Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Rahasia Penginapan Awan Merah
Gerbang raksasa Kota Nancheng berdiri kokoh di hadapan Ji Zhen, memancarkan kemegahan yang jauh melampaui gerbang Sekte Qingyun yang terasing. Hiruk-pikuk pedagang, derap kereta kuda, dan hilir mudik para kultivator dari berbagai benua menciptakan suasana kehidupan yang bising. Ji Zhen menarik napas dalam-dalam sebelum tersenyum setelah merasakan qi yang lebih padat sekaligus lebih liar berbaur dengan aroma rempah-rempah dan logam yang ditempa.
Di sampingnya, Yang Huiqing berdiri dengan santai. Sesuai dengan perjanjian awal mereka sebelum melewati gerbang, jika gadis itu harus membuang jauh-jauh sikap tunduk yang berlebihan di depan orang-orang. Alhasil Huiqing mengenakan senyum profesional, tampak seperti rekan bisnis yang ceria atau pelayan senior yang kompeten, bukan lagi budak yang ketakutan.
“Ingat,” bisik Ji Zhen tanpa menoleh. “Tampilkan dirimu yang dulu. Jika kau terlihat menyedihkan, orang-orang akan mulai bertanya, dan aku tidak punya waktu untuk menjelaskan sejarah pengkhianatanmu.”
“Aku mengerti,” jawab Yang Huiqing tenang, suaranya kembali memiliki nada percaya diri yang palsu.
Mereka menyusuri jalanan utama yang dilapisi batu granit halus, mencari Penginapan Awan Merah yang pernah disarankan oleh Yun Xia. Tidak sulit menemukannya, sebuah bangunan tiga lantai dengan lampion merah besar yang bergantung di setiap sudut berdiri mencolok di area yang cukup elit namun tidak terlalu bising.
Saat melangkah masuk, aroma kayu kering dan teh melati menyambut mereka. Seorang gadis dengan rambut dikuncir dua dan wajah yang penuh semangat menyapa dari balik meja kasir. Dia adalah Shi Shu, sahabat dekat Yun Xia.
“Selamat datang di Awan Merah! Butuh kamar atau sekadar minum untuk melepas lelah?” sapanya riang.
Ji Zhen mengetuk meja kayu dengan jemarinya. “Aku mencari Yun Xia. Kami bertemu di perjalanan beberapa waktu lalu, dan dia menyarankan tempat ini.”
Shi Shu memiringkan kepalanya, matanya berbinar. “Oh! Teman Yun Xia? Tunggu sebentar, aku panggilkan dia. Dia sedang di dapur!”
Tak lama kemudian, Yun Xia muncul dengan pakaian yang lebih sederhana, tidak lagi mengenakan jubah mewah klan yang pernah Ji Zhen lihat. Begitu melihat Ji Zhen, wajahnya memucat sejenak. Sebelum Shi Shu sempat menyebut namanya dengan keras, Yun Xia melesat maju dan segera membekap mulut sahabatnya itu dengan telapak tangan.
“Jangan berteriak, Bodoh!” bisik Yun Xia tajam ke telinga Shi Shu yang kebingungan.
Yun Xia menatap Ji Zhen dengan tatapan memohon sekaligus waspada, lalu memberi isyarat agar mereka mengikuti menuju ruang tengah penginapan yang lebih privat.
Uap tipis mengepul dari cangkir-cangkir teh porselen yang tersaji di atas meja. Yun Xia duduk dengan bahu yang tampak tegang, sementara Shi Shu masih menggerutu sambil mengusap pipinya yang sempat terjepit.
“Maaf soal tadi,” Yun Xia memulai, suaranya ditekan selembut mungkin. “Keluargaku tidak boleh tahu aku ada di sini. Di Nancheng, aku hanyalah seorang pengelola penginapan biasa dengan nama samaran. Identitas Klan Yun adalah kutukan bagiku saat ini.”
Shi Shu menimpali sambil menyodorkan kunci kamar. “Karena kau sudah menyelamatkan si keras kepala ini, aku berikan kamar istimewa di lantai atas dengan harga sangat bersahabat. Dan untukmu,” ia melirik Yang Huiqing dengan ramah, “kamarmu tepat di sebelah temanmu ini.”
