Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH SATU: PERMAISURI
Malam pertama yang seharusnya menjadi puncak penderitaan justru menjadi titik balik yang tak terduga bagi Seraphina. Di bawah cahaya remang kamar pengantin yang mewah, suasana mencekam itu perlahan-lahan berubah menjadi medan perang gairah di mana aturan lama tidak lagi berlaku. Orion, dengan segala kebrutalannya, telah memicu sesuatu yang terpendam jauh di dalam lubuk jiwa istrinya—sebuah naluri primitif yang kini bangkit untuk menuntut haknya.
Orion membalikkan tubuh Seraphina hingga posisi menungging, mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi dengan cengkeraman tangan yang sangat kuat pada tulang panggulnya. Area pribadi Seraphina yang memerah dan basah kini terpapar sepenuhnya di bawah tatapan lapar suaminya. "Sekarang, terimalah klaimku dari sudut yang berbeda, Nyonya Valentinus," Orion berbisik dengan suara yang parau, sembari menjilat sisa keringat di tengkuk Seraphina.
Anehnya, Seraphina yang tadinya selalu meringis menahan nyeri, kini merasakan sensasi yang sangat berbeda. Rasa perih itu seolah-olah telah bermutasi menjadi gelombang panas yang membakar perut bawahnya. Tubuhnya tidak lagi menegang karena takut, melainkan karena sebuah antisipasi yang sangat liar. Ia merasakan kelembapan di antara kedua kakinya meningkat drastis, seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang bersorak menyambut invasi yang akan segera datang.
"Jangan hanya bicara, Orion," desah Seraphina dengan suara yang serak dan penuh otoritas baru. Ia menoleh sedikit, menatap Orion dengan mata yang tidak lagi kosong, melainkan berkilat oleh tantangan. "Hujamkan milikmu sekarang. Aku ingin merasakannya memenuhi setiap inci diriku hingga tak ada celah yang tersisa."
Orion tertegun sejenak, namun senyum kemenangan segera merekah di wajah tampannya. Ia merasa sangat puas melihat bagaimana bibit kegilaan yang ia tanam telah tumbuh dengan sangat subur. Tanpa membuang waktu, ia memposisikan miliknya yang sudah menegang maksimal tepat di depan pintu masuk Seraphina yang menganga lebar.
Jleb!
Tanpa sedikit pun hambatan, Orion melesak masuk ke dalam diri Seraphina dengan satu dorongan yang sangat bertenaga. Tidak ada lagi jeritan kesakitan; yang terdengar hanyalah desahan panjang penuh kenikmatan yang keluar dari bibir Seraphina. Rasa penuh yang luar biasa itu kini terasa seperti sebuah kepastian yang ia butuhkan.
Orion mulai menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan yang mengerikan dari arah belakang. Plok! Clep! Plok! Clep! Suara benturan kulit yang basah memenuhi ruangan itu, berirama dengan deru napas mereka yang semakin memburu. Alih-alih pasrah, Seraphina justru mulai menggerakkan pinggulnya ke belakang, membalas setiap dorongan Orion dengan hentakan yang sama kuatnya, seolah sedang berusaha menelan milik suaminya lebih dalam lagi.
"Lebih keras, Orion! Jangan ragu-ragu!" Seraphina menjerit kecil, jemarinya mencengkeram sprei sutra hitam hingga buku-buku jarinya memutih. "Hantam aku hingga aku tidak bisa lagi membedakan antara langit dan bumi! Aku ingin kau menandai rahimku dengan segala yang kau miliki!"
Mendengar tuntutan itu, Orion semakin kehilangan kendali. Ia mencengkeram rambut panjang Seraphina, menarik kepalanya ke belakang sehingga punggung Seraphina melengkung indah, sementara ia terus melakukan genjotan yang sangat brutal. "Kau benar-benar telah menjadi milikku sepenuhnya, bukan? Seorang permaisuri yang hanya haus akan kehadiranku!"
