Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Akhir yang Baru
Perspektif: Jin Tae-Kyung (Kang Purnama - nama manusia sebelumnya)
---
Rasa sakit itu datang pertama.
Bukan rasa sakit yang tajam seperti pisau, tapi rasa sakit yang tumpul dan merambat—seperti ribuan jarum panas menusuk dari dalam perut, merayap ke dada, ke tenggorokan. Mataku terasa berat. Kelopak mata ini seperti terbuat dari timah.
"Aku... kenapa aku bisa merasakan sakit?"
Itu pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku. Karena seharusnya aku sudah mati.
Kang Purnama, 34 tahun, insinyur teknik mesin lulusan ITB. Meninggal dunia karena tertimpa rangka baja di proyek pembangunan jembatan di Kalimantan. Kecelakaan kerja klasik: atasan memaksa lembur 36 jam non-stop, prosedur keselamatan diabaikan demi mengejar deadline, dan aku yang terlalu penurut untuk protes.
Aku ingat detik-detik terakhir itu. Derit besi yang menjerit. Teriakan rekan-rekan. Lalu gelap.
Tapi ini... ini bukan gelap yang abadi.
Aku mencoba membuka mata. Susah. Sekilas, kulihat langit-langit kayu dengan balok-balok lapuk. Bau anyir memenuhi hidung. Bau darah. Dan bau... jamu? Atau ramuan tradisional?
Suara bisik-bisik di kejauhan.
"...sudah tiga hari. Tidak sadar juga."
"Biarkan saja. Mungkin lebih baik begitu."
"Tapi Tuan Muda itu... beliau putra sah Klan..."
"Sah? Ha! Dengan ibu dari gundik? Jangan konyol. Sepupu Besar sudah menyiapkan segalanya. Sebentar lagi Klan ini akan punya pemimpin baru."
Percakapan itu seperti pisau yang mengupas kabut di kepalaku. Tiba-tiba, seperti kilat, ingatan asing membanjiri otakku.
Jin Tae-Kyung.
Usia 22 tahun.
Putra kedua dari Klan Jin yang terpuruk. Ibunya adalah selir yang sudah meninggal. Ayahnya, Patriark Jin, baru saja gugur dua minggu lalu dalam pertempuran melawan "Iblis" di perbatasan utara. Kakak laki-lakinya, putra mahkota dari permaisuri utama, tewas dalam pertempuran yang sama.
Dan sepupunya, Jin Hojun, ingin merebut posisi Patriark. Cara termudah? Menyingkirkan pewaris sah. Bahkan pewaris sekaliber putra selir sekalipun.
Aku diracun.
Sekarang aku mengerti. Aku, Kang Purnama, insinyur yang mati karena kelalaian sistem, telah terlahir kembali di tubuh pemuda malang ini. Diracun oleh keluarganya sendiri.
Ironis. Di kehidupan sebelumnya aku mati karena sistem yang brengsek. Di kehidupan ini, aku terlahir di tengah sistem kekeluargaan yang juga brengsek.
Perlahan, dengan seluruh energi yang bisa kukumpulkan, aku memaksa mataku terbuka.
---
Pandangan pertamaku adalah seorang pria tua.
Wajahnya keriput, jenggot putih tipis tak terawat, matanya sayu menatapku. Di pinggangnya terselip pedang tua—bukan pedang hiasan, tapi pedang yang jelas sudah kenyang pengalaman. Ada luka menganga di pelipisnya, dibalut kain seadanya.
"Tuan Muda!" bisiknya. Suaranya parau, tapi ada getar haru di sana. "Akhirnya... Hyun Moo sudah mengira Tuan tidak akan bangun."
Hyun Moo. Nama itu muncul dari ingatan Jin Tae-Kyung. Kepala keamanan klan. Satu-satunya pendekar level tinggi yang tersisa di klan ini. Setia pada Patriark lama. Tua. Dan—menurut ingatan itu—satu-satunya orang yang bisa dipercaya.
Aku ingin bicara. Tapi tenggorokanku rasanya seperti amplas.
