"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: SISA LUKA DAN KEHANGATAN YANG ASING
BAB 8: SISA LUKA DAN KEHANGATAN YANG ASING
Malam di kediaman Adiwangsa tidak pernah sesunyi ini bagi Alana. Meskipun ia kini berada di dalam kamar yang luasnya mungkin lima kali lipat dari rumah kontrakan sempit yang ia tinggali bersama Raka dulu, Alana merasa dadanya masih sesak. Ia duduk di tepi ranjang berseprai sutra setinggi lutut, jemarinya meraba permukaan kain yang halus, namun pikirannya melayang pada kenangan pahit tiga tahun terakhir.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia masih bisa mendengar suara pintu yang dibanting keras oleh Raka. Ia masih bisa merasakan dinginnya lantai dapur tempat ia sering menangis sendirian saat Ibu Mira menghinanya karena belum juga memberikan cucu. Trauma itu tidak hilang hanya karena ia kini mengenakan gaun mahal. Luka itu masih di sana, berdenyut di balik kulitnya yang pucat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar—seorang wanita cantik dengan perhiasan mewah, namun matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan seorang tawanan.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka sedikit setelah ketukan lembut itu terdengar. Alana tersentak, bahunya menegang secara otomatis—sebuah refleks pertahanan diri yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun hidup di bawah ancaman. Namun, yang muncul bukanlah wajah bengis Raka, melainkan sosok tinggi Kenzo yang berdiri dengan santai di ambang pintu.
"Aku melihat lampu balkonmu masih menyala. Kupikir kau sedang bicara dengan bulan," ucap Kenzo dengan suara baritonnya yang tenang, tidak ada sedikit pun nada mengancam di sana.
Alana mencoba tersenyum, meski terlihat sedikit kaku. "Aku hanya... belum terbiasa dengan keheningan ini, Kenzo. Selama tiga tahun, malamku selalu diisi dengan suara makian atau tangisan. Sunyi yang terlalu tenang ini justru terasa menakutkan bagiku. Seolah-olah badai besar akan datang setelah ini."
Kenzo tidak langsung masuk ke dalam ruang pribadi Alana. Ia menunggu Alana memberikan anggukan kecil sebagai kode sebelum akhirnya melangkah mendekat. Ia tidak duduk di ranjang bersama Alana, melainkan menarik sebuah kursi tunggal berbahan beludru dan duduk di hadapannya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk menciptakan suasana yang intim dan aman.
"Keheningan itu bukan musuhmu, Alana. Itu adalah ruang bagimu untuk mulai mendengar suaramu sendiri lagi. Suara yang selama ini ditenggelamkan oleh ego pria pengecut itu," kata Kenzo. Ia menatap Alana dengan saksama, matanya yang tajam seolah bisa melihat setiap retakan di jiwa wanita itu. "Tanganmu... kenapa kau terus meremasnya sampai memutih begitu?"
Alana tersadar dan segera melepaskan genggaman tangannya sendiri yang sudah terasa kaku. "Kebiasaan lama. Aku selalu cemas setiap kali ada pria yang masuk ke kamarku. Raka biasanya masuk hanya untuk menagih sesuatu, mengeluh tentang uang, atau memarahiku karena hal sepele. Bagiku, pintu yang terbuka berarti masalah."
Mata Kenzo berkilat dingin sejenak saat nama Raka disebut, namun ia segera menekan emosinya agar tidak menakuti Alana. Ia mengulurkan tangannya di atas meja kecil di antara mereka, telapak tangannya terbuka ke atas, sebuah tawaran diam yang tidak memaksa.
"Aku bukan dia, Alana. Aku tidak akan pernah memintamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Dan aku berjanji, mulai malam ini, tidak akan ada lagi suara pintu yang dibanting dalam hidupmu. Kau aman di sini. Kau aman bersamaku."
