NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 : Restoran Burung Patikan

...Happy Reading^^...

...💮...

Sudah beberapa jam kami berada di dalam kereta kuda. Aku, Mama dan Bibi Edel banyak bercanda dan berbincang sepanjang jalan.

Aku juga tidak lagi melihat pemandangan di luar jendela, karena jalan yang tadi kami lewati penuh dengan pasir kering dan debu. Jadi, setiap kuda jalan maka pasir itu akan bertebaran hingga masuk ke dalam kereta.

Oleh karena itu, Kusir kuda menyarankan untuk menutup kaca jendela dan menutup juga dengan kain agar kami tidak melihat pemandangan penuh debu yang membuat sesak nafas.

Namun, tiba-tiba saja kereta kuda berhenti membuat kami bertiga terkejut.

Apa ini seperti yang ada di novel-novel yang pernah aku baca? Perampokan?

Aku mengedor kusir yang ada di depan. "Pak Kusir! Ada apa?!" seruku bertanya cukup panik, namun tidak ada jawaban.

Tok! Tok! Tok!

Kaca jendela kami diketuk. Kami saling menoleh seakan sama-sama bertanya 'siapa itu?' dan 'siapa yang akan membukanya?' tapi pada akhirnya aku memberanikan diri membuka kain jendela dan membuka kacanya.

Terlihat yang mengetuk itu adalah Kak Asher. Melihat wajah tampan dengan surai cokelat itu membuatku lega.

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti? Kukira tadi kita dirampok!" semburku membuka semua pemikiran burukku pada kak Asher.

Kening Kak Asher berkerut. "Hapus pemikiran negatifmu itu, adik! Di belakang kita ada beberapa prajurit yang menjaga, jika pun ada perampok maka mereka akan melawan prajurit kita itu. Terlebih kamu tidak mendengar suara kegaduhan atau sabetan pedang orang sedang bertarung, kan?"

Aku hanya memberikan senyum pada Kak Asher. "Iya juga sih,"

"Lalu kenapa kita berhenti?"

"Keluarlah! Kita akan makan siang dulu di sini, karena hari sudah siang. Setelah itu kita akan melanjutkan kembali perjalanan," jelas Kak Asher sambil membuka pintu kereta kuda.

Aku menoleh pada Mama dan Bibi Edel. "Kita makan dulu,"

"Ya, karena sudah siang juga. Kita sudah berjam-jam di kereta kuda,"

Aku mengangguk setuju mendengar ucapan Mama.

Kak Asher mengulurkan tangan untuk membantu menuruni kereta kuda, akulah yang dulu keluar dari kereta kuda.

Begitu sudah keluar dari kereta, aku langsung menoleh ke belakang di mana banyak prajurit yang tampaknya baru turun dari kuda mereka. Ternyata benar apa kata Asher, ada prajurit yang melindungi mereka dari bekakang.

Tapi saat berangkat tadi, aku tidak melihat mereka?

Lalu pandanganku mengarah ke sebuah tempat makan yang cukup besar di depanku.

"Wah, besar juga!" pujiku kagum.

Tempat ini mirip restoran di dunia modern dengan dua tingkat disertai furnitur burung Patikan. Warna tempatnya seperti melihat pantai, ditambah lagi ada Burung Patikan di berbagai sudut.

Aku melirik ke arah samping gedung, di mana lebar ke belakangnya cukup luas.

Aku menoleh pada Kak Asher yang telah membantu Mama dan Bibi Edel turun dari kereta.

"Kak Asher! Ini restoran apa?" tanganku menunjuk restoran di depan kami. Kak Asher menoleh padaku begitu pun Mama dan Bibi Edel.

"Nama Restoran ini adalah Restoran Patikan, karena pemilik Restoran ini sangat menyukai burung Patikan. Oleh karena itu, dia memberi nama Restoran miliknya dengan nama burung yang sangat dia sukai itu. Restoran Patikan," aku menoleh pada Papa yang berjalan mendekat padaku. Di belakang Papa ada dua kusir kuda dari dua kereta yang membawa kami.

"Tapi Papa...entah kenapa Restoran ini terlihat aneh bagiku," aku menatap tempat yang terlihat mewah itu.

"Aneh kenapa?"

"Nama burung yang biasanya ada di pesisir pantai atau Pelabuhan gitu, tapi kenapa Restorannya ada di tengah Hutan begini? Seharusnya Restoran seperti ini ada di dekat pantai atau Pelabuhan atau perairan gitu?" aku menatap bingung pada pria dewasa yang masih menatap Restoran itu.

"Ucapanmu itu sedikit benar," papa menjawabnya dengan nada biasa membuatku bingung.

"Apa yang benar?"

"Restoran yang ada di depan kita ini adalah cabang dari Restoran utamanya. Restoran utamanya terdapat di dekat Pelabuhan milik keluarga kita, karena di dekat situlah banyak orang bertempat tinggal dan banyak orang bekerja. Jadi, memang benar aneh menurutmu. Bagaimana Restoran yang terlihat seperti Restoran dekat Pantai dan cocoknya ada di dekat Perairan. Tapi yang ini malah ada di tengah hutan dan pepohonan tanpa ada satu pun warga desa yang bertempat tinggal di dekat sini,"

"Lalu kenapa Papa bawa kami ke sini dan bukan langsung ke Pelabuhan?"

"Ya, karena Papa lapar!" seru pria itu dengan senyuman lebar, lalu mengambil tangan Mama yang berdiri di sampingku sebelum berjalan menuju pintu masuk Restoran.