Hyun Moo segera menyodorkan mangkuk. Air hangat. Aku minum pelan-pelan, merasakan cairan itu membasahi kerongkongan yang kering.
"Berapa... lama?" Suaraku keluar serak, asing di telingaku sendiri.
"Tiga hari, Tuan." Hyun Moo menunduk. "Kita sudah mencoba semua penawar. Tabib klan bilang... bilang itu sudah takdir."
"Tapi aku hidup."
Pria tua itu menghela napas panjang. "Iya. Tuan hidup. Tapi kita harus segera pergi."
Aku menatapnya. Butuh energi besar untuk duduk. Tubuh Jin Tae-Kyung ini ringkih, lemah. Tidak seperti tubuhku dulu yang terbiasa mengangkat beban dan berdiri 12 jam di lapangan. Ini tubuh bangsawan yang tidak pernah bekerja keras. Otot-ototnya atrofi. Tangannya halus, tidak kapalan.
"Jelaskan," kataku pendek. Nada bicaraku mungkin terlalu keras untuk ukuran orang baru bangun dari koma, tapi aku tidak peduli.
Hyun Moo menatapku sebentar. Mungkin dia heran dengan perubahan sikap. Jin Tae-Kyung yang dulu, berdasarkan ingatannya, adalah pemuda pendiam, penurut, dan mudah takut. Tidak seperti kakaknya yang gagah berani. Tapi sekarang? Pemuda yang baru bangun dari koma ini berbicara seperti komandan.
Tapi dia tidak bertanya. Dia hanya mengangguk.
"Sepupu Besar, Jin Hojun, sudah menguasai sebagian besar pendekar klan. Dengan kakak Tuan gugur, Tuan adalah satu-satunya pewaris darah Patriark. Tapi Hojun... dia tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Jadi dia meracuniku."
"Tabib itu anak buahnya. Kami semua bodoh tidak menyadarinya sampai terlambat. Tuan koma selama tiga hari. Sebagian besar sudah menganggap Tuan... sudah pergi."
Aku tersenyum pahit. Hampir saja mereka benar.
"Berapa banyak pendekar yang masih setia?"
Hyun Moo diam sebentar. "Aku. Dan mungkin... beberapa prajurit rendahan yang tidak punya pilihan. Tapi mereka tidak akan berguna dalam pertarungan melawan Hojun."
"Aku tidak tanya tentang prajurit. Aku tanya tentang pendekar."
"Aku. Hanya aku." Hyun Moo menunduk dalam-dalam. "Maafkan aku, Tuan. Aku gagal mempertahankan kehormatan klan."
Aku mengamati pria ini. Di mataku sebagai insinyur, dia adalah aset. Sumber daya manusia yang setia, berpengalaman, dan jelas punya kemampuan tempur. Tapi lukanya... lukanya cukup parah.
"Lukamu bagaimana?"
"Pertarungan kecil dengan anak buah Hojun dua hari lalu. Saat membawa Tuan kabur ke sini. Aku menang, tapi..." ia memegang pinggangnya. "Tulang rusuk retak. Butuh waktu untuk pulih."
"Dia tahu kita di sini?"
"Rumah ini persembunyian lamaku. Cukup rahasia. Tapi... Hojun punya banyak mata. Mungkin besok, mungkin lusa, mereka akan datang. Kita harus pergi, Tuan. Selagi masih bisa."
Aku diam sejenak, memproses. Di kehidupan sebelumnya, aku terbiasa berpikir dalam sistem: input, proses, output. Masalah adalah variabel yang harus dipecahkan. Sekarang masalahnya adalah: aku lemah, sumber daya manusia hanya satu orang tua yang terluka, sumber daya material tidak jelas, dan musuh akan datang dalam waktu dekat.
Sial. Ini lebih parah daripada deadline proyek jembatan.
Tapi ada satu perbedaan besar. Di kehidupan sebelumnya, aku hanya pekerja. Sekarang? Aku adalah pewaris. Aku punya hak untuk memerintah. Aku punya alasan untuk melawan.
