Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Ayah Kandung dan Ibu Sambung Qinqin
Jauh dari hiruk-pikuk Kediaman Wushian di Barat, Negara Bagian Timur Gozuang menyimpan kemegahan yang berbeda. Di sini, angin laut membawa aroma rempah dan kemakmuran. Warga nya sebagian besar berprofesi sebagai pelaut dan ada beberapa yang menjadi administrasi di dermaga.
Di balik gerbang tinggi Kediaman Menteri Perdagangan, Xu Manchu, suasananya justru tampak lesu dan berat.
Xu Manchu, sang Menteri yang pernah berjaya, kini hanya bisa bersandar di kursi malasnya. Wajahnya yang dulu tegas kini tampak pucat dan tirus akibat penyakit paru-paru menahun yang tak kunjung sembuh. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan riasan wajah yang halus namun menyimpan tatapan dingin, sedang mengupas buah pir dengan sangat telaten. Ia adalah Nyonya Bai, istri kedua Xu Manchu.
Xu Manchu terus batuk berulang. Tangan nya cekatan mengambil air daun mint di cawan untuk meredakan batuk nya. Namun, hal itu tidak berpengaruh apapun. Ia justru terbatuk makin parah.
"Uhuk, uhuk." Detik berikut nya, batuk Xu Manchu mengeluarkan darah.
"Suamiku, minumlah obat ini. Kau harus segera pulih demi masa depan Xu Feng," ujar Nyonya Bai dengan nada bicara yang sangat lembut, seolah ia adalah istri yang paling berbakti di dunia. Ia membantu mengelap darah di tangan suami nya.
Xu Manchu terbatuk kecil, menerima cawan obat itu dengan tangan gemetar. "Bagaimana kabar Qinqin di Barat? Sudah berbulan-bulan aku tidak menerima surat darinya. Apakah Jenderal Wu memperlakukannya dengan baik?"
Nyonya Bai tersenyum manis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Tentu saja, Suamiku. Terakhir kali aku mendapat kabar melalui tangan kananmu, Qinqin sangat bahagia di sana. Dia bilang Jenderal Wu sangat memuja kecantikannya dan dia kini hidup seperti ratu. Dia bahkan meminta maaf karena terlalu sibuk mengurus kediaman Jenderal hingga tidak sempat menulis surat langsung padamu."
Mendengar itu, Xu Manchu menghela napas lega. Ia tidak pernah tahu bahwa semua surat rintihan minta tolong yang dikirimkan Qinqin---sebelum jiwa baru itu masuk---telah dibakar habis di halaman belakang oleh orang kepercayaannya sendiri yang kini telah dibeli oleh Nyonya Bai.
Bagi Nyonya Bai, Qinqin adalah duri dalam daging. Sejak ibu kandung Qinqin meninggal dunia saat Qinqin masih kecil, Nyonya Bai bertekad menyingkirkan putri sulung itu agar seluruh harta kekayaan Xu Manchu jatuh ke tangan putra kandungnya, Xu Feng. Pernikahan Qinqin dengan Jenderal Wu Lian pun sebenarnya adalah rencana liciknya agar Qinqin jauh dari jangkauan sang ayah.
"Ayah! Lihat, aku baru saja menguasai teknik pedang baru!" seru seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun yang masuk ke ruangan dengan angkuh. Dia adalah Xu Feng.
Nyonya Bai memberikan isyarat mata agar Xu Feng tidak terlalu berisik. "Hush, Ayahmu sedang butuh ketenangan, Feng'er."
"Tidak apa-apa," sahut Xu Manchu lemah. "Feng'er, kau harus rajin berlatih. Kakakmu sudah menjadi istri seorang Jenderal besar, kau tidak boleh mempermalukan nama keluarga Xu."
Xu Feng mendengus pelan, matanya berkilat penuh kebencian setiap kali nama Qinqin disebut. "Tentu, Ayah."
Setelah memastikan Xu Manchu tertidur karena pengaruh obat yang sudah dicampur ramuan penenang, Nyonya Bai melangkah keluar menuju paviliun pribadinya. Di sana, seorang pria berpakaian hitam yang tampak seperti utusan rahasia sudah menunggu di kegelapan bayang-bayang pilar.
"Bagaimana?" tanya Nyonya Bai, suaranya kini berubah tajam dan penuh wibawa.
"Lapor Nyonya, ada laporan aneh dari Barat. Xu Qinqin yang biasanya lemah tiba-tiba berubah drastis. Dia berani melawan Nyonya Wu dan sekarang menempati paviliun tamu. Jenderal Wu Lian pun mulai menaruh perhatian padanya," lapor utusan itu.
Nyonya Bai meremas sapu tangan sutranya hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa? Gadis bodoh itu berani memberontak? Jika dia sampai mendapatkan hati Jenderal Wu, maka posisi Feng'er dalam bahaya. Jenderal Wu bisa saja mengirim pasukan ke Timur untuk menyelidiki kondisi Menteri Xu jika Qinqin mengadu."
Nyonya Bai menoleh ke arah utusan itu dengan tatapan membunuh. "Kirim orang tambahan. Aku tidak peduli bagaimana caranya, pastikan berita tentang kondisi asli Menteri Xu tidak pernah sampai ke telinganya. Dan jika dia menjadi terlalu berbahaya..."
Wanita itu menjeda kalimatnya, lalu memberikan isyarat gerakan menggorok leher.
Tanpa mereka sadari, di balik dinding paviliun, seorang pelayan tua yang dulu pernah mengabdi pada ibu kandung Qinqin tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Tangannya gemetar hebat, ia tahu nyawanya dalam bahaya jika ketahuan.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