NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang tak pernah terjawab

Kini Clara dan Natan berjalan berdampingan dilorong gedung, langkah mereka pelan seolah sama-sama menunda sesuatu yang tak terucap. Clara berusaha menormalkan napasnya, menata kembali wajahnya agar tak terlihat retak, mereka sempat berbincang ringan tentang penerbit dan soal residensi ke Prancis, namun suara Clara terdengar seperti berasal dari tempat yang jauh.

Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika matanya menangkap sekelompok orang berbincang di lobi, senyumnya yang tadi dipaksakan perlahan menghilang. Natan mengikuti arah pandangannya dan rahangnya langsung mengeras. Noel berdiri di sana dengan postur tegap dan wajah dingin itu, Anna berada tepat di sampingnya, anggun dan tenang, mereka sedang berbicara dengan tiga pria asing berjas rapi.

Clara terdiam di tempatnya, dunia di sekelilingnya seperti memudar, hanya menyisakan satu titik yang menyakitkan di tengah ruangan. Ia melihat Noel meliriknya sekilas, hanya sekilas, lalu dengan sengaja membuang muka seolah Clara tak pernah ada dalam hidupnya. Hati Clara seperti diremas, dadanya sesak bukan karena kehilangan lagi, tapi karena diperlakukan seperti orang asing. Betapa sakitnya ketika seseorang yang dulu berjanji tak akan meninggalkanmu kini bahkan tak sudi menatapmu lebih dari satu detik. Entah apa salahnya hingga Noel tampak seperti merasa jijik pada keberadaannya.

Di sampingnya, tangan Natan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, giginya bergeretak pelan menahan amarah yang tak berhak ia keluarkan di tempat umum. Tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke pundak Clara. Clara sedikit terkejut dan menoleh. Natan memaksakan senyum hangat.

“Sudah hampir malam.” Suaranya terdengar biasa saja, padahal di dalam dadanya api sedang menyala.

“Ayo, kita pulang,” lanjutnya lembut. Clara mengangguk, meski kesedihan itu tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Natan menuntunnya keluar dari lobi dengan tangan di pundaknya, melindunginya dari tatapan-tatapan yang terasa terlalu terang malam itu.

Di dalam mobil, suasana hening membungkus mereka. Clara menatap langit gelap di balik kaca jendela, lampu-lampu kota melintas seperti bayangan yang tak ingin ia kejar.

“Kamu mau makan dulu?” tanya Natan mencoba memecah sunyi. Clara menggeleng pelan.

“Enggak, Kak.” Suaranya tipis.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, namun Clara mulai menyadari arah yang tak biasa.

“Ini bukan arah rumah,” ucapnya pelan.

“Iya,” jawab Natan singkat.

“aku cuma mau ajak kamu ke suatu tempat.”

Clara mengerutkan kening.

“Ini sudah malam, Kak. Aku mau istirahat.” Ada nada protes yang tertahan di suaranya.

“Sebentar saja, Clar. Maaf kalau terkesan memaksa

” Clara menghembuskan napas kasar, sedikit kesal karena dibawa tanpa persetujuan penuh, namun ia terlalu lelah untuk berdebat.

Tak lama kemudian mobil berhenti di pinggiran pantai Jakarta Utara, suara ombak terdengar samar di kejauhan, angin malam membawa aroma asin laut. Lampu-lampu kapal terlihat seperti bintang jatuh yang tak pernah sampai ke daratan.

“Ngapain malam-malam ke pantai?” tanya Clara bingung. Natan mematikan mesin mobil lalu menoleh padanya.

“Aku cuman mau cari angin,” ucapnya pelan.

“Ayo turun.”

Clara dan Natan turun dari mobil, mereka berjalan di pinggiran pantai. Aroma laut memenuhi hidung Clara, asin dan lembap, membawa ingatan yang seharusnya indah namun kini terasa seperti luka yang digaruk ulang. Setelah beberapa menit berjalan, Natan meminta Clara duduk di sebuah bangku kayu menghadap laut, sementara ia pergi membelikan minum. Clara menurut tanpa banyak bicara.

Ia duduk dan menghela napas kasar. Dari tadi dadanya sudah sangat sesak, bahkan angin pantai tak mampu membuat dirinya menjadi lebih baik. Napasnya pendek-pendek, seperti ada sesuatu yang menekan tulang rusuknya dari dalam. Tapi Natan sudah sangat baik padanya, jadi ia tidak mungkin menolak ajakan Natan.

Saat Clara duduk diam sendirian, pikirannya langsung berlari ke masa lalu. Ia teringat bagaimana karakter Noel yang hangat bertahun-tahun lalu, sangat berbeda dengan Noel yang ia temui hari ini—wajah dingin dan datar, seperti pria yang tak pernah mengenalnya.

“Apa yang terjadi padamu, El…” gumam Clara.

“Kenapa kamu menjadi orang yang berbeda…”

“Aku sangat merindukanmu…”

Kenangan datang tanpa izin.

“Clara, kamu sudah makan malam?” tanya Noel di seberang telepon.

“Ya ampun, El… ini udah jam berapa. Aku lagi tidur kamu telepon cuma buat nanya makan?” sungut Clara yang terbangun dari tidurnya.

Noel terkekeh. “Aku lupa tadi nanyain kamu udah makan malam apa belum. Kalau belum biar aku anterin.”