Alana menatap tangan Kenzo. Ada keraguan yang besar, sebuah dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun untuk melindungi dirinya dari rasa sakit. Namun, dorongan di hatinya jauh lebih kuat. Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Kenzo. Tangan pria itu besar, hangat, dan sangat stabil. Sangat berbeda dengan tangan Raka yang kasar dan sering gemetar karena amarah yang tidak terkontrol.
"Kenapa kau begitu baik padaku?" tanya Alana lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. "Kita bahkan baru bertemu kembali secara resmi beberapa hari ini. Kenapa kau mau repot-repot menjagaku, melawan media, bahkan mengurusi mantan suamiku?"
Kenzo mengusap punggung tangan Alana dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat pelan dan menenangkan, seolah-olah ia sedang memoles sebuah permata yang sangat berharga. "Karena sepuluh tahun lalu, saat kau hilang dari radar kami, aku kehilangan satu-satunya alasan yang membuatku ingin tetap menjadi manusia baik. Aku mencarimu ke seluruh penjuru negeri, Alana. Setiap sudut kota aku datangi, namun takdir seolah mempermainkan kita. Dan melihatmu menderita di tangan pria serendah Raka adalah kegagalan terbesarku. Membantumu sekarang bukan sebuah kerepotan, itu adalah misi hidupku untuk menebus waktu yang telah dicuri darimu."
Alana tertegun. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang masa lalu itu—masa di mana ia masih seorang gadis kecil yang ceria sebelum kecelakaan merenggut ingatannya—namun rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya. Kehangatan tangan Kenzo seolah menjadi obat bius yang meruntuhkan benteng pertahanannya yang terakhir.
"Tidurlah," bisik Kenzo dengan nada yang sangat lembut. "Aku akan tetap di sini, di kursi ini, sampai kau benar-benar terlelap. Aku tidak akan pergi ke mana-mana sampai aku yakin mimpi burukmu tidak akan berani mendekat lagi."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Alana tidur tanpa rasa takut akan apa yang akan terjadi esok hari. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, di bawah langit malam yang sama, badai lain sedang dipersiapkan oleh orang-orang yang hatinya penuh dengan kedengkian.
Di sebuah sudut kumuh Jakarta yang jarang tersentuh cahaya lampu jalan, di sebuah penginapan murah yang dindingnya dipenuhi jamur dan bau asap rokok, Raka duduk berhadapan dengan ibunya, Mira. Siska duduk di samping Raka, sibuk mengelap kuku-kukunya yang sudah tidak lagi berkilau karena ia tidak punya uang lagi untuk pergi ke salon mewah.
"Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, Raka! Alana itu milik kita! Dia itu mesin uangmu selama tiga tahun!" Mira memukul meja plastik yang berminyak itu dengan keras hingga gelas di atasnya bergetar. "Bagaimana bisa kau membiarkan dia dibawa oleh pria asing itu? Dan apa itu? Tujuh kakak sultan? Ibu yakin itu hanya akal-akalannya saja untuk mencuri hartamu yang tersisa dan membalas dendam!"
Raka meneguk minuman keras murah dari gelas plastiknya, wajahnya tampak sangat kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya. "Mereka punya pengacara hebat, Bu. Semua asetku dibekukan secepat kilat. Aku bahkan tidak bisa menyewa pengacara kelas dua untuk melawan mereka. Alana bukan lagi wanita lemah yang bisa aku gertak dengan suara keras. Dia punya pelindung di setiap sisi."
Siska mendengus sinis, matanya berkilat penuh iri hati. "Itu karena ada pria bernama Kenzo itu yang melindunginya. Kalian lihat cara Kenzo menatap Alana? Itu bukan tatapan kasihan, itu tatapan pria yang ingin memiliki. Kenzo itu kaya raya, jauh lebih kaya dari kamu bahkan di masa kejayaanmu dulu, Raka. Kalau kita mau menghancurkan Alana, kita harus menjauhkan dia dari Kenzo terlebih dahulu."
