Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
Aira menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan dari Dion terasa seperti belati yang siap menusuknya dari segala arah. Ia menoleh ke arah pintu yang terkunci rapat dari luar. Arkanza benar-benar telah mengurungnya.
"Aku tidak punya pilihan," bisik Aira pada dirinya sendiri.
Ia melirik ke jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang. Dengan kain sprei yang diikat kuat ke kaki ranjang, Aira nekat memanjat keluar. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, tapi rasa takut pada rahasia kematian ibu Arkanza jauh lebih besar.
Begitu kakinya menginjak rumput, sebuah bayangan muncul dari balik pohon ek besar.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka 'obat' adikku punya nyali sebesar ini," suara Dion terdengar, diikuti tepuk tangan pelan yang memuakkan.
Aira berdiri tegak, meski kakinya masih lemas. "Di mana Ayah? Dan apa maksud pesan Anda soal kematian ibu Tuan Arkanza?"
Dion melangkah mendekat, wajahnya terlihat sangat puas di bawah cahaya bulan. "Sabar, Aira. Kau terlalu terburu-buru. Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah membukakan matamu tentang siapa Arkanza sebenarnya."
"Jangan berbelit-belit, Tuan Dion! Saya melihat tulisan di balik foto itu. Ayah saya diminta melindungi Tuan Arkan! Kenapa Anda memutarbalikkan fakta seolah Ayah saya pelakunya?"
Dion tertawa keras, tawa yang membuat bulu kuduk Aira meremang. "Melindungi? Ayahmu itu pengecut! Dia tahu siapa yang memutus kabel rem mobil ibu Arkanza, tapi dia lebih memilih diam dan menerima uang tutup mulut agar bisa berjudi. Jadi, menurutmu, apakah itu tindakan seorang pelindung?"
Aira terkesiap. "Uang tutup mulut? Tidak... Ayah tidak mungkin sejahat itu."
"Oh, dia jauh lebih busuk dari yang kau kira," Dion menyeringai, ia menyodorkan sebuah rekaman suara dari ponselnya. "Dengar ini."
“...Aku tidak peduli siapa yang mati, yang penting kirim uangnya ke rekeningku! Arkanza tidak boleh tahu kalau rem itu sengaja dirusak...” Suara di rekaman itu jelas sekali suara Alan, ayah Aira.
Lutut Aira lemas. Ia terduduk di rumput dengan air mata yang mulai mengalir. "Jadi... Ayah memang terlibat?"
"Tepat sekali. Dan sekarang bayangkan, apa yang akan dilakukan Arkanza jika dia tahu istrinya adalah anak dari pria yang membiarkan ibunya mati?" Dion berlutut di depan Aira, membelai rambut gadis itu dengan kasar. "Dia akan membunuhmu, Aira. Dia monster yang tidak akan memaafkan siapa pun."
"Kenapa... kenapa Anda memberitahu saya semua ini?" tanya Aira lirih.
"Karena aku ingin membantumu. Arkanza itu tidak stabil. Dia butuh kau hanya untuk bernapas. Tapi aku? Aku butuh kau untuk menghancurkannya," Dion membisikkan kata-kata beracun ke telinga Aira. "Ikutlah denganku. Aku akan menjamin keselamatan ayahmu, dan kau akan bebas dari kurungan pria gila itu."
"Tidak! Saya tidak akan mengkhianati suami saya!"
"Suami?" Dion berdiri dan mencemooh. "Dia baru saja mengunci dan mencacimu, bukan? Dia menganggapmu barang! Masih mau setia pada pria yang bahkan tidak memercayaimu?"
Tiba-tiba, lampu sorot dari balkon kamar utama menyala terang, menyapu area taman.
"DION!"
Suara menggelegar Arkanza memecah kesunyian malam. Aira menoleh dan melihat Arkanza berdiri di balkon dengan wajah yang sangat pucat namun penuh amarah. Napasnya terdengar berat, seolah paru-parunya mulai menyempit lagi.
"T-Tuan Arkan!" teriak Aira ketakutan.
Arkanza menatap ke bawah, ke arah Aira yang berada di dekat Dion. "Kau melarikan diri untuk menemuinya? Kau benar-benar ingin membunuhku, Aira?!"
"Tidak, Tuan! Ini tidak seperti yang Anda lihat!"
Dion justru merangkul bahu Aira dengan posesif, menatap ke arah balkon dengan senyum kemenangan. "Lihat, Arkan! Istrimu sendiri yang datang mencariku. Dia sudah tahu semuanya. Dia tahu bahwa ayahnya-lah yang membiarkan ibumu mati, dan sekarang dia lebih memilih berlindung padaku!"
"DIAM KAU, BRENGSEK!" Arkanza terbatuk hebat, ia memegang dadanya yang sesak. Matanya menatap Aira dengan pandangan yang sangat terluka. "Aira... kemari... jika kau melangkah satu langkah saja bersama dia... maka aku... aku benar-benar akan membencimu selamanya."
Aira terjebak. Jika ia mendekat pada Arkanza, ia membawa berita bahwa ayahnya memang bersalah. Jika ia tetap bersama Dion, ia akan dicap sebagai pengkhianat.
"Pilih, Aira," desis Dion. "Kebebasan bersamaku, atau mati sesak bersama monster itu?"
...****************...
Arkanza tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut di balkon. Wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen. Aira menjerit, namun Dion menahan tangannya dengan kuat. "Biarkan saja dia mati, Aira! Dengan begitu kau bebas!"