"Aku adalah apa pun yang kau inginkan, Orion! Teruslah mengisiku hingga aku meluap!" Seraphina berseru dengan nada yang penuh dengan ekstasi yang membara.
Dalam ledakan gairah yang tak terbendung, Seraphina meraih tangan Orion dan membawanya ke depan. Ia berbalik dengan gerakan yang sangat fleksibel, mengunci mata Orion dengan tatapannya yang berani. Dengan gerakan yang sangat sensual dan mendominasi, ia mulai menjilati dan menghisap setiap inci dari milik Orion yang masih berdenyut di dalam genggamannya, memberikan sensasi yang membuat Orion hampir kehilangan napas.
"Kau benar-benar luar biasa, Seraphina," Orion menggeram, tangannya meremas payudara istrinya dengan sangat posesif.
Setelah beberapa saat permainan yang sangat intens, Orion kembali memposisikan Seraphina di bawahnya. Ia mengangkat kedua kaki Seraphina tinggi-tinggi hingga lutut gadis itu menyentuh bahunya, membuat area pribadinya terbuka sangat lebar. Orion menunduk, menggunakan lidahnya untuk memberikan rangsangan yang sangat cepat dan tajam pada titik paling sensitif Seraphina, membuat gadis itu menjerit histeris dalam orgasme yang datang berkali-kali.
"AAAHHH! ORION! CUKUP... NNGGHH... SAYA TIDAK TAHAN LAGI!" Seraphina melengkung hebat, tubuhnya bergetar dalam gelombang kenikmatan yang seolah-olah tidak ada habisnya. Namun, Orion belum selesai. Ia segera kembali menyatukan tubuh mereka, menghujam Seraphina dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Malam itu, kamar pengantin tersebut menjadi saksi bisu atas lahirnya sebuah kecanduan yang sangat parah. Mereka berganti posisi berkali-kali, dari misionaris yang penuh tekanan, hingga gaya yang menuntut kekuatan fisik luar biasa, di mana Seraphina melingkarkan kakinya di pinggang Orion sementara pria itu terus melakukan genjotan sembari berdiri. Tidak ada lagi rasa malu; yang ada hanyalah kebutuhan untuk saling menghancurkan dan membangun kembali di dalam kenikmatan.
Seraphina telah berubah total. Ia tidak lagi melihat Orion sebagai monster yang menakutkan, melainkan sebagai sumber dari segala sensasi yang kini menjadi candu baginya. Ia menuntut lebih banyak, mencakar punggung Orion, membisikkan kata-kata yang memicu adrenalin suaminya, dan memastikan bahwa tidak ada satu detik pun malam itu yang terbuang sia-sia tanpa penyatuan.
"Isi aku, suamiku! Aku ingin merasakan benihmu membanjiri seluruh diriku!" Seraphina meraung di puncak gairahnya.
Orion mencapai klimaksnya dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan. Ia memuntahkan seluruh isinya ke dalam rahim Seraphina dengan semprotan yang sangat panas dan melimpah, membuat Seraphina kembali mengejang hebat di bawah dominasinya. Mereka berdua terkapar dengan napas yang terengah-engah, tubuh yang basah kuyup oleh peluh dan sisa-sisa penyatuan yang liar.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Seraphina berbaring di pelukan Orion dengan senyum puas yang menghiasi bibirnya yang bengkak. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang kini penuh dengan ketergantungan yang gelap.
"Kau benar-benar telah menaklukkanku, Orion," bisik Seraphina, sembari menjilat bibir suaminya dengan nakal.
"Dan kau telah menjadi kecanduan paling indah dalam hidupku, Seraphina," balas Orion dengan suara yang serak, mencium kening istrinya dengan sangat posesif.
Malam itu berakhir, namun bagi mereka berdua, ini hanyalah awal dari sebuah kehidupan baru yang akan dipenuhi dengan kegilaan gairah yang tak terhingga. Seraphina bukan lagi korban; ia adalah rekan dalam kegelapan yang Orion ciptakan.