NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara itu, di sebuah aula megah yang tersembunyi di dalam gua bawah tanah, Menteri Wei sedang berlutut di depan sebuah tirai hitam. Di balik tirai itu, duduklah Dewa Tanpa Nama.

"Guru Besar Mo Kuan telah memberikan pelajaran pada bocah itu," ucap Menteri Wei dengan suara gemetar.

"Apakah kita tidak sebaiknya langsung mengambil tiga permata sisanya?"

"Tidak," suara Dewa Tanpa Nama terdengar seperti gesekan dua bilah pedang. "Biarkan dia tetap membawa permata itu."

Dewa Tanpa Nama kemudian melemparkan sebuah gulungan kepada Menteri Wei.

"Kirimkan ini kepada Pendekar Tapak Hitam. Katakan padanya, jangan bunuh Liang Shan, tapi hancurkan seluruh tulang kakinya. Aku ingin dia merangkak menuju Puncak Langit Terlarang."

Kisah ini kini memasuki fase yang tragis. Liang Shan, yang sebelumnya terlihat sangat kuat, kini harus menanggung beban fisik yang luar biasa. Ia sering jatuh pingsan di tengah jalan. Han Xiang harus menggendongnya di atas tandu darurat yang ditarik oleh kuda mereka.

Suatu malam, di sebuah kuil tua yang bocor, Liang Shan terbangun dan melihat Han Xiang sedang menangis sambil menjahit luka di punggungnya, sementara Yue Niang sedang berlatih kecapi hingga jari-jarinya berdarah demi menciptakan nada pelindung yang lebih kuat.

Rasa bersalah yang besar menghujam jantung Liang Shan.

"Aku hanya pembawa sial bagi kalian," bisik Liang Shan parau.

Han Xiang berhenti menjahit dan menatap Liang Shan dengan mata yang tajam.

"Jika kau menyerah sekarang, maka semua darah yang telah tumpah, termasuk darah Ayahmu, akan menjadi sia-sia. Kami tidak mengikutimu karena kau kuat, Liang Shan. Kami mengikutimu karena kau adalah harapan terakhir untuk kebenaran di dunia yang busuk ini."

Liang Shan terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, menyadari bahwa perjalanannya kali ini bukan lagi tentang dendam pribadi, melainkan tentang bertahan hidup demi mereka yang percaya padanya.

Ia mulai mencoba mempraktikkan teknik Napas Kosong yang diajarkan Hong Chi. Tanpa menggunakan energi dari dalam tubuhnya, juga mencoba merasakan getaran angin, tetesan air hujan, dan detak jantung bumi.

Secara perlahan, sebuah kekuatan baru—yang bukan berasal dari racun maupun tenaga dalam—mulai tumbuh di dalam dirinya.

***

Tujuh hari kemudian, saat mereka mencapai Jembatan Pemutus Jiwa yang menuju wilayah Utara, sosok yang ditakuti itu muncul.

Pendekar Tapak Hitam berdiri di tengah jembatan. Tangannya yang hitam pekat memancarkan uap beracun yang mematikan rumput di sekitarnya.

"Liang Shan," kata Pendekar Tapak Hitam dengan suara yang terdengar dingin.

"Aku tidak akan membunuhmu hari ini. Tapi aku hanya akan mengambil kedua kakimu sebagai bahan persembahanku."

Liang Shan turun dari tandu dengan perlahan. Ia berdiri tegak, meskipun kakinya gemetar hebat.

Ia tidak menghunus senjata, hanya menutup matanya, menarik napas panjang, dan mencoba menyatu dengan alam sekitarnya.

"Aku tidak menggunakan tenaga dalam," bisik Liang Shan. "Tapi alam ini memiliki tenaganya sendiri."

Pendekar Tapak Hitam tertawa meremehkan, lalu melesat maju dengan pukulan tapak hitamnya yang legendaris.

Melihat lawan yang sudah menerjang, Liang Shan mulai menarik napas dengan pola yang ganjil. Dadanya tidak naik turun secara teratur, melainkan bergetar halus.

Ini adalah Teknik Napas Kosong. Alih-alih menarik energi dari pusat tenaga, Liang Shan justru mencoba menjadikan tubuhnya sebagai saluran bagi energi alam.

Lalu, dia menggeser kakinya sedikit, sebuah gerakan yang sangat efisien dan minim energi. Tepat saat telapak tangan musuh hampir menyentuhnya, Liang Shan memutar tubuhnya dan menyentuh pergelangan tangan Pendekar Tapak Hitam dengan ujung jarinya.

WUSHH!!!

Pendekar Tapak Hitam terkejut. Pukulannya yang mengandung tenaga dalam ribuan kati seolah-olah menghantam kekosongan.

Energinya terseret oleh gerakan tangan Liang Shan yang lembut, lalu berbalik arah menghantam dirinya sendiri.

"Ilmu macam apa ini?!" bentak Pendekar Tapak Hitam. Ia mundur tiga langkah, matanya menyipit penuh selidik.

