Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. Titah baru
Valerine masuk ke kamar pribadinya dan bersiap untuk beristirahat. Namun saat hendak berbaring, ia merasakan sesuatu dari balik rak-rak bukunya—sebuah getaran halus, nyaris tak terdeteksi, tetapi cukup untuk membuat naluri sihirnya bereaksi.
Ia berbalik perlahan. Tangannya terulur ke samping, dan udara di sekitarnya langsung membeku. Kristal-kristal es berputar, membentuk tombak ramping yang memancarkan hawa dingin menusuk.
Langkahnya tenang dan pelan.
Dan tepat saat ia hendak menyerang—
Sesosok muncul dari balik rak.
“Maya!” teriak Valerine jengkel. Tombak es itu langsung menguap menjadi serpihan cahaya. “Apa yang sedang kamu lakukan disitu? Mencari tikus?”
Maya ikut terlonjak kaget, lalu terkekeh pelan sambil menunduk hormat.
“Maaf, Yang Mulia. Rak-rak buku sudah mulai berdebu. Hamba membersihkannya agar Yang Mulia tidak flu.”
“Flu?” Valerine memijat dahinya. Ia hampir tertawa karena pusing. Perhatian Maya memang tulus… tapi berlebihan. Mana ada penyihir flu?
“Aku tidak akan flu. Tenang saja.”
Maya mendekat dan menggandeng lengannya, lalu berbisik seolah tembok pun bisa mendengar.
“Yang Mulia… hamba dengar kemarin Yang Mulia dan Archduke menghabiskan waktu berdua di perpustakaan?”
Valerine langsung melotot.
“Kamu mendengar rumor bodoh seperti itu dari mana?”
“Oh… jadi hanya rumor?” Maya tersenyum tipis, mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
Valerine mengangguk cepat. Lebih baik mematikan gosip sekarang daripada membiarkannya tumbuh menjadi cerita liar versi Maya sendiri.
Ia menghela napas panjang sambil memegang kepalanya. Sungguh ironis—ia bisa membekukan seluruh danau dalam hitungan detik, tetapi tak mampu menghentikan satu pelayan tukang gosip.
...***...
TOK. TOK. TOK.
Ketukan di pintu terdengar lebih cepat dari biasanya. Mendesak.
“Masuk,” ujar Arthur tanpa menoleh dari jendela.
Sebastian melangkah masuk dengan wajah serius. Di tangannya ada satu perkamen lagi, kali ini bersegel merah kekaisaran.
“Yang Mulia, surat baru dari Istana. Tiba sepuluh menit lalu.”
Arthur menerimanya tanpa berkata apa-apa. Ia membuka segel dan mulai membaca. Setiap baris yang ia lewati membuat ekspresinya semakin mengeras.
...----------------...
Dari: Kanselir Kekaisaran, Marcus Fellborn
Kepada: Arthurian Vancroft, Archduke Valcrest
Perihal: Duel Kemenangan Seremonial – Perayaan Kekaisaran
Dengan hormat,
Sebagai bagian dari Perayaan Kemenangan Kekaisaran atas Alam Iblis, Yang Mulia Kaisar akan mengadakan serangkaian acara peringatan di Istana Aurelius.
Salah satu tradisi kekaisaran adalah Duel Seremonial antara para juara kekaisaran, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah berkorban.
Mengingat kontribusi luar biasa Anda dalam mengalahkan Dewa Iblis Zarathos, Yang Mulia Kaisar dengan hormat meminta Anda untuk berpartisipasi dalam duel seremonial melawan:
Jenderal Viktor Stormbreaker
Komandan Legiun Ketiga Kekaisaran
Ahli Pedang Tingkat Tinggi.
Format Duel:
Hanya ilmu pedang (tanpa sihir)
Berakhir saat darah pertama tertumpah atau salah satu menyerah
Disaksikan oleh seluruh Dewan Kerajaan
Tanggal: 9 Kalon 1457
Waktu: 14.00
Lokasi: Arena Agung Kekaisaran
Kami memahami bahwa Anda masih dalam masa pemulihan. Jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan, Anda diperkenankan menolak dengan melampirkan surat resmi dari Tabib Kerajaan yang menyatakan Anda tidak layak bertarung.
Namun demikian, penolakan tanpa bukti medis yang sah akan… diinterpretasikan dengan cara tertentu oleh Istana. Dan sedikit tambahan untuk sidang dewan Kekaisaran sudah diputuskan untuk dijadikan satu dengan acara kali ini.