Mira menyipitkan matanya yang licik, pikirannya mulai merangkai skema busuk. "Kenzo Dirgantara... Ibu tahu sedikit tentang keluarganya. Mereka adalah bangsawan bisnis lama. Mereka sangat menjaga kehormatan dan nama baik di atas segalanya. Jika kita bisa membuat skandal yang memalukan tentang Alana—sesuatu yang membuat keluarga Dirgantara merasa jijik dan terhina—maka Kenzo pasti akan membuang Alana seperti sampah busuk ke jalanan."
"Skandal apa lagi, Bu? Dia sekarang dilindungi tujuh naga Adiwangsa," tanya Raka, mulai menunjukkan ketertarikan.
"Tentang masa lalunya di panti asuhan sebelum kau menikahinya," jawab Mira dengan senyum yang menyerupai iblis. "Ingatkah kau saat kita menjemputnya dulu untuk kau jadikan istri pelayan? Ada desas-desus bahwa Alana pernah terlibat dalam kasus pencurian besar di sana, atau setidaknya sesuatu yang cukup memalukan untuk dicatat oleh pengurus panti. Kita hanya perlu memoles ceritanya sedikit, menambahkan beberapa bukti foto palsu yang terlihat meyakinkan, dan menyebarkannya ke portal media gosip. Keluarga Adiwangsa mungkin akan membelanya mati-matian, tapi keluarga Kenzo? Mereka tidak akan mau menerima menantu yang punya label pencuri dan penipu."
Siska tertawa kecil, ia merasa rencananya akan berhasil. "Aku punya koneksi dengan seorang editor di situs gosip 'Lambe Elit'. Jika Ibu punya 'bukti' atau setidaknya narasi yang kuat, aku bisa menjamin besok pagi wajah suci Alana akan memenuhi beranda berita dengan judul: 'Putri Adiwangsa yang Ternyata Residivis Panti Asuhan'. Bayangkan betapa malunya dia saat masuk kantor besok."
Raka mengepalkan tangannya, rasa cemburu dan dendamnya memuncak. "Lakukan, Bu. Hancurkan dia sampai ke akar-akarnya. Aku ingin dia merangkak kembali kepadaku, memohon ampunan karena tidak ada satu pun pria terhormat di dunia ini yang mau melirik wanita dengan masa lalu kriminal."
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah tidak tahu akan ada badai fitnah yang menerjang. Alana terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar dari biasanya. Ia turun ke ruang makan megah di lantai satu, di mana ketujuh kakaknya sudah berkumpul dengan kesibukan mereka masing-masing.
Elvan tampak sedang membaca laporan keuangan di tabletnya, sementara Bastian sedang berbicara serius di walkie-talkie-nya soal pengawalan hari ini. Saat Alana melangkah masuk dengan setelan blazer kantor berwarna putih tulang yang sangat elegan, semua aktivitas itu berhenti seketika.
"Selamat pagi, Tuan Putri kita!" sapa Gio, si bungsu yang selalu ceria. "Wajahmu jauh lebih cerah hari ini. Apakah tempat tidur sultan lebih empuk daripada kasur busa di rumah lamamu?"
Alana tersipu sedikit sambil mengambil duduk di kursi yang ditarikkan oleh pelayan. "Pagi, Kak. Aku hanya... merasa tidur lebih tenang saja. Terima kasih sudah mengizinkanku kembali ke sini."
"Itu sudah kewajiban kami, Al," sahut Elvan tanpa mengalihkan pandangan dari laporannya. "Hari ini adalah hari pertamamu masuk ke kantor sebagai pemilik baru Ardiansyah Group yang sekarang sudah berganti nama menjadi Adiwangsa Alana Corps. Aku ingin kau menunjukkan pada seluruh karyawan di sana bahwa kau adalah pemilik sah, bukan lagi sekadar istri direktur yang bisa mereka remehkan."
