Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 - Yang Paling Dekat
Pagi datang tanpa cahaya.
Langit abu-abu menggantung rendah seperti ikut berkabung. Udara terasa berat, seolah kota ini tahu ada sesuatu yang salah.
Karina sudah berada di ruangannya sebelum siapa pun datang.
Tidak ada suara sepatu hak seperti biasanya.
Tidak ada aroma kopi pahit yang selalu ia bawa.
Tidak ada sapaan tegas yang membuat semua orang siaga.
Ia duduk diam di balik meja, menatap satu foto.
Foto TKP Adelia.
Huruf “A” itu masih terlihat jelas di lantai. Ditulis dengan darah. Tidak berantakan. Tidak tergesa.
Rapi.
Itu yang membuatnya lebih menyeramkan.
Seolah pelaku ingin memastikan huruf itu terbaca.
Seolah huruf itu adalah tanda tangan.
Karina menggeser foto berikutnya. Sudut lain. Close-up tulisan itu.
Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut.
Karena marah.
Pintu ruangannya terbuka pelan.
Arga masuk tanpa banyak suara. Ia sudah terbiasa membaca suasana. Dan pagi ini, suasananya retak.
“Kamu nggak tidur lagi?” tanyanya pelan.
Karina tidak menoleh.
“Tidur nggak akan bikin dia hidup lagi.”
Arga terdiam.
Kalimat itu terlalu jujur.
Ia melangkah lebih dekat, melihat foto di meja.
“A itu terlalu jelas,” kata Arga.
Karina akhirnya bersuara, lirih tapi tajam.
“Justru itu masalahnya.”
Arga mengernyit.
“Orang yang ingin menghilang tidak meninggalkan jejak. Tapi orang ini… dia ingin kita melihatnya. Dia ingin kita tahu dia ada.”
Ia berdiri, berjalan ke papan investigasi. Foto-foto korban sebelumnya sudah ditempel kembali. Pola lama. Metode lama. Ketenangan lama.
Dan sekarang, Adelia.
Nama itu terasa seperti luka terbuka di tengah papan.
“A bisa berarti apa saja,” lanjut Arga.
Karina memutar badan.
“A bisa berarti awal,” ucapnya pelan. “Atau akhir.”
Ruangan kembali hening.
Dari sudut ruangan, Antono berdiri bersandar. Sejak tadi ia hanya memperhatikan. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Kita jangan terlalu fokus ke simbol,” katanya akhirnya. “Fokus ke pelakunya.”
Karina menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Simbol adalah cara pelaku berbicara,” jawabnya.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada yang berkata apa-apa, tapi udara di antara mereka berubah.
Ada sesuatu.
Entah apa.
...----------------...
Waktu berjalan lambat.
Karina duduk sendirian di ruang arsip. Berkas-berkas lama terbuka di sekelilingnya. Ia mencoba melihat pola. Waktu. Lokasi. Jarak.
Arga masuk lagi, membawa dua botol air mineral.
“Kamu belum makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Kar.”
Nada itu bukan nada rekan kerja. Itu nada seseorang yang peduli.
Karina menghela napas.
“Semua orang yang dekat denganku jadi target, Ga.”
Arga langsung menggeleng.
“Itu bukan salah kamu.”
“Adelia mati beberapa jam setelah ketemu aku.”
Kalimat itu seperti menampar ruangan.
Arga menatapnya lama.
“Kamu bukan penyebabnya. Pelaku itu yang salah.”
Karina tertawa kecil.
Tawa yang tidak memiliki bahagia di dalamnya.
“Kalau dia ingin menyakitiku, dia nggak perlu menyerangku langsung. Dia tinggal ambil satu per satu orang di sekitarku.”
Arga mendekat satu langkah.
“Aku nggak akan pergi.”
Karina menatapnya.
Justru itu yang ia takutkan.
...----------------...
Rumah Karina terasa asing malam itu.
Ia berdiri lama di depan pintu sebelum masuk. Perasaan itu muncul lagi.
Seperti ada yang mengamati.
Ia menoleh ke seberang jalan. Gelap. Sepi.
Terlalu sepi.
Ia masuk, menyalakan lampu satu per satu.
Semua tampak normal.
Namun jantungnya belum mau tenang.
Ia berjalan ke meja kerja.
Berhenti.
Kertas kecil itu tergeletak di sana.
Ia yakin pagi tadi tidak ada.
Tangannya perlahan mengambilnya.
