkan.
"Lalu Bapakmu ke mana? Rumah siapa yang mengurus? Terus keponakanmu bagaimana kondisinya?" tanya Mamak bertubi-tubi dengan nada panik, memikirkan cucu dan suaminya.
"Bapak sedang keluar beli nasi. Alhamdulillah, cucu Mamak baik-baik saja di rumah. Sudah, Mamak tidak usah khawatir, pikirkan saja kesehatan Mamak sendiri. Jangan pikirkan yang lain-lain dulu," jawabku lembut sambil menaikkan selimut hingga ke dadanya.
Wajah Mamak masih tampak pucat dan pasi. Aku kembali menggenggam tangannya erat. "Mak, aku di sini ya. Kalau Mamak butuh apa-apa atau merasa sesak dan sakit, langsung remas tangan aku saja atau panggil aku."
Mamak hanya merespons dengan anggukan lemah. Melihatnya terbaring tak berdaya, hatiku menjerit pedih.
Melihat Ibu terbaring lemah seperti ini, duniaku seolah kehilangan warnanya. Biasanya Ibu adalah sosok yang paling sibuk, suaranya memenuhi setiap sudut rumah, dan tangannya tak pernah berhenti bergerak untuk kami. Hari ini, melihatmu tak berdaya, aku menyadari betapa rapuhnya aku tanpamu.
"Ya Allah, jika bisa, biarlah rasa sakit itu berpindah kepadaku saja. Sembuhkanlah dia, karena tanpanya, aku kehilangan arah dan pegangan hidupku." Batinku meracau dalam kesedihan.
Bersambung....