Alana mengangguk mantap. Namun, baru saja ia hendak menyuapkan potongan roti ke mulutnya, Satya—kakak keenam yang merupakan jenius IT—mendadak menghentikan jarinya yang sedang menari di atas layar ponsel. Wajahnya yang biasanya santai kini berubah menjadi sangat tegang dan dingin.
"Ada apa, Satya? Kau melihat hantu di ponselmu?" tanya Bastian menyadari perubahan suasana.
Satya tidak menjawab, ia justru memutar layar ponselnya ke tengah meja agar semua orang bisa melihat berita utama yang sedang viral.
Di sana, sebuah berita utama dari situs portal berita terbesar di Indonesia terpampang nyata dengan foto Alana yang sengaja dibuat buram namun tetap bisa dikenali:
"EKSKLUSIF: SISI GELAP SANG PUTRI YANG BARU DITEMUKAN. ALANA ADIWANGSA TERNYATA PERNAH TERLIBAT KASUS PENCURIAN DAN PENIPUAN DI PANTI ASUHAN? KELUARGA ADIWANGSA TERTIPU?"
Berita itu memuat narasi panjang tentang bagaimana Alana dulu sering mencuri perhiasan milik pengurus panti dan menyalahkan anak-anak lain. Fitnah itu dibuat seolah-olah Alana adalah seorang psikopat kecil yang licik.
BRAKK!
Elvan memukul meja makan dengan tangan kirinya hingga sendok dan garpu berdenting keras. "Siapa yang berani menyentuh adikku dengan cara serendah ini?!"
Alana merasa darahnya berdesir hebat. Ia menatap foto itu dengan nanar. Ia ingat masa-masa sulit di panti, tapi ia tidak pernah mencuri sepeser pun. Itu adalah fitnah yang sangat kejam yang dirancang untuk membunuh karakternya tepat saat ia ingin bangkit.
"Ini pasti kerjaan keluarga Raka," desis Bastian dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya. "Mereka ingin merusak reputasi Alana tepat di hari ia akan mengambil alih perusahaan."
Alana merasakan matanya memanas, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin menangis. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, mengingat setiap kata-kata Kenzo semalam tentang kekuatan dan jati dirinya.
"Kak," suara Alana terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan yang terkontrol di dalamnya. "Jangan hapus berita itu. Biarkan saja."
"Apa?! Al, ini akan merusak namamu di depan para pemegang saham!" seru Gio tidak terima.
"Kalau kita langsung menghapusnya, publik akan mengira itu benar dan kita sedang melakukan sensor," jelas Alana dengan mata yang berkilat tajam. "Biarkan mereka menyebarkannya. Aku ingin tahu siapa saja pengkhianat di kantor yang ikut mendukung berita ini. Aku akan berangkat ke kantor sekarang juga. Jika mereka ingin melihat 'pencuri' ini, maka aku akan menunjukkan bagaimana cara seorang Adiwangsa 'mencuri' kembali semua harga diri yang mereka injak-injak."
Elvan menatap adiknya dengan tatapan bangga yang tidak bisa disembunyikan. "Kau benar-benar darah Adiwangsa, Alana. Strategimu jauh lebih dewasa dari yang kupikirkan."
Tiba-tiba, ponsel Alana di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Kenzo. Alana mengangkatnya dengan cepat.
"Kau sudah lihat sampah yang mereka sebarkan pagi ini?" tanya Kenzo langsung, suaranya terdengar sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju.
"Sudah," jawab Alana pendek.
"Jangan masuk lewat pintu belakang, Alana. Pakai pintu utama. Aku sedang dalam perjalanan menuju kantormu sekarang. Kita akan masuk bersama-sama di depan seluruh wartawan. Aku ingin dunia tahu bahwa siapa pun yang mencoba memfitnahmu, berarti sedang berhadapan dengan seluruh aset Dirgantara dan Adiwangsa sekaligus."
Alana tersenyum, sebuah senyum kemenangan yang pertama kalinya muncul di wajahnya. "Aku menunggumu di lobi, Kenzo. Mari kita bersihkan sampah-sampah ini."