Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ballroom
Malam gemerlap yang meriah, pesta yang di selenggarakan keluarga Blackwood di hadiri banyak orang malam ini, bukan hanya kalangan artis papan atas namun juga para pebisnis yang bermitra dengannya.
Katanya ini merupakan acara perayaan ke dua puluh tahun perusahaan milik Jonas Blackwood itu berdiri.
Pria berambut perak yang merupakan ayah dari aktor terkenal Blackwood Lucas, mantan kekasih Sarah yang saat ini sedang di perkenalkan pada khalayak oleh Jonas.
Pria paru baya itu seperti sedang mempromosikan anaknya, seperti barang, ia tawarkan pada beberapa pebisnis besar, termasuk ayah Sarah.
Lucu sekali, padahal Jonas tidak perlu melakukan hal seperti itu pada ayah Sarah, karena Lucas adalah mantan calon menantu keluarga Vleryn.
Sarah menahan senyum kesalnya, sesekali ia memegangi perutnya yang kram, ia sedang datang bulan hari pertama, baginya cukup menyiksa namun beruntunglah dirinya datang ke acara ini bersama seorang pria paling peka sedunia.
Rovano sempat membelikannya sebuah koyo penghangat untuk antisipasi jika kramnya bertambah parah.
Sarah bisa melihat kalau Lucas bersama Jonas sedang berjalan ke arah mereka, Sarah langsung mencengkram lengan Rovano, pria itu seketika menoleh dengan khawatir.
"Hn? Perutmu bertambah sakitnya?" bisik Rovano, wajahnya sedikit panik.
Sarah mengangguk pelan,"kita harus ke toilet dulu, aku harus memasang koyonya."
Rovano mengangguk, ia kemudian segera merangkul Sarah dan membawanya keluar dari ballroom sebelum Jonas dan Lucas mencapai mereka. Sementara itu, Ryan dan keluarga Rovano yang lain juga hadir, mereka bergabung bersama ayah dan ibu Sarah.
Ryan dan Lucas sama-sama memperhatikan Sarah dan Rovano, kedua pria itu mengingat kembali kenangan mereka bersama Sarah.
Mereka berdua tau kalau Sarah sepertinya sedang menahan rasa sakit, maka dari itu keduanya khawatir namun keberadaan Rovano yang selalu menempel dengan Sarah membuat mereka tidak bisa bertindak.
Jonas mencemooh, ia tidak suka melihat Lucas terus menatap kearah Sarah begitu intens.
"Kau masih mengharapkan gadis murahan itu?" bisik Jonas, bisikan yang membuat Lucas naik pitam seketika.
"Jaga ucapanmu ayah, jika bukan karena keluarga Vleryn, memangnya perusahaan mu bisa jadi sebesar ini?" ucap Lucas, "lalu Sarah bukanlah gadis murahan, akulah yang murahan. Semua karena taktik kotormu menjebakku dengan Hana."
"Dasar bocah bodoh, cinta tidak akan membuatmu kaya, Hana adalah aktris yang sedang naik daun, karir kalian berdua akan mencapai puncak!" Jonas berseru pelan.
"Puncak? Puncak apanya? Puncak daun teh? Wanita murahan itu sekarang terkena skandal pencucian uang bersama para pejabat politik," ucap Lucas, pria itu kesal pada ayahnya yang terus menghina Sarah.
Matanya baru terbuka sekarang, inilah maksud Sarah alasan mereka berpisah ada pada dirinya sendiri, Lucas tau alasan utamanya tentu adalah kekurang ajaran Jonas. Siapa yang mau memiliki mertua sekasar Jonas memangnya?
"Beruntung, Sarah menutup skandalku dengan Hana menggunakan berita perpisahanku dengannya padahal kami merahasiakan semuanya," ucap Lucas lagi, "jika tidak, mungkin akupun akan terseret dan karirku hancur dalam sekejap."
Lucas kembali mengalihkan pandangannya, kini Sarah dan Rovano sudah tidak terlihat di ballroom, ia menghela napas dalam.
Dalam hatinya ia bertanya-tanya, kemana Sarah pergi dalam keadaan pucat seperti itu? Apakah Rovano membawanya pulang atau kerumah sakit? Apa mereka meninggalkan acara ini begitu saja?
"Wah, ada apa ini? Kenapa pemilik acara melamun begini?" Ryan menepuk pelan pundak Lucas, pria itu sedikit terkejut.
Lucas menjabat tangan Ryan, "ah, anda pasti kakak dari Rovano ya? Aku Lucas Blackwood, sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu."
Ryan tersenyum tipis, "Aku Ryan dari keluarga Jovian yang sebentar lagi akan berbesan dengan keluarga Vleryn," jawab Ryan kemudian pria itu menoleh pada Jonas yang sama sekali tidak ramah mendengarnya.
"Kurasa berita itu sudah menyebar, kan? Semoga ke depannya kami juga bisa bekerja sama dengan keluarga Blackwood," ucap Ryan sembari menatap ke arah Jonas.
