Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Hari Terakhir
Pagi di Dongkou Port selalu dimulai dengan kebisingan yang kasar dan tidak berperasaan. Dentang baja beradu, raungan mesin derek, serta teriakan pendek para mandor bercampur menjadi satu irama yang memaksa semua orang bergerak. Di tempat ini, siapa pun yang lambat akan tersingkir. Siapa pun yang lemah akan diinjak.
Gu Yanqing berdiri di barisan buruh bongkar dengan tubuh tegak. Helm keselamatan di kepalanya penuh goresan lama. Rompi reflektifnya kusam, sudut-sudutnya mulai terkelupas. Tangannya memegang sarung tangan kerja yang telah tipis di bagian telapak.
Tidak ada yang istimewa darinya. Ia tampak seperti buruh lain—udik, mudah diganti, dan tidak layak diperhatikan.
Peluit kerja dibunyikan.
Barisan segera bergerak ke area bongkar. Kapal kargo Hai Sheng 07 telah bersandar sejak subuh. Kontainer baja ringan diturunkan satu per satu. Setiap peti harus dipindahkan sesuai nomor. Tidak boleh salah. Tidak boleh terlambat.
Gu Yanqing mendorong troli besi bersama dua buruh lain. Langkahnya stabil. Gerakannya efisien. Matanya terus mengikuti lintasan beban di atas kepala. Ia tahu betul aturan tak tertulis di pelabuhan: kecelakaan berarti salah sendiri. Tidak ada kompensasi. Tidak ada simpati.
Keringat mengalir dari pelipisnya. Punggungnya basah. Namun napasnya tetap terjaga.
“Yanqing.”
Suara itu datang dari sisi kanan.
Chen Baojun menghentikan langkahnya sejenak. Usianya sedikit lebih tua, wajahnya gelap terbakar matahari, dan sorot matanya selalu tampak waspada. Di pelabuhan, bertahan lama berarti tahu kapan harus diam.
“Apa,” jawab Gu Yanqing tanpa menoleh.
Chen Baojun menurunkan suaranya. “Mandor Wang kelihatan sedang mencari masalah sejak pagi.”
Gu Yanqing mendorong troli ke posisi yang ditentukan. “Dia selalu begitu.”
“Bukan. Tadi aku lihat dia bicara dengan orang kantor logistik. Soal muatan kemarin.”
Gu Yanqing berhenti sejenak.
Muatan kemarin.
Kontainer baja ringan yang terlambat dipindahkan karena derek nomor tiga mati mesin. Laporan kerusakan sudah dibuat. Semua prosedur dijalankan. Secara logika, tidak ada tanggung jawab buruh.
Namun logika jarang berlaku di Dongkou Port.
“Aku tidak lalai,” kata Gu Yanqing tenang.
Chen Baojun terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Itu saja. Tidak ada kalimat lanjutan. Tidak ada penghiburan. Kata-kata tidak bisa memberikan wajah di tempat seperti ini.
Pukul sepuluh lewat sedikit, matahari mulai menekan tanpa ampun. Permukaan kontainer memantulkan panas. Udara bergetar.
Langkah berat terdengar mendekat.
Wang Jicheng muncul di area bongkar. Tubuhnya gemuk, perutnya menonjol di balik rompi keselamatan yang masih baru. Wajahnya merah oleh panas dan emosi. Ia berjalan dengan gaya orang yang terbiasa memerintah.
Tatapannya menyapu buruh-buruh seperti sedang menghitung barang.
Akhirnya, berhenti pada Gu Yanqing.
“Kau,” panggilnya keras.
Beberapa buruh melirik ke arah mereka, lalu cepat-cepat memalingkan wajah.
Gu Yanqing menghentikan pekerjaannya dan berdiri tegak. “Mandor Wang.”
“Kontainer baja baris C, kemarin sore,” kata Wang Jicheng dengan suara tinggi. “Kau yang bertanggung jawab, bukan?”
Gu Yanqing menjawab tanpa ragu. “Saya di tim barat. Bukan penanggung jawab baris C.”
Wang Jicheng tertawa dingin. “Masih berani berkilah?”
Ia melangkah lebih dekat. “Derek terlambat bergerak karena laporanmu terlambat. Akibatnya, jadwal mundur tiga puluh menit. Kau tahu berapa kerugian perusahaan?”
Gu Yanqing menatap lurus. “Laporan dibuat sesuai waktu. Keterlambatan karena mesin derek.”
“Omong kosong!” suara Wang Jicheng meninggi. “Seorang buruh berani mengajari mandor?”
Beberapa buruh mulai berhenti bekerja. Lingkaran kecil terbentuk. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang membela.
Gu Yanqing merasakan pandangan itu. Dingin. Menghakimi. Menunggu.
“Gu Yanqing,” lanjut Wang Jicheng, sengaja menyebut nama lengkapnya. “Kau sering bermasalah. Tidak disiplin. Tidak tahu memberi wajah.”
Gu Yanqing mengernyit tipis. “Saya selalu mengikuti jadwal.”
“Diam!” Wang Jicheng menunjuk wajahnya. “Seorang udik sepertimu berani membantah atasan? Kau benar-benar tidak tahu tinggi langit dan bumi.”
Hening sesaat.
Lalu Wang Jicheng berkata dengan suara jelas, seolah ingin semua orang mendengar, “Mulai hari ini, kau dipecat.”
Kata itu jatuh seperti palu.