"Ini adalah kehendak angin," bisik Liang Shan parau. Namun, saat ia bicara, setetes darah merembes dari sudut matanya. Teknik Napas Kosong ternyata membebani saraf matanya secara ekstrem.

Sementara itu, di ujung jembatan, Han Xiang dan Yue Niang menyaksikan dengan jantung yang berdebar kencang. Han Xiang tahu benar bahwa Liang Shan sedang bermain dengan maut.

Teknik itu memang meminjam kekuatan alam, namun tubuh manusia memiliki batas sebagai wadahnya.

"Yue Niang, kita tidak bisa diam saja," bisik Han Xiang. "Jika dia melakukan satu gerakan lagi yang melampaui batas, jiwanya akan tercerai-berai sebelum tubuhnya mati."

Yue Niang mengangguk. Wajahnya yang biasanya lembut kini mengeras oleh tekad. Ia memposisikan kecapinya di atas pangkuan, lalu duduk bersila di tanah yang dingin.

Gadis itu mulai memetik dawai dengan teknik terlarang: "Melodi Penukar Nyawa".

Setiap dentingan kecapi yang dikeluarkan Yue Niang kini tidak lagi terdengar merdu, melainkan seperti suara logam yang beradu.

Yang mengerikan, setiap kali ia memetik dawai, ujung jarinya pecah dan darahnya meresap ke dalam kayu kecapi kuno itu.

Tanpa diketahui oleh Liang Shan, Yue Niang sedang mentransfer vitalitas hidupnya sendiri menjadi energi pelindung bagi pemuda itu.

Di atas jembatan, Liang Shan merasakan sebuah kehangatan lembut menyelimuti punggungnya.

Pendekar Tapak Hitam yang merasa terhina karena serangannya dipatahkan oleh seorang "orang cacat", kini mengamuk. Ia segera mengeluarkan jurus pamungkasnya.

"Seribu Bayangan Tapak Iblis!"

Setelah itu, seluruh jembatan tertutup oleh bayangan telapak tangan hitam yang berbau busuk. Udara menjadi beracun, burung-burung yang terbang di atas jembatan jatuh mati seketika.

Liang Shan menutup mata sepenuhnya. Dalam kegelapan, ia melihat aliran udara yang berputar-putar akibat gerakan lawan, tidak hanya itu, dia juga melihat titik-titik lemah di tengah badai serangan itu.

Liang Shan tidak menyerang balik dengan pukulan, justru menancapkan kakinya ke kayu jembatan yang rapuh.

Dengan teknik Napas Kosong, ia menarik getaran dari dasar jurang melalui tiang-tiang jembatan.

"Alam semesta tidak mengenal benci, namun ia menghancurkan apa yang tidak selaras!"

Lalu, Liang Shan mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Tidak ada cahaya yang meledak ataupun suara dentuman. Namun, udara di depannya mendadak memadat menjadi sebuah dinding transparan yang sangat keras.

BRAKK!!!

Benturan itu mengguncang seluruh gunung. Jembatan kayu mulai runtuh. Pendekar Tapak Hitam berteriak saat hawa saktinya sendiri yang beracun terpental balik ke arahnya oleh dinding udara buatan Liang Shan.

"Tidak mungkin! Arghh!"

Tubuh Pendekar Tapak Hitam terlempar ke belakang, namun dengan licik ia melemparkan sebuah belati beracun ke arah Han Xiang sebelum jatuh ke dasar jurang.

Liang Shan melihat belati itu melesat. Dalam kondisi tubuh yang hancur, ia tidak punya waktu untuk berpikir. Ia memaksakan satu ledakan tenaga dalam terakhir, sebuah tindakan bunuh diri secara medis.

Liang Shan berhasil menangkap belati itu dengan tangannya, namun sebagai gantinya, pembuluh darah di sekujur tubuhnya pecah.

Ia jatuh tersungkur, darah membanjiri lantai kayu jembatan yang tersisa.

1
jhoni
parah bnget jalan cerita nya, bnr" d luar nurul... mc nya lemah jg keracunn trus musuh" nya kekuatan nya d atas mc, ending nya mo bikin ke ajaiban ya thor bwt mc nya bebas dari racun trus ranah nya meningkat dratis🤣🤣🤣🤣
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
mcnya terlalu lemah terluka parah terus Thor... kurang menarik bacanya
asri_hamdani
bukannya lidahnya udah dipotong Mentri Wei 🤔
asri_hamdani
Menarik, cerita wuxia classic 👍
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ini cerita silat clasic...🤔🤔😀😀
Junn Badranaya: Benar, kak
total 1 replies
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
nyimax....🤔🤭
jhoni
ne mc nya ga bs d sembuhin apa tu racun nya, lawan nya aja d luar nurul Thor🤭
Junn Badranaya: Bisa kak, wkwk. Kan itu ujian buat dia bisa lebih tragis🤣
total 1 replies
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!