“Aku sudah makan malam, gosok gigi, cuci muka. Sekarang aku ngantuk.”

Tawa Noel pecah. “Nah gitu dong, kasih laporan. Ya sudah, kamu lanjut tidur. Selamat malam, Clara cantik.”

Adegan lain menyusul.

“Aku sudah bilang jalannya jangan samping jalan raya, bahaya nanti kamu kesempret mobil,” protes Noel saat mereka berjalan di trotoar. Ia memindahkan tubuh Clara ke sisi dalam, melindunginya seolah dunia memang berbahaya.

Lalu saat Clara menunggu setelah pertandingan basket.

“Hei, boleh minta nomer mu gak?” tanya seorang siswa dengan sopan.

Clara belum sempat menolak ketika Noel lebih dulu menyahut.

“Dia pacarku, kau mau apa?” wajah Noel merah padam.

Semua kenangan itu kini terasa seperti pisau yang diputar pelan di luka yang sama. Karena hari ini, pria yang dulu begitu protektif itu bahkan tak sanggup menatapnya. Ia melirik, lalu membuang muka.

Janji-janji Noel kembali terngiang.

“Clara, nanti kalau sudah lulus kuliah kita menikah ya.”

“Clara, nanti setelah lulus SMA kita ke Swiss bertemu kedua orangtuaku.”

“Clara, aku janji gak akan ninggalin kamu.”

“Clara, aku ingin kamu menjadi bagian hidupku bukan orang lain.”

Clara menahan napas. Kepalanya pusing. Rasa mual datang lagi, seperti refleks tubuhnya yang trauma setiap kali kenangan itu muncul. Dadanya sesak, jantungnya berdetak terlalu cepat, dan pikirannya terasa kabur. Ia seperti kembali menjadi gadis yang ditinggalkan tanpa penjelasan, yang menunggu pesan yang tak pernah datang.

Trauma itu bukan sekadar rindu. Itu luka yang tak pernah ditutup dengan jawaban.

Tak lama kemudian Natan datang membawakan air mineral.

“Minum dulu, Clar, agar hatimu sedikit tenang.”

Clara menoleh, menatap Natan dengan mata yang mulai basah.

“Aku tahu keadaanmu hari ini sangat berat,” ucap Natan.

“Tapi kalau tak dikeluarkan hanya akan menjadi beban untuk langkahmu ke depannya.”

Clara terdiam menelaah ucapan Natan, tapi tubuhnya sudah gemetar lebih dulu.

“Aku hanya ingin hati kamu merasa sedikit ringan, Clar. Aku ingin kamu bisa mencapai impianmu tanpa bayang-bayang masa lalu.”

“Aku gak akan memaksa, tapi aku ingin kamu mencobanya, melepaskan semua emosimu.”

Clara masih terdiam. Kata-kata Natan seperti angin sejuk, tapi badai di dalam dirinya terlalu besar.

“Kamu mau jalan lagi?” tanya Natan pelan.

Clara mengangguk kecil lalu bangkit. Mereka berjalan berdampingan dengan langkah kecil. Debur ombak terdengar keras malam itu.

Tiba-tiba Clara menghentikan langkahnya.

“Kak Natan…”

Natan berbalik. “Iya.”

Clara mendongak dengan mata yang sudah memerah.

“Menurut kakak apa yang terjadi pada Noel?” tanya Clara dengan bibir bergetar.

Natan menghela napas ringan dan menggeleng pelan menandakan bahwa dia tak tahu.

Dan saat itulah tangis Clara pecah, keras dan tak terkendali, seolah sesuatu yang lama dipendam akhirnya retak.

“Aku… aku sudah muak dengan keadaanku yang seperti ini, tapi bayangannya tidak mau pergi…” ucap Clara tergugu.

“Rasanya sangat sakit…”

Tangannya mengepal di dada sendiri.

“Aku harus bagaimana, Kak?”

“Aku ingin melihat dia seperti dulu.”

“Bukan seperti yang sekarang… seperti orang yang tak aku kenali.”

Air matanya yang sedari tadi ia tahan tumpah begitu saja. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya terputus-putus.

“Semua ini membuatku bingung, apakah aku yang salah karena mencintainya… apakah selama ini dia hanya main-main… apakah wajahnya yang sekarang adalah aslinya…”

“Aku tak bisa menemukan jawaban apa pun dan itu sangat menyiksa…”

Suara Clara melemah.

“Aku sudah tidak sanggup, Kak…”

Tangisnya bukan hanya tentang Noel yang berubah. Itu tentang kehilangan tanpa penjelasan. Tentang cinta yang dihentikan sepihak tanpa penutup. Tentang ditinggalkan dalam ketidakpastian yang membuatnya meragukan harga dirinya sendiri. Setiap kali melihat Noel, tubuhnya seperti mengingat rasa ditinggalkan itu, sesak, mual, gemetar seperti trauma yang belum pernah sembuh.

Natan akhirnya menarik Clara yang terus terisak ke dalam pelukannya. Ia memeluknya erat, membiarkan Clara menangis sejadi-jadinya di dada bidangnya. Malam itu, di bawah langit gelap dan suara ombak yang bergemuruh, Clara tidak hanya menangisi seseorang yang pernah mengisi ruang hatinya tapi ia juga menangisi versi dirinya yang dulu percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!