Beberapa buruh menegang. Chen Baojun menatap Gu Yanqing dengan raut cemas, tetapi tidak bergerak.
“Upah bulan ini?” tanya Gu Yanqing.
“Ditahan,” jawab Wang Jicheng tanpa ragu. “Sebagai ganti rugi kelalaian.”
“Itu tidak sesuai aturan,” kata Gu Yanqing.
Wang Jicheng tertawa mengejek. “Aturan? Kau pikir kau siapa? Pengacara Zhao? Pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan.”
Ia melambaikan tangan ke arah gerbang. “Ambil barangmu. Dongkou Port tidak butuh orang yang suka mencari mati.”
Gu Yanqing berdiri diam beberapa detik.
Wajahnya tetap datar. Tidak ada amarah yang terlihat. Tidak ada protes. Namun dadanya terasa sesak, seolah sesuatu yang berat menekan dari dalam.
Ia melepas sarung tangan kerja, menaruhnya perlahan di atas troli.
Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar area bongkar.
Tidak satu pun buruh menahannya.
...
Gu Yanqing berjalan meninggalkan area bongkar tanpa menoleh ke belakang.
Suara mesin derek kembali mendominasi. Peluit kerja berbunyi lagi. Ritme pelabuhan pulih seolah tidak pernah terjadi apa pun. Pemecatan satu buruh bukan peristiwa. Itu hanya penyesuaian kecil dalam sistem yang sudah terbiasa membuang orang.
Beberapa buruh melirik ke arahnya sekilas, lalu segera menunduk. Ada yang pura-pura sibuk mengikat tali. Ada yang membenarkan helm. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang mengantar.
Memberi wajah kepada orang yang sudah jatuh hanya akan mengundang masalah.
Gu Yanqing melewati garis pembatas besi. Sepatunya yang usang menginjak tanah berdebu di luar area kerja. Angin dari laut membawa bau asin yang lebih tajam. Di titik itu, ia bukan lagi buruh Dongkou Port.
Ia berhenti sejenak.
Chen Baojun menyusul dengan langkah ragu. Ia berdiri dua meter di belakang, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Yanqing,” katanya pelan.
Gu Yanqing menoleh.
Chen Baojun membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Beberapa kata terlintas, tetapi tidak satu pun layak diucapkan. Penghiburan terdengar kosong. Janji bantuan terlalu berisiko.
“Aku tidak bisa banyak bicara,” akhirnya Chen Baojun berkata. “Mandor Wang… dia sedang mencari orang untuk dijadikan contoh.”
Gu Yanqing mengangguk. “Aku tahu.”
“Upahmu—”
“Sudah kuanggap tidak ada.”
Chen Baojun terdiam. Ia menghela napas berat. “Kalau ada lowongan lain, aku kabari.”
Gu Yanqing tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali.
Chen Baojun ragu sejenak, lalu berbalik. Punggungnya segera tenggelam kembali ke dalam kebisingan pelabuhan.
Gu Yanqing berdiri sendirian.
Dongkou Port terbentang luas di belakangnya—derek-derek tinggi seperti kerangka besi raksasa, kontainer tersusun tanpa perasaan, manusia bergerak seperti semut. Tempat ini tidak pernah peduli siapa yang bekerja paling keras. Ia hanya mengenal siapa yang memiliki kekuasaan.
Ia menyadari satu hal dengan jelas.
Kerja keras tidak memberi perlindungan.
Kejujuran tidak memberi wajah.
Tanpa latar belakang, tanpa koneksi, seseorang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Yanqing berjalan menyusuri jalan pelabuhan menuju halte bus. Langkahnya stabil, tetapi pikirannya berat. Upah satu bulan—uang yang seharusnya cukup untuk biaya hidup sederhana—hilang begitu saja. Tidak ada tabungan. Tidak ada cadangan.
Di kota ini, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan segalanya.
Bus datang terlambat. Ia berdiri di bawah papan rambu yang catnya mengelupas. Matahari siang menekan kepala. Keringat mengalir, tetapi tubuhnya terasa dingin.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Layar retak di sudut kanan bawah. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Sesaat, ia membiarkan dirinya berdiri tanpa tujuan.
Lalu ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal. Kode area Linhai.
Gu Yanqing mengangkat telepon.
“Apakah ini Gu Yanqing?” suara perempuan terdengar dari seberang, formal dan cepat.
“Iya.”
“Saya perawat dari RS Linhai No.2. Ibu Anda, Li Shumin, baru saja kolaps. Saat ini dalam kondisi kritis.”
Langkah Gu Yanqing terhenti.
“Dugaan pendarahan internal,” lanjut suara itu. “Dokter menyarankan operasi secepatnya.”
Berapa biayanya.
Pertanyaan itu muncul di kepalanya sebelum suara di seberang menjawab.
“Estimasi awal sekitar seratus delapan puluh ribu yuan. Pembayaran awal diperlukan sebelum tindakan.”
Seratus delapan puluh ribu.
Gu Yanqing memejamkan mata sejenak.
“Apakah ada keluarga lain yang bisa dihubungi?” tanya perawat itu.
“Tidak,” jawabnya.
Telepon ditutup.
Gu Yanqing berdiri di pinggir jalan, di bawah matahari siang, dengan ponsel tergenggam erat di tangannya. Di sakunya, tidak ada uang. Di belakangnya, tidak ada pekerjaan. Di depannya, rumah sakit menunggu tanpa belas kasihan.
Kota terus bergerak.
Ia sendirian.