Tulisan tangan yang sama.
Rapi.
Tenang.
“A belum selesai.”
Napas Karina terhenti.
Darahnya terasa mengalir lebih lambat.
Seseorang masuk ke rumahnya.
Tanpa merusak apa pun. Tanpa suara. Tanpa jejak.
Artinya pelaku tahu jadwalnya.
Tahu kapan ia pergi.
Tahu kapan ia sendirian.
Ia menoleh cepat ke belakang.
Kosong.
Namun rasa diawasi semakin nyata.
Ia bergegas keluar rumah, memeriksa halaman. Tidak ada apa pun.
Tapi jauh di seberang jalan, di balik bayangan pepohonan, seseorang berdiri.
Mengamati.
Melihat bagaimana Karina mulai kehilangan pijakan.
Retak yang Dalam
Karina kembali ke dalam rumah.
Tangannya masih memegang kertas itu.
Ia mencoba berpikir rasional.
Pelaku ingin ia takut.
Pelaku ingin ia tidak stabil.
Pelaku ingin ia membuat kesalahan.
Ia duduk di kursi, memejamkan mata.
Wajah Adelia muncul.
Tawa mereka di kafe.
Pelukan terakhir.
Kalimat terakhir.
“Aku selalu ada di sini, Kar.”
Air mata akhirnya jatuh.
Ia tidak lagi di kantor. Tidak ada profesionalitas yang menahannya.
Tangis itu sunyi, tapi dalam.
Ia kehilangan tempatnya pulang.
Dan pelaku tahu itu.
...****************...
Di tempat lain.
Ruangan gelap dengan dinding penuh foto.
Foto Karina saat briefing.
Foto Arga saat berdiri di TKP.
Foto Adelia saat di kafe.
Semua tertata rapi.
Pelaku berdiri di depan dinding itu.
Tangannya menyentuh foto Adelia.
Perlahan, ia melepasnya.
Menyisakan ruang kosong di antara foto-foto lain.
“Bidak pertama,” gumamnya pelan.
Bukan dengan nada marah.
Bukan dengan kebencian.
Tapi dengan ketenangan yang mengerikan.
Permainan bukan tentang membunuh.
Permainan adalah tentang membuat seseorang hancur dari dalam.
Dan Karina…
…sedang menuju ke sana.
...****************...
Karina kembali ke kantor dengan mata sembab tapi wajah keras.
Arga melihatnya dan tahu sesuatu terjadi.
“Kamu kenapa?”
Karina menyerahkan kertas itu.
Wajah Arga berubah.
“Dia masuk ke rumahmu?”
Karina mengangguk.
Antono yang berdiri tak jauh dari mereka mendekat.
“Artinya dia dekat,” ucapnya.
Karina menatap dua pria itu bergantian.
Dekat.
Kata itu menggema di kepalanya.
Dekat secara lokasi?
Atau dekat secara hubungan?
Pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang sebelumnya tak pernah ia sentuh.
Bagaimana jika pelaku tahu jadwalnya karena pernah berada di ruangannya?
Bagaimana jika pelaku tahu rutinitasnya karena sering bersamanya?
Bagaimana jika…
Ia menghentikan pikirannya sendiri.
Jangan.
Jangan mulai mencurigai semua orang.
Tapi benih itu sudah tertanam.
Dan sekali benih kecurigaan tumbuh, ia tidak mudah dicabut.
...----------------...
Karina berdiri di jendela rumahnya malam berikutnya.
Lampu sengaja dimatikan.
Ia ingin melihat.
Jika pelaku mengawasinya, maka ia juga akan mengawasi balik.
Ia berdiri tanpa bergerak hampir dua puluh menit.
Sunyi.
Lalu—
Siluet.
Sekilas.
Cepat.
Di balik pohon.
Karina langsung berlari keluar.
Sepi.
Tak ada siapa pun.
Namun di tanah, ada bekas pijakan samar.
Seseorang memang ada di sana.
Seseorang yang menikmati permainan ini.
Dari kejauhan, sosok itu berjalan menjauh.
Tenang.
Tidak terburu.
Karena ia tahu sesuatu.
Karina mulai kehilangan tidur.
Mulai kehilangan kestabilan.
Mulai mempertanyakan semuanya.
Dan itu baru permulaan.
Pelaku tersenyum dalam gelap.
Permainan memang tak pernah benar-benar berhenti.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk dimulai kembali.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y