Aku terngaga dengan tingkah Papa. Lalu Bibi Edel berkomentar sambil berjalan melewatiku. "Ini sebabnya aku kurang menyukai sikapnya."

Lalu tanganku ditarik lembut oleh Asher mengikuti langkah mereka masuk ke Restoran. "Ayo!"

^^^💮^^^

Begitu masuk, aku terkejut melihat apa yang terdapat di dalamnya. Begitu banyak furnitur Ikan Patikan dari gambar burung itu di guci, foto yang terpajang di dinding, ukiran burung Patikan di meja dekat dinding bahkan meja serta kursi pelanggan juga terdapat gambar atau ukiran burung Patikan.

Ini sih pemiliknya bukan sekedar mencintai atau sekedar suka semata dengan burung Patikan.

Tapi sudah dalam tahap obsesi berlebihan dengan burung tersebut.

Lalu aku melihat seorang pria paruh baya, lebih tua dari Papa menjabat tangan Papa lalu tangan Mama.

"Selamat datang di Restoran saya! Terima kasih telah mampir kemari, Tuan Count beserta keluarga. Saya senang kalian mampir ke Restoran ini," oh ternyata Pria ini yang terobsesi pada burung Patikan-maksudku pria ini pemilik Restoran unik ini?

"Terima kasih atas sambutannya, Tuan Harold. Padahal kami hanya mampir sebentar untuk makan siang,"

Pria itu tertawa mendengar ucapan Papa. "Jangan begitu, Tuan Count. Anda dan keluarga sudah menyempatkan waktu untuk makan siang ke sini. Awalnya saya mengira anda akan memesan di Restoran pusat dekat Pelabuhan, mengingat anda ingin pergi ke sana. Tapi anda malah memesan Restoran ini yang ya sepi pengunjungnya," pria itu menjelaskan sambil tertawa.

Papa pun tersenyum menanggapinya. "Ya, aku sudah memperkirakan waktu makan siang dari berangkat sampai sampai ke Pelabuhan. Karena jarak yang ditempuh kereta kuda lama...jadi aku memesan Restoran di tengah hutan ini karena takut anggota keluargaku kelaparan,"

Mendengar jawaban Papa, membuatku menoleh cepat padanya dengan wajah bingung sekaligus tidak terima. Bukannya Papa yang bilang lapar tadi? Dan yang lainnya seperti Mama, Bibi Edel dan kak Asher juga menatap Papa dengan wajah tidak terima.

Lalu Papa mengenalkan Pria itu pada Aku, Kak Asher dan Bibi Edel.

"Baiklah, perkenalkan ini Edelweiss Miravale. Kakak tertua di keluarga istri saya," pria paruh baya itu berjabat tangan dengan Bibi Edel.

"Harold Roth,"

"Edelweiss Miravale,"

"Lalu ini kamu pasti kenal, putraku Asher Lorienfield. Count Muda kebanggaan Wilayah ini!" Papa menepuk bangga pada pundak Kak Asher yang berdiri di sebelah kirinya.

"Tentu saja! Tuan muda Lorienfield, kita pernah beberapa kali bertemu tapi tidak sempat berkenalan. Saya adalah Harold Roth,"

"Tentu saja tuan. Terima kasih telah menyambut kami,"

Papa kini beralih memegang pundakku yang berdiri di sebelah Kak Asher. "Lalu yang terakhir adalah Putri keluarga kami tercinta. Satu-satunya Nona Muda Wilayah ini Azalea Lorienfield," aku tersipu dengan perkenalan Papa untukku.

"Wah, manis dan cantik sekali," puji pemilik Restoran yang bernama Harold itu. Kami berjabatan tangan sebentar seperti Bibi Edel dan Kak Asher.

"Terakhir kali aku melihatnya adalah saat perayaan satu tahunnya, saat anda mengundang saya sebelum pelayaran bertahun-tahun saya ke laut. Itu artinya Nona Azalea sudah berumur tujuh belas tahun bukan?"

Oh, ternyata pria ini sempat bertemu Azalea saat Azalea asli masih bayi?

"Iya, dia sudah berumur tujuh belas tahun. Dia akan menghadiri upacara kedewasaan yang akan diadakan di Istana Kekaisaran beberapa bulan yang akan datang,"

Ucapan Papa itu membuat aku dan Kak Asher reflek saling berpandangan. Karena semua ini berawal dari Upacara Kedewasaan Kekaisaran tersebut.

"Baiklah kalau begitu. Mari! Saya antarkan ke meja kalian."

Akhirnya kami mengikuti pemilik Restoran itu yang membawa kami ke meja khusus. Para bawahan seperti Ajudan Papa dan Kak Asher, Dayang Mama, kedua kusir kereta sampai para prajurit yang melindungi kami sepanjang jalan juga dilayani oleh pelayan Restoran ini.

...💮...

Setelah selesai makan, kami semua keluar dari Restoran kecuali Papa yang masih tinggal untuk membayar sekaligus berbincang dengan Pemilik Restoran ditemani oleh Mama.

Lalu, aku berhenti berjalan karena merasakan ada yang menarik gaun musim panasku dari belakang. Aku menoleh ke belakang.

"Hei! Lepaskan gaun Nona Azalea, anak kecil!" seru salah satu prajurit.

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story^^...

...Dipublikasikan pada tanggal 6 Febuari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!