Obrolan pun berlanjut, dan melalui keluhan Shi Shu serta desahan Yun Xia, kebenaran pun terkuak. Yun Xia nekat kabur dari klan karena ia dijadikan tumbal aliansi politik. Ia dipaksa menikah dengan seorang kultivator tua dari Klan Zhongwei hanya demi memperkuat pengaruh wilayah, sama seperti yang dulu ia ceritakan pada Ji Zhen.
“Aku lebih baik mati atau hidup sebagai pelayan daripada harus menjadi istri kelima pria tua bangka yang sudah bau tanah itu,” ucap Yun Xia dengan nada getir yang kental.
Ji Zhen hanya mendengarkan tanpa ekspresi berlebihan. Sebenarnya, ada bagian dari dirinya yang merasa sedikit simpati, namun suara Zulong di kepalanya jauh lebih berisik.
“Jangan berani-berani ikut campur urusan klan besar, Bocah,” omel Zulong. “Ingat tujuan utamamu ke sini. Fondasimu retak parah, sirkulasi qi-mu berantakan. Kau butuh sumber daya, bukan menjadi pahlawan bagi gadis yang sedang merajuk pada keluarganya.”
Ji Zhen tahu Zulong benar. Membantu Yun Xia berarti berhadapan dengan Klan Yun dan Klan Zhongwei sekaligus. Terlalu berisiko bagi orang yang meridiannya bahkan masih terasa perih setiap kali mencoba bermeditasi.
“Aku tidak akan memaksa untuk tahu lebih banyak,” ujar Ji Zhen datar, menyesap tehnya. “Aku di sini untuk urusanku sendiri. Bicara soal itu, apakah ada kabar tentang turnamen yang akan diadakan di kota ini?”
Shi Shu tiba-tiba menjadi sangat antusias, ia meracau cepat ke arah Yun Xia. “Ah! Benar! Hadiahnya! Yun Xia, bukankah kau bilang artefak itu bisa memotong aliran qi musuh? Bayangkan jika kita memilikinya!”
Ji Zhen menajamkan pendengarannya. “Apa yang baru saja kau katakan?”
Shi Shu berkedip, tampak bingung. “Eh? Apa? Aku baru bicara apa ya?”
Gadis itu memang pelupa jika sedang terlalu bersemangat. Yun Xia menghela napas, lalu menengahi. “Hadiah turnamen Nancheng kali ini memang istimewa. Biasanya hanya berupa obat-obatan atau batu roh, tapi kali ini penyelenggara mengeluarkan artefak berbentuk pedang pusaka. Konon, pedang itu memiliki kemampuan unik untuk menstabilkan atau menghancurkan struktur energi di sekitarnya.”
Mata Ji Zhen lekas-lekas berkilat. Menstabilkan struktur energi? Itu adalah kunci untuk memperbaiki fondasinya yang retak. Jika ia bisa memenangkan pedang itu, ia tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada obat-obatan mahal yang sulit ditemukan.
“Ambil itu,” desis Zulong, kali ini nadanya penuh nafsu. “Artefak itu bisa menjadi alat pemurnian bagi meridianmu. Jangan sampai lepas.”
Ji Zhen langsung berdiri, menghabiskan sisa tehnya dalam satu tegukan besar. “Kapan jadwal pendaftarannya? Di mana lokasinya? Dan apa persyaratannya?”
Yun Xia terperanjat melihat perubahan energi Ji Zhen yang mendadak meledak-ledak. “Besok pagi di balai kota. Kau hanya perlu menunjukkan bukti kultivasi minimal tingkat Penghimpunan Qi Lapis Menengah.”
“Bagus,” Ji Zhen berbalik menuju tangga. “Aku akan ke kamar sekarang. Aku butuh istirahat untuk memastikan besok aku dalam kondisi terbaik.”
Yang Huiqing pun segera bangkit, membungkuk hormat kepada Yun Xia dan Shi Shu dengan gerakan anggun yang sempurna, sebelum bergegas mengikuti langkah Ji Zhen yang lebar.
Kedua wanita di meja itu saling pandang dengan tatapan bingung. “Temanmu itu… dia agak menyeramkan kalau sudah menginginkan sesuatu, ya?” bisik Shi Shu.
Yun Xia hanya mengangguk, menatap punggung Ji Zhen yang menghilang di balik koridor. Ia merasa ada badai yang sedang bergerak menuju turnamen Nancheng, dan pemuda itulah pusatnya.