NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:703
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Kerak

Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur Jakarta, menyebarkan rona jingga yang menembus celah gorden kamar yang wangi aromaterapi mahal. Di balik selimut sutra, Andini menggeliat. Wanita berusia 23 tahun itu meraba raba, mencari ponsel keluaran terbaru yang cicilannya bahkan belum lunas. Hal pertama yang ia lakukan bukan berdoa, melainkan memeriksa jumlah likes pada unggahan foto OOTD (Outfit of the Day) tadi malam.

"Cuma dua ribu? Payah sekali," gerutunya dengan suara serak.

Ia bangkit dengan malas, melangkah menuju kamar mandi tanpa sedikit pun berniat merapikan tempat tidur. Baginya, itu adalah tugas "pelayan" rumah ini. Saat ia melewati ruang tengah, telinganya menangkap suara denting spatula dan gemericik minyak dari arah dapur. Bau asap masakan—yang bagi Andini sangat mengganggu—mulai memenuhi udara.

Andini mengernyitkan hidung. "Bau matahari lagi," gumamnya sinis.

Di dapur yang sempit, seorang pria bertubuh tegap namun tampak lelah sedang sibuk. Hilman, pria berusia 43 tahun itu, masih mengenakan kaus oblong putih yang sudah menipis di bagian bahu. Keringat membanjiri keningnya saat ia dengan telaten menata nasi goreng sederhana ke dalam kotak bekal berwarna merah muda milik Syifa.

"Syifa sudah bangun, Mas?" tanya Andini ketus, berdiri di ambang pintu dapur sambil ber sedekap dada.

Hilman menoleh, senyum tulus mengembang di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan. "Sudah, Dek. Lagi mandi sendiri. Ini Mas lagi siapkan bekal untuk dia bawa ke sekolah. Hari ini ada kelas menggambar, pasti dia lapar nanti."

Andini mendekat, melirik isi kotak bekal itu dengan tatapan jijik. Di dalamnya hanya ada nasi goreng dengan irisan telur dadar tipis dan dua potong sosis murah.

"Cuma ini?" suara Andini meninggi, memecah ketenangan pagi.

Hilman tertegun, tangannya yang sedang menutup botol minum Syifa terhenti. "Iya, uang belanja minggu ini sudah Mas alokasikan untuk bayar cicilan motor dan listrik, Dek. Tapi ini nasi goreng spesial, telurnya Mas kasih bumbu rahasia supaya Syifa suka."

Andini tertawa hambar, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Spesial katamu? Mas, lihat teman-teman sosialita ku di Instagram. Anak-anak mereka bawa bekal bento dengan hiasan salmon, brokoli impor, dan keju premium. Sedangkan anakku? Kamu kasih nasi goreng berminyak yang baunya kayak makanan warteg ini?"

"Ini sehat, Dek. Mas masak sendiri, kebersihannya terjamin," ucap Hilman pelan, mencoba meredam amarah istrinya yang sudah jadi santapan hariannya selama tujuh tahun.

"Sehat tapi memalukan!" Andini menyambar kotak bekal itu dari meja. "Kamu tahu tidak? Gengsi aku itu dipertaruhkan. Kalau ibu-ibu di sekolah Syifa lihat bekal kayak gini, mereka bakal tahu kalau suamiku itu cuma buruh rendahan yang nggak mampu beli nugget bermerek sekalipun!"

Andini melemparkan kotak bekal itu kembali ke meja hingga isinya sedikit berhamburan. Hilman hanya diam. Ia terbiasa. Hatinya mungkin sudah berubah menjadi batu karang yang tahan hantaman ombak, namun matanya tak bisa berbohong—ada luka yang ia simpan dalam-dalam.

"Mas janji, bulan depan kalau lemburan Mas cair, Mas beli bahan yang lebih bagus," kata Hilman lembut. Ia mulai memunguti butiran nasi yang tercecer dengan tangan gemetar.

"Halah! Janji terus. Dari dulu sampai sekarang, hidup kita begini-begini saja. Aku ini masih muda, Mas! Aku cantik! Seharusnya aku bersanding dengan pengusaha, bukan pria tua yang bau bawang kayak kamu!" Andini meluapkan kekesalannya sambil menghentakkan kaki.

Tepat saat itu, Syifa, gadis kecil berusia 7 tahun dengan seragam merah putih yang rapi, muncul di pintu dapur. Ia menatap ibunya dengan binar mata yang redup, lalu menatap ayahnya yang sedang berlutut membersihkan lantai.

