Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
BAB 16: Jeruji Tanpa Besi (Bagian Pertama)
Kesunyian di kamar itu terasa seperti zat padat yang menyumbat tenggorokan. Sudah empat belas jam sejak Pendeta Daniel memutar kunci dari luar, memutus akses Alek dengan dunia luar, dan membiarkannya membusuk dalam ruang empat kali empat meter yang kini terasa lebih sempit dari sel penjara mana pun.
Alek berbaring telentang di atas kasurnya yang dingin. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas, membentuk pola-pola abstrak yang seolah mengejeknya. Setiap detak jam dinding di atas meja belajarnya terdengar seperti hantaman palu godam—ritmis, tanpa ampun, dan mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan menuju kehancuran yang tidak bisa ia cegah.
Luka di tulang rusuknya berdenyut setiap kali ia menarik napas terlalu dalam, sisa dari pertempurannya dengan Dimas yang kini terasa seperti kemenangan yang sia-sia. Apa gunanya bebas dari geng jika ia berakhir terpasung oleh darah dagingnya sendiri? Apa gunanya menjadi orang baik jika dunia tetap memperlakukannya seperti sampah yang harus disingkirkan?
Tok. Tok. Tok.
Pintu kamarnya diketuk, disusul suara gesekan piring yang diletakkan di lantai depan pintu.
"Makan, Alek. Jangan menyiksa diri sendiri. Kamu hanya perlu berjanji untuk menjauhi lingkungan itu, dan Bapak akan buka pintunya," suara Pendeta Daniel terdengar berat dari balik kayu jati yang tebal. Tidak ada nada kebencian di sana, yang ada hanya otoritas buta yang dibalut jubah agama.
Alek tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pintu. Baginya, suara ayahnya kini tak lebih dari derau statis di radio rusak. Ia merasa dikhianati oleh sistem yang selama ini ayahnya khotbahkan: Kasih, Pengampunan, dan Kebenaran. Di mana kasih itu sekarang? Di mana pengampunan untuk proses perubahannya? Semuanya kalah oleh satu kata yang sangat diagungkan ayahnya: Reputasi.
Setelah langkah kaki ayahnya menjauh, Alek bangkit perlahan. Rasa nyeri menusuk pinggangnya saat ia merangkak menuju laci paling bawah di lemari pakaiannya. Di balik tumpukan jaket kulit Venom Crew yang sudah lama tidak ia pakai, ia meraba sebuah benda keras dan dingin.
Sebuah ponsel lama. Nokia tipe lama yang layarnya sudah retak seribu, yang ia simpan sebagai cadangan di masa-masa ia masih sering terlibat tawuran. Ayahnya hanya menyita ponsel utamanya, tidak tahu bahwa sang anak yang ia anggap "tersesat" ini masih memiliki satu jalur komunikasi rahasia.
Alek menekan tombol power. Layarnya berkedip redup, menampilkan logo operator yang sudah kuno sebelum akhirnya masuk ke menu utama. Jantungnya berdegup kencang. Ia hanya berharap baterainya masih cukup.
Satu pesan masuk. Bukan dari Riki. Bukan dari Maryam.
Nomor tidak dikenal.
Alek membukanya dengan jari gemetar. Isinya hanya sebuah link video pribadi dan satu baris kalimat: "Lihat ini, Pahlawan. Biar lo tahu rasa dari pengkhianatan."
Dengan sisa kuota data yang entah masih ada atau tidak, Alek mengklik link tersebut. Video itu memuat rekaman suara dan gambar-gambar slide. Suara itu... Alek sangat mengenalnya. Itu suara Bagas. Dingin, jernih, dan penuh perhitungan.
"Lo denger ini, Alek?" suara Bagas dalam rekaman itu terdengar sangat dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telinga Alek. "Gue tahu lo lagi dikurung. Gue tahu bokap lo yang suci itu akhirnya sadar kalau punya anak kayak lo adalah kutukan. Sedih, ya?"
Alek mencengkeram ponsel itu kuat-kuat.
"Tapi tenang, Lex. Gue nggak mau lo mati sendirian dalam kegelapan tanpa tahu apa yang terjadi di luar. Besok, di acara Milad Pesantren Al-Hikmah... saat Khansa berdiri di depan semua orang sebagai santriwati teladan... gue dan Kevin akan kasih dia hadiah spesial. Bukan bunga. Tapi kehancuran."
Layar ponsel itu menampilkan foto Khansa yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat kegiatan renovasi kemarin. Di sampingnya, ada editan foto Khansa yang terlihat sedang berpegangan tangan dengan Alek di sebuah tempat gelap—hasil manipulasi digital yang sangat halus bagi mata orang awam.
"Gue punya seribu selebaran ini, Lex. Lengkap dengan narasi kalau Khansa udah nggak 'suci' lagi karena dia sering menyelinap keluar untuk ketemu preman gereja kayak lo. Gue bakal sebarin ini tepat di depan ustadzah-ustadzahnya, di depan orang tuanya, dan di depan tamu-tamu besar mereka. Bayangkan wajahnya, Alek. Bayangkan air matanya saat semua orang menatapnya seolah dia adalah wanita hina."
Suara tawa Kevin terdengar di latar belakang rekaman itu, melengking dan penuh kemenangan.
"Ini bukan cuma soal geng, Alek. Ini soal lo yang berani nginjak harga diri kita. Lo mau jadi orang suci? Silakan. Tapi orang suci yang lo sayang harus menanggung dosanya. Jangan coba-coba keluar. Kevin udah stand by di depan gang rumah lo. Satu langkah lo keluar dari pintu rumah, dia bakal mastiin selebaran itu tersebar lebih cepat lewat media sosial."
Video berakhir. Layar ponsel Alek kembali gelap.
Alek merasa seperti baru saja dijatuhkan ke dalam air es. Tubuhnya gemetar hebat—bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang meluap-luap yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan saat ia berkelahi dengan Dimas, ia masih bisa menjaga kepalanya tetap dingin. Namun sekarang, mendengar nama Khansa diseret ke dalam lumpur hanya karena dirinya, membuat Alek merasa ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
"Binatang..." geram Alek. Suaranya serak, matanya memerah menahan tangis frustrasi. "Mereka bukan manusia..."
Ia melempar ponsel itu ke kasur. Ia berjalan mondar-mandir di kamar yang sempit itu seperti macan yang terperangkap dalam sangkar besi. Ia menatap ke arah jendela. Teralis besi itu terlihat sangat kokoh, ditanam langsung ke beton dinding.
Alek menatap tangannya sendiri yang masih lecet dan penuh luka. Ia teringat kata-kata Khansa: "Jangan berhenti mencari cahaya."
"Cahaya apa, Khansa?" bisik Alek pilu. "Dunia ini gelap. Orang-orang ini iblis. Dan gue... gue nggak bisa ngelakuin apa-apa."
Ia terduduk di lantai, bersandar pada pintu yang terkunci. Di tengah keputusasaan itu, Alek teringat sesuatu. Sesuatu yang pernah Khansa katakan saat mereka di Panti Asuhan.
"Kalau Mas nggak bisa berharap pada manusia, berharaplah pada yang menciptakan manusia. Sujudlah, Mas. Di sana, kita paling dekat dengan ketenangan."
Sujud.
Alek menatap lantai kamarnya. Seumur hidupnya, ia hanya mengenal berlutut di bangku gereja dengan tangan terkatup, mendengarkan khotbah ayahnya yang membosankan. Ia tidak tahu bagaimana cara bersujud seperti Khansa. Ia tidak tahu harus mengucapkan apa.
Tapi, didorong oleh rasa tak berdaya yang mencekik, Alek memutar tubuhnya menghadap ke arah kiblat—arah yang pernah ia tanyakan iseng pada Riki tempo hari.
Ia menekuk lututnya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di lantai, lalu perlahan menurunkan dahinya ke permukaan lantai yang dingin.
Saat dahi Alek menyentuh lantai, sebuah gelombang emosi menghantamnya. Semua rasa sakit, semua hinaan ayahnya, semua ancaman Bagas, dan rasa sayangnya pada Khansa tumpah ruah dalam posisi itu.
"Tuhan... Allah... siapa pun Engkau," bisik Alek ke lantai. Air matanya akhirnya pecah, membasahi ubin kamarnya. "Gue nggak tahu cara ngomong sama Engkau. Gue nggak tahu apa gue punya hak buat minta tolong setelah semua dosa gue."
Alek terisak. Bahunya berguncang hebat.
"Tapi tolong... jangan sakitin dia. Tolong jangan biarkan Khansa menderita gara-gara gue. Dia cahaya satu-satunya di hidup gue yang gelap ini. Kalau ada yang harus dihancurkan, hancurkan gue aja. Jangan dia. Tolong kasih gue jalan buat selamatin dia..."
Dalam sujud yang kikuk dan penuh air mata itu, Alek merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah keheningan yang berbeda. Bukan kesunyian kamar yang menyesakkan, tapi sebuah ketenangan yang seolah membisikkan satu kata: Bergerak.
Alek mengangkat kepalanya. Matanya masih basah, tapi tatapannya tidak lagi kosong. Kemarahan itu masih ada, namun kini terarah dan terkontrol. Ia menatap ke arah jendela lagi. Teralis besi itu memang kuat, tapi baut-baut penahannya sudah tua.
Ia melirik ke arah meja belajarnya. Ada sebuah obeng panjang yang biasa ia gunakan untuk memperbaiki radio rusaknya.
Alek berdiri. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Gue nggak akan biarkan kalian menang," desisnya. "Malam ini, gue keluar dari sini. Mau Bapak benci gue seumur hidup, mau Kevin bunuh gue di jalanan, gue nggak peduli. Khansa nggak boleh hancur."
Alek mengambil obeng itu, lalu melangkah menuju jendela. Langit di luar mulai menggelap, menandakan malam terakhir sebelum badai besar di Al-Hikmah akan pecah.
Malam merayap semakin dalam, menyelimuti kota Bandung dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang terkunci, Alek tidak lagi memedulikan rasa lapar yang melilit perutnya atau rasa perih di pipinya akibat tamparan sang ayah. Fokusnya kini hanya satu: jendela.
Teralis besi di hadapannya bukan sekadar penghalang fisik, melainkan simbol otoritas ayahnya yang kaku. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alek memegang obeng panjang miliknya. Ia mulai memutar baut pertama yang tertanam di bingkai kayu jendela. Setiap putaran terasa berat. Kayu yang sudah tua itu mengerik pelan, menciptakan suara gesekan yang bagi Alek terdengar seperti alarm yang bisa membangunkan seluruh isi rumah.
"Ayo... lepaskan..." bisiknya dengan gigi terkatup.
Keringat dingin membasahi dahinya meskipun udara malam cukup sejuk. Rasa nyeri di rusuknya berdenyut setiap kali ia memberikan tekanan lebih pada obengnya. Ia teringat peringatan Bagas lewat rekaman telepon maut itu. Mereka akan menghancurkan Khansa. Mereka akan menginjak-injak satu-satunya alasan yang membuat Alek ingin menjadi manusia seutuhnya. Pikiran itu memberinya kekuatan tambahan.
Klek.
Baut pertama terlepas. Alek menahannya agar tidak jatuh ke lantai kayu dan menimbulkan bunyi denting. Ia mengulanginya pada baut kedua, ketiga, hingga baut keempat. Napasnya tersengal. Jemarinya lecet, bahkan ada yang mulai mengeluarkan darah karena tergores pinggiran besi yang tajam, namun ia tidak berhenti. Setelah semua baut terlepas, ia menarik teralis itu dengan perlahan. Besi itu berat, namun ia berhasil meletakkannya dengan suara yang nyaris tak terdengar di atas kasur.
Kini, hanya ada kaca jendela di antara dirinya dan kebebasan.
Alek bergerak cepat. Ia menarik sprei dari ranjangnya, lalu meraih dua lembar sarung bantal dan beberapa kaos panjang dari lemari. Dengan cekatan, ia mengikat ujung-ujungnya dengan simpul mati yang biasa ia pelajari saat masih aktif di geng motor untuk mengikat barang di jok belakang. Ini adalah "tali harapan"-nya.
Baru saja ia hendak mengaitkan ujung kain itu ke kaki meja belajarnya yang berat, suara langkah kaki terdengar dari koridor.
Alek membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah detakannya bisa terdengar menembus pintu kayu kamarnya.
Tok. Tok. Tok.
"Alek?" suara Pendeta Daniel terdengar pelan, tanpa amarah, namun penuh dengan beban. "Bapak tahu kamu belum tidur. Bapak hanya ingin bilang... Bapak melakukan ini karena Bapak sayang padamu. Bapak tidak ingin kamu tersesat lebih jauh lagi. Tidurlah, Nak. Besok pagi kita bicara lagi."
Alek berdiri mematung di ambang jendela. Ia menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Ia melihat bayangan ayahnya dari celah bawah pintu, diam menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Setelah hampir satu menit yang terasa seperti satu jam, langkah kaki Daniel terdengar menjauh dan pintu kamar di seberang tertutup.
Alek mengembuskan napas panjang. "Maaf, Pak," bisiknya lirih ke arah pintu. "Tapi keselamatan yang Bapak tawarkan itu penjara buat Alek. Dan Alek nggak bisa biarkan orang lain hancur gara-gara ego kita."
Alek mengikatkan tali kain itu kuat-kuat ke kaki meja. Ia membuka jendela lebar-lebar. Angin malam langsung menyerbu masuk, mengacak-acak rambutnya. Ia melongok ke bawah. Lantai bawah berjarak sekitar empat meter. Di bawah sana ada semak belukar dan kebun mawar milik ibunya.
Alek mulai memanjat keluar. Tubuhnya terasa kaku. Rasa sakit di rusuknya kembali menusuk tajam saat ia menopang berat badannya pada kain yang tipis. Ia merayap turun perlahan, inci demi inci. Tiba-tiba, kain sprei itu berderit, tampak hampir sobek karena tidak kuat menahan beban tubuhnya.
Srett!
Alek terperosok satu meter. Ia memejamkan mata, bersiap untuk jatuh dan menimbulkan kegaduhan. Namun, tali itu bertahan. Dengan napas memburu, ia melanjutkan turun hingga kakinya menyentuh tanah yang empuk.
Ia berhasil keluar.
Alek tidak langsung berdiri. Ia merangkak di antara semak mawar, mengabaikan duri-duri yang menggores lengannya. Ia teringat ancaman Kevin: "Kevin sudah stand by di depan gang rumah lo."
Alek melirik ke arah depan gang. Benar saja, di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia melihat siluet sebuah motor sport hitam dan seseorang yang duduk di atasnya sambil merokok. Itu Kevin. Pria itu benar-benar menunggu seperti pemangsa yang sabar.
Alek memutar otak. Ia tidak bisa lewat depan. Ia harus lewat jalur belakang—jalur tikus yang menembus kebun warga dan kompleks pemakaman umum. Ia melompati pagar belakang rumahnya dengan susah payah, rusuknya terasa seperti ditusuk belati saat ia mendarat di sisi lain.
Ia berlari menyusuri kegelapan. Tanpa lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang samar. Ia melewati jalan setapak yang penuh semak berduri, melewati tembok-tembok rumah warga yang tinggi, hingga akhirnya ia sampai di jalan raya yang sudah sepi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Alek sampai di depan rumah Riki. Ia mengetuk pintu belakang rumah sahabatnya itu dengan sisa tenaga yang ia punya.
Riki membuka pintu dengan wajah yang sangat terkejut. "Alek?! Lo... lo berantakan banget, Lex! Lo kabur?!"
Alek ambruk di ambang pintu, napasnya tersengal, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan debu. "Besok... Milad pesantren..." Alek mendongak, matanya menyala dengan tekad yang mengerikan. "Gue nggak akan biarkan mereka nyentuh Khansa, Rik. Gue butuh bantuan lo."
Riki menarik Alek masuk dan menutup pintu rapat-rapat. "Gila lo, Lex. Lo bener-bener gila. Tapi oke, kita bakal hadapi mereka."
Di luar, Bandung masih membisu, namun di hati Alek, badai sudah pecah. Perang melawan masa lalu tidak lagi bisa dihindari. Dan besok, di gerbang Al-Hikmah, semuanya akan ditentukan.
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg