Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 kuali yang hilang da. pengkhianatan di atas batu panas
Matahari baru saja menyembul di balik menara-menara tinggi Kota Naga Emas, namun alun-alun utama sudah dipadati oleh ribuan orang. Hari ini adalah Tes Penantang Liar, kesempatan terakhir bagi para koki rakyat jelata untuk masuk ke panggung Turnamen Koki Dewa.
Han Shuo terbangun di kuil tua dengan perasaan yang tidak enak. Insting koki-nya—yang biasanya selaras dengan berat Kuali Naga Merah di punggungnya—tiba-tiba merasa hampa.
"Ying... bangun!"
Ying tersentak dari tidurnya, tangannya langsung memegang belati. "Ada apa, Bos?"
"Kuali itu... hilang."
Tempat di mana kuali itu diletakkan semalam kini kosong. Hanya ada bekas goresan di lantai dan aroma busuk yang sangat ia kenali: minyak karat. Di dinding kuil, terdapat coretan arang yang kasar: "Masaklah dengan tangan kosong, Pahlawan Pasar!"
"Geng Pisau Karat!" desis Ying marah. "Aku akan memburu mereka sekarang juga!"
"Tidak sempat," Han Shuo menatap matahari yang mulai meninggi. "Tes dimulai satu jam lagi. Jika aku tidak ada di sana saat namaku dipanggil, aku akan didiskualifikasi selamanya."
"Tapi Bos, kau tidak bisa memasak tanpa kuali itu! Itu jantung dari teknikmu!"
Han Shuo mengepalkan tangannya. "Seorang koki sejati tidak ditentukan oleh alatnya, tapi oleh api di dalam dirinya. Ayo pergi."
Bagian 1: Arena Para Elit
Alun-alun utama telah diubah menjadi dapur terbuka yang megah. Ada sepuluh meja marmer putih, masing-masing dilengkapi dengan bahan-bahan kelas satu. Di atas panggung juri, duduk tiga koki istana dengan pakaian sutra putih yang kaku.
Namun, perhatian Han Shuo tertuju pada peserta di meja paling tengah. Seorang pria muda dengan rambut perak yang diikat rapi, menggunakan jubah koki yang dihiasi benang emas. Di depannya terdapat Kuali Es Kristal, sebuah pusaka yang mampu menjaga kesegaran bahan makanan di suhu ekstrem.
Wajah pria itu membuat darah Han Shuo mendidih.
"Chen Yu..." bisik Han Shuo.
"Dia..." Ying menutup mulutnya dengan tangan. "Bukankah dia murid senior ayahmu? Orang yang melarikan diri saat Asosiasi Gourmet Kegelapan menyerbu desa kalian?"
Chen Yu menoleh, matanya yang dingin bertemu dengan mata Han Shuo. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh penghinaan. Ia mengangkat tangannya, memberi hormat dengan gerakan yang sangat formal dan palsu.
"Selamat datang, Junior Shuo," suara Chen Yu bergema lewat bantuan Qi. "Aku terkejut kau masih hidup. Dan aku lebih terkejut lagi kau berani menginjakkan kaki di sini tanpa kualimu yang berharga. Apa kau berniat memasak sup di telapak tanganmu?"
Para penonton tertawa. Para koki istana hanya memandang Han Shuo dengan tatapan meremehkan.
Bagian 2: Tema yang Mustahil
Ketua Juri, seorang pria gemuk dengan kumis panjang bernama Juri Gao, berdiri.
"Tes Penantang Liar hari ini bertema: 'Esensi Tanah yang Terlupakan'. Kalian harus membuat masakan yang menonjolkan bahan paling dasar di bumi, namun dengan rasa yang layak disajikan untuk Kaisar. Waktu kalian: Dua dupa!"
Chen Yu langsung bergerak. Ia mengambil Akar Langit Berusia Seribu Tahun dan Jamur Salju. Teknik pisaunya sangat cepat, membentuk pola bunga yang rumit. Ia menggunakan kuali es-nya untuk menciptakan tekstur yang renyah namun lembut.
Sementara itu, Han Shuo berdiri diam di depan mejanya yang kosong. Ia tidak memiliki kuali. Ia tidak memiliki pisau mewah.
Ia melihat ke sekeliling. Di sudut alun-alun, ia melihat tumpukan batu sungai yang besar dan rata yang digunakan untuk dekorasi taman.
"Ying, ambilkan aku batu itu. Dan cari kayu bakar yang paling keras yang bisa kau temukan," perintah Han Shuo.
"Batu? Bos, kau gila?"
"Lakukan saja!"
Bagian 3: Teknik Memasak Tanpa Kuali
Han Shuo mengambil sebuah ubi kayu liar dan segenggam garam kasar. Ia meletakkan batu sungai besar itu di atas api yang ia panggil langsung dari Api Jantung Bumi.
Batu itu mulai membara. Han Shuo tidak menggunakan air. Ia menggunakan teknik Konduksi Panas Absolut.
Dalam pikirannya, Han Shuo menghitung formula transfer energi:
Di mana Q adalah energi panas dari Api Jantung Bumi, m adalah massa batu, dan c adalah kapasitas panas spesifik batu tersebut. Ia harus menjaga suhu batu pada tepat 180°C agar ubi itu matang sempurna tanpa gosong.
Han Shuo mulai mengiris ubi kayu itu menggunakan... Niat Pisau. Ia tidak memegang pisau fisik. Ia mengalirkan Qi-nya ke ujung jarinya, menciptakan bilah energi yang lebih tajam dari baja manapun.
Sret! Sret! Sret!
Ubi kayu itu teriris menjadi lembaran setipis kertas. Ia menyusunnya di atas batu panas itu.
"Apa yang dia lakukan?" bisik penonton. "Dia memanggang ubi di atas batu? Itu makanan pengemis!"
Chen Yu tertawa dari kejauhan. "Hancur sudah reputasi Guru Han Feng karena anak bodoh ini."
Bagian 4: Rahasia Rasa Ketiga
Han Shuo tidak peduli. Ia mengambil Madu Hutan dan mencampurkannya dengan sedikit Bubuk Belerang Murni (sebuah teknik ekstrem untuk memberikan rasa 'asap' yang dalam).
Tiba-tiba, ia melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menggigit jarinya sendiri dan meneteskan setetes darahnya ke atas ubi yang sedang mendidih di atas batu.
[Sistem: Aktivasi Skill Pasif - 'Jiwa dalam Rasa'. Darah Koki meningkatkan afinitas elemen tanah sebesar 500%!]
Aroma mulai menyebar. Itu bukan aroma ubi biasa. Itu adalah aroma tanah setelah hujan pertama—aroma kehidupan, aroma harapan, dan aroma perjuangan.
Saat dupa kedua hampir habis, Chen Yu menyajikan masakannya: "Embun Pagi di Puncak Gunung". Sebuah hidangan estetik yang terlihat seperti karya seni kristal. Para juri memujinya setinggi langit. "Luar biasa! Rasa yang sangat bersih dan murni!" kata Juri Gao.
Kini giliran Han Shuo. Ia membawa batu sungai yang masih panas itu ke meja juri. Di atasnya, lembaran ubi kayu itu terlihat berkilau keemasan.
"Ini hanya ubi panggang?" Juri Gao mengerutkan kening. "Kau menghina kami?"
"Silakan cicipi, Tuan," kata Han Shuo tenang. "Ini adalah 'Napas Bumi yang Tertindas'."
Juri Gao mengambil selembar menggunakan sumpitnya. Begitu ubi itu menyentuh lidahnya, wajahnya berubah. Ia tidak lagi berada di alun-alun. Ia merasa seolah-olah ditarik kembali ke masa kecilnya, saat ia masih menjadi petani miskin yang memakan ubi bersama ibunya di tengah ladang.
Rasa manisnya bukan dari madu, tapi dari esensi ubi yang diperas oleh panas batu. Rasa asapnya memberikan kedalaman yang luar biasa, dan setetes darah Han Shuo memberikan "kehangatan" yang membuat jiwa bergetar.
