Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Langkah kaki Axel berderap cepat menuruni anak tangga yang mengarah ke ruang tengah, menciptakan dentuman ritmis yang menggema dengan jelas di langit-langit rumah yang sepi dan sunyi. Setiap langkahnya semakin cepat seiring dengan suara bel pintu yang terus terdengar, membuatnya merasa seperti jantungnya akan keluar dari dada karena kombinasi antara kegembiraan dan kepanikan yang melanda secara bersamaan.
Di dalam kepalanya, suara peringatan yang keras tentang cairan kimia eksperimental yang baru saja memercik ke dalam gelas jus mangganya masih terus berdenging, mengingatkannya akan bahaya yang tersembunyi di atas meja kerjanya. Tangannya sudah terjulur jauh ke depan, ujung jarinya nyaris menyentuh pinggiran gelas plastik yang berisi jus berwarna oranye kemerahan itu, siap untuk segera mengambilnya dan membuangnya ke wastafel yang tidak jauh dari sana. Namun suara bel pintu yang berbunyi untuk keempat kalinya—kali ini lebih panjang dan jelas menunjukkan bahwa orang di luar sudah tidak sabar lagi—meruntuhkan seluruh fokus logisnya dalam sekejap mata.
"Tunggu sebentar! Aku akan datang!" Teriaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan detak jantung yang berdebar sangat cepat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu yang besar dan berat itu.
Ia mengurungkan niat untuk membuang jus itu sepenuhnya. Dengan gerakan refleks yang cepat namun sedikit sembrono akibat kesibukannya yang luar biasa, ia hanya menggeser gelas tersebut perlahan ke arah pojok meja di seberang ruangan—menjauhkannya dari tumpukan tabung reaksi dan mikroskop yang terletak di area kerja utama agar sekurang-kurangnya bagian itu tampak sedikit lebih rapi dan layak untuk dilihat tamu.
Pikirannya sudah terbang keluar jauh melintasi pintu yang membatasi dirinya dengan orang dibalik pintu itu. Semua kekhawatiran tentang zat kimia yang tidak stabil itu seolah lenyap sementara waktu, digantikan oleh keinginan yang luar biasa untuk segera melihat siapa orang yang ada dibalik pintu itu.
Begitu gerendel pintu ditarik dengan lembut dan pintu besar itu terbuka perlahan, aroma parfum peony yang lembut dan segar langsung menyerbu indra penciumannya dengan kuat. Udara luar yang dingin sedikit masuk ke dalam rumah, namun segera tergantikan oleh kehangatan yang datang dari tubuh wanita yang berdiri tepat di depan pintu itu.
Di sana, berdiri seorang wanita dengan mantel kasmir berwarna krem yang melambai lembut setiap kali ia bergerak, rambut panjang warna coklat keemasan yang sedikit berantakan karena angin sepoi-sepoi di bandara dan perjalanan panjang dengan pesawat, serta senyum lebar yang mampu membuat Axel melupakan seluruh rumus kimia kompleks yang pernah ia hafalkan di otaknya. Wajahnya yang cerah dan penuh keceriaan dipenuhi oleh kilau kegembiraan yang sangat jelas, membuatnya terlihat lebih cantik dari yang pernah ia bayangkan selama ini.
"Hai! Kejutan besar kan?!" Suara Lusy terdengar ceria dan penuh semangat. Ia membuka kedua lengannya dengan lebar, mengajak Axel untuk memeluknya dengan erat. "Aku tidak tahan menunggu sampai kau datang menjemputku di bandara. Aku ingin segera melihatmu, melihat rumahmu yang selalu kau ceritakan dengan bangga itu."
Tanpa berkata-kata apa pun, Axel menarik Lusy ke dalam dekapannya dengan pelukan yang sangat erat dan penuh cinta. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma tubuh yang sangat ia rindukan selama ini yang selalu membuatnya merasa tenang dan damai. Pelukan itu begitu erat dan eratnya, seolah Axel sedang berusaha menyatukan kembali potongan jiwanya yang selama ini terpisah oleh jarak ribuan mil antara Korea dan Australia. Ia merasakan bagaimana tubuh Lusy yang lembut menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya yang lebih tinggi dan kurus, memberikan rasa nyaman yang tidak bisa ia dapatkan dari apapun atau siapapun lainnya.
"Kau... kau benar-benar di sini. Aku tidak bisa mempercayainya. Aku selalu membayangkan momen ini, tapi rasanya jauh lebih baik dari yang aku bayangkan."
Lusy terkekeh dengan suara lembut dan penuh kehangatan, kemudian perlahan melepaskan pelukan mereka sedikit agar bisa melihat wajah tunangannya dengan jelas. Jemarinya yang masih sedikit dingin karena udara luar menyentuh pipi Axel yang sedikit tirus dan kering akibat terlalu sering bekerja tanpa istirahat, menyeka sedikit kelembapan yang ada di sudut matanya dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja aku di sini, Dokter Jenius yang selalu sibuk dengan percobaannya. Kamu pikir aku akan membiarkanmu merayakan keberhasilan risetmu sendiri sendirian di rumah yang sepi ini? Samuel bilang kamu hampir jadi gila di laboratoriummu yang rahasia itu—bahkan sampai lupa makan hanya karena sedang fokus pada zat kimia yang kau buat."
"Samuel memang selalu bermulut besar." Sahut Axel.
