Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Rumahku Istanaku.
.
Matahari telah bergeser ke arah barat ketika Almira turun dari kamarnya. Ia berniat duduk santai di ruang tengah, suntuk juga rasanya kalau terus-terusan berada dalam kamar. Namun, begitu mencapai lantai bawah, ia memejamkan mata sejenak, menahan desahan. Pemandangan di hadapannya sungguh membuatnya naik darah. Lantai kotor, ruang makan berserakan, dapur bagai kapal pecah. Sedangkan para tersangka dalam kerusuhan itu tampak acuh tak acuh, seolah semua itu bukan urusan mereka.
Dulu, ketika ia masih hanya berdua dengan Gilang, ia akan dengan senang hati membereskan kekacauan seperti ini. Tapi sekarang? Tidak. Ia tidak akan peduli lagi.
Dengan santai, Almira duduk di salah satu sofa di ruang tengah. Di sofa panjang tak jauh darinya, ia melihat Lila bergelayut manja di lengan Gilang. Senyum sinis tersungging di bibir Lila, seolah merasa menang karena bisa menguasai Gilang. Namun, Almira tak peduli. Biarlah mereka bermesraan sepuasnya. Hatinya telah mati rasa.
Namun, tanpa Lila sadari, Gilang mengepalkan tangannya erat, menahan kekesalan. “Kenapa Mira terlihat biasa saja? Apa dia tidak merasa cemburu, melihat aku bermesraan dengan Lila?” Batin Gilang bertanya-tanya.
Melihat Almira yang ikut duduk di antara mereka, Bu Rosidah menatap sengit. “Seharian di kamar saja, kaya ayam lagi mengeram," sindirnya. “Mata kamu buta, ya? Gak lihat apa rumah kotor kayak gitu. Dasar menantu tidak berguna!"
Almira mendengar, tapi seolah tuli. Hingga Riana berteriak. “Mira, kamu budeg ya? Gak dengar ibu ngomong?!"
Almira dengan perlahan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel lalu menatap ke arah Riana dengan wajah polos. "Kalian ngomong sama aku?” Almira menunjuk hidungnya sendiri.
“Kalau bukan kamu siapa?” bentak Riana geram. “Bersih-bersih sana! Jadi menantu itu yang berguna sedikit! Minimal kalau gak bisa kasih anak, kasih tenaga! Dasar! Sudah mandul tak tahu diri pula!"
"Kalian yang bikin kotor, kalian yang makan, kenapa aku yang harus bersih-bersih?" Almira masih bersikap cuek bahkan menaikkan satu paha di atas paha lainnya. Tatapannya beralih ke arah Gilang.
"Sepertinya aku benar-benar perlu lapor polisi deh, Gilang," ucapnya santai.
Mendengar ucapan Almira, Gilang langsung menegang. "Maksud kamu apa?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupan.
"Polisi?” Bu Rosidah dan Riana bertanya tak mengerti, sementara Lila yang sudah paham langsung menekuk wajahnya.
Almira tersenyum sinis. "Seperti yang aku bilang kemarin. Jika ingin keluargamu tinggal di sini, tahu aturan. Atau…"
Jantung Gilang berdebar kencang. Ancaman Almira benar-benar membuatnya panik. Jika sampai Almira benar-benar melaporkan ke polisi, habislah riwayatnya.
"Jangan gila, Mira!" bentak Gilang, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh Bu Rosidah dan Riana.
Almira tertawa sinis. "Gila? Aku atau kalian yang gila? Sekarang, kau tahu apa yang harus kau lakukan? Atur keluarga dan istri mudamu!"
“Ma, Riana, Lila. Ayo kita bereskan semuanya!" Gilang berdiri dengan wajah kusut. Selama ini ia tak pernah tahu urusan bersih-bersih. Tapi sejak kemarin ia terpaksa turun tangan.
“Apa maksudmu?" tanya Bu Rosidah. Suaranya menggelegar karena merasa tidak terima.
“Kamu atau aku yang jelaskan?" Almira menatap ke arah Gilang.
Gilang menatap ke arah ibunya dan memberi pengertian. Pria yang awalnya berpikir, Almira akan jinak jika berhadapan dengan ibunya, kini mendesah lelah.
"Enak saja! Ibu tidak Sudi!" teriak Bu Rosidah setelah mendengar ancaman Almira. “Kamu itu jangan lemah, Gilang! Kamu itu laki-laki. Harusnya kamu yang mengatur istri, bukan sebaliknya."
“Dan kamu! Kamu itu jadi istri harus nurut sama suami, juga harus berbakti pada mertua. Sok gaya-gayaan lapor polisi segala. Kamu mau saya usir dari rumah ini?!”
Ancaman yang membuat Almira tertawa geli. "Ibu mau ngusir saya dari rumah ini?” tanyanya masih sambil tertawa.
"Tentu saja! Aku tidak Sudi punya menantu yang tidak berguna. Sudah tidak bisa hamil, durhaka pula!” Bu Rosidah semakin kesal dengan sikap Almira yang seolah meremehkannya.