"Sangat tidak di sangka, ya, ternyata dua pebisnis terbesar di sini akan menjadi satu keluarga," ucap Jonas, "puteraku juga hampir menjadi menantu di keluarga itu, tapi bagaimana ya, dia harus bersanding dengan aktris yang setara, sih."
Ryan sedikit kesal mendengar ucapan Jonas, "Hn, anda betul, Sarah juga sangat cocok dengan Rovano karena bisnis mereka setara. Entah akan sesukses apa keluarga kami nantinya."
Membela Sarah? Iya, Ryan secara tidak langsung melakukannya, bukan demi adiknya, tapi demi Sarah yang sedang di rendahkan oleh Jonas.
Bisa di bilang, Jonas adalah serigala berbulu domba yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan akan memangsa siapapun yang ada di sekitar nya.
...•••••...
Sarah menarik napas dalam, ia sudah selesai memasang koyo penghangat pada perutnya, kini tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya. Sedikit rasa sakit nya berkurang, jika begini ia akan aman sampai acara ini selesai.
Sarah menatap wajahnya pada pantulan cermin, ia memperbaiki sedikit riasannya yang sempat terkena keringat akibat dirinya menahan rasa sakit.
Kau bisa melewatinya, Sarah! Batin Sarah.
Gadis itu kemudian segera keluar dari toilet, ia menoleh kesana kemari, mencari Rovano namun pria itu ternyata tidak ada.
Bukankah tadi Rovano menunggunya di luar, tapi kemana pria itu sekarang? Sarah memutuskan untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari sana, sembari mencoba menghubungi Rovano.
Tak lama Sarah mendengar suara dering handphone Rovano, juga suara sepatu yang bertepak kencang beradu dengan lantai marmer, begitu menoleh, Rovano sedang berlari ke arahnya dengan membawa sebuah botol minuman untuk meringankan gejala kram perut datang bulannya.
Sarah sampai tidak bisa mengontrol wajahnya, gadis itu melongo melihat Rovano yang super duper act of service.
"Cepat di minum, aku tidak tahan melihatmu terus kesakitan," ucap Rovano memberikan botol minuman jamu tersebut.
Sarah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, ia menerima botol tersebut sambil menertawakan Rovano, seraya menyuruh pria itu untuk duduk di sampingnya.
"Rovano! Kau lari ke minimarket yang ada di lantai bawah gedung ini?" tanya Sarah, "Oh my god, kenapa aku bisa mendapatkan pria yang sangat rela berkorban sepertimu ini?"
Sementara Rovano masih terengah-engah, Sarah segera meminumnya, ia sangat menghargai usaha kecil Rovano untuknya, pria itu mau melakukan hal remeh seperti ini di saat kebanyakan pria mungkin tidak akan memperhatikannya sampai sedetail itu.
"Terima kasih, Rovano," ucap Sarah, begitu minuman itu sudah habis.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Rovano, Sarah mengangguk sebagai jawaban.
Rovano mengambil botol kosong itu untuk membuangnya ke dalam tong sampah, membuat Sarah lagi-lagi terkejut, pria itu membuatnya terkagum lagi. Rovano mengulurkan tangannya pada Sarah, "ayo kita kembali ke dalam."
Sarah mengangguk, ia menerima uluran tangan Rovano yang membantunya berdiri, lalu kembali mendekap lengan Rovano begitu mereka berjalan kembali ke ballroom.
"Rovano, katakan lagi~" ucap Sarah dengan manja.
"Hn?" Rovano bingung, ia mengernyitkan dahinya.
"Katakan lagi, yang di kamar," bisik Sarah.
"Aku mencintaimu karena kau menyihirku?" Ucap Rovano dengan datar namun sukses membuat Sarah tertawa, sementara pria itu hanya tersenyum tipis.
"Gila, rasanya membuat jantungku meletup-letup setiap mendengarnya!" Sarah berseru dengan senang sementara pipi Rovano mulai memerah padam.
Tanpa di sadari, Lucas memperhatikan mereka tadi, sejak Sarah duduk di kursi sendirian.
Lucas melihat dengan jelas tatapan Rovano yang penuh cinta pada Sarah, pria itu bahkan tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sarah semenitpun. Bahkan Lucas sampai terpesona melihat Sarah tertawa bahagia bersama Rovano.
"Mereka seperti di takdirkan untuk bersama, sial, mereka cocok sekali," gumam Lucas.
Begitu berbalik untuk kembali ke ballroom, Lucas terkejut ternyata ia melihat Ryan juga sedang memperhatikan Sarah dan Rovano tak jauh darinya.
Namun tatapan penuh dendam terlihat jelas dari sorot mata Ryan membuat Lucas bertanya-tanya.
Bukankah Ryan harusnya senang kalau adiknya akan menikah? Tapi kenapa Ryan tampaknya tidak menyukai hal itu?
Lucas sedikit penasaran tapi ia juga tidak bisa gegabah menanyakan pada Ryan kenapa pria itu terlihat seperti membenci Sarah dan Rovano ketika bersama, padahal tadi pria itu tampak ramah ketika membicarakannya pada dirinya dan Jonas.