"Ayah... bekal Syifa sudah siap?" tanya anak itu lirih.

Hilman segera berdiri, menghapus peluh di keningnya, dan tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa. "Sudah, Sayang. Ini, Ayah masukkan ke tas, ya."

Namun, sebelum Hilman sempat meraih kotak itu, Andini merebutnya kembali. "Nggak usah bawa bekal! Nanti Mama kasih uang jajan aja. Beli roti di kantin lebih keren daripada bawa nasi rames begini."

"Tapi Ma, Syifa suka nasi goreng buatan Ayah..."

"Diam kamu! Nurut sama Mama!" bentak Andini.

Hilman memegang pundak Syifa, mencoba menenangkan. "Dek, biarkan dia bawa. Uang jajannya buat tabungan Syifa saja. Mas sudah bangun jam empat pagi buat masak ini."

Andini mendengus, lalu dengan sengaja menjatuhkan kotak bekal itu ke lantai. Kali ini, tutupnya terbuka sempurna dan nasi goreng itu tumpah, mengotori ubin dapur.

"Oops. Tumpah. Sengaja," ucap Andini tanpa rasa bersalah. Ia melirik jam tangan. "Sudah jam tujuh. Sana antar Syifa! Nggak usah banyak drama. Aku mau lanjut tidur, kepalaku pusing lihat kemiskinan di rumah ini."

Andini berlalu pergi, meninggalkan aroma parfum menyengat yang beradu dengan bau nasi goreng di lantai.

Hilman terdiam kaku. Ia menatap sisa-sisa nasi goreng yang ia buat dengan penuh kasih sayang kini terinjak oleh sandal rumah Andini. Syifa mulai terisak. Gadis kecil itu berlutut, mencoba memunguti sosis yang jatuh.

"Ayah... maafin Mama ya," bisik Syifa sambil menangis.

Hati Hilman seperti diremas. Pria yang tak pernah mengeluh meski memanggul beban berat di gudang tempatnya bekerja itu, kini merasa matanya memanas. Ia berjongkok, memeluk putri kecilnya erat-erat.

"Nggak apa-apa, Nak. Ayah yang salah, masakannya kurang enak mungkin. Nanti kita beli roti di jalan, ya?" ucap Hilman dengan suara serak, mencoba tegar.

"Tapi Ayah belum sarapan. Ayah tadi bilang cuma masak satu porsi buat Syifa karena nasinya habis..." Syifa menatap ayahnya dengan iba.

Hilman tersenyum, meski perutnya sendiri keroncongan karena sejak semalam hanya minum air putih agar Andini bisa makan martabak yang diinginkannya. "Ayah sudah kenyang, Sayang. Lihat, Ayah kan kuat."

Hilman segera membersihkan lantai, lalu menggendong tas Syifa yang terasa berat. Dengan motor tua yang suaranya sudah batuk-batuk, ia mengantar anaknya menembus kemacetan kota. Di sela-sela mengemudi, Hilman sempat melirik tangannya yang kasar dan penuh kapalan.

Andini benar, pikirnya dalam hati. Aku memang tua dan tidak berguna. Tapi selagi nafasku masih ada, aku tidak akan membiarkan dia dan Syifa kekurangan, meski aku harus mengemis keringat sendiri.

Sementara itu, di rumah, Andini kembali merebahkan diri di kasur empuknya. Ia memesan kopi kekinian lewat aplikasi ojek online dengan sisa saldo terakhir di dompetnya—uang yang seharusnya digunakan Hilman untuk servis motor.

Ia tidak tahu, bahwa di balik seragam buruh yang lusuh itu, Hilman baru saja menyisihkan lembaran sepuluh ribu rupiah terakhirnya ke dalam sebuah amplop cokelat di bawah jok motor. Amplop bertuliskan: "Untuk Masa Depan Putriku dan Kebahagiaan Istriku."

Andini menutup matanya, memimpikan hidup mewah bersama pria lain, tanpa menyadari bahwa "pelayan" yang baru saja ia hina adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bersedia mati demi dirinya tetap bisa bergaya.

Pintu depan berdentum. Hilman berangkat bekerja setelah mengantar Syifa. Dia akan bekerja 12 jam hari ini, di bawah terik matahari, demi mengganti kotak bekal yang tadi tumpah dengan sesuatu yang lebih baik esok hari.

Andini mendengus dalam tidurnya, "Dasar suami nggak guna."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!