Ia dengan cepat mengambil alih koper besar berwarna hitam di tangan Lusy yang terlihat cukup berat, kemudian menuntunnya dengan lembut untuk masuk ke dalam rumah yang lebih hangat dan nyaman. "Ayo masuk saja dulu. Di luar sangat dingin, terutama setelah hujan kemarin malam membuat suhu udara semakin turun. Maaf ya kalau rumah terlihat sedikit berantakan—aku baru saja akan merapikan beberapa berkas dan buku kerja yang menyebar kemana-mana."
Lusy melangkah masuk dengan hati-hati ke ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang praktik atas Axel, mata besarnya yang cerah menyapu setiap sudut ruangan itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia melihat sekeliling dengan ekspresi yang penuh kagum, tidak sedikit pun merasa terkejut atau terganggu oleh kondisi ruangan yang memang benar-benar lebih seperti laboratorium daripada ruang tamu yang biasa.
"Berantakan? Kau bilang ini berantakan? Bagiku ini tampak seperti museum sains pribadi yang sangat menarik lho. Jadi, di meja kerja besar ini semua keajaiban ilmiah itu terjadi ya? Semua zat yang kau buat untuk menyelamatkan orang banyak itu dibuat di sini?"
Lusy berjalan dengan langkah yang santai mendekati meja kerja besar dari stainless steel yang terletak tepat di tengah ruangan, matanya tidak pernah berhenti mengamati setiap detail yang ada di sana. Ia melihat dengan cermat deretan tabung reaksi berisi zat dengan warna-warni yang menarik, botol-botol reagen dengan label yang jelas dan rapi, serta catatan-catatan panjang yang ditulis dengan tulisan tangan Axel yang khas—beberapa bagian bahkan diberi sorotan warna kuning atau merah untuk menandai bagian yang penting.
Ia mengangkat tangannya dengan lembut, ingin menyentuh salah satu tabung reaksi itu, namun kemudian berhenti di tengah jalan seolah mengingat bahwa zat-zat yang ada di sana bisa saja berbahaya jika disentuh sembarangan. Axel yang baru saja selesai meletakkan koper Lusy di dekat sofa yang ada di sudut ruangan, seketika teringat akan gelas jus mangga yang ia letakkan di meja seberang—meja yang kini justru didekati oleh Lusy dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Jantungnya berdebar kembali dengan cepat, membuatnya merasa sedikit pusing dan tidak nyaman. Ia bergerak cepat mendekati Lusy, berusaha untuk menghentikan wanita itu sebelum ia bisa melihat atau bahkan menyentuh gelas jus yang tercemar tadi.
"Jangan menyentuh bahan kimianya ya, Sayang. Beberapa di antaranya masih sangat tidak stabil dan bisa saja menyebabkan iritasi kulit jika terkena langsung. Aku belum punya waktu untuk menyimpan semuanya dengan benar di dalam lemari penyimpanan yang aman."
Kata-katanya terdengar santai dan rileks di luar, namun di dalam hatinya ia merasa seperti sedang berada di atas kawat baja yang sangat tipis. Ia berdiri tepat di samping Lusy, secara tidak sengaja menghalangi pandangan wanita itu dari gelas jus yang terletak di pojok meja seberang dengan tubuhnya sendiri. Ia berharap bahwa Lusy tidak akan memperhatikan keberadaan gelas itu yang tampak seperti minuman biasa pada umumnya.
"Aku tahu, kok. Aku bukan anak kecil lagi yang suka menyentuh sesuatu sembarangan." Balas Lusy dengan suara lembut dan penuh pengertian, kemudian menoleh perlahan untuk menatap Axel. "Aku hanya sekadar mengagumi tunanganku yang sangat berdedikasi ini. Kamu selalu bekerja keras untuk mencapai tujuanmu—untuk menyelamatkan nyawa orang banyak. Itu salah satu alasan aku sangat mencintaimu."
Axel merasa bagaimana seluruh tubuhnya menjadi hangat mendengar kata-kata itu, rasa bahagia yang luar biasa melanda dirinya dan membuat semua kekhawatiran tentang cairan kimia yang tercemar itu terkikis perlahan. Ia merasa aman dan tenang karena Lusy ada di sisinya, memberikan kehangatan dan dukungan yang selalu ia butuhkan selama ini.
"Aku sangat merindukanmu, Lusy..." Gumam Axel dengan penuh rasa rindu yang dalam, kemudian menarik tangan Lusy yang lembut ke arah dirinya dan dengan hati-hati mengecup setiap jemari wanita itu dengan penuh cinta.
Ia merasakan bagaimana kulit Lusy yang lembut memberikan sensasi yang nyata dan hangat. "Setiap hari tanpamu di sini rasanya sangat panjang dan sunyi. Rumah ini terasa seperti tidak lengkap tanpa kehadiranmu."
"Aku juga merindukanmu, Axel. Sangat sangat merindukanmu." Jawab Lusy dengan lembut, kemudian menarik tangan Axel lebih dekat ke wajahnya dan menyentuhnya dengan lembut pada pipinya yang hangat. "Itulah mengapa aku tidak bisa menunggu lama lagi untuk kembali ke sini—untuk berada di sisimu, untuk melihat dengan mataku sendiri bagaimana kau bekerja dengan penuh dedikasi itu, dan mungkin juga untuk membantumu sedikit jika kau membutuhkanku."
Pada momen yang penuh kehangatan dan cinta ini, seluruh kewaspadaan yang selama ini Axel miliki sepenuhnya luluh dan lenyap. Baginya, bahaya terbesar yang ada saat ini hanya bagaimana ia bisa menahan diri agar tidak terus memeluk dan mencium Lusy sepanjang hari.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