Aku mencoba menggerakkan tangan. Lemah. Sangat lemah. Racun itu masih menyisakan efek. Tubuh ini bahkan tidak mampu memegang mangkuk dengan mantap.
"Apa yang kita punya?" tanyaku.
"Maaf?"
"Harta. Uang. Senjata. Makanan. Apa yang kita punya di sini?"
Hyun Moo mengerutkan kening. Mungkin pertanyaan itu terlalu praktis untuk seorang bangsawan. Tapi dia menjawab.
"Rumah ini kecil. Dapur di belakang, persediaan beras untuk dua minggu. Sumur di halaman. Senjata... aku punya pedangku. Dan satu belati cadangan. Uang?" Ia tertawa pahit. "Aku bukan bendahara, Tuan. Mungkin beberapa koin perak."
Itu lebih buruk dari dugaanku. Dua minggu makanan. Satu orang tua terluka. Satu pedang. Dan musuh yang akan datang.
Tapi aku punya satu keunggulan yang tidak mereka miliki.
Pengetahuanku.
Aku bukan pendekar. Aku tidak bisa mengalahkan mereka dalam pertarungan satu lawan satu. Tapi aku insinyur. Aku tahu cara membuat sesuatu dari hampir tidak ada.
Di kehidupan sebelumnya, aku pernah ditugaskan ke proyek di daerah terpencil. Tidak ada listrik, tidak ada alat berat. Kami harus membangun jembatan dengan sumber daya minim. Di situlah aku belajar: kreativitas lebih penting daripada peralatan.
Sekarang, aku akan menggunakan pelajaran itu lagi.
"Hyun Moo."
"Iya, Tuan."
"Ceritakan padaku tentang Jin Hojun. Semua yang kau tahu. Kekuatannya, kelemahannya, berapa banyak anak buahnya, senjata apa yang mereka pakai. Dan yang paling penting..." aku menatap matanya serius. "...apa yang paling dia takuti?"
Pria tua itu mengangkat alis. "Tuan... kau baru sembuh. Kau butuh istirahat."
"Aku akan istirahat setelah tahu apa yang kita hadapi. Ceritakan."
Untuk beberapa detik, Hyun Moo menatapku dengan tatapan aneh. Seperti baru pertama kali melihatku. Mungkin dia heran, pemuda lemah yang biasa cengeng ini tiba-tiba berbicara seperti jenderal perang.
Tapi akhirnya dia mengangguk.
"Baik. Tapi biar kusingkat." Ia menarik napas. "Jin Hojun, 28 tahun. Level kultivasi? Mungkin tahap Puncak Lautan Qi. Bukan yang terkuat, tapi cukup berbahaya. Tapi kekuatan utamanya bukan di kultivasi. Dia licin. Pintar bersekutu. Saat ini, dia punya sekitar 30 pendekar yang setia. Sebagian besar level rendah sampai menengah. Tapi dia juga punya hubungan dengan Klan Gong—klan tetangga yang lebih besar. Mereka akan mendukungnya sebagai Patriark baru."
"Klan Gong. Mereka kuat?"
"Level berbeda. Klan Gong punya 500 pendekar, tiga di antaranya level Tinggi. Tapi mereka tidak akan campur tangan langsung. Ini masalah internal klan. Mereka hanya akan mengakui pemenang."
Aku mengangguk. Ini rumit. Tapi setidaknya tidak ada pasukan besar yang langsung menyerang. Belum.
"Apa yang paling dia takuti?"
Hyun Moo berpikir. "Dia takuti kegagalan. Dia takuti terlihat lemah di depan pengikutnya. Reputasinya dibangun di atas citra sebagai pemimpin yang pantas. Jika ada yang meruntuhkan citra itu..."
"Maka pengikutnya akan mulai ragu."
"Tepat."
Aku tersenyum tipis. Itu kelemahan yang bisa dieksploitasi.
Sekarang, bagaimana caranya?
