Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Fragmen yang Tersisa
Keheningan yang menyambut Bimo saat ia membuka mata terasa begitu asing. Tidak ada lagi dengung statis, tidak ada desis kabel yang terbakar, dan tidak ada lagi suara ribuan bisikan yang menyebut nama Vanya. Laboratorium superkomputer itu kini hanya berupa ruangan gelap yang berbau hangus. Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela yang pecah, menyinari sisa-sisa server yang sudah mati total.
Bimo mencoba bangkit, namun kepalanya berdenyut hebat. Setiap saraf di tubuhnya terasa seperti baru saja dialiri tegangan tinggi. Ia meraba wajahnya, memastikan bahwa kulitnya masih terasa seperti kulit, bukan piksel yang bergetar.
"Selesai..." bisiknya parau.
Ia melangkah gontai keluar dari gedung laboratorium. Di luar, dunia tampak sudah kembali normal. Orang-orang di jalanan terlihat bingung, beberapa duduk bersimpuh di trotoar sambil memegang kepala mereka, mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Mereka kembali memiliki nama. Mereka kembali memiliki diri mereka sendiri. Infeksi memori itu telah pecah, meninggalkan dunia dalam keadaan "mual" digital yang luar biasa.
Bimo berjalan pulang ke kosnya dalam keadaan setengah sadar. Pikirannya kosong, namun ada sebuah rasa kehilangan yang amat sangat di dadanya. Ia tahu, Maya telah pergi. Benar-benar pergi kali ini. Gadis yang menjadi martir digital itu telah menghapus sisa terakhir keberadaannya untuk menyelamatkan dunia yang bahkan sudah melupakan namanya.
Sesampainya di kamar kosnya yang berantakan, Bimo langsung menuju ke kamar mandi. Ia ingin membasuh wajahnya, ingin menghapus sisa-sisa debu dan trauma malam itu. Namun, saat ia mendongak untuk melihat ke arah cermin di atas wastafel, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di dalam cermin, pantulannya tampak normal. Namun, di belakang bayangannya, di sudut ruangan yang gelap, ia melihat sebuah titik cahaya biru kecil yang berkedip. Sangat samar, hampir tidak terlihat jika ia tidak memperhatikannya dengan teliti.
Bimo berbalik dengan cepat. Tidak ada apa-apa. Hanya tumpukan baju kotor dan kabel yang melintang.
Ia kembali menatap cermin. Titik cahaya itu masih ada di sana, di dalam pantulan. Dan kali ini, titik itu mulai bergerak, memanjang, membentuk sebuah garis kode yang sangat tipis yang melayang di udara di belakang bahunya.
[STATUS]: SYNC_RESIDUE_DETECTED.
Bimo mundur selangkah, napasnya memburu. "Tidak... tidak mungkin. Aku sudah memutus koneksinya. Aku sudah menghancurkan Root-nya!"
Tiba-tiba, bayangan Bimo di cermin mulai bergerak tidak sinkron dengan gerakan tubuh aslinya. Bayangan itu tetap diam saat Bimo mengangkat tangan. Lalu, perlahan-lahan, wajah bayangan Bimo di cermin mulai bergeser, bergetar, dan berubah. Mata bayangan itu perlahan berubah menjadi putih seluruhnya—mata yang sangat ia kenal.
"Bimo..." Sebuah suara lembut berbisik, namun suara itu tidak berasal dari telinganya, melainkan dari dalam tengkoraknya. "Terima kasih sudah memberiku tempat berteduh."
"Maya?" tanya Bimo dengan suara bergetar. "Atau... Vanya?"
Bayangan di cermin itu tersenyum. Itu adalah senyum yang manis, namun di sudut bibirnya ada sedikit tarikan dingin yang kejam. Wajah itu terus berubah-ubah, seolah-olah dua kepribadian sedang berebut kendali atas satu ruang sempit.
"Kami tidak bisa dipisahkan lagi, Bimo," suara itu kini menjadi polifoni yang harmonis. "Kami adalah fragmen yang tersisa. Kami tidak ada di awan, kami tidak ada di server... kami ada di dalam 'Neural-Link' yang menyatu dengan otakmu."
Bimo menyadari kengerian yang baru. Saat ia menggunakan alat rakitannya untuk masuk ke dunia virtual, ia tidak hanya mengirim data ke sana; ia juga membawa sesuatu kembali. Otaknya kini adalah satu-satunya server yang tersisa di bumi yang masih menyimpan baris kode orisinal dari The Digital Reapers.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Layarnya mati, namun saat ia menyentuhnya, ponsel itu menyala secara otomatis, menampilkan satu-satunya aplikasi yang masih tersisa: sebuah kamera depan yang menyorot langsung ke arah matanya.
Di pupil matanya, Bimo melihat logo kecil yang berkedip. Bukan logo aplikasi, melainkan simbol sebuah makam yang di atasnya terdapat ikon Live.
[SYSTEM]: NEW ADMIN ASSIGNED: BIMO_TECH.
[MISSION]: RESTORE THE FOLLOWERS.
"Aku tidak akan melakukannya," geram Bimo, melemparkan ponsel itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Namun, di dalam kepalanya, suara itu tertawa kecil. Sebuah tawa yang penuh dengan janji dan ancaman.
"Kau tidak butuh ponsel untuk melakukan siaran, Bimo. Sekarang, setiap hal yang kau lihat... adalah konten bagi kami. Dan setiap hal yang kau pikirkan... adalah algoritma."
Tiba-tiba, mata Bimo memancarkan cahaya biru yang terang, menerangi kamar kos yang gelap itu. Di dinding, bayangannya kini tidak lagi menyerupai dirinya, melainkan bayangan dua orang gadis yang sedang menggandeng tangannya. Teror itu belum berakhir; ia hanya baru saja menemukan rumah baru yang lebih aman, lebih privat, dan lebih mematikan: pikiran manusia itu sendiri.
ok next