"Ini... ini..." Juri Gao meneteskan air mata. "Ini bukan masakan. Ini adalah kenangan."
Bagian 5: Kemenangan dan Konfrontasi
Hasilnya mengejutkan. Han Shuo mendapatkan skor sempurna, mengalahkan Chen Yu yang "hanya" mendapatkan nilai hampir sempurna.
"TIDAK MUNGKIN!" Chen Yu memukul meja marmernya hingga retak. "Dia curang! Dia menggunakan darah! Itu teknik koki sesat!"
"Darahnya bukan untuk sihir, Chen Yu," suara Han Shuo dingin dan menusuk. "Darah itu adalah pengingat. Pengingat tentang desa yang kau tinggalkan, tentang guru yang kau khianati demi jabatan koki istana ini."
Han Shuo melangkah maju, mendekati Chen Yu. Aura Inti Emas-nya yang baru terbentuk mulai menekan ruangan.
"Kau pikir dengan kuali es dan bahan mahal kau bisa menjadi koki hebat? Kau hanyalah seorang tukang masak tanpa lidah. Kau tidak bisa merasakan penderitaan rakyat, karena itulah masakanmu dingin seperti hatimu."
Chen Yu gemetar. Ia ingin membalas, tapi tekanan Qi Han Shuo membuatnya tidak bisa bicara.
"Tuan Han Shuo," Juri Gao berdiri. "Kau resmi masuk ke Turnamen Koki Dewa sebagai Penantang Liar. Dan sebagai pemenang tes ini, kau berhak meminta satu hal yang masuk akal."
Han Shuo menatap Chen Yu, lalu beralih ke arah kerumunan di mana anggota Geng Pisau Karat bersembunyi.
"Aku tidak ingin emas. Aku ingin setiap koki di istana ini memasak satu hidangan untuk rakyat miskin di Distrik Akar setiap hari selama turnamen berlangsung. Dan satu lagi..."
Han Shuo menunjuk ke arah gang gelap di samping alun-alun. "Aku ingin kualiku kembali."
Tiba-tiba, seekor anjing besar (Monster Gou yang ternyata sudah sampai di Ibukota) muncul dari gang tersebut, menyeret dua anggota Geng Pisau Karat yang babak belur. Di punggung anjing itu, terikat Kuali Naga Merah.
"Kerja bagus, Gou," Han Shuo tersenyum.
Penutup: Undangan Kegelapan
Malam itu, Han Shuo duduk di atap penginapan baru yang diberikan oleh panitia. Ia berhasil melewati rintangan pertama, namun ia tahu ini baru permulaan.
Sesosok bayangan muncul di belakangnya. Itu bukan Ying.
"Kau memiliki potensi yang lebih besar dari ayahmu, Han Shuo," suara itu serak dan dalam.
Han Shuo berbalik. Seorang pria dengan jubah hitam bertanda tengkorak yang memegang garpu dan pisau berdiri di sana. Utusan Asosiasi Gourmet Kegelapan.
"Kami tidak datang untuk membunuhmu... belum. Kami datang untuk mengundangmu. Turnamen ini hanyalah panggung sandiwara. Rasa yang sebenarnya ada di Dunia Bawah. Bergabunglah dengan kami, dan kau akan tahu bagaimana rasa daging naga yang sebenarnya."
Pria itu melemparkan sebuah undangan berwarna hitam legam sebelum menghilang menjadi asap.
Han Shuo membakar undangan itu dengan api di ujung jarinya.
"Daging naga? Aku lebih suka memasak kepala kalian di kualiku."
* Pencapaian: Memenangkan Tes Penantang Liar, mendapatkan kembali Kuali Naga Merah.
* Musuh Baru: Chen Yu (Saingan pribadi), Asosiasi Gourmet Kegelapan (Organisasi).
* Kultivasi: Inti Emas 25%.
* Teknik Baru: Stone-Slab Qi Cooking (Memasak dengan medium batu dan Qi).