Aku menatap langit-langit kayu yang lapuk. Mataku menyusuri setiap retakan, setiap balok penyangga. Di sudut ruangan, kulihat tungku kecil untuk menghangatkan ruangan. Di dekatnya, tumpukan arang.
Tiba-tiba, seperti lampu yang menyala, otak insinyurku bekerja.
Arang. Panas. Api.
Logam.
Klan ini—klan kecil yang terpuruk—pasti punya peralatan logam. Pedang, pisau, panci, apa pun. Dan di dunia ini, berdasarkan ingatan Jin Tae-Kyung, metalurgi mereka masih primitif. Mereka mengandalkan "Qi" untuk memperkuat senjata, bukan kualitas materialnya.
Tapi aku tahu cara membuat baja.
Bukan baja biasa. Baja berkualitas tinggi. Dengan proses yang benar, dengan kontrol suhu yang tepat.
Aku tahu cara membuat tungku yang lebih efisien.
Aku tahu cara membuat senjata yang tidak hanya mengandalkan Qi, tapi juga fisika dan material.
Perlahan, meskipun tubuhku lemah, senyum pertama muncul di bibirku.
"Hyun Moo."
"Iya, Tuan?"
"Kau bilang kita punya persediaan beras untuk dua minggu?"
"Benar."
"Bagus. Kita tidak akan kabur. Kita akan bertahan di sini. Tapi untuk bertahan, aku butuh kau melakukan sesuatu."
Pria tua itu menegakkan badan, meskipun raut wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Apa yang Tuan perintahkan?"
"Aku butuh kau mencari tahu: di desa terdekat, apakah ada tukang besi? Atau setidaknya, peralatan bekas yang bisa kita beli? Palu, landasan, penjepit. Dan yang paling penting..." aku menatap matanya serius. "...batu bata tahan api. Atau tanah liat. Banyak."
Hyun Moo membelalak.
"Tuan... maaf, tapi untuk apa?"
Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, kurasakan energi lama yang dulu selalu hadir saat memulai proyek baru. Semangat itu. Api itu.
"Kita akan membuat sesuatu," kataku pelan. "Sesuatu yang belum pernah dilihat dunia persilatan ini."
Aku melihat ke luar jendela kayu yang reyot. Matahari mulai terbenam, langit berubah jingga. Di kejauhan, kira-kira dua kilometer dari sini, mungkin markas Jin Hojun berada. Dia mungkin sedang merayakan kematianku.
Dia tidak tahu.
Dia tidak tahu bahwa yang dia bunuh bukan pemuda lemah Jin Tae-Kyung.
Yang dia hadapi sekarang adalah Kang Purnama. Insinyur yang terbiasa bekerja di bawah tekanan. Pria yang pernah membangun jembatan di tengah hujan badai. Pria yang tahu persis bagaimana membuat sesuatu dari ketiadaan.
Dan pria yang tidak akan pernah kalah lagi.
"Hyun Moo."
"Iya, Tuan."
"Ada satu hal lagi."
"Apa itu?"
Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, nada bicaraku melunak.
"Terima kasih. Karena menyelamatkanku."
Pria tua itu terdiam. Untuk sesaat, kulihat matanya berkaca-kaca. Tapi cepat-cepat ia menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Aku hanya melakukan tugasku, Tuan."
"Tidak." Aku menggeleng. "Kau melakukan lebih dari tugasku. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk putra majikanmu yang sudah mati. Itu... itu bukan sesuatu yang bisa kubayar dengan uang."
Hyun Moo tidak menjawab. Tapi bahunya sedikit bergetar.
Aku berbaring kembali. Tubuh ini masih sangat lemah. Tapi pikiranku sudah penuh dengan rencana.
Tungku. Baja. Senjata.
Dan mungkin... sesuatu yang lebih besar.
Aku tersenyum kecil menatap langit-langit.
Selamat datang di dunia baru, Purnama. Atau... Tae-Kyung.
Ayo kita tunjukkan pada mereka apa artinya melawan seorang insinyur.
---
[Bersambung ke Bab 2]