Hormat kami,
Kanselir Kekaisaran Marcus Fellborn
...----------------...
Arthur membaca surat itu dua kali.
Lalu ia tertawa—suara pahit yang lebih mirip batuk tertahan.
“Mereka sangat hebat,” katanya pelan, meletakkan perkamen itu dengan hati-hati di atas meja. Seolah-olah yang disentuhnya bukan kertas, melainkan bom yang belum meledak.
“Mereka sangat… sangat luar biasa.”
Sebastian menatapnya dengan jelas-jelas khawatir.
“Yang Mulia, ini jelas jebakan. Jika Anda menolak, itu sama saja mengonfirmasi bahwa Anda lemah—”
“Dan memberikan amunisi sempurna untuk Torrhen, Blackwell, dan Ashford di sidang Dewan besoknya,” potong Arthur tenang. “Ya. Aku tahu.”
Ruangan itu terasa lebih sempit.
“Tapi jika Anda menerima…” Sebastian berhenti sejenak, seolah tak yakin ingin melanjutkan.
“Aku harus berduel dengan salah satu pendekar pedang terbaik di Kekaisaran,” lanjut Arthur sendiri.
Ia menatap tangannya.
Tangan itu bergetar halus.
“Dengan tubuh yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang ini tanpa gemetar.”
Keheningan menggantung.
“Ini bukan undangan,” ujar Arthur lirih. “Tapi aku sendiri yang menyerahkan diri untuk dieksekusi .”
Ia berjalan menuju kursi dan duduk perlahan. Tiba-tiba rasa lelah menekan bahunya seperti beban tak terlihat.
“Siapa yang merancang ini?” tanyanya.
“Chancellor Fellborn hanya penanda tangan,” jawab Sebastian. “Tapi proposal duel seremonial ini diajukan oleh—”
“Count Ashford,” Arthur menyelesaikan, tanpa perlu berpikir.
Sebastian mengangguk suram.
“Diajukan seminggu lalu. Disetujui Kaisar tiga hari lalu. Waktunya… sangat tepat dengan panggilan Kekaisaran kepada Anda.”
Arthur tersenyum tipis. Senyum tanpa sedikit pun kehangatan.
“Serigala alfa memang tidak pernah mengecewakan. Tidak menyerang langsung… tapi menciptakan situasi di mana aku harus bunuh diri secara politik, atau bunuh diri secara harfiah.”
Ia menatap surat itu lagi.
“Jika aku menolak dengan surat tabib, itu pengakuan resmi bahwa aku lemah. Torrhen dan Blackwell akan mencabik-cabikku di sidang.”
“Jika aku menolak tanpa surat, itu penghinaan terhadap Kaisar. Permainan selesai seketika.”
“Jika aku menerima dan kalah…” Ia mengembuskan napas perlahan. “Itu bukti nyata bahwa The Crimson Aegis tidak lagi seperti dulu.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
“Dan jika aku menerima dan entah bagaimana bisa menang…”
Ia terdiam.
Bahkan kemungkinan itu terdengar tidak masuk akal.
Jenderal Viktor Stormbreaker adalah peringkat keempat pendekar pedang di Kekaisaran. Dalam kondisi prima, Arthur yang lama bisa mengalahkannya dengan mata tertutup.
Tapi sekarang?
Sekarang ia hampir tak mampu mengangkat pedang tanpa tangannya gemetar.
“Masih ada 7 hari,” bisik Arthur, lebih kepada dirinya sendiri.
Empat hari untuk memulihkan tubuhnya hingga setidaknya cukup kuat berdiri di arena tanpa mati di tempat.
Tiga hari untuk menyiapkan strategi.
Ia mengangkat kepala perlahan. Tatapannya berubah—lelah, ya. Tapi juga mulai tajam.
“Sebastian.”
“Yang Mulia?”
“Panggil Kepala Tabib. Dan kirim orang untuk memanggil Kapten Pengawal malam ini juga.”
Sebastian sedikit terkejut. “Anda akan…?”
“Aku tidak akan menolak.” Suaranya datar. “Jika ini permainan mereka, maka aku akan mengubah arah papan catur.”
Ia berdiri, meski kakinya terasa berat.
“Viktor mungkin peringkat keempat dalam ilmu pedang.”
Arthur memandang tangannya lagi—yang masih bergetar.
“Tapi duel tidak selalu dimenangkan oleh yang paling kuat.”
Senyum tipis kembali muncul.
“Kita hanya perlu memastikan dia tidak menyadari kapan dia mulai kalah.”
DING.
╔══════════════════════════════════╗
║ 【QUEST UTAMA DIPERBARUI】 ║
╚══════════════════════════════════╝
Misi: Bertahan dari Panggilan Kekaisaran
Tujuan Baru Ditambahkan:
► Menang (atau setidaknya tidak kalah secara memalukan) dalam Duel Seremonial melawan Jenderal Viktor Stormbreaker
Format: Ilmu pedang saja, tanpa sihir
Penonton: Seluruh Dewan Kerajaan
Kegagalan \= Bunuh diri politik
Tingkat Kesulitan: EKSTREM
.
...----------------...
Arthur menutup jendela sistem itu dengan gerakan frustrasi.
“Fantastis,” gumamnya datar. “Seolah sidang Dewan belum cukup membuatku stres.”
Sebastian menatapnya dengan kekhawatiran yang tulus.
“Yang Mulia, dengan kondisi Anda saat ini, bahkan dengan Pil Pemulihan Energi, saya tidak yakin—”
“Aku tahu.” Arthur mengangkat tangan, menghentikannya. “Aku tahu, Sebastian. Percayalah, aku sangat sadar betapa kacau situasi ini.”
Ia berdiri lagi—gerakannya lambat dan perlahan. Setiap langkah seperti sedang menghemat tenaga.
“Tapi kita punya tujuh hari. Tujuh hari untuk mencari cara agar aku bisa selamat dari duel tanpa mati… dan selamat dari sidang tanpa kehilangan segalanya.”
Arthur menatap jam matahari di dinding. Bayangan jarumnya sudah condong ke sore.
“Berapa lama sampai makan malam?”
“Dua jam, Yang Mulia. Duchess Valerine telah mengatur makan malam pribadi untuk Anda berdua di Aula Makan Utara.”
Arthur mengangguk pelan.
Makan malam pribadi dengan Valerine.
Di sana mereka harus membahas semuanya—Dewan Kekaisaran, tiga serigala politik, duel seremonial, dan bagaimana bertahan dari satu minggu neraka yang terencana rapi.
Dan mereka harus melakukannya sambil menjaga hubungan yang baru saja mulai mencair dari dinginnya jarak dan kesalahpahaman.
“Baiklah,” kata Arthur akhirnya. “Terima kasih atas semua ini, Sebastian. Kau sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa.”
Sebastian membungkuk.
“Saya hanya menjalankan tugas, Yang Mulia.”
“Tidak. Kau melakukan lebih dari itu.” Tatapan Arthur tulus. “Dan aku menghargainya.”
Sebastian tersenyum kecil—senyum yang benar-benar sampai ke mata.
“Saya akan menyiapkan berkas tambahan tentang Jenderal Stormbreaker—gaya bertarung, kelemahan, rekam jejak. Mungkin kita bisa menemukan celah.”
“Itu akan sangat membantu.”
Dengan satu hormat terakhir, Sebastian keluar, meninggalkan Arthur sendirian.
Ruangan itu dipenuhi dokumen tentang musuh-musuhnya, linimasa yang hampir mustahil, dan tantangan yang secara realistis bisa membunuhnya—baik secara politik maupun harfiah.
Arthur menatap tangan kanannya.
Tangan yang dulu mampu mengayunkan pedang cukup cepat untuk membelah kilat.
Sekarang, tangan itu gemetar halus saat mencoba menggenggam.
Ia mengepalkan jari perlahan. Gemetar itu belum hilang.
“Enam hari,” gumamnya pelan. “Enam hari untuk menjadi cukup kuat agar tidak dipermalukan di arena.”
Ia berbalik menuju kamar tidur bagian dalam, langkahnya tenang namun berat. Tempat tidur besar dengan tirai tebal menunggunya—satu-satunya tempat di mana ia bisa menurunkan topeng Archduke sejenak.
Aku butuh istirahat sebelum makan malam dengan Valerine.
Arthur duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.
“Baiklah,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Jika ini permainan bertahan hidup… maka aku tidak punya pilihan selain naik level.”
...***...
Aku memutuskan untuk pakai bahasa Indonesia secara keseluruhan. Soalnya, walaupun keren banget waktu pakai bahasa inggris. Tapi capek banget.
Royal Council Meeting Extraordinary \= Rapat dewan Kekaisaran
Demon God Zarathos \= Dewa iblis Zarathos
🤭🤭