"Wah… Gilang? Ibumu mau mengusirku? Apa kamu tidak bercerita, siapa pemilik rumah ini? Atau jangan-jangan kamu mengakui ini sebagai hasil kerja kerasmu, supaya kamu dianggap hebat, ya?" tanya Almira dengan santai menatap Gilang sambil menyangga dagu.
“Tentu saja ini memang milik anakku,” sahut Bu Rosidah. “Hasil kerja sebagai manager senior di perusahaan besar. Kalau bukan, memangnya punya kamu? Wanita pengangguran aja belagu."
"Wah… benarkah? Hebat sekali anakmu, Bu?” sindir Mira sambil bertepuk tangan pelan.
“Mira…?" panggil Gilang gugup. “Hal seperti ini bukankah tidak seharusnya dibahas. Kita ini suami istri. Harta kita adalah milik kita bersama.” Berbicara sambil menatap Almira penuh permohonan.
“Enak saja!” Sahut Almira cepat. "Justru harus dibahas supaya jelas. Supaya orang yang terlalu percaya diri bisa sadar diri."
Almira lalu menatap ke arah Bu Rosidah, Riana, dan Lila bergantian. “Dengar ya, kalian semua, terutama ibu mertua yang terhormat! Rumah ini adalah milikku. Di beli dengan menggunakan uang tabunganku dan juga hasil penjualan perhiasanku. Dan dibeli juga menggunakan namaku! Jadi, kalian tahu artinya?"
Jeduar!
"Apa…?!”
"Tidak mungkin…!"
Bu Rosidah dan Riana berteriak bersamaan.
Sementara Lila tersandar lemas. Tangannya yang sejak awal menggelayut di lengan Gilang pun perlahan melonggar.
“Sekarang, pilih mana? Bereskan kekacauan, pergi dari rumah ini, atau tunggu polisi datang untuk membawa Gilang dan istri mudanya?!"
Akhirnya, mereka berempat bergerak untuk membereskan kekacauan yang mereka buat sendiri. Bu Rosidah dan Riana menggerutu sepanjang waktu, namun tak ada pilihan lain. Almira, dengan senyum sinis yang tersembunyi, membiarkan mereka berkutat dengan pekerjaan rumah yang selama ini selalu ia lakukan.
Bu Rosidah mengumpat kasar sambil menyapu lantai. "Dasar menantu tidak berguna! Bisanya cuma ongkang-ongkang kaki saja," gerutunya, melirik tajam ke arah Almira yang duduk santai di sofa.
Riana menyahut dengan nada yang sama kesalnya, "Benar, Bu. Padahal dulu dia itu penurut. Kok sekarang jadi suka membantah gitu sih? Mana pake ngancam lagi. Sebel aku!"
Lila, yang sedang mencuci piring kotor, hanya bisa mendengus kesal. Ia merasa diperalat dan direndahkan. Padahal, ia pikir kedatangan ibu mertua bisa membuatnya menjadi menantu kesayangan. Ternyata malah mertuanya itu seperti kucing yang gak punya kuku dan taring.
“Dan kamu, Gilang?” Bu Rosidah menarik lengan Gilang dengan kasar hingga jarak mereka merapat. "Emangnya bener, rumah ini punya si Mira?” Bu Rosidah berbisik pelan menahan kesal.
Gilang tak mampu menjawab. Hatinya dipenuhi oleh amarah karena Almira telah mempermalukan dirinya di depan ibu dan adiknya. Padahal selama ini ia dengan begitu bangga menceritakan kesuksesan hidup di kota dengan pekerjaan mentereng.
Sementara di ruang tengah, Almira tiba-tiba teringat bahwa ia memiliki beberapa pakaian kotor yang belum dicuci. Begitu juga dengan kamarnya yang sejak kemarin belum ia bersihkan. Galau efek pengkhianatan membuatnya malas bergerak. Karena itu, ia berniat memanggil tenaga jasa kebersihan yang selama ini menjadi langganannya.
Tangannya lincah mengetik pesan pada nomor yang ada dalam ponselnya
"Mbak Rini, bisa datang ke rumah saya sekarang gak?"
“Sekarang, Bu Mira? Bisa, bisa. Kebetulan saya juga baru selesai istirahat." Balasan datang dengan cepat.
"Baguslah! Aku tunggu, ya, Mbak? Oh iya, nanti kalau ada keluarga saya yang bertanya, Mbak bilang aja kalau Mbak Rini itu suruhan dari Sifa, teman aku. Gitu ya, Mbak?" tulis Almira dalam pesannya.
"Siap, Bu. Beres pokoknya! Rini mah apa yang gak bisa?"
Almira tergelak membaca jawaban Rini. Rini memang orangnya ceria. Usianya juga masih sangat muda. Lima tahun di bawah Almira. Sepertinya ... seusia dengan Lila. Dan almira juga tak pernah membedakan status, meskipun Rini hanya seorang pekerja.
Kini ia hanya perlu menunggu kedatangan gadis itu. "Sudah saatnya aku memanjakan diri. Berleha-leha dan dilayani.”
semangat thor