Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: WARISAN YANG BERDARAH
Keheningan di ruang kerja Julian terasa mencekik. Elara masih menatap foto itu, jemarinya gemetar saat membalik lembar demi lembar dokumen di dalam map hitam tersebut. Isinya bukan sekadar kontrak utang, melainkan catatan medis, koordinat logistik, dan laporan pengawasan selama sepuluh tahun terakhir.
Semuanya tentang dirinya.
"Kau sudah melihatnya?"
Suara Julian terdengar dari ambang pintu. Pria itu sudah melepas dasinya, kemeja putihnya terbuka di bagian kerah, namun sorot matanya tetap tajam seperti elang. Ia tidak masuk ke dalam ruangan, seolah menghormati privasi Elara yang baru saja hancur.
"Sepuluh tahun..." Elara bersuara, namun suaranya terdengar seperti bisikan hantu. "Kau mengawasiku selama sepuluh tahun? Bahkan sebelum kita bertemu di kantor itu?"
Julian melangkah masuk perlahan, menutup pintu jati di belakangnya dengan dentuman pelan yang terdengar seperti vonis mati.
"Bukan aku, Elara. Tapi keluarga Moretti. Ayahmu dan ayahku adalah rekan kerja dalam sebuah operasi yang gagal. Proyek Silk & Steel adalah cara untuk menyembunyikan kunci enkripsi data militer ke dalam... sesuatu yang hidup."
Elara mendongak, matanya merah karena amarah dan kebingungan. "Sesuatu yang hidup? Maksudmu aku?"
Julian berhenti tepat di depan meja kerja, menatap dokumen yang terbuka itu. "Ayahmu tidak berutang uang karena judi atau bisnis yang gagal. Dia mencuri 'Silk'—kunci itu—untuk melindungimu. Karena jika Moretti atau pihak lawan mendapatkan kunci itu, mereka tidak perlu lagi menjagamu tetap hidup. Mereka hanya perlu mengambil apa yang ada di dalam dirimu."
"Apa maksudmu mengambil apa yang ada di dalam diriku? Ini gila, Julian!" Elara bangkit dari kursi, mencoba melewati Julian untuk keluar dari ruangan yang terasa semakin sempit itu.
Namun, Julian menghalangi jalan keluar Elara dengan satu tangan yang menumpu pada bingkai pintu. "Kunci itu adalah microchip biologis yang ditanamkan padamu saat kau masih kecil, Elara. Itulah kenapa kau selalu merasa sakit di bagian tengkukmu saat kau stres atau kelelahan. Itulah kenapa ayahmu membawamu lari dan bersembunyi selama bertahun-tahun."
Elara terkesiap, tangannya refleks menyentuh tengkuknya. Memori tentang operasi kecil saat ia berusia lima tahun—yang ayahnya bilang hanyalah pengangkatan kista—muncul ke permukaan.
"Jadi pernikahan ini..." suara Elara bergetar, "bukan untuk melindungiku? Tapi untuk memastikan kunci itu tetap berada di tangan Moretti?"
Julian menatap Elara dengan intensitas yang menyakitkan. Ada kilasan rasa bersalah yang melintas cepat di matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng es yang biasa. "Awalnya, iya. Itu adalah tugasku dari Dewan. Tapi setelah aku melihatmu di pesta itu... setelah aku melihat bagaimana kau menatap dunia dengan kuas lukismu..."
Julian merendahkan suaranya, memangkas jarak di antara mereka hingga Elara bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. "Aku menyadari bahwa aku tidak ingin memberikan 'Silk' kepada siapa pun. Aku ingin menjaganya tetap utuh. Menjagamu tetap utuh."
"Dengan cara membohongiku?" tanya Elara getir.
"Dengan cara membuat seluruh dunia mengira kau adalah istriku, sehingga mereka tidak akan berani menyentuhmu tanpa memicu perang denganku," balas Julian tegas. "Pria di pesta tadi adalah bagian dari faksi yang ingin 'membedah' kunci itu darimu. Jika kau mengikuti koordinatnya, Elara, kau tidak akan pernah kembali."
Elara menyandarkan punggungnya ke meja kerja, merasa tenaganya terkuras habis. Ia terjebak di antara dua singa yang ingin memperebutkannya, dan salah satunya berdiri tepat di depannya dengan tatapan yang seolah ingin menelannya bulat-bulat.
"Lalu di mana Ayah sekarang?" tanya Elara lagi, kali ini tanpa emosi yang meledak.
Julian menghela napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa perintah. Sebuah layar proyektor di ruang kerja itu menyala, menampilkan live feed dari sebuah rumah sakit pribadi di pinggiran kota Zurich. Di sana, ayah Elara tampak berbaring di atas tempat tidur medis, dikelilingi oleh peralatan canggih.
"Dia tidak diculik. Dia sedang menjalani perawatan untuk mengeluarkan chip itu darimu secara perlahan tanpa merusak sistem sarafmu. Dia membuat kesepakatan denganku, Elara. Dia menyerahkan 'Silk' kepadaku, asalkan aku menjamin keselamatanmu selamanya."
Elara menatap layar itu dengan perasaan hancur. Ayahnya berkorban begitu banyak, namun ia juga merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.
"Dan sekarang?" Elara bertanya, menatap Julian dengan tatapan kosong. "Apa langkah selanjutnya?"
Julian melangkah mendekat, kali ini ia meraih jemari Elara yang masih mengenakan cincin perak itu. "Sekarang, kau harus memutuskan. Kau bisa membenciku selamanya di dalam sangkar ini, atau kau bisa belajar memegang pedangmu sendiri di sampingku. Karena mulai besok, mereka tidak akan lagi mengincarmu sebagai umpan. Mereka akan mengincarmu sebagai musuh."
Julian merunduk, mencium kening Elara dengan sangat lembut, sebuah tindakan yang terasa seperti janji sekaligus ancaman. "